
Alenta menarik tangan Wulan, berusaha menghentikan perkataan menantunya itu, "Hentikan jangan berkata hal yang tak masuk akal Wulan. "
"Cukup bu, jangan menyimpan kebohongan lagi, hanya karena Daniel sekarang amesia."
"Ibu tidak menyimpan kebohongan ibu hanya ingin berkata jujur, tapi perlahan demi perlahan."
"Tetap saja perkataan jujur itu yang nantinya akan menjadikan Daniel sakit hati. Maka dari itu aku mengatakan semua itu, agar Daniel dan ibu juga sadar, jika Sarla tetap bersikukuh pada pendiriannya."
"Cukup Wulan jangan bicara omong kosong lagi."
Mungkin ini saatnya Wulan mencari keadilan untuk dirinya sendiri, " Bi Siti, coba tunjukkan rekaman percakapan itu."
"Baik Nyonya."
Alenta nampak bingung dibuat oleh menantu keduanya itu, " ibu dan kamu Daniel, coba dengarkan ini."
Ternyata Wulan menunjukkan sebuah rekaman, dimana dalam rekaman itu terdengar suara Sarla dengan begitu jelas.
Keduanya terkejut, apalagi Daniel. Alenta berusaha menenangkan sang anak semata wayangnya itu. " Jangan pikirkan apa apa ya Daniel, semua itu hanya omong kosong belakang."
Dengan kepura puraan amesianya, tetap saja membuat benteng pertahananya rapuh, Daniel murka dan kesal, ia mengacak rambutnya dengan berutal menahan rasa sakit.
Cinta yang tulus untuk Sarla dalam benaknya harus ia simpan rapat rapat, " Daniel, sadar kamu kenapa?"
Alenta mengira jika Daniel kesulitan berpikir hingga ia memberontak menyakiti dirinya, padahal Daniel menahan hawa napsu, ingin sekali bunuh diri, karena Sarla tak mengharapkan dirinya. Walau sekarang ia berpura pura amesia.
"Wulan, cepat panggil dokter."
"Ahk iya. "
Wulan tak menduga apa yang ia tunjukan akan beresiko pada pikiran Daniel, dengan tangan gemetar Bi Siti datang.
"Nyonya Wulan tenangkan diri nyonya, biar saya yang menelpon dokter."
"Wulan cepat. "
Daniel melukai dirinya, memegang kepala dengan kedua tangan, rekaman itu malah membuat hatinya sakit.
Wulan datang, ia mulai menyentuh sang suami, dimana Alenta membulatkan kedua matanya dan berkata, " jangan sentuh anakku, lepaskan dia. "
__ADS_1
"Tapi bu. "
Alenta berusaha membujuk Daniel, membawa anaknya masuk ke dalam kamar, padahal Wulan ingin menenangkan Daniel saat itu juga.
Namun karena kemarahan sang ibu mertua membuat ia mengurungkan niatnya.
"Daniel, apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu. " ucap Wulan dalam hati.
Dua puluh menit berlalu, sang dokter baru saja datang, dokter lelaki itu mulai memeriksa keadaan Daniel.
"Maaf bisa keluar sebentar?" Tanya sang dokter kepada Alenta dan juga Wulan.
"Baik dok!" Semua yang menjaga Daniel saat itu, keluar dari kamar, mereka hanya bisa menunggu di luar kamar setelah pemeriksaan sang dokter selesai.
********
Di dalam ruangan yang menjadi kamar Daniel saat ini, dokter itu kini bertanya?" Daniel, apa kamu tidak bisa melupakan Sarla?"
Daniel menelan ludah, dokter yang kini memeriksanya adalah sahabat Daniel sejak kuliah.
"Kenapa kamu tahu!" jawab Daniel, dengan perasaan kacau, setelah mendengar rekaman suara Sarla.
"Ayolah brow, akhiri kepura puraanmu ini, percuman kamu berpura pura amesia, orang yang tidak mencintaimu akan menjauh." ucap dokter muda bernama Carlos.
Carlos menepuk bahu Daniel lalu berkata lagi." Bukan aku tak mengerti posisimu, jelas kamu yang membodohi kehidupanmu sendiri. Hanya demi ingin tahu kesungguhan Sarla, apa dia akan mengembalikan memmory yang hilang di kepalamu ini atau malah Sarla menghindar. "
"Jadi jika Sarla menghindar dia tak mencintaiku?"
"Bisa jadi, kamu tahu sendirikan ceritamu itu tentang pernikahan kontrak dengan Sarla, adalah hal yang lucu bagi diriku, untuk apa kamu memaksa wanita yang tak mencintai kamu menikah."
"Awalnya juga aku tidak mencintai dia, tapi entah kenapa secara pelahan aku malah mencintainya dan tak ingin kehilangan dia dalam hidupku."
"Begitulah, pikiran manusia tidak ada yang bisa ditebak kadang berubah dengan sendirianya, sampai kita lupa tujuan kita yang pertama itu apa. "
"Perkataanmu itu ada benarnya, aku seperti menelan air ludahku sendiri, jujur saja aku malu pada diriku sendiri."
"Itu kamu menggaku, jadi sudah stop mengejar Sarla, yang jelas jelas Wulan setia kepadamu, walau dia mempunyai kesalahan karena sudah menyelingkuhimu. "
"Apa kamu masih mencintai Wulan?"
__ADS_1
Pertanyaan sang dokter membuat Daniel bingung.
"Kenapa kamu malah melamun!?"
"Aku bingung dengan diriku sendiri, terkadang aku juga tak mengerti pada, kenapa aku bisa menjadi orang bodoh saat ini. "
Carlos tertawa setelah mendengar pengakuan dari Daniel," brow terkadang kita gelap mata setelah mengenal cinta, jadi kita seperti orang bodoh yang melakukan apa saja demi cinta. Ya seperti kamu sekarang berpura pura Amesia, yang jelas jelas orang yang tidak kamu ingat sama sekali malah menghindar. "
Daniel merasa malu pada dirinya sendiri.
"Brow, sebaiknya sekarang, lu tinggalkan Sarla, biarkan dia bahagia, setelah anak yang lu inginkan itu lahir. Lu tetap berpura pura amesia, agar perpisahan nanti Sarla tak terbebani dengan cinta lu. "
"Apa yang kamu katakan ada benarnya juga, tapi apa aku sanggup."
"Demi melepaskan dan membuat orang yang lu cinta bahagia, gue yakin lu pasti sanggup.
Nasehat itu terlontar terus menerus dari mulut Carlos, sampai pada akhirnya Daniel berusaha melakukan hal yang dikatakan Carlos.
Karena mungkin semua itu yang terbaik untuk cintanya kepada Sarla.
Pintu kamar terbuka, pemeriksaan sudah selesai, Carlos keluar dari dalam kamar Daniel.
Alenta yang begitu kuatir dengan keadaan Daniel, mulai bertanya dengan begitu teliti. " bagaimana dengan keadaan anak saya dok, apa dia baik baik saja?"
"Anda tenang saja ya bu, Pasien Daniel baik baik saja, saya akan memberi resep obat untuk anak ibu, oh ya. Tolong jangan mengigatkan apapun yang tak bisa diingat olehnya.
" Baik dok saya akan lakukan sebisa mungkin."
Dokter kini pergi dari rumah Alenta, setelah pemeriksaan Daniel selesai. Alenta kini dipenuhi rasa penasaran, membuat ia membuka pintu kamar dan mulai masuk.
"Daniel."
Alenta tentu saja tak mengijinkan sang menantu, agar tidak menemui Daniel sementara waktu. Karena ia takut malah membuat kondisi anaknya memburuk saat Wulan menampakan diri di depan sang suami.
"Bu, izinkan Wulan masuk ya bu, Wulan ingin sekali melihat keadaan Daniel yang sekarang, Wulan merasa bersalah atas semua kejadian ini, jadi tolong beri Wulan kesempatan. "
Tak ada rasa kasihan sedikitpun dari diri Alenta kepada sang menantu, ia masuk lalu mengunci pintu kamar anaknya.
"Kenapa sih wanita tua itu. Menyebalkan, padahal aku ingin sekali ada didekat Daniel saat itu juga, menenangkan semua kerasaahan yang pastinya dirasakan Daniel, ibu benar benar keterlaluan. " Gerutu Wulan.
__ADS_1
"Sabar, hanya orang sabar yang mambawa keberkahan. "
"Ya ampun Bi Siti malah ceramah, kaya ustadah di tv saja. "