
"Dera, tiba-tiba saja kamu datang mengagetkan kami berdua, lalu merekomendasikan seorang pembantu. Apa tidak ada niat terselubung dalam hatimu itu?" pertanyaan yang terlontar dari mulut sang suami, membuat Dera sedikit kesal, bisa-bisanya Gunawan mencurigai rencananya saat itu.
Perlahan Dera mulai mendekat ke arah suaminya, memperlihatkan kemanjaannya di depan Tari, " sayang, kamu itu ngomong apa sih, memangnya aku ini seorang pen jahat? Apa untungnya aku merencanakan niat jahat di rumah ini? sebegitu kesalnya kamu terhadapku, sampai menuduhku seperti itu!"
Gunawan masih marah dengan sang istri, seketika tangan kekarnya itu mulai melepaskan tangan Dera, " Ya bisa saja kamu balas dendam karena aku sudah menyakiti kamu."
Dera tak menyangka jika pikiran suaminya begitu negatif terhadap dirinya. " mana mungkin seorang istri balas dendam terhadap suaminya, apalagi melalui seorang pembantu yang aku remondasikan untuk bekerja di sini. "
" Dera, kita tidak pernah tahu niat jahat seseorang, dan siapapun orangnya. "
karena kesal mendengar perkataan berbelit Gunawan membuat Dera menimpal. " Ya sudah terserah kamu saja pah. Aku sudah merekomendasikan yang terbaik untuk kamu, kalau memang kamu tidak mau ya sudah tinggal bilang saja jangan berbicara berbelit begitu, aku pergi dulu. "
karena tak tahan pada akhirnya Dera mulai pergi meninggalkan sang suami begitupun dengan pembantu barunya itu, namun di pertengahan jalan Gunawan kini memanggil namanya. " Tunggu Dera."
Dera tersenyum, pastinya sang suami akan memanggilnya lagi, walau mungkin dalam sebutan nama, karena memang Gunawan ketika marah terhadap istrinya selalu menyebut nama.
"Apa pah? Apa kamu sudah berubah pikiran dengan perkatakan?"
Gunawan melihat Tari benar-benar kelelahan, sampai di mana ia mulai menyetujui istrinya untuk membawa pembantu yang akan dipekerjakan di rumahnya.
" Ya sudah kamu bawa saja pembantu baru kamu itu besok, biar aku lihat kemampuannya dalam bekerja."
Tersenyum lebar, Dera tak perlu susah payah mengeluarkan Tari," baiklah. Besok aku akan suruh orang itu datang ke sini dan memulai bekerja."
Tari merasa ada hal yang mengganjal pada hatinya, ketika senyuman lebar itu dilayangkan dari Dera.
" Seperti ada sesuatu yang membahayakan, ketika Nyonya Dera membawa seorang pembantu ke rumah ini, ahk. Seharusnya aku tidak boleh berpikir negatif juga sebelum aku melihat orang, " Tari berusaha melupakan segala hal yang membuat pikirannya terganggu.
Gunawan mulai pergi dari hadapan pembantu barunya itu, di mana Dera menghentikan langkah Tari," Aku berharap jika nanti ada pembantu baru kamu bisa terbiasa dengannya. "
__ADS_1
"Apa maksud yang dikatakan nyonya?"
Dera tidak menjawab sama sekali perkataan Tari, iya malah pergi begitu saja.
" Coba saja kalau Nyonya Dera tidak ikut campur akan obrolanku dengan Pak Gunawan mungkin aku sudah merekomendasikan temanku yang ada di kampung, ya namanya bukan rezeki yang sudahlah." gerutu hati Tari melihat Dera pergi begitu saja.
Lani melihat ke arah wajah sang mama, di mana sosok anak kecil yang memakai tongkat untuk berjalan, memanggil sang mamah." mah."
Panggilan anak satu-satunya membuat Dera langsung membalikkan wajahnya," sayang mama kira siapa? Ada apa tumben sekali kamu manggil mama?"
" justru itu aku mau tanya sama mama, tumben sekali mamah hari ini ceria, apa ada sesuatu yang membuat bahagia hati Mama!"
Dera memegang pipi anak satu-satunya itu, " tentu saja ada sesuatu yang membuat Mama selalu bahagia saat ini."
"Apa itu, mah?" rasa penasaran mulai menyelimuti hati Lani.
Di mana sang mama memperlihatkan senyumannya, " kamu penasaran ya?"
Dera mendekatkan bibirnya pada telinga anak semata wayangnya, di mana ia membisikkan sesuatu yang membuat langit tersenyum.
"Jadi."
Dengan sigap Dera mulai menutup mulut anaknya, agar tidak membuat orang di rumah curiga.
"Kalau begitu, Lani bisa dong mendapatkan kasih sayang papah lagi?" pertanyaan Lani tentu saja membuat Dera tersenyum lalu memeluk anaknya.
"Tentu saja dong sayang!" jawab Dera.
Senyum yang tadinya memudar pada bibir Lani, kini kembali merekah, Lani terlihat begitu bahagia sekali, sampai ia berterima kasih kepada sang mama.
__ADS_1
"Makasih ma. "
"Sama sama sayang."
Saat itulah, tangan gadis yang sudah menginjak sepuluh tahun itu, ya perlihatkan di hadapan sang mama. Dera mengerutkan dahinya, " kenapa sayang?"
" Bukannya kata mama, kalau kita sudah ada di rumah papa, mama katanya mau mengganti cincin kesayangan aku yang diberikan papa Waktu aku ulang tahun."
Dera sampai lupa dengan hal itu, ia menghembuskan napasnya meminta pengertian pada anak semata wayangnya. " sayang tolonglah kamu mengerti mama ya sekarang, kita kan baru tinggal di rumah papa itu sudah baru sehari, dan mama juga belum dekat sekali dengan papa, kamu sabar dulu ya Mama pasti ganti cincin pemberian papa kamu itu yang sudah mama jual."
Mendengar perkataan perkataan sang mama tentulah membuat bibir Lani mengkerut, Iya begitu kesal," tapi mama harus janji ya, mama harus ganti cincin Lani yang sudah mamah jual."
"Iya sayang, mama janji akan mengganti cincin pemberian papa kamu itu, hanya saja mama butuh waktu untuk mengganti cincin itu lagi. Tolong kamu mengerti ya keadaan Mama sekarang dengan papa."
Sebenarnya Lani ingin sekali marah di hadapan ibu kandungnya itu, karena ia ingin sekali cepat-cepat mendapatkan cincin hadiah pemberian sang papah yang dijual oleh mamanya sendiri.
" Ya sudah kalau begitu, tapi mama harus tepati janji mama ya, kalau mama tidak bisa mengganti cincin pemberian papah lagi, jangan harap mama bisa dekat lagi dengan Lani. "
Mendengar kekecewaan yang terlontar dari mulut anaknya, membuat raut wajah Dera sedikit muram, kedua mata terlihat begitu sayu." kok kamu ngomong gitu sih sama mama kamu sendiri, ini nggak sayang lagi ya sama mama?"
Lani yang menundukkan pandangan kini berusaha menatap ke arah wajah sang mama."
" Lani bukan nggak sayang lagi sama mama, tapi Lani kesal dengan mama yang selalu menjual barang-barang Lani yang selalu Lani sayang."
Dera memegang bahu anaknya," sayang mama juga tidak mau menjual barang-barang kesayangan kamu itu, mama melakukan semua itu karena terpaksa."
Dera terus berusaha memberi pengertian pada anak satu-satunya itu," Ya sudah kalau begitu."
Dera kembali memeluk anaknya, Iya lalu berucap, " Terima kasih ya sayang, kamu sudah mengerti akan situasi mama yang sekarang. "
__ADS_1
Lani beranjak pergi dari hadapan sang mama yang terlihat sangatlah bersedih, banyak sekali beban yang kini ditanggung oleh Dera, karena sebuah kesalahan yang membuat dirinya menjadi sosok seorang istri yang diabaikan sang suami.
"Lani, maafkan mama ya, memakan berusaha mengambil hati papa kamu lagi?"