Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 99


__ADS_3

"Akhirnya Nyonya pulang juga, bibi kuatir sekali dengan keadaan nyonya?" Wanita tua itu terlihat gelisah, ia nampak mengusap pelan bahu Wulan.


"Wulan baik baik saja kok, bi. Bibi jangan kuatir, bibi harus tenang."


Bi siti sudah menyiapkan makanan untuk Wulan, dimana Alenta datang dan berkata," kemana saja kamu?"


Wulan tak ingin berdebat, ia pergi dari hadapan Alenta, " Bukan urusan anda."


Gaya bahasa yang berbeda dari sebelumnya, Wulan yang biasa memanggil Alenta dengan sebutan ibu, kini merubah dengan gaya bahasa kaku.


"Wulan, jika orang tua tanya itu jawab dengan benar?"


Bi Siti hanya mengikuti langkah kaki Wulan, dimana Alenta membentak menantunya itu.


"Wah, anda ingin saya berbicara dengan benar, lantas diri anda juga saat berbicara pada saya, apa sudah benar."


Alenta tanpak murka dengan perlawanan menantunya, " Heh, kamu ini jangan seenaknya berbicara ya."


"Hm, saya tidak seenaknya berbicara, hanya mengatakan hal yang benar bagi saya. "


Bi Siti berusaha mengajak Wulan pergi dari perdebatan bersama mertuanya," Sudah, Nyonya sebaiknya, Nyonya segera makan siang, kasihan bayi dalam perut nyonya butuh nutrisi. "


"Bi, ngapain coba perhatian dengan wanita itu, Bibi itu pembantu saya, yang gaji bibi di sini saya."


Bi siti tampak ragu, dimana ia menundukkan pandangan tak bisa berbuat apa apa, hanya menghindar dari hadapan Wulan, karena Bi Siti masih membutuhkan pekerjaan.


"Maaf Nyonya. "


Perkataan maaf Bi Siti membuat Alenta menyuruh wanita tua itu segera pergi ke dapur, " cepat pergi ke dapur buatkan saya minuman segar."


Wulan yang melihat pemandangan Alenta saat memarahi Bi Siti, membuat ia geram, lalu memegang erat tangan kanan pembantunya itu.


"Bi, temanin Wulan makan saja ya."


Alenta tanpa tak suka dengan perkataan Wulan kepada pembantunya," he Wulan jangan seenaknya begitu kamu, Bi Siti sudah saya perintahkan untuk membuat minuman segar."


"Tidak bisa, Bi Siti harus menemani saya makan siang. "


" Makan siang juga pakai acara, mau ditemani segala. "


"Biarin."


Wulan lalu menarik tangan Bi Siti pergi dari hadapan Alenta, Di mana Alenta hanya menatap ke arah mereka berdua dengan senyuman sinisnya.

__ADS_1


Daniel kini pulang, dimana Iya bergegas menghampiri Wulan. " Daniel, tumben sekali kamu pulang jam segini?"


" Pekerjaanku sudah aku alihkan kepada Varel. aku ada urusan dengan Wulan. Dimana dia?"


"Baru saja dia pergi ke dapur bersama Bi Siti."


Jawaban Alenta, membuat Daniel kini menghampiri istri pertamanya.


"Tunggu Daniel."


Alenta penasaran, hingga ia bertanya?" cuma sekali kamu mencari Wulan. Sebenarnya ada apa. "


Daniel mulai mengungkapkan di mana Wulan datang ke rumah Sarla, " tadi pagi itu Wulan datang ke rumah sarla, Aku curiga ia melakukan hal tidak baik kepada istri kedua. "


"Dari mana kamu bisa tahu?" hanya sang ibunda pada anaknya.


" Untung saja aku memasang CCTV di rumah Sarla, untuk melihat kegiatannya. Namun saat aku tengah bersantai dari pekerjaanku, Wulan berada di rumah Sarla."


Alenta sempat berdebat dengan kepergian Wulan, ia tak menyangka, jika Wulan begitu nekat pergi ke rumah Sarla.


"Lalu, apa yang mereka bahas?"


" Ibu tahu sendiri kan direkaman CCTV itu tidak ada suara ya. Hanya merekam gambar yang ada di sekitarnya!"


Wanita tua itu tertawa, dimana anaknya Daniel menggeleng gelengkan kepala. "Ya, maaf. Ibukan lupa."


"Ibu apa apa lupa. Oh ya, Daniel mau menemui Wulan dulu. "


Daniel kini bergegas pergi dari hadapan Alenta, ia ingin menegur istrinya yang sudah kelewat batas datang ke rumah Sarla.


"Nyonya, makan yang banyak, biar kandungannya sehat."


Wulan menganggukkan kepala dan berkata lagi," Iya Bi, terima kasih."


Wulan senang dengan perhatian Bi Siti, ia seperti mempunyai seorang ibu, setelah kematian ibunya yang sudah lama meninggalkan dia dari waktu berumur tiga tahun.


Sedangkan sang ayah, entah pergi kemana, meninggalkan Wulan sendirian tanpa rasa kasih sayang, Wulan hanya dibesarkan dipanti asuhan dan di adopsi oleh sepasang suami istri yang kaya raya.


"Nyonya, ayo makannya, malah melamun?"


Bi Siti membuat Wulan, membuyarkan lamunannya. Menarik makanan yang ada dihadapan Wulan," biar bibi suapin. Nyonya kenapa ngelamun terus."


Air mata kini mengalir deras membasahi pipi, wanita tua itu merasa bersalah dengan perkataanya." Ya ampun Nyonya, maafkan saya. Apa saya salah berbicara?"

__ADS_1


Wulan menggelengkan kepala, lalu berkata lagi, " Tidak bi, bibi tidak salah, Wulan saja yang cengeng. "


Bi Siti perlahan, mengusap air mata Wulan, lalu berkata lagi. " lalu apa yang Nyonya pikirkan sekarang, kenapa Nyonya bersedih."


"Kenapa Daniel, bersikap seperti itu bi? Apa sampai sebegitunya ia membenciku, karena satu kesalahan? Sedangkan ia tak pernah menyadari kesalahannya sendiri, apa seorang wanita pantas diperlakukan seperti itu."


Bi Siti ikut menangis mendengar perkataan Wulan, dimana ia menatap dalam dalam wajah penuh kesedihan sang majikkannya.


"Wajar seseorang melakukan kesalahan, jika ada alasan. Bibi tahu Nyonya itu orang baik, nyonya harus bersabar, mungkin ini ujian untuk nyonya."


"Tapi kenapa ujiannya begitu berat bi. "


Bi Siti memeluk Wulan, penuh dengan rasa kasih sayang, " Bibi selalu membuat Wulan nyaman, hingga kesedihan yang Wulan rasakan perlahan demi perlahan mereda, Terima kasih ya bi."


Bi Siti melepaskan pelukkannya, lalu mengusap pelan air mata Wulan, " Sudah, Nyonya Wulan jangan bersedih, Bibi tahu apa yang Nyonya rasakan pasti menyakitkan, tapi alangkah baiknya Nyonya jangan terlalu mendalami rasa sakit itu, belajar tetap tenang dan menguasai diri agar tetap santai dalam menjalankan hidup."


Menganggukkan kepala, Wulan kini berucap." Terima kasih ya bi. "


"Sama sama, Nyonya."


Brakkk ....


Pukulan dari tangan Daniel mengenai meja membuat keduanya terkejut.


"Tuan Daniel. "


Daniel kini menarik tangan Wulan, membuat Bi Siti berusaha menahan.


"Tuan, kenapa?"


"Bi Siti, sebaiknya bibi jangan ikut campur, ini urusan saya dengan Wulan!"


"Tapi Tuan, kondisi Nyonya Wulan."


Bi siti melihat pemandangan yang tak terduga, di mana Daniel menarik paksa Wulan yang tidak mau pergi bersamanya, wanita tua itu berusaha menyadarkan Daniel agar tidak berbuat kasar terhadap istrinya. " Tuan Daniel hentikan, kasihan Nyonya Wulan."


Saat Wulan diseret paksa oleh Daniel, Bi Siti terus mengikuti mereka berdua pergi.


"Daniel, sakit."


Wulan kini dibawa pergi menuju ke dalam kamar, tubuhnya didorong begitu saja pada ranjang tempat tidur. Wulan ketakutan sekali dengan tingkah suaminya yang terlihat murka dan marah besar terhadapnya.


Daniel semakin mendekat ke arah wulan menatap tajam istri pertamanya itu, " apa yang akan kamu lakukan Daniel kepadaku?

__ADS_1


__ADS_2