Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 206


__ADS_3

"Bi Siti, apa bibi tidak sakit hati dengan perkataan Nyonya Wulan, dia memarahi bibi. Dan terima kasih ya bi, bibi sudah menyelamatkan aku dari amarah Nyony Wulan."


Ita masih menggendong bayi mungil itu, terlihat bayi itu seperti nyaman berada dipangkuan Ita.


"Tak apa Wulan marah pada bibi, diakan tidak bisa memecat bibi sembarangan. "


"Ya juga sih, karena yang berkuasa di rumah ini Tuan Daniel. Bi kayanya dia kehausan deh pengen susu. "


"Bibi juga bingung, Tuan Daniel belum pulang. Dan bibi tidak memegang uang sama sekali, kasihan bayi itu Nyonya Wulan suruh bibi kasih susu kental manis. "


"Waduh, kok jahat sekali Nyonya Wulan, kasihan sekali bayi ini kalau dikasih susu kalengan, bagaimana nanti dengan perutnya. Aku sekarang tidak megang uang bi, karena sudah habis aku teransfer untuk kebutuhan keluargaku di kempung. "


"Mudah mudahan Tuan Daniel segera pulang, karena kasihan bayi ini, butuh susu. "


"Iya benar bi, aku juga nggak tega lihatnya, dari tadi dia nangis karena lapar. "


*********


Sarla bangun dari ranjang tempat tidur, ia bergegas untuk segera pulang dari rumah sakit bersama dengan Gunawan.


Perasaannya tak karuan, Sarla mengigat bayi yang baru saja ia lahirkan, perasaanya benar benar tak tenang, ingin sekali mengambil bayi itu dan mengurusnya hingga besar.


Namun perjanjian tetaplah perjanjian tak bisa di ingkari begitu saja. Sarla menatap ke arah sang papah, melihat kesedihan yang dirasakan lelaki tua itu membuat Sarla bertanya. " Papah kenapa?"


"Papah memikirkan adik kamu, papah takut Mama Dera melakukan hal yang tidak baik pada Lilia!"


Sarla memegang bahu sang papah, mengusapnya pelan, " pikiran kita sama pah, aku juga lagi memikirkan Lilia, dan keadaan anak aku. Karena belum ada kabar dari Ibu Alenta. "


Mereka pulang dengan perasaan tak menentu, kesedihan menyelimuti keduannya, Gunawan berusaha menghubungi Dera, sang istri. Ia berharap jika istrinya itu bisa membebaskan Lilia.


Namun tetap saja panggilan tak di jawab jawab, beberapa kali Gunawan menghubungi Dera, tetap saja wanita tua itu tak mengangkat panggilan dari suaminya.


"Dera, benar benar tidak tahu diri dia."


Gerutu Gunawan di dalam mobil.


*********


Gunawan yang terus-menerus menghubungi Dera, dimana wanita tua itu. Tengah mengikat tubuh Lilia, Dera sengaja menculik Lilia, agar Lani mendapatkan uang warisan yang dimiliki oleh Gunawan.


Hanya dengan cara menyakiti Lilia, Dera pasti bisa mengancam suaminya itu, agar bisa mendapatkan apa yang ia mau.


Lilia terbangun dari pingsannya akibat obat bius yang diberikan oleh Dera. Lilia terkejut dengan dirinya yang sekarang berada di ruangan yang begitu berantakan, tubuhnya diikat mulutnya diperban, membuat Lilia tak bisa berteriak untuk meminta tolong.


"Hai kakak, gimana rasanya. Menyenangkan bukan," ucap Lani kepada sang kakak, ia duduk dihadapan Lilia.

__ADS_1


"Mm."


Lilia tak bisa berbicara satu patah katapun, bibirnya seakan terkunci rapat, ia berusaha menggerakan tubuh terbebas dari ikatan tali yang mengikat tubuhnya.


"Kenapa kakak sayang, sakit ya. "


Perkataan Lani, membuat Lilia kesal, bisa bisanya ia terjebak dengan perangkat ibu dan adik tirinya itu.


"Pasti ingin bebas, aduuuhh, kasihan banget. "


Dera datang, terdengar suara langkah kaki, membuat wanita tua itu tersenyum.


"Hai anak manis, sekarang kamu berada digenggaman kami, apa jadinya nanti kalau papah kamu itu mendengar jika anak keduanya hilang. "


Lilia hanya bisa pasrah dan tak bisa berbuat apa apa, "Sayang, gimana? Apa kamu puas setelah mama mengikat kakak kamu seperti ini. "


Lani tersenyum kecil, lalu berucap, " tentu puas lah mam. Karena aku suka jika melihat anak sok manja ini diikat seperti sekarang. "


"Ya sudah, dari pada kita ngurusin anak ini, gimana kalau kita pergi jalan jalan," ucap Dera, mengajak anak semata wayangnya itu untuk pergi.


"Mm, ide yang bagus mah. Ya sudah ayo, " balas Lani pada sang mama.


Kepergian sang adik tiri dan juga mama tiri Lilia, membuat anak berumur sebelas tahun itu meneteskan air mata, " mereka benar benar jahat. Kenapa tega sekali mengikatku seperti ini. "


Dera kini meraih ponsel, untuk segera pergi bersama anaknya.


Baru saja melangkah keluar rumah, suara ponsel berbunyi, Dera menatap layar ponselnya yang terus berkedip, melihat siapa orang yang menghubunginya.


"Papah."


"Kenapa mah?" tanya Lani membuat Dera tersenyum tipis, ia kini memperlihatkan layar ponsel yang terus menyala.


"Papah? Kenapa mama tidak angkat?"


"Malas!"


Lilia terlihat mengerutkan dahinya, " mm. Siapa tahu papah mau kasih kita uang. "


"Iya juga sih. "


Dera mulai mengangkat panggilan telepon dari suaminya, ia berharap jika Gunawan ingin memberikan hadiah untuk mereka, meminta maaf karena sudah mengusir mereka dari rumah.


"Halo, pah?"


"Halo, Dera, kamu ada dimana? Kenapa kamu membawa Lilia, apa maksud kamu melakukan semua itu!"

__ADS_1


Dera terdiam, ia tak menyangka jika Gunawan mengetahui kelakuan jahatnya.


"Dera."


"Ahk iya. Pah. Kenapa?"


"Kembalikkan Lilia!"


Dera mulai mematikkan panggilan telepon dari suaminya, ia seperti ketakutan.


"Mama kenapa, kok gelisah begitu?" tanya Lani, memegang tangan sang mama, melihat raut wajah penuh rasa takut.


"Papah kamu, sudah mengetahui rencana kita. Dia tahu bahwa kita menculik Lilia!" jawab Sang mama membuat Lani terkejut.


"Loh, kok bisa. Apa karena cctv yang berkedip di rumah sakit?" tanya Lani. Dera mulai mengigat apa yang dikatakan anaknya.


"Sepertinya iya Lani, kita terlalu ceroboh. Sampai papah kamu mengecek cctv rumah sakit. " ucap Dera, kepanikan mulai mereka rasakan.


"Terus gimana dong, Lani takut masuk penjara, " balas Lani yang terlihat tak tenang.


"Sayang kamu tidak akan masuk penjara yang masuk penjara itu mama, " balas Dera pada anak semata wayangnya itu.


"Gimana dong mah, " belum apa apa, mereka begitu panik.


"Apa kita lepaskan saja Lilia, " ucap Lani, memberi sarah pada Lilia.


"Jangan, kalau kita lepaskan Lilia, kita nggak bisa ngacam papah buat kasih uang pada kita, " balas Dera, yang ia pikirkan uang dan uang lagi.


"Benar juga. "


*******


Tiba tiba pesan datang dari ponsel Dera.


( Dera, kenapa kamu malah mematikkan panggilan telepon dariku. Aku belum selesai berbicara.)


Dera mengabaikan pesan yang datang dari suaminya, " Siapa mah?"


"Papah kamu, sepertinya ia marah besar terhadap mama, dari pesan yang Mama baca papa kamu sedikit membentak. "


"Papah tega banget ya, sudah mengusir kita, sekarang papah malah membentak mama. Aku tak suka papah, benci dengan papah. "


Dera kini memeluk anak semata wayangnya itu, " jadi kamu sekarang lebih percaya pada Mama kan daripada papah kamu sendiri?"


Lani mengganggukan kepala masih memeluk sang mama," iya, Lani kira papah itu papah yang baik."

__ADS_1


"Ya sudah, sebaiknya kita jangan memperdulikan perkataan papa kamu, lebih baik pergi jalan-jalan saja menikmati hari ini. "


__ADS_2