
"Sudah, sudah jangan mikir yang aneh aneh, sebaiknya kita tidur saja," ucap Sarla pada sang adik, ia mengusap perlahan kepala Lilia.
"Baik kak. " balas Lilia, anak berumur sepuluh tahun itu mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia mencoba menutup mata untuk segera tertidur.
Terlihat Lilia tampak kelelahan setelah jalan jalan bersama Sarla, " Salamat tidur."
Ponsel bergetar kembali, Daniel mencoba menelepon Sarla, karena sebagai seorang istri Sarla bangkit dari tempat tidur untuk segera pergi keluar mengangkat panggilan telepon Daniel.
"Halo, Sarla. Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan teleponku?" pertanyaan mulai dilayankan Daniel kepada Sarla.
"Bukannya balasan dari aku sudah jelas!" jawab Sarla.
Daniel hanya bisa memaklumi jawaban istrinya yang simpel itu, " Sarla, aku tanya sama kamu. "
Rasa mual dan pusing kembali lagi dirasakan Sarla, dimana ia mencium wangi yang membuat penciumannya terasa tak nyaman.
"Huek."
Daniel mendengar suara sang istri terdengar muntah muntah, kini memanggil manggil.
"Sarla, halo. Kamu kenapa?"
Sarla tak menjawab ia terus menerus memuntahkan perutnya.
"Halo Sarla, apa kamu dengar."
"Kenapa?"
Rasa pusing masih di rasakan Sarla, ia mencoba menahan tubuhnya pada tembok.
Lilia mengeliat, ia membalikkan badan ke arah kiri, meraba raba pada kasur samping tempat tidurnya.
"Kak Sarla. "
Terbangun, Sarla sudah tidak ada di sampingnya.
"Kemana Kak Sarla. "
Gadis kecil berumur sembilan tahun itu, mulai turun dari ranjang tempat tidur untuk mencari sang kakak sambil mengusap ngusap kedua matanya.
"Kak Sarla. "
Berteriak memanggil mamanggil sang Kakak, sampai dimana Lilia terkejut, ia melihat kakaknya terkulai lemah di samping kamar mandi.
"Kak Sarla, bangun kakak."
Sambungan telepon masih tersambung pada Daniel," Halo, Lilia apa itu kamu?"
Lilia mendengar suara, ia mencari sumber suara itu. " Lilia, Halo. Ini kak Daniel. "
__ADS_1
Akhirnya Lilia menemukan ponsel yang masih terhubung dengan pengilan telepon, ia kini menempelkan ponsel itu pasa telinganya.
"Halo."
"Lilia, ini kak Daniel, kemana kakak Sarla. "
Lilia menatap ke arah Sarla sekilas lalu, menjawab, " Kak Sarla pingsan. "
Daniel nampak panik setelah mendengar Sarla pingsan, " ya sudah sekarang, kamu panggil satpam ya. "
"Baik, kak Daniel. "
Lilia mulai berjalan untuk mencari keberadaan Satpam di luar rumah, sedangkan Daniel bergegas pergi menuju ke tempat Sarla.
Setelah memakai pakaian yang cukup lumayan rapi, Wulan mulai mendekat dan bertanya kepada suaminya itu?" mau kemana malam malam begini?"
Pertanyaan Wulan membuat Daniel menjawab dengan nada ketus, " mau pergi menemui Sarla."
Kedua mata membulat, setelah mendengar jawaban sang suami, " apa kamu bilang mau ke rumah Sarla."
"Ya."
Daniel berjalan pergi mengabaikan perkataan istrinya itu, ia nampak tak mempedulikan Wulan yang terlihat marah dan tak suka.
"Daniel."
Wulan mengejar suaminya itu lalu berucap, " Daniel, yang benar saja kamu mau menemui Sarla di jam segini. Untuk apa?"
Kesal bukan main yang dirasakan Wulan, wanita yang tengah mengandung itu berusaha menahan suaminya. " Aku tidak izinkan kamu pergi."
"Sudahlah Wulan, jangan bertingkah bodoh, aku pergi sekarang. Jangan tahan aku."
"Daniel, ada saatnya kamu menemui Sarla, sekarang kamu harus menemaniku. "
Wulan nampak kesal, ia berusaha menahan sang suami dengan sekuat tenang. Namun, tubuhnya terlalu lemah hingga Daniel bisa pergi dan melewati Wulan begitu saja.
"Daniel tunggu. "
Wulan berusaha menahan suaminya agar tidak pergi, " Aku tidak akan membiarkan kamu pergi Daniel. "
"Menyingkir."
Daniel berusaha masuk ke dalam mobilnya, namun tertahan oleh Wulan, dimana wanita itu terus menghalangi Daniel untuk pergi ke rumah Sarla.
"Daniel, kamu harus adil dong. Ini belum waktunya kamu menemui Sarla, ingat itu. " Tegas Wulan memperingati suaminya, agar bisa adil kepada istri istrinya.
Daniel malah menyingkirkan tubuh Wulan yang menghalangi mobilnya, ia kini membuka pintu mobil membuat Wulan, menarik tangan sang suami lalu berucap. " Bisa tidak kamu menyingkir?"
"Daniel, aku akan tetap menahanmu, bagaimana pun kamu harus berlaku adil. Pokonya. "
__ADS_1
Wulan terus merengek seperti anak kecil di depan suaminya, ia tak ingin Daniel meninggalkannya.
Daniel kesal dengan rengekan sang istri kini menarik Wulan, membekam mulut istrinya, lalu membawa dia masuk ke dalam rumah.
"Bisa tidak kamu ini jangan menghalangiku saat ingin pergi ke rumah Sarla. "
"Aku tak peduli, sekarang aku ingin ikut denganmu. "
"Ikut?"
Mengacak rambut dengan kasar, Wulan kini menjawab, " iya aku ingin ikut, pokonya aku ingin ikut. "
Membekam mulut istrinya yang mengeluarkan suara keras, membuat Daniel malu sendiri. " Bisa tidak kamu pelankan suaramu itu. "
Bi Siti kini datang, membuat Daniel yang tadinya berniat ingin menampar sang istri terhenti. " Mau nampar aku lagi? Ayo tampar. "
Wulan seakan menantang sang suami untuk mengajaknya bertengkar, " aku pergi dulu. "
Bi siti nampak berdiri memandangi keduanya.
"Untuk apa ikut, kamu ini lagi hamil. Aku takut bayi dalam kandunganmu kenapa kenapa, nanti repot nggak bisa ngecek hasil tes DNA."
Sebegitunya Daniel berbicara pada Wulan, membuat ia tak peduli, bagi dirinya sekarang ia bisa ikut bersama dengan Daniel ke rumah Sarla.
"Wulan, aku pergi ke rumah Sarla itu hanya ingin melihat keadaan dia, tadi di dalam sambungan telepon dia terdengar muntah muntah, dan kata adiknya Sarla jatuh pingsan. "
Daniel mencoba memberi penjelasan pada Wulan, berharap jika istri pertamanya itu mengerti.
Wulan terlihat syok, ketika mendengar Sarla muntah muntah, hingga ia bergumam dalam hati, " Apa Sarla hamil?"
Pertanyaan mulai mengelilingi otaknya, hingga dimana Daniel pergi. " Kemana kamu?"
"Sudah jangan ikut. "
Daniel terburu buru pergi, meninggalkan Wulan yang terus berteriak dan berlari.
Bi Siti yang kuatir mencoba menahan Wulan dengan berkata, " sudah non, jangan di kejar. Biarkan saja, nyonya harus jaga kandungan nyonya. "
"Tapi bi, kalau Daniel dibiarkan begitu kebiasaan. Dia nantinya nggak bisa adil sama istri istrinya, terus saja Sarla yang diperhatikan sedangkan aku hanya pelampiasan amarahnya saja. "
Bi Siti berusaha menenangkan Wulan yang terus merengek, melihat Daniel selalu seperti itu.
"Nyonya tenang ya, Tuan Daniel tadikan sudah beri penjelasan pada nyonya jika Sarla jatuh pingsan. "
Wulan yang tak menerima, pergi dari hadapan Bi Siti, ia melangkahkan kaki begitu cepat menuju ke kemarnya, terlihat jika Wulan marah besar terhadap suaminya.
Sedangkan Bi Siti hanya menggelengkan kepala lalu berucap pelan, " Kasihanan Nyonya Wulan, Tuan Daniel lebih mementingkan istri keduanya, hanya karena Nyonya Wulan sudah menghiantinya."
Bi Siti mencoba pergi ke dapur membuatkan jus untuk sang nyonya, " Hem, malam begini masih ngurusin anak ayam yang kehilangan pasangannya. "
__ADS_1
Bi Siti membulatkan kedua mata, menatap Ita yang sembarangan dalam berucap, " sebenarnya saya tidak tahu masalah kamu apa Ita, sampai kamu berbicara tak sopan seperti itu. "