
Daniel mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia teringat akan wajah Sarla, wanita yang beberapa bulan ini baru menikah denganya. Tak bisa ia pungkiri dalam hatinya, Daniel kini jatuh hati pada Sarla.
Cemburu terus merasuk jiwanya, padahal Daniel sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan jatuh cinta lagi, tapi hati seorang manusia tidak ada yang tahu. Pada kenyataanya bisa berubah ubah.
"Aku harus menahan hati ini, Sarla sebentar lagi akan aku lepaskan setelah ia memiliki anak dariku, tapi kenapa rasanya berat sekali, seperti ada kelebihan dari diri Sarla yang membuat aku tergila gila."
Menatap layar ponsel, jari tangan Daniel mulai mengetik pesan untuk Sarla, dimana ia sangat meghuatirkan istri keduanya itu, karena ada rasa sesal dalam hatinya.
Apalagi melihat Sarla menangis.
(Lagi apa?)
Mengirim pesan pada Sarla dengan perkataan sederhana. Daniel tak sabar mendapatkan balasan dari istri keduanya, dia mulai bangkit dari tempat tidur untuk segera mandi dan juga mengganti pakaiannya di malam hari.
Hawa dingin begitu menusuk kulitnya, apalagi air yang mengalir, membuat seluruh tubuhnya kedinginan. Sengaja Daniel mandi dengan air dingin, karena bagi dirinya air dingin mampu memulihkan pikiran stressnya, menjauhkan Daniel dari kebusikan.
Hanya butuh 15 menit saja untuk mandi, Daniel mulai membuka pintu kamar mandi, ya merasakan sosok Sarla ada di dekatnya, melayaninya dengan penuh pengertian, menyediakan baju tidur yang akan ia pakai.
Namun semua itu hanya bayangan semata dalam pikiran, Daniel mengusap pelan wajah dengan handuk, mengeringkan rambut. Melihat bayangan Sarla tengah duduk, di ranjang tempat tidur.
"Sarla?"
Bayangan itu tiba-tiba saja hilang dari depan matanya, Daniel terlalu memikirkan Sarla yang ia tinggalkan sendirian di rumah.
"Sarla, kenapa aku malah merindukan kamu."
Tring pesan datang, Daniel mengira jika Pesan itu dari Sarla, istri keduanya yang baru saja membuat dia jatuh cinta.
"Sarla. Apa aku sudah melanggar janjiku yang tadinya tak ingin mencintaimu, tapi sekarang?"
Daniel mencoba merebahkan tubuhnya kembali, untuk segera tidur di atas kasur, tidak memikirkan istri keduanya itu, tapi berulang kali, Daniel Menatap layar ponselnya, berharap jika pesannya dibalas oleh Sarla.
Karena Daniel butuh sekali balasan dari istri keduanya untuk meredupkan rasa rindu yang membara dalam hati, sudah setengah jam berlalu, Daniel tetap saja tak mendapatkan balasan dari Sarla.
__ADS_1
"Kenapa tidak ada balasan sama sekali?"
Pikiran Daniel mulai ke mana-mana, ya hampir saja berpikir negatif, memikirkan bahwa Sarla tengah bersenang-senang dengan lelaki lain.
"Ada apa dengan pikiranku ini, Kenapa selalu berpikir aneh-aneh,"
perasaan Daniel mulai tak tenang, Iya ketakutan sendiri di dalam rumah, memikirkan istri keduanya didatangi oleh keponakannya sendiri.
di mana Daniel mulai menelpon satpam di rumah," Halo Pak ada apa?"
"Bagaimana ke adaan Nyonya Sarla?"
pertanyaan dan yang membuat satpam itu kini menjawab," keadaannya baik-baik saja, hanya saja dari tadi siang Nyonya tidak keluar-keluar rumah,"
" Tumben sekali. apa lelaki yang kemarin datang lagi?" tanya Daniel begitu penasaran, di mana ia ketakutan sekali jika, Sarla sampai bertemu lagi dengan Rafa.
Ia takut jika nanti Rafa mengambil hati Sarla, walau mungkin itu hal yang tak wajar, tapi tetap saja, karena ancaman Rafa lumayan membuat Daniel harus was was.
" Sejauh ini saya menunggu di gerbang, tidak ada yang datang satu orang pun ke rumah."
"Ya sudah, kamu jaga Nyonya Sarla baik-baik, jangan sampai ada orang yang sembarangan masuk ke dalam rumah."
Mendengar perkataan Daniel, sang satpam dengan tegasnya menjawab," Baik kalau begitu?"
Daniel bisa tidur nyenyak kembali, tanpa harus mengkhawatirkan istri keduanya yang ia tinggalkan, Wulan kini berjalan ke arah pintu kamar sang suami, ia sudah rindu akan dekapan Daniel yang selalu berada di sampingnya.
Tok .... Tok ....
Mengetuk pintu berharap Daniel membuka pintu kamarnya, ia ingin bercanda bergurau dengan sang suami, berharap akan ada keakraban lagi begitupun kedekatanya bersama Daniel seperti dulu.
"Daniel."
"Daniel."
__ADS_1
Daniel berpura pura tidur, ia malas meladeni istri pertamanya yang tak jujur.
"Daniel."
Wulan merasa tak bersemangat, akan Daniel yang begitu mengabaikannya, hatinya merasa tak nyaman, jika harus menjalani hari-hari dengan sifat dingin sang suami.
Berulang kali memanggil nama Daniel, lelaki itu tetap saja tak menjawab, apalagi untuk membuka pintu kamarnya," Daniel aku tahu jam segini kamu pasti belum tidur, Kenapa kamu datang ke sini tidak menghargai aku sebagai istrimu?"
Di dalam kamar Daniel menutup kedua telinganya, berharap tidak mendengarkan panggilan dari Wulan," Daniel, ayolah buka?"
Daniel merasa tak tenang dalam hatinya saat ini, terlebih lagi Iya terus memandang ponselnya menunggu jawaban dari Sarla.
Membiarkan Wulan yang berada di luar kamarnya, wanita yang terus berteriak. Memanggil nama Daniel.
Tangan yang sudah lelah mengetuk pintu, kini Wulan turunkann, ia berjalan dengan raut wajah kecewa karena sudah tak di anggap lagi oleh Daniel, kecewa benar benar kecewa yang kini dirasakan Wulan.
Bi Siti yang terlihat baru saja bangun tidur, menghampiri Wulan, ia terkejut karena sang Nyonya tidak ada di ranjang tempat tidurnya," Ya ampun Nyonya, saya terkejut, Nyonya tidak ada di samping saya."
Wulan hanya diam tak berucap satu patah katapun, dimana ia menatap sayu, sang pembantunya.
"Bi, tak apa, aku baik baik saja, tadi aku rindu pada Daniel, ingin tidur bersamanya, tapi Daniel begitu cuek dan tak peduli padaku."
"Nyonya yang sabar ya."
Pembantu bernama Bi Siti, berusaha menenangkan Wulan, ia tak ingin melihat rona rona kesedihan pada raut wajah majikannya.
Mengusap pelan rambut sang Nyonya dan berkata," saya yakin kok, Nyonya, suatu saat nanti Tuan akan bertekluk lutut pada Nyonya dan tak ingin kehilangan Nyonya, jadi Nyonya yang sabar ya, nikmatin dulu pelakuan Tuan jika masih tak menyenangkan seperti itu. "
Wulan mengusapkan pelan air matanya yang terus jatuh mengenai pipi, ya berusaha tetap tegar mendengar perkataan pembantunya itu.
" Terima kasih ya bi selalu membuat hatiku nyaman, aku merasa tenang sekarang."
Wanita tua itu tersenyum melihat kesedihan tak nampak lagi pada raut wajah majikannya.
__ADS_1
" Sekarang Nyonya sebaiknya istirahat dulu ya, Jangan pikirkan hal-hal yang membuat pikiran Nyonya menjadi stress, Kita kan sudah mencari solusi yang terbaik agar bisa membuat Tuan Daniel bisa kembali lagi seperti dulu kepadanya Nyonya. Yang terpenting sekarang Nyonya harus menjaga kandungan Nyonya agar tetap sehat hingga nanti waktunya bayi ini lahir ke dunia, kita layangkan aksi itu."