Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 198


__ADS_3

Bagaimana rasanya jika ada di posisi Sarla, dokter belum juga datang hanya karena menunggu persetujuan dari Daniel sang suami Sarla.


Jika pindah ke rumah sakit lain, pastinya tak memungkinkan. " Pak, kenapa malah diam saja. "


"Tenang ya, sayang. Dokter sebentar lagi datang. "


Lilia sang adik hanya menunggu di luar rumah sakit, perasaannya benar-benar tak tenang, kedua matanya berkaca-kaca, takut jika terjadi apa-apa dengan sang kakak.


"Semoga, Kak Sarla baik baik saja. "


******


Alenta yang baru saja mendapatkan panggilan dari Gunawan, kini mencari keberadaan anaknya.


"Daniel."


Alenta hanya melihat Wulan sendirian di ruang tv, ia kini bertanya pada menantunya itu, " kemana Daniel."


Wulan mengangkat kedua bahunya, akan acuh dengan pertanyaan sang mertua.


"Coba kamu carikan Daniel, Wulan." Printah Sang mertua pada menantunya.


"Untuk apa sih bu, cari ajah sendiri," balas Wulan. Alenta hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban dari menantunya itu.


Daniel ternyata baru saja keluar dari kamarnya, ia melihat istri dan ibunya tengah berdebat. " Ibu, Wulan. "


Keduanya menatap Daniel secara bersamaan, " Kalian ini, sehari saja tidak berdebat, mungkin kepalaku merasa tenang. "


Alenta kini mendekat ke arah Daniel anak semata wayangnya itu, memegang lengan Daniel dengan berkata," Daniel, Sarla sekarang berada di rumah sakit, ia membutuhkan kedatangan kamu sekarang juga. "


"Apa, benarkah itu. "


Alenta menganggukkan kepala, di mana Wulan berdiri mendengar keduanya membahas tentang Sarla.


"Ya sudah sekarang aku akan ke sana?"


Melihat Daniel bergegas ingin segera i istri keduanya itu, Wulan tiba-tiba menghentikan langkah suaminya, " tunggu. "

__ADS_1


Alenta yang melihat Wulan menghentikan langkah Daniel, kini mengerutkan dahinya, " loh Wulan, Kenapa kamu menahan Daniel?"


Melipatkan kedua tangan, dengan begitu angkuhnya Wulan menyuruh Daniel untuk duduk, ya tidak mengizinkan suaminya untuk pergi menemui Sarla.


"Cepat duduk. "


"Wulan kamu gila ya?" pertanyaan wanita tua itu membuat Wulan tersenyum kecil.


"Ibu bicara jika aku ini gila, halo bu. Apa ibu lupa ya, jika Daniel itu bukannya berpura-pura hilang ingatan, jadi untuk apa dia datang menemui Sarla!"


Apa yang dikatakan Wulan memang ada benarnya, " kenapa kalian mau marah padaku. "


Keduanya menundukkan pandangan, di mana wanita tua yang menjadi mertua Wulan itu kini angkat bicara. " walaupun berpura-pura hilang ingatan. Ada baiknya, kamu Daniel segera menemui istri keduamu, yang sekarang membutuhkan kamu. Jangan dengarkan perkataan Wulan. "


Daniel menatap ke arah Wulan." kenapa, apa kamu mau mendengarkan perkataan ibu kamu, atau perkataanku. Bukannya Kamu sendiri yang ingin menghindar dari Sarla?"


Daniel terdiam, ia bingung harus berbuat apa.


"Daniel, aku hanya ingin mengingatkan kamu, jangan pernah menjilat air ludah yang sudah kamu buang sendiri. "


Daniel menatap ke arah ibu kandungnya sendiri," Maafkan Dania Bu, sepertinya Daniel tidak bisa menemui sarla, karena Daniel sudah berjanji pada diri Daniel sendiri, Daniel akan melupakan Sarla setelah kecelakaan itu terjadi. "


"Daniel, apa kamu tega kepada istri mu sendiri, yang akan melahirkan darah dagingmu."


Alenta memegang tangan anaknya, berharap jika Daniel luluh.


"Daniel. Jika kamu benar-benar mencintai Sarla, pertahankan dia. Walaupun dia menolakmu, karena suatu saat nanti Sarla juga akan menerimamu. "


Wulan yang masih berdiri di hadapan Alenta dan juga Daniel, kini melepaskan genggaman erat tangan mereka," Bu, Daniel itu masih sah suami Wulan, ibu jangan mengatakan hal yang malah akan merusak rumah tangga bulan dan juga Daniel. Jika anak ibu sudah berkata seperti itu, alangkah baiknya menuruti perkataannya. "


"Wulan, kamu memang wanita tidak tahu diri, kamu begitu serakah, setelah berselingkuh dari belakang suamimu sendiri, kamu tetap saja egois tidak mau berbagi."


Wulan tak membalas perkataan Alenta, ya berusaha diam, sampai dimana. Alenta wanita tua itu terus membujuk anaknya," Ayo Daniel cepat kamu pergi menemui Sarla. "


Daniel menggelangkan kepala, tak mendengar apa yang dikatakan Alenta," Maaf bu. Daniel tidak bisa. Biarkan papanya yang menemani sarla. "


Daniel pergi dari hadapan Alenta Dan juga Wulan, dimana wanita yang menjadi istri pertama Daniel, menatap kesal ke arah mertuanya," sebaiknya ibu jangan terlalu membela Sarla, Karena bagaimanapun Sarla hanya salah seorang istri kedua, yang tak akan pernah bisa bersama Daniel selama lamanya. Jadi ibu harus mengerti sebagai orang tua, yang menemani sang suami hanyalah istri pertama. "

__ADS_1


"Wulan, tetap saja Daniel punya hak memiliki istri lagi, " balas Alenta, kata mau kalah dengan menantunya.


"Bukan Daniel saja bu, tapi semua laki laki. Mempunyai hak memiliki istri lagi, dengan catatan jika istrinya Ridho, atau sudah tidak bisa melayani suaminya lahir maupun secara batin. "


Mendengar perkataan yang terlantar dari mulut Sarla, membuat Alenta hanya terdiam keluh.


"Oh ya bu, Kenapa tidak Ibu saja yang pergi ke rumah sakit untuk menemui menantu kesayangan ibu itu. "


Ucapan Wulan, membuat Alenta pergi dari hadapannya, ia bergegas mengambil tas untuk segera menemui Sarla di rumah sakit.


Wulan yang melihat raut wajah mertuanya hanya tersenyum kecil," Dasar nenek tua tak berguna.


Daniel duduk dengan raut wajah masih memikirkan istri keduanya itu, perasaannya benar-benar tak karuan, setelah mendengar Sarla melahirkan darah dagingnya sendiri.


Ia menatap telapak tangan, kedua matanya berkaca-kaca, sampai air mata menetes keluar mengenai telapak tangan Daniel.


"Sekarang aku harus menjadi lelaki yang tega, demi membuat Sarla bahagia, karena waktuku menjadi suami Sarla sudah habis."


Wulan mulai menghampiri sang suami, melihat kesedihan yang dirasakan suaminya itu, mengetuk pintu.


"Masuk."


Daniel terburu-buru mengelap air matanya yang terus menetes hingga mengenai pipi. Iya tak mau jika Wulan tahu dan tiba-tiba saja marah kepadanya.


Wulan mendekat dan merangkul bahu sang suami," setelah kamu mendengar Sarla melahirkan, apa hatimu merasa kecewa karena tidak datang ke rumah sakit?"


Pertanyaan Wulan membuat Daniel tersenyum kecil, " bukannya aku sudah pernah bilang kepadamu, aku akan melaupakan Sarla demi membuat ia bahagia bersama orang lain."


"Bagus, aku akan selalu pegang janjimu itu. "


Wulan memeluk Daniel dengan begitu erat. sedangkan Daniel yang merasakan pelukan Wulan, tak merasakan ketenangan sedikitpun.


" Sebentar lagi kita akan memiliki anak, jadi kamu harus bisa fokus dengan keluarga kita. jangan lupa janjimu akhiri kontrak pernikahan dengan Sarla. Karena saat ini juga aku akan berjanji untuk merubah diriku, menjadi lebih baik lagi, menjadi istrimu seutuhnya menuruti apa yang kamu inginkan. "


"Oke."


Entah kenapa hati Daniel tidak seperti dulu lagi, saat bersama dengan Wulan, hatinya selalu berbunga-bunga dan merasa bahagia. Tapi sekarang Daniel merasa jika ia lebih nyaman dengan Sarla.

__ADS_1


__ADS_2