
" Aduhh gimana ini, uang para pembantu sudah habis aku pake bayar arisan, baru saja. "
Wulan masih tetap saja diam, tak merespon perkataan Daniel, " Wulan kenapa kamu diam saja? Aku dari tadi tanya sama kamu, tapi kamu?"
"Iya."
Wulan kini memberikan bayi mungil itu, pada tari yang baru saja ia panggil. " Tari?"
"Iya nyonya. "
"Tolong kamu bawa bayi ini jalan jalan."
"Baik nyonya. "
Wulan mulai menatap layar ponselnya, iya kini melihat aplikasi m-banking pada ponselnya, di mana saldo yang tertera pada rekeningnya, hanya tersisa 200.000 saja.
"Aduhh, gimana ini." Wulan bergumam dalam hati, iya tampak gelisah, uang yang seharusnya membayar gaji para pembantu, malah ia habiskan begitu saja.
"Wulan, kenapa?"
Daniel berusaha bersikap halus, agar Wulan bisa berkata jujur.
Raut wajah sayu Wulan mempelihatkan rasa takut berlebihan, tatapan mata Daniel membuat ia menundukkan pandangan. " Sebenarnya uang yang kamu berikan padaku sudah habis aku belanjakan kebutuhanku. "
"Apa?"
Mengusap kasar wajah, Daniel kini menggenggam erat kedua tangannya agar tak melayang sembarangan pada wajah istrinya. Giginya menggeram, urat leher kembali keluar.
"Ahk, kenapa kamu malah membeli hal hal yang tak berguna?" pertanyaan Daniel membuat Wulan menitihkan air matanya. Sedangkan Daniel sudah geram, ia kira istrinya perlahan berubah, namun. " Wulan, bukannya kamu pernah bilang akan menjadi Wulan yang Daniel inginkan, tapi kenapa, hah. Kenapa? Sekarang kamu malah seperti anak kecil, kita sudah mempunyai anak, bisa tidak kamu mementingkan anak kita dulu dari pada kebutuhan kamu yang bisa nanti nanti saja. "
"Kita? Daniel, dia itu anakmu bukan anakku. "
Palkkkk ....
Sudah cukup kesabaran Daniel pertahankan, tetap saja Wulan seperti anak kecil yang tak mengerti- mengerti.
Wulan menitihkan air mata, ia menangis, setelah mendapatkan tamparan keras dari suaminya. "Kamu."
Karena kesal, takut jika Daniel sampai memukul kembali istrinya, ia kini mendorong kursi roda sang ibunda, pergi dari hadapan Wulan.
Tatapan sinis, ia layangkan dihadapan Wulan yang masih menundukkan pandangan.
Mengantarkan sang ibunda masuk ke dalam kamar, Daniel kini duduk sembari memijit kepalanya.
"Daniel, ibu tahu, kamu sudah pusing menghadapi sikap istri kamu yang keterlaluan, andai saja kamu bisa mempertahankan Sarla, mungkin kehidupan rumah tangga kamu akan bahagia, " gumam hati Alenta, dimana wanita tua itu mengerak gerakan jari tangannya.
Perlahan tangan kekar Daniel memegang tangan sang ibunda, " Bu, maafkan Daniel ya, Daniel tidak becus menjadi suami yang baik untuk Wulan. Daniel malah menampar Wulan di depan ibu, membuat ibu bersedih. "
Ada raut wajah penyesalan pada diri Daniel, ia sebenarnya tak ingin menampar Wulan, menyakiti Wulan, tapi entah kenapa setiap kali bertengkar Wulan tidak bisa mengontrol perkataanya, ia sering melawan dan mengatakan hal yang tak pantas sebagai seorang istri.
Dan membuat kesabaran Daniel hilang, Alenta yang melihat air mata anaknya jatuh, membuat ia ingin sekali mengusap perlahan air mata itu.
Namun apa daya, tangannya susah sekali digerakan.
Berusaha sekuat tenanga, tetap saja tak bisa.
"Bu, kalau ada masalah seperti ini, Daniel rasanya ingin mati saja, Daniel musing bu, stress. "
Perkataan Daniel yang terdengar seperti pengecut, membuat Alenta berusaha membuka mulut, sebagai orang tua, ada saatnya lelaki juga sudah lelah menghadapi sikat pasangannya yang seenaknya dan tak pernah sadar.
"Daniel salah bu, Daniel seharusnya tak boleh menampar Wulan. Daniel bodoh, " gerutu Daniel mengacak rambutnya dengan kasar.
"Daniel? Ibu ingin sekali memelukmu nak. " Gumam kembali hati Alenta.
Suara tangisan bayi terdengar lagi, Daniel bangkit dan meminta izin pada sang ibunda untuk melihat keadaan anak kandungnya.
"Bu, Daniel tinggal dulu di sini ya. Nanti ada suster yang di kususkan untuk merawat ibu. "
__ADS_1
Ingin rasanya Alenta menahan terlebih Dahulu anaknya, agar tak pergi dulu.
Daniel bergegas berjalan keluar kamar sang ibunda, mencari sumber suara tangisan bayi itu.
"Kenapa Ta, bayinya kok nangis terus. "
Ita berusaha memberikan susu yang baru saja dibelikan Bi Siti.
"Saya juga kurang tahu, Tuan, padahal saya sudah berikan susu kusus bayi, tapi bayi tuan tetap saja menangis. "
Bi Siti tak mungkin mengatakan kebenarannya saat itu, ia malah berucap, " Tuan, bawa saja ke rumah sakit, takut jika bayi tuan mengalami gejala sakit yang tidak kita tahu. Karena semalam bayi itu terus buang air besar. "
"Ya sudah. "
Daniel mulai menyiapkan mobil untuk membawa bayi mungil itu dengan pembantunnya Bi Siti.
"Bi Siti saja yang ikut, Ita kamu jaga ibu saya ya. Sebelum suster penjaga datang. "
"Baik tuan. "
Wulan yang melihat kepergian Daniel, membuat ia malah tersenyum dan mengusap kasar air matanya, bukannya dihadapan Daniel ia merasa menyesal tapi sekarang ia malah tersenyum bahagia.
"Daniel pergi, kesempatan bagus untukku, awas saja nenek peot, akan aku beri kamu pelajaran. "
Wulan perlahan berjalan menghampiri sang mertua yang berada di dalam kamar sendirian,
"Ini saat ya aku memberi dia pelajaran."
"Nyonya."
Langkah kaki Wulan terhenti begitu saja, dimana Ita memanggilnya. " Sialan, kenapa malah ada pembantu itu, mau apa lagi dia. " Gumam hati Wulan.
"Nyonya."
Wulan kini membalikkan badannya, " Ita. "
"Kenapa nyonya?" tanya kembali Ita, dimana Wulan malah melamun memikirkan cara untuk bisa membuat Ita pergi dari rumah hanya sementara waktu.
"Iya Ita, kebetulan saya dari tadi mencari Bi Siti," ucap Wulan beralasan dengan kebohongan yang ia buat buat di depan pembantunya.
"Owh, Bi Siti tadi pergi bersama Tuan Daniel ke rumah sakit, soalnya bayi Nyonya Sarla menangis terus." balas Ita. Wulan yang mendengar pembantunya itu menyebut nama Sarla, membuat ia seketika geram dan kesal.
"Bisa tidak kalau menyebut bayi itu, jangan sama nama ibunya, " ketus Wulan, mempelihatkan ketidak sukaanya.
Ita tak tahu jika perkataanya malah menyebut sang nyonya marah, " ya ampun nyonya maafkan saya, saya salah. Nggak tahu kalau nyonya tak suka jika saya menyebut nama Nyonya Sarla."
"Mm, iya saya maafkan kamu. Oh ya Ita, apa kamu bisa membelikan saya obat di Apotek sekarang juga," pinta Wulan, dengan harapan jika Ita dengan sigap mau menuruti perintahnya.
"Anu nyonya, saya soalnya di suruh Tuan Daniel untuk menjaga Nyonya Alenta, karena suster yang akan merawat Nyonya Alenta segera datang ke sini, " balas Ita, berusaha menolak perintah sang majikan secara halus.
Wulan berusaha mencari simpati pembatunya itu, agar Ita merasa kasihan dan mau menuruti perintahnya. Dengan drama yang ia layangkan, Wulan berharap jika Ita mau membelikan obat sekarang juga.
"Aduhh duhhh. Sakit. "
Mencekram perut dengan begitu erat, Ita dengan sigap langsung membantu sang nyonya untuk duduk di atas sofa.
"Ayo nyonya, biar saya bantu duduk. " ucap pelan Ita.
Wulan tetap memperlihatkan raut wajah kesakitannya, ia berharap jika Ita merasa kasihan padannya saat itu juga.
"Sakit sekali perutku, Ita."
"Biar saya ambilkan air hangat ya, nyonya. "
Wulan tak ingin jika Ita mencurigainya, ia hanya menganggukkan kepala saat Ita akan mengambilkannya air hangat.
Ita terburu buru pergi, padahal ia ingin Ita membeli obat sekarang juga.
__ADS_1
"Aduhhhhh ..... Ita. "
Teriakan Wulan terdengar begitu kencang membuat Ita malah sengaja mempelambat jalannya. " Nyonya Wulan, saya sudah tahu rencana anda dan sifat anda. Pasti anda mau mencelakai Nyonya Alenta kan. " Gumam hati Ita, saat melangkah pelan menuju ke dapur.
"Aduhh, Ita. Kenapa lama sekali, sakit ni. "
Teriakan Wulan membuat Ita kini menyeduh air hangat, ia sengaja menaburkan obat tidur, agar Wulan tidak berteriak teriak terus.
"Ita."
"Iya nyonya sebentar. "
Wulan masih duduk di atas sofa dengan rengekan rasa sakitnya, " sialan si Ita ini, lama sekali dia mengambil air hangat, padahal aku sangat ingin di pergi sementara waktu agar aku bisa mengerjai mama mertuaku yang sakit itu. "
"Ita, aduhhh, sakit sekali, apa kamu dengan tidak. "
Ita mulai berjalan terburu buru untuk menghampiri sang nyonya yang terus berteriak dari tadi.
"Ita, kamu ini buatkan apa sih. Sampai lama sekali. Sakit perutku ini. "
Akhirnya Ita datang dengan menenteng air hangat yang sudah ia campur dengan obat tidur.
"Nyonya ini air hangatnya, coba nyonya minum. "
Wulan menatap kesal pada Ita karena lama mengambil air minum, ia langsung menarik gelas itu dan meminumnya sampai habis.
"Gimana nyonya sudah nggak sakit lagi. "
Pertanyaan Ita membuat kepala Wulan terasa sakit, ia kini memijit kepalanya perlahan.
"Kenapa sekarang malah kepalaku yang sakit, aduhh Ita, ini sakit sekali."
"Nyonya butuh istirahat mungkin. "
Wulan menepis perkataan pembantunya itu, " ahk, kepalaku. Sekarang kamu belikan aku obat saja di apotek. Biar perut dan kepalaku ini sembuh. "
"Baik nyonya."
Ita bangkit dari sofa, untuk melaksanakan peritah sang nyonya. Namun baru saha melangkahkan kaki, Ita sempat lupa jika Wulan belum memberikannya uang.
"Nyonya."
Dengan kepala yang masih merasa kesakitan, Ita kini mendekat pada sang nyonya dengan berkata. " Nyonya saya lupa. "
"Lupa apa?" tanya Wulan, menguap beberapa kali, tatapan matanya terasa rabun.
"Uang buat beli obat mana!" balas Ita menyodorkan telapak tangannya.
Wulan tak sanggup menahan rasa kantuknya, " ahk, pake uang kamu saja. " Menguap kembali.
"Nggak mau ah, nyonya. Nanti nggak nyonya ganti lagi, " ketus Ita dengan beraninya.
"Pelit amat sih kamu Ita, hanya minjem uang buat beli obat saja, " gerutu Wulan, merogoh saku celananya, ia kini mengambil uang merah beberapa lembar.
"Ini uangnya, " ucap Wulan, Ita yang melihat nominal uang yang diberikan sang nyonya membuat ia terkejut. " Banyak sekali nyonya. "
"Sudah jangan banyak bicara, cepat belikan aku obat sakit kepala, " bentak Wulan mempelihatkan wajah kesalnya dihadapan sang nyonya.
"Iya nyonya, tapi kembaliannya, " ucap Ita malah semakin sengaja membuat Wulan murka.
"Ita, sudah ambil saja kembalian semuanya untukmu. " balas Wulan, membuat Ita senang.
Uang yang ia pegang sekitar satu jutaan.
"Cepat pergi. "
"Siap laksanakan nyonya. " pergi dengan tertawa dalam hati. "Asikk dapat uang. "
__ADS_1