
Setelah melalui perdebatan yang sangat panjang, Sarah merasakan jika perutnya terasa lapar, ia berusaha bersikap tenang. keluar dari kamar, mencari sebuah makanan untuk menutupi rasa laparnya.
Namun ia merasa penasaran dengan mertuanya, iya belum melihat keadaan Alenta sejak ia tidur seharian di atas sofa.
Sebelum mencari makanan, iya melangkahkan kaki ke arah kamar Ibu mertuanya, mengecek keadaan Alenta. Apakah wanita tua itu baik-baik saja?
Mengintip pada pintu kamar Ibu mertuanya, Wulan melihat sosok seorang wanita duduk di samping Alenta.
"Siapa dia? Kenapa aku baru melihat dia sekarang?" Wulan bertanya-tanya dalam hatinya.
Wulan berusaha menyelidiki, baju yang dipakai oleh wanita itu." Seperti baju perawat. "
Tiba-tiba saja, Wulan terkejut ia merasa ada tangan yang memegang bahunya. Membalikkan badan, ternyata itu adalah Ita.
Gadis itu mengagetkan Wulan, membuat Wulan berusaha menutup mulutnya untuk tidak menjerit. " Nyonya sedang apa di sini. "
Wulan terlihat begitu gelisah, setelah melihat keberadaan Ita yang tiba-tiba saja berada di hadapannya, dia menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal sedikitpun.
"Eeh."
karena tak ingin didengar oleh mertuanya, Wulan mulai menarik tangan pembantunya itu.
"Ita, saya mau tanya kepada kamu?"
Ita terlihat begitu santai saat berhadapan dengan sang majikan. " Tanya apa nyonya!"
Wulan menempelkan jari tangannya pada bibir, " Jangan berbicara keras-keras, ini sudah malam."
"Baik nyonya. "
Wulan tak mau jika orang lain mendengar percakapannya jangan Ita," tadi saya melihat ada sosok wanita di kamar ibu. Apa kamu tahu siapa wanita itu?"
"Dia kan perawat yang ditugaskan oleh Tuan untuk menjaga Nyonya Alenta!"
Mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Ita, membuat Wulan sangatlah kesal, ya terlalu lambat, dalam menjalani aksinya. Karena sudah ada seseorang yang menjaga Alenta.
"Gawat ini. Gimana caranya kalau aku mau melayangkan aksiku, " gumam hati Wulan.
"Memangnya kenapa nyonya? "
Ita berpura-pura polos di hadapan majikannya itu. Karena ya sudah tahu Apa rencana yang akan ia perbuat kepada Nyonya Alenta.
"Tidak apa apa, oh ya. Kebetulan aku lapar sekali, apa bisa kamu membuatkan aku mie rebus sekarang juga," perintah Wulan membuat Ita merasa keberatan.
"Aduh, nyonya. Bukannya saya nolak, tapi inikan sudah malam, " balas Ita, berusaha memberi alasan. Bahwa sebenarnya dia sangatlah malas menuruti perintah sang majikan di malam hari seperti ini.
__ADS_1
"Ya saya mengerti, " ucap Wulan, merogok satu celananya memberikan lembaran uang berwarna merah kepada pembantunya itu.
Ita yang melihat lembaran merah itu tentulah membulatkan mulutnya, iya tak sabar ingin menerima uang yang akan diberikan oleh sang majikan.
Melihat Wulan menghitung uang lembaran merah itu, membuat tangan Ita terasa gatal ini segera menerimanya.
"Nih. Buat kamu. "
Setelah melihat sang majikan menghitung uang, Ita hanya menerima satu lembar pecahan uang senilai Rp10.000.
"Itu buat kamu jajan seblak, jadi cepat bikinin saya mie rebus pake telor, sayur. Sama daging sapi, jangan lupa jus buah. Saya tunggu di ruang tv. "
Wulan pergi meninggalkan Ita yang sendirian di dapur, melihat lembaran 10.000 itu. Membuat Ita dengan lancarnya memberhentikan langkah sang majikan.
"Nyonya, tunggu. "
Wulan membalikkan badan menatap ke arah Ita, " ada apa Ita. "
"Saya hanya ingin memberi tahu nyonya, jika uang senilai sepuluh ribu ini, tak cukup buat beli seblak di kota, jadi .... "
Belum Ita meneruskan perkataannya, Wulan langsung menjawab, " kamu keberatan, bukan begitu?"
Pertanyaan Ita membuat dia menganggukan kepala. Pada akhirnya Wulan merogoh aku celananya kembali, di mana Ita berharap jika Wulan memberikan uang lembaran merah, walau hanya satu lembar saja.
Bukan membuat Ita bahagia, yang ada Ita semakin kesal. " nyonya, inikan. "
"Ahk, sudah terima saja, kamu kan hanya seorang pembantu. Uang lembur kamu senilai Rp15.000 itu sudah cukup kok. "
Wulan berlenggak-lenggok pergi meninggalkan Ita. Dimana Ita menggerutu kesal dalam hatimu," bisa-bisanya Nyonya Wulan memberikan uang senilai Rp15.000."
Pada akhirnya Ita mulai membuatkan mie untuk sang nyonya, saat memotong-motong sayuran, ada niat jahat terselip pada otak Ita.
" Sepertinya aku harus memberi pelajaran pada si Nyonya pelit itu. "
Wulan melihat cabai berwarna merah terang, dia berniat menaruh cabai itu dengan begitu banyak pada mie yang akan Ia berikan pada sang nyonya.
Menumbuk begitun halus, Ita tak segan-segan menambahkan serbuk cabai juga pada mie Wulan.
"Rasain lu, kepedesan. "
Mie extra pedas sudah siap di sajikan untuk sang nyonya, tinggal Ita mengantarkan mie itu.
Perlahan ia berjalan, ketika Wulan telah menikmati acara tontonannya, dalam hati ingin rasanya Ita mengguyur mie yang begitu pedas pada wajah Wulan.
Namun ia urungkan niatnya, karena yang ia inginkan sekarang, Wulan bisa bulak balik ke kamar mandi.
__ADS_1
"Ini nyonya, mienya. "
Terlihat jika Wulan tampak senang jika mi yang dibuat oleh Ita sudah jadi.
"Wah, akhirnya. "
"Ni jusnya. "
Ita mulai berpamitan untuk segera beristirahat di dalam kamar, Karena ia merasa lelah dan harus beristirahat.
Berjalan dengan terburu-buru agar menghindari kekesalan sang majikan," rasain. "
Wulan kini menyuapkan makanan pada mulutnya, ya merasa jika Mie itu terlalu pedas bagi mulutnya.
Namun Karena rasa lapar yang begitu menggebu-gebu, membuat Wulan terus-menerus menyeruput mie itu.
"Mienya enak sekali, tapi pedas. "
Ita yang baru saja sampai di dalam kamarnya, berusaha menahan tawa. Iya tak sabar, melihat reaksi yang terjadi pada Wulan.
"Sepertinya mulut Nyonya akan mengeluarkan bara api, telah memakan mie buatanku, dan perutnya tiba-tibak kesakitan."
Seperti tak sabar, Ita susah sekali untuk menutup kedua matanya. " Kenapa susah sekali untuk tidur. Padahal aku tak sabar sekali ingin melihat, reaksi cabai itu bagaimana dalam perut Nyonya Wulan. "
Wulan masih menikmati mie itu, terasa bibirnya seketika menebal, hawa panas mulai terasa pada mulut Wulan, ia mengibas-ngibaskan mulutnya dengan tangan.
" Pedas. "
Meraih jus yang dibuatkan oleh Ita, Wulan kini meminum Jus itu hingga habis." Aduhhh, pedas sekali. "
keringat dingin terus bercucuran, Wulan berdiri iya kini memanggil kita untuk menanyakan tentang mie yang ia makan.
"Ita. Ita. "
Teriakan Wulan, membuat Ita berpura-pura untuk tidur. Namun, Wulan yang kesal karena bibirnya terasa begitu panas. Membuat Ita dengan terpaksa bangkit dari tempat tidur, menggaruk kepalanya dengan posisi rambut yang begitu berantakan," ada apa nyonya. "
Menguap beberapa kali.
"Ita, ayo katakan padaku. Berapa banyak cabai yang kamu masukkan ke dalam mie ini."
Ita mulai melihat, mangkuk yang sudah tak tersisa kuahnya itu, membuat ia mengerutkan dahinya."Ita jawab. "
"Ada sepuluh biji nyonya. "
"Apa?"
__ADS_1