
"Papah kuatir pada hubungan rumah tangga Sarla dengan Daniel, jika hubungan mereka tidak memenuhi kontrak yang ditulis diatas surat perjanjian. Papah takut nantinya akan berdapak lagi pada perusahaan kita. "
Mendengar keluhan sang suami, membuat Dera ketakutan sendiri, baru saja Ia membuat kesalahan yang sangat fatal. Dimana Dera sudah membuat Sarla marah karena perkataan angkuhnya, "Mana mungkin pah, setelah perusahaan papa berkembang papah kan tak perlu mengandalkan lagi Daniel. "
Sang istri berusaha meyakini suaminya," Mama tidak tahu saja, kalau Sarla sampai tidak memenuhi kontrak dalam surat perjanjian yang dibuat oleh Daniel. Kita akan menjadi orang miskin, dan asal mamah tahu sekarang, istri pertama Daniel sedang hamil."
"Ya bagus dong." Sepertinya Dera tak mengerti dengan perkataan suaminya, membuat Gunawan pusing menjelaskannya kembali.
"Bagus apanya, malah akan mengacam pernikahan Sarla dan juga Daniel. Mama tahu sendirikan dalam surat perjanjian itu, Daniel hanya membutuhkan istri untuk melahirkan garis keturunan."
Dera tidak membaca surat perjanjian itu, yang ia pikirkan saat menandatangani surat perjanjian, dirinya akan kembali menjadi seorang Ratu di rumah suaminya.
" Sepertinya Mama tidak membaca surat perjanjian itu?"
Deran tersenyum dengan pernyataan suaminya, wanita tua itu menganggukkan kepala." iya pah. "
Menepuk jidat, Gunawan menggelengkan kepala," Makanya kalau apa-apa itu dibaca mama, jangan asal tanda tangan."
"Ya maaf sih pah, kan mama hanya nurutin perkataan Papa saja."
"Mm."
Daniel mulai bangkit dari tempat duduknya, ya segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi, badannya terasa lengket karena seharian habis bekerja.
Dera dengan begitu telaten, mengambilkan handuk untuk suaminya, ia membereskan tas kantor, hingga tas seletingnya sedikit terbuka.
Ada rasa penasaran, menggebu pada hati wanita tua itu, di mana ia ingin membuka tas kantor suaminya.
Suara air terdengar mengalir di kamar mandi, sepertinya Gunawan sibuk menggosok badannya.
Kini satu kesempatan untuk Dera membuka tas yang membuat dirinya penasaran.
Baru saja membuka resleting tas milik suaminya, Dera terkejut dengan suara lain yang memanggil.
__ADS_1
"Mah."
"Lani." Dera menempelkan jari tangannya di hadapan Lani, menyuruh anaknya agar tidak berisik.
Lani, mulai menurut dengan kode yang diberikan ibunya, " Sedang apa sih mah. "
"Sudah jangan ikut campur. Dera memajukkan bibir bawahnya, setelah mendengar perkataan mamanya.
" Ya sudah kalau begitu, Lani mau pergi dulu."
Dera melihat kepergian Lani, membuat ia langsung membuka resleting tas milik suaminya.
Terlihat dalam tas itu banyak berkas kantor, Iya berusaha mencari surat perusahaan di dalam tas suaminya, untuk bisa memiliki perusahaan itu.
"Mama sedang apa?" tanya Gunawan yang sudah ada di hadapan istrinya.
Deg ..., jantung darah terasa ingin copot, melihat suaminya sudah ada di hadapannya saat ini. Menyimpan berkas itu kembali ke dalam tas kantor. " Ini tadi jatoh, resleting tasnya sedikit terbuka jadi Mama benerin deh."
Gunawan seperti tak menaruh rasa curiga kepada istrinya itu, ia lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk, berjalan untuk mengambil baju yang sudah disiapkan istrinya.
"Pah, Mama turun dulu ke bawah ya, Mama mau siapkan dulu makanan untuk papah."
"Baiklah mah. "
Baru saja Dera turun dari anak tangga, tiba-tiba saja ia terpeleset karena anak tangga yang terasa licin, membuat ia berguling dari atas anak tangga hingga ke atas lantai.
Lani yang melihat pemandangan itu dari kejauhan, tertawa terbahak-bahak dengan berkata," mampus lo baru tahu rasa."
Lani anak umur 8 tahun yang mempunyai keterbatasan fisik berusaha mendekat ke arah ibunya," Loh ibu kenapa? Kok bisa sampai jatuh seperti ini."
"Aduh Lani, Kaki Ibu terpeleset. Aduh sakit sekali."
Lani berusaha meminta tolong dan berteriak kepada Papanya, Gunawan yang mendengar teriakan anaknya, mulai berlari melihat sang istri sudah terkulai lemah di atas lantai.
__ADS_1
Lembaran surat yang sengaja dibawa oleh Dera, kini terbang sedikit menjauh, membuat Lilia langsung mengambil lembaran kertas putih itu.
Gunawan menyadari jika anak tangga begitu, dengan perlahan ia mulai menghampiri istrinya," Lani Kenapa dengan Mamahmu."
"Sepertinya Mama terpeleset dari anak tangga Pah,"
Lani tidak tahu persis kejadian ibunya, Iya langsung asal menebak begitu saja.
Dera tak Bergerak sama sekali, dia jatuh pingsan, di mana Gunawan langsung membopong tubuh istrinya menuju ke rumah sakit," Ayo sebaiknya kita pergi ke rumah sakit. "
Gunawan berteriak menyuruh sopirnya untuk membukakan pintu mobil. Lilia yang melihat pemandangan itu merasa senang, berkas yang diincar Dera sudah ada di tangannya," Kasihan sekali nenek sihir itu."
Lani merasa curiga jika kejadian jatuhnya sang mamah seperti sudah direncanakan, oleh Lilia Kakak tirinya, Lani tak berani ikut ke rumah sakit, takut jika kakinya belum siap berjalan dengan cepat.
Iya mulai melangkahkan kaki menuju ke kamar Kakak tirinya bernama Lilia. " sepertinya mama jatuh dari tangga, ini ulah Kak Lilia, sepertinya aku harus memberi pelajaran kepada anak itu, bisa-bisanya ia melukai mama kandungku sendiri."
Tok .... Tok .... Tok.
ketukan pintu beberapa kali dilayangkan oleh Lani pada pintu kamar Lilia," Kak Lilia, cepat buka pintunya, aku tahu Mama jatuh dari anak tangga pasti gara-gara kamu ya."
Lani langsung menyalahkan Lilia pada saat itu, di mana Lilia yang pernah mendengarkan musik tak memperdulikan ketukan pintu atau teriakan adiknya.
"Kak Lilia, cepat buka pintu kamarnya, aku ingin berbicara kepada kamu. "
Berulang kali Lani berteriak memanggil nama Lilia, membuat keresahan dan juga rasa terganggu dalam hati Lilia," Ada apa sih anak ini teriak-teriak di depan kamar orang gak ada kerjaan banget."
Lilia langsung membukakan pintu kamarnya, melihat Lani sudah berdiri dengan raut wajah yang memerah, memperlihatkan bertapa kesalnya Lani pada saat itu.
Menunjuk wajah Lilia dengan jari tangan Lani," kamu kan yang sudah membuat mama jatuh dari anak tangga. Ayo cepat jawab dengan jujur. Aky tahu semua ini ulah kamu, kamu ingin membuat Mamah matikan."
Lilia langsung meraih jari tangan adiknya, memutarkan jari tangan itu hingga Lani kesakitan," ah sakit lepaskan."
Lilia malah sengaja menyakiti adik tirinya itu, seperti tak ada rasa kasihan sedikitpun dari diri Lilia untuk sang adik," berani kamu menyalakan aku hah, dari tadi aku ada di dalam kamar, kamu tahu itu."
__ADS_1
" Sudahlah kak Lilia jangan banyak alasan, aku tahu bahwa Kakak itu sudah membuat Mamah terluka, kakak kan benci sama mama, jadi kakak melakukan semua itu demi kepuasan Kakak sendiri."
Plak .... tamparan keras melayang pada pipi kiri Lani.