
"Bukannya itu keponakan Daniel, apa dia selalu datang ke rumahmu?" tanya Wulan, mengendarai mobil, Sarla yang mendengar pertanyaan itu hanya menjawab," iya dia selalu datang ke rumah."
"Jadi dugaanku selama ini benar, Rafa adalah pacar kamu, " ucapan Wulan yang asal menebak.
"Bukan, aku tidak pernah berpacaran dengan dia, jika dia datang ke rumah aku selalu mengusir kedatangannya, " balas Sarla. Nada bicaranya terdengar malas saat membicarakan Rafa.
"Owh, aku kira kamu berpacaran dengan dia, jadi kamu menyerahkan anakmu itu kepadaku," ucap Wulan, menyindir keras Sarla.
" Jangan asal menuduh kamu aku tidak serendah yang kamu pikirkan, " balas Sarla, sedikit bernada tinggi, tak terima dengan perkataan Wulan.
"Santai aja, kenapa, " ucap Wulan. Sarla kini terdiam, ia memandangi jalanan, padahal Sarla sudah merasa tenang tanpa melihat Daniel.
Mobil sampai di tempat tujuan, Sarla masih tediam di dalam mobil. "Ayo keluar. "
"Aku ingin pulang. " balas Sarla.
Wulan terlihat kesal, ia membuka pintu mobil menyuruh Sarla segera turun dari dalam mobil.
"Ayo turun."
"Aku tidak mau. "
Wulan melipatkan kedua tangannya, dimana ia berteriak memanggil sang ibu mertua. " Bu. "
Alenta mendengar teriakan Wulan kini berlari keluar rumah, ia sudah menduga jika Wulan bisa membujuk Sarla untuk tinggal di rumahnya.
"Sarla."
"Nih, bu. Dia tidak mau turun dari tadi. " ucap Wulan pada sang ibu mertua.
Alenta datang mendekat ke arah mobil Wulan. " Sarla, ayo turun nak. Ibu menunggu kedatangan kamu dari tadi. "
Sarla tetap saja duduk di dalam mobil, terlihat sekali ia tidak mau beranjak keluar dari dalam mobil.
"Kamu ambeyen ya, dari tadi nggak mau keluar, " Ketus Wulan, Sarla menatap kearah Wulan dengan tatapan kesal karena sudah memaksanya.
"Ayo keluar, Sarla. Kita makan bersama, " rayu sang ibu mertua.
Dimana Daniel berteriak memanggil istri dan ibunya, " kalian sedang apa di sana. Aku sudah lapar sebaiknya kita cepat makan."
Deg ....
Perasaan Sarla tiba tiba tak karuan, setelah mendengar teriakan Daniel, dimana bayi dalam kandungannya terasa bergerak walau pelan.
"Ayo, nak. "
Melihat mata ibu mertua berkaca kaca, pada akhirnya Sarla turun dari dalam mobil.
Daniel melihat pemandangan Sarla dengan perut yang terlihat menonjol membuat badannya bergetar.
Sudah lama tidak bertemu, kini bertemu kembali. " Sarla tengah mengandung anakku. " Gumam hati Daniel. Ia baru menyadari hal itu, setelah kecelakaan terjadi.
__ADS_1
Menjauhkan diri dan membuat Sarla sendirian membesarkan bayi dalam kandungannya, ingin mengungkapkan semuanya dan berkata jujur, namun mulut Daniel seakan terkunci rapat.
"Ayo Sarla biar ibu bantu."
ucap sang ibu mertua, membuat Sarla merasa tak nyaman, karena ia harus tinggal bersama lelaki yang sudah tak mengigatnya.
Daniel berusaha memalingkan wajah, ia menatap ke arah Wulan, meraih tangan istrinya dengan berkata, " kamu dari mana saja sayang, aku cari dari tadi. "
Wulan sudah menduga jika Daniel akan mempelihatkan kemesraannya di depan Sarla, karena yang Wulan tahu Daniel hilang ingatan.
"Maaf sayang, aku menjemput Sarla dulu, teman ibumu."
"Kenapa dia harus tinggal di sini?"
Sarla mendengar perkataan Daniel, sedikit membuat hatinya tersayat, api cemburu mulai berkobar, membuat tubuh merasa panas.
"Kasihan, dia lagi hamil, suaminya tidak ada!"
"Mm, jadi karena itu dia tinggal disini. "
"Ya sudah, ayo kita masuk. Kamu pasti laparkan. "
Daniel menganggukkan kepala, mempelihatkan kemanjaanya seperti dulu, sedangkan Sarla kini dibantu sang ibu mertua masuk ke dalam kamarnya.
"Ini kamarmu, sayang. Semoga kamu betah tinggal disini. "
"Iya, bu. "
"Kamu kenapa?"
"Aku tidak kenapa kenapa kok!"
Alenta memegang punggung tangan Sarla, " terima kasih sudah mau tinggal di sini. "
Sarla berusaha memperlihatkan senyumannya, agar kesedihan itu tak nampak terlihat oleh Alenta.
"Sarla."
"Iya bu!"
"Semoga betah tinggal disini. "
"Iya bu. "
Memeluk erat punggung sang ibu mertua, Sarla sebenarnya tersiksa, hingga dimana Bi Siti datang dan berkata. " Nyonya Alenta, makanan sudah tersaji di atas meja. "
Sarla berusaha mengusap kasar air matanya, dimana sang ibu mertua melepaskan pelukannya. " Sarla, ayo kita makan bersama."
"Ibu saja, Sarla belum lapar. "
"Sayang, walau pun kamu tidak lapar, kamu harus makannya, karena bayi dalam kandunganmu ini butuh nutrisi. "
__ADS_1
Mendengar hal itu, Sarla akhirnya menurut, Alenta memegang tangan Sarla untuk berjalan menuju ke meja makan.
Semua orang sudah duduk di atas meja, apalagi Daniel, terlihat sepasang suami istri itu mempelihatkan kemesraan mereka berdua dihadapan Sarla.
Namun Sarla berusaha cuek, walau sebenarnya ada sedikit luka yang ia rasakan.
Wulan yang memang senang, malah sengaja mempelihatkan kemesaraan di depan Sarla terus menerus.
"Sayang, kamu cobain deh ini. "
Menyuapkan makanan ke mulut Daniel, membuat Alenta berpura pura batuk, seharusnya Wulan menghargai Sarla. Tidak mengubar kemesraan, yang akan membuat Sarla cemburu.
Namun wulan malah sengaja, ia mengelap bibir Daniel, lalu mencium pipinya.
"Wulan kamu ini."
Wulan mengerutkan dahi, mendengar sang ibu membentaknya.
"Kenapa bu."
Tanya Wulan.
"Tolong hargai tamu kita. " Balas sang ibu sedikit terdengar kesal.
"Aku dari tadi menghargai Sarla loh, bu. Cuman ibunya aja yang sensi, " ucap Wulan pada sang ibu mertua, dan seperti biasa ia melawan.
"Memangnya kenapa bu, bukannya dia hanya ibu." Timpal Daniel.
Mendengar pembelaan Daniel untuk Wulan, membuat Sarla sakit hati. Ia memegang dadanya, berusaha tetap tenang lalu berucap, " kenapa bisa hatiku merasakan rasa sakit seperti ini, apa karena aku sedang mengandung bayi Daniel. " Gumam hati Sarla.
"Tuh, ibu dengarkan kata anak ibu. Dia kan tamu ibu, jadi nggak ada salahnya kita bermesraan di depan tamu ibu, kitakan suami istri yang sah. "
Wulan semakin senang, saat membalas pekataan ibu mertuanya.
Sedangkan Daniel merasa menyesal, namun semua harus ia lakukan agar orang di rumah tak curiga jika Daniel berpura pura Amnesia.
"Terserah kalian saja. "
Alenta menatap ke arah Sarla, ia mengambil beberapa makana, lalu memberikan makanan itu pada Sarla.
"Nih, makan yang banyak, biar bayi dalam kandungan kamu itu sehat. "
"Terima kasih banyak bu. "
Daniel yang melihat pemandangan itu, terlihat bernapas lega, " Untunglah ibu selalu memperhatikan Sarla, aku merasa tenang jika ibu begitu peduli pada Sarla."
"Oh ya, Daniel. Nanti setiap bulan kamu antar Sarla ke rumah sakit ya, " ucap sang ibunda. Membuat Wulan terkejut. " loh bu, kenapa harus Daniel, kan ada sopir, terus satpam."
"Iya ibu tahu itu, tapi ibu ingin Daniel yang mengantarkan Sarla ke rumah sakit. " balas sang ibunda.
Wulan terlihat tak terima, ia menyesal jika pada ujungnya sang ibu mertua malah mendekatkan Daniel dengan Sarla.
__ADS_1