Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 124


__ADS_3

Dera pergi dari hadapan kedua anak tirinya, untuk segera menyusul Gunawan yang tengah marah besar karena ucapannya itu.


Sarla dan Lilia tanpak begitu bahagia, setelah aksi yang mereka rencanakan berhasil. Saling bertepuk tangan dan berkata, " Yes, rencana kita berhasil. "


"Benar kak. Si nenek sihir itu pasti kena batunya."


"Pastinya de, belum tahu aja dia kita kaya gimana."


Bertapa kompaknya mereka berdua, setelah kehilangan sang ibunda.


Lilia mulai memeluk sang kakak, dengan penuh rasa bahagia, ia lalu berkata, " kakak emang yang terbaik. "


"Kita harus saling melengkapi, karena kakak sudah berjanji sama ibu, akan selalu melindungi kamu Lilia. "


"Owhh, aku sayang kakak. "


*******


Lani bangun dari pingsannya, ia menatap ke arah kiri ada sosok pembantu Sarla yang sudah membantunya.


Memegang kepala, masih merasakan rasa sakit, Lani, mulai bertanya pada pembantu itu, " Mana mama, bi?"


Sang pembantu tak menjawab, ia langsung memberikan air minum, hingga dimana. Sosok lelaki tua yang menjadi papahnya berjalan begitu cepat melewati Lani.


"Papah?" Lani merasa heran dengan tingkah sang papah yang terlihat jutek tidak seperti biasanya.


Padahal tadi Lani menyuruh pembantu itu mencari keberadaan Dera, " Bi. "


"Iya Nona."


"Mama ma .... " Belum perkataan Lani terlontar semuanya, sosok Dera datang berlari seperti mengejar Gunawan.


Lani terlihat begitu senang, dengan sosok sang mama. Ia mencoba memanggil Dera, " mama."


Namun tak bisa dibayangkan, Dera hanya menatap sekilas ke arah Lani, ia berlari kembali.


"Mama, kenapa?"


Lani mulai mengigat kejadian tadi, ia bertanya lagi pada pembantu yang ada di dekatnya," Bi, tadi aku suruh bibi temui mama kan?"


Wanita tua yang berkerja di rumah Dera, hanya menundukkan wajah, ia tak bisa berucap satu patah katapun, hanya bisa bungkam.


"Bi, aku tanya loh sama bibi, kok. Bibi malah diam saja. "


Terlihat dari raut wajah wanita tua itu, mempelihatkan rasa gelisah, karena tadi ia hanya menuruti perintah dari Lilia.


"Bi."


Lani seakan murka sekali dengan pembantu yang bekerja di rumah Sarla, ia seenaknya memarahi sang pembantu." Kerja itu yang becus. "


"Maaf, Non. "


Lilia yang menyadari kemarahan Lani, mulai mendekat ke arah mereka berdua, sembari berkacak pinggang, " heh, Lani, ngapain kamu marahi bibi?"

__ADS_1


Lani terdiam, ia menatap tajam ke arah Lilia, " pasti semua ini gara gara kamukan?"


Lilia mengerutkan dahi, lalu tersenyum sinis. Karena kesal, ia mendorong pelan kepala adiknya. " Heh, kalau iya kenapa?"


Lani mendengus kesal, ia memegang tangan Lilia, lalu memutarkannya begitu saja.


"Ahkkk, sakit. "


Pembantu yang menyadari hal itu, mencoba menjauhkan mereka dari pertengkaran, " Aduhh, non sudah jangan bertengkar. "


Lilia tak mau kalah dengan Lani, ia menjabak rambut Lani dengan begitu keras. Lalu berkata, " Rasakan ini. "


"Ahkk, sakit. "


Mereka bertarung satu sama lain, demi mempertahankan diri, sedangkan sang pembantu merasa kebingungan karena kewalahan.


"Nona Lilia, Nona Lani, sudah ya. Jangan bertengkar lagi, Stop. "


Mereka tak mendengarkan perkataan pembantu yang berada dihadapan mereka sama sekali, terlalu asik berdebat, hingga dimana.


"Ahkk, sakit. "


"Aduhh."


Keduanya meringis kesakitan, karena jeweran dari Sarla datang tiba tiba, " Aduhh kak, sakit. "


"Siapa suruh kalian bertengkar. " pekik Sarla memarahi keduanya, yang tak berhenti saling menyakiti.


"Cepat lepaskan tangan kalian," printah Sarla, keduanya saling melepaskan satu sama lain, setelah perdebatan yang terjadi.


Berkacak pinggang lalu bertanya pada keduanya.


"Siapa yang mulai?"


Keduanya saling menyalahkan satu sama lain, membuat kuping Sarla sakit karena teriakan dan saling menyalahkan diantara Lilia dan Lani.


"Sudah cukup. Apa kalian bisa berhenti bertengkar satu sama lain?"


Keduanya kini terdiam, mereka tak meneruskan pertengkaran, hingga dimana Lani yang kesal akan teringat sang mama menangis mengejar suaminya.


Membuat ia menghardik Lilia, " Semua ini gara gara kamu. "


Lilia tak terima, ia membalas dengan tatapan sinisnya. " Kenapa kamu menyalahkan aku, apa salahku?"


"Kamu sudah membuat mama menangis, sampai mengejar papa keluar rumah!" jawab Lani, seperti tak terima akan perlakuan Lilia yang membuat hati mamanya terluka.


"Wah, hanya karena itu, heh. Kamu dengar ini ya, mama kamu itu pantas mendapatkan perlakuan seperti itu karena jahat."


Plakkk ....


Lani dengan beraninya menampar Lilia begitu keras, membuat Sarla tentunya terkejut.


"Kurang ajar kamu. " Lilia tak tinggal diam, ia langsung menjambak rambut Lani.

__ADS_1


"Rasakan ini. "


Semua saling menyalahkan satu sama lain, hingga Sarla berteriak. " STOOooppp. "


Keduanya ternyata tak berhenti bertengkar, mereka malah semakin menjadi-jadi, melukai satu sama lain, hanya karena melihat kedua orang tua mereka bertengkar.


Dengan terpaksa Sarla, menjewer lagi keduanya.


"Sakit."


"Kalian mau berhenti atau kakak buat hukuman."


Semuanya kembali lagi terdiam, sampai di mana Sarla berusaha menyingkirkan keduanya, agar tidak bertengkar lagi.


Sarla menyuruh pembantunya itu untuk membawa Lani segera mungkin, agar terpisah dengan Lilia.


"Bi, tolong ajak Lani ke kamar tamu ya."


Menundukkan kepala lalu berkata, " baik non. "


Lani memajukan kedua bibirnya, mendelik kesal meledek Lilia, Lilia seperti membuat ancang-ancang untuk memukul lagi adiknya itu.


Dimana Lilia berkata, " Sudah jangan bertengkar lagi, kamu sebaiknya ikut Kakak sekarang juga."


Lilia mulao menuruti perkataan kakaknya, ia mengikuti langkah Sarla. Di mana keduanya itu, sengaja ingin melihat pertengkaran antara mama tiri dan juga ayah kandung mereka berdua.


"Kayanya seru kalau kita lihat pertengkaran mama Dera dan papah. "


"Ya juga sih, ayo. "


*******


Sedangkan Lani yang diantarkan oleh pembantu di rumah menuju ke kamar tamu, menghentikan langkah kakinya, kedua matanya berkaca-kaca.


"Bi, Lani nggak mau ke kamar, bibi antarkan Lani menemui mama ya, " ucap Lani memohon kepada pembantu di rumah.


"Tapi non, kata Nyonya Sarla, Nona harus beristirahat di dalam kamar, karena kondisi Nona sedang tidak baik. "


Lani mengelak perkataan pembantunya itu, Iya tetap memaksa wanita tua itu. Untuk mengantarkan dirinya pada mama.


"Ayolah bi, antarkan Lani sekarang juga ke Mama."


Karena menurut dengan Sarla, pembantu itu langsung menggendong Lani, memasukkan anak kecil itu ke dalam kamar, lalu menguncinya pintu kamarnya.


Lani berteriak memohon untuk dibukakan pintu kamarnya," Bi, buka Bi Lani ingin bertemu dengan Mama. "


Pembantu itu mengabaikan teriakan Lani, ia kini berjalan pergi untuk segera mengerjakan pekerjaan rumah yang masih tertunda, karena mengurusi Lani dari tadi.


"Bi."


Lani menggerutu kesal dirinya di dalam kamar, ia membantingkan kursi pada pintu, berharap jika pembantu itu segera membukakan pintu kamarnya.


"Sialan, kenapa pembantu itu malah mengunciku di dalam kamar. "

__ADS_1


Lani mencoba mencari ponselnya pada saku celana, namun ternyata Ia lupa, jika ponselnya berada di dalam tas.


__ADS_2