Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 52


__ADS_3

Pagi menjelang.


Wulan dikejutkan dengan sosok penampakan seorang lelaki yang ia kenal, di mana sosok itu memakai seragam perawat dan tersenyum kepadanya.


Ibu mertua yang tadinya menemani Wulan, tiba-tiba saja mengangkat panggilan telepon dan pergi keluar ruangannya. " Angga."


Di dalam ruangan hanya ada mereka berdua, Angga tersenyum bahagia saat melihat wajah Ibu dari anaknya.


"Kenapa kamu ada di sini?"


Wulan bertanya dengan nada kesalnya, " kenapa jika aku ada di sini? Kamu takut?"


Wulan tak mengerti dengan pikiran Angga yang sudah membuat dirinya harus bertengkar dengan Daniel, hanya karena masalah anak yang Wulan saat ini. " sebaiknya kamu pergi dari sini, aku tidak mau melihat kamu lagi." Mengusir ayah dari bayi kandungan Wulan.


"Tidak akan! Aku ini rindu sekali dengan kamu, Kenapa kamu malah mengusirku."


"Jaga ucapan kamu itu, setelah kamu meninggalkanku di hotel, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."


"Tidak ada hubungan lagi, terus bayi yang kamu kandung itu darah daging sendiri loh."


"CUKUP."


Teriakan Wulan membuat sang ibu mertua langsung masuk, dimana ia berkata." Ada apa Wulan."


Napas tak beraturan, di mana Wulan berusaha mengontrol. Agar emosi nya tak meluap-wap kembali, ia takut ibu mertua menyadari keberadaan Angga, yang jelas akan membuat sebuah malapetaka untuk Wulan sendiri.


Berjalan mendekat menghampiri menantunya itu dia langsung bertanya." Ada apa Wulan. Kenapa kamu l berteriak?"


Angga masih berada di hadapannya, kedua tangan mulai menggenggam erat kain yang menyelimuti tubuh Wulan. Iya berharap jika Anggaa langsung pergi dari hadapannya. Ketika sang ibu mertua bertanya.


Namun lelaki itu malah menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang perawat.


" Tidak ada apa apa kok, bu. Wulan hanya bermimpi saja. "

__ADS_1


Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, di mana Daniel dan juga Sarla masuk ke dalam ruangan Wulan.


"Daniel."


Wulan yang menyebut nama suaminya, membuat Angga langsung bergegas pergi dari hadapan bulan, yang membenahi topinya. Agar raut wajah itu tak terlihat.


Untung saja Daniel tak mencurigai Angga memakai baju perawat, di mana lelaki yang sudah menghamili Wulan itu pergi dengan begitu tenangnya.


Alenta menghampiri anak semata wayangnya itu." Semalam kamu ini ke mana? Ibu menghubungi kamu dan juga Sarla tidak ada yang mengangkat satu pun. Kamu ini kenapa Daniel?"


Pertanya sang ibunda tak di gubris oleh Daniel, lelaki bergelar CEO itu hanya diam, tak berucap satu patah katapun, " istri pertama kamu itu butuh kamu, ia ingin ditemani layaknya sebagai seorang ibu hamil yang membutuhkan kasih sayang suaminya. Tolonglah Daniel jaga perasaan istri pertama kamu, jangan karena kamu menikah lagi, kamu bisa seenaknya. Sebagai seorang suami kamu itu harus adil. "


Nasehat sang Ibunda berusaha Daniel dengar, walau sebenarnya ia sangatlah malas datang ke rumah sakit melihat wajah istrinya itu.


Alenta menatap tajam ke arah Sarla, di mana Daniel memegang erat tangan istrinya itu," kamu juga Sarla, kenapa kamu malah mau ikut bersama Daniel? Apa sebagai seorang wanita kamu tidak punya perasaan? Ibu teleponin kamu malah kamu rijek. "


Sarla tak tahu jika mertuanya menelepon, iya langsung merogo tas, di mana Daniel menghentikan tangan istrinya itu.


"Bu, jangan marahin Sarla, dia tidak salah, aku yang memaksa Sarla untuk ikut denganku dan aku juga yang sudah mematikan panggilan telepon dari ibu. Jadi tolong jangan salahkan istri keduaku."


"Setidaknya, dalam posisi Wulan di rumah sakit, Kamu harusnya mengerti jika Wulan itu butuh kamu."


Daniel tak ingin kalah debat dengan ibunya sendiri, ia langsung menjawab," bukannya Ibu sendiri kan, yang ingin menemani Wulan malam ini."


"Ya, tapi."


Sarla tak ingin melihat perdebatan ibu dan anak di hadapannya, Iya berusaha membuat keduanya akur kembali.


"Sudah jangan bertengkar lagi, Sarla mau pergi kuliah. "


keduanya kini terdiam saat Sarla mulai angkat bicara, yakini mencium punggung tangan mertuanya, untuk berangkat kuliah.


Daniel mulai mengikuti langkah istri keduanya itu, tapi Sarla menghentikan langkah sang suami," Tolong temani istri anda dulu."

__ADS_1


Mendengar perkataan Sarla, Daniel langsung menurut ia membalikkan badan untuk menemani istrinya itu.


*******


Sarla pergi dengan mengendarai mobil sendiri, oa sudah terbiasa mandiri sejak kematian sang Ibunda.


Wulan melihat jika Sarla pergi kuliah, membuat yakini bertanya kepada Daniel," kamu dulu melarangku untuk menjadi, tapi kenapa Sarla malah kamu Izinkan kuliah, kamu benar-benar tak adil. Mas."


Daniel berusaha menghelap napas, karena berbicara dengan Wulan harus begitu lembut, jika tidak sang Ibu pasti akan marah besar kepadanya.


"Sarla kuliah tidak melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri, tidak seperti kamu yang pergi jika ada masalah, bersih kuku ingin menjadi model hingga mengabaikan aku sebagai seorang suami."


Mendengar perkataan dari suaminya, Wulan menyadari semua itu, memang selama ia ingin menjalankan cita-citanya, banyak sekali yang ia abaikan dari memperhatikan Daniel dan juga mengurus kebutuhan suaminya itu.


Wulan terlalu sibuk mempercantik dirinya, hingga lupa kewajibannya sebagai seorang istri.


"Kenapa kamu diam saja Wulan? Apa kamu menyadari kesalahan kamu sendiri, sebagai seorang istri yang tidak patut dan juga selalu membantah akan ucapanku."


Alenta berusaha mendekap menantu pertamanya itu, di mana ia mencari sebuah pembelaan," Sudahlah Daniel jangan kamu bahas masalalu, sekarang kamu sudah hidup bahagia di mana kamu akan mempunyai seorang anak, dari garis keturunan kamu sendiri. Oh ya dengan Sarla bagaimana? Bukannya dalam perjanjian itu kamu hanya menikahi dia untuk mempunyai seorang anak saja, dan sekarang kamu sudah mempunyai anak dari Wulan. Apa tidak baiknya kamu Segera menceraikan Sarla saat ini juga."


Daniel tetap saja diam, ia seakan malas mendengar ucapan dan nasehat yang terlontar dari mulut ibunya itu.


Jika anak yang dikandung Wulan itu darah daging Daniel. Sudah dari kemarin Daniel menceraikan Sarla.


Namun pada kenyataannya anak yang dikandung Wulan itu, bukanlah anaknya sendiri, maka dari itu ia tidak akan menceraikan Sarla, selama Sarla melahirkan seorang anak untuknya.


"Maaf bu, Daniel tidak bisa menceraikan Sarla saat ini, Daniel ingin melihat Sarla melahirkan anak Daniel," ungkap Daniel, mewakili hatinya sendiri.


" Loh. Kamu ini bagaimana sih Daniel, kan sudah Ibu bilang Wulan sebentar lagi juga akan melahirkan anak kamu jadi tak usah lah kamu harus .... "


Entah kenapa emosi Daniel susah sekali ditahan, hingga ia menghentikan perkataan ibunya sendiri," Sudahlah Ibu jangan ikut campur akan masalah Daniel dan keluarga kecil Daniel ini, ibu itu tidak tahu apa-apa."


"Daniel, kamu tega membentak ibu."

__ADS_1


Wanita itu menangis dipelukan Wulan dengan begitu erat.


__ADS_2