
"Bu, Wulan benar benar minta maaf, apa ibu mau memaafkan Wulan. " Dengan isak tangis, Wulan berusaha memelas pada sang mertua, agar ia mendapatkan kata maaf.
Alenta yang sedikit demi sedikit bisa berbicara, kini menyuruh Wulan untuk berdiri, ia tak mau melihat Wulan menangis dan bersujud dikakinya.
"J-a-ngan l-aku-kan I-tu la-gi, ib-u su-dah memafakan Wulan. "
Wulan menangis sejadi jadinya, setelah mendengar sebuah perkataan terlontar dari mulut sang ibu mertua, " terima kasih bu. "
Melihat isak tangis Wulan, membuat Alenta tak kuasa, ia kini ikut menangis dan berusaha menenangkan menantunya itu.
Wulan memeluk Alenta, dimana pemandangan penuh kesedihan itu disaksikan langsung oleh Bi Siti, ia berusaha mengusap perlahan air mata yang tak terasa menetes terus menerus.
"Wulan janji bu, akan menjadi orang yang baik, Wulan tidak akan melakukan kesalahan yang kedua kalinya. "
Sarla datang, terpaksa ia tak ikut sang papah ke kantor polisi, karena mendapatkan telepon dari Wulan.
Membuka pintu ruangan Wulan, Sarla melihat pemandangan yang begitu mengejutkan di depan matanya. Pemandangan penuh isak tangis dan rasa haru, membuat hati dan perasaan Sarla tak menentu.
Ia berusaha tetap tenang, tidak terpancing akan kesedihan yang ia lihat, " Permisi."
Ucapan Sarla membuat pelukan Wulan terlepas, mereka mulai mengusap kasar air mata mereka masing masing, " apa saya mengganggu. Karena datang secara mendadak. "
Perkataan Sarla membuat Wulan mendekat, " akhirnya kamu datang juga Sarla, aku kira kamu tidak akan datang secepat ini. "
"Kebetulan sekali, kami berniat pergi ke kantor polisi karena ada masalah kecil yang belum saya dan papah saya selesaikan. "
__ADS_1
Wulan tersenyum, isak tangis itu membuat Wulan berusaha menjelaskan semuanya. " Jadi apa bisa kamu mencabut laporan untuk Daniel. "
Urusan dengan polisi bukanlah main main, " kenapa kamu begitu ingin masuk ke dalam penjara, bukannya saya sudah membebaskan kamu dan saya berharap kamu tidak meminta minta lagi untuk dimasukan ke dalam penjara?"
"Aku tahu itu, tapi ini demi menebus kesalahku dan tanggung jawab yang aku abaikan dari Daniel, jadi jelas yang pantas masuk ke dalam penjara itu adalah aku, karena aku yang bersalah dan aku yang sudah membuat anakmu masuk ke rumah sakit. "
Sarla menghentikan perkataan Wulan, " sudah cukup, jangan bahas hal itu lagi. Apa tidak ada alasan yang lain. "
"Ada,"
"Apa."
"Aku ingin kamu bisa bahagia dengan Daniel. "
Deg ....
"Wulan apa yang sekarang ada di isi kepalamu itu, aku benar benar tak megerti, bisa bisanya kamu berkata hal yang membuat orang lain heran. "
Wulan memegang kedua tangan Sarla, " aku tahu pasti kamu akan menganggap hal ini, aneh. Tapi ini semua keinginanku jadi tolong lakukan demi aku, apa kamu bisa Sarla . "
Menghelap napas berusaha tetap tenang," saya tak yakin. "
Wulan mendekat dan berkata, " kenapa kamu tak nyakin. Sarla, aku tahu kamu pasti mengiginkan kebahagiaan, apalagi kamu sudah memiliki anak bersama Daniel. "
Deg ....
__ADS_1
Sarla melepaskan tangan Wulan yang memegang tanganya, " jangan paksa saya untuk melakukan hal konyol yang kamu katakan. "
Sarla berusaha berpikir sejenak, ia tak mau jika apa yang saat ini dikatakan Wulan malah menganggu pikirannya.
"Wulan, saya mohon. Jangan berkata seperti itu lagi, saya dan Daniel sudah bercerai. Saya tak akan kembali lagi pada Daniel, karena saya hanya sebatas .... "
Perkataan Sarla kini tiba tiba terhenti, oleh Wulan, " istri kontrak yang dibutuhkan sesaat, bukan begitu? Ayolah Sarla jangan terus menolak, aku tak mau jika Daniel hidup denganku yang ada dia menderita tapi dengan kamu. "
Sarla seperti sulit mencerna perkataan wanita yang ada dihadapannya.
"Sarla."
Kepala terasa berdenyut karena Wulan terus menekan Sarla. " Sarla aku tahu, kalian belum sepenuhnya bercerai, karena Daniel masih melayangkan talak satu pada kamu. "
Perkataan Wulan memang benar, " ya Daniel memang melayangkan talak satu, dan sekarang saya akan meminta pada Daniel untuk melayangkan talak tiga. "
"Tak mungkin Sarla, aku tahu jika Daniel sangat mencintaimu, dia tidak akan berani, dan sekarang aku benar benar memohon kepadamu. Ayolah turuti perkataanku. "
Sarla menggelengkan kepala, " maaf sebelumnya Wulan saya tidak bisa. "
Daniel mendengar perdebatan kedua wanita yang ada di hatinya merasa sakit hati, seolah olah mereka mereka saling melemparkan tanggung jawab mereka satu sama lain untuk bersama dengan Daniel.
Masuk ke dalam ruangan Wulan, " sudah cukup, jika memang kalian seperti itu, aku tak segan segan menalak kalian berdua secara langsung di sini. "
Sang ibu berusaha menahan agar anaknya tak asal berucap.
__ADS_1