Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 45 kekecewaan.


__ADS_3

Wulan terjatuh dari anak tangga, karena saking bahagianya ketika mendengar bel berbunyi.


Wanita tua bernama Bi Siti berusaha membantu sang majikan.


"Aduh, bi. Sakit."


Rengekan Wulan membuat para pembantu datang, salah satu dari mereka membuka pintu rumah.


Daniel datang, ia melihat Wulan duduk di atas lantai, dengan darah mengalir.


"Wulan, kamu kenapa?"


Tangan memegang perut merasakan rasa sakit, yang luar biasa, rasa tak tahan. Membuat Wulan terus merengek kesakitan.


"Wulan, bertahan. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit."


Bi Siti tampak panik saat mendengar kata rumah sakit, ia takut jika Daniel tahu bahwa Wulan tengah mengandung. Daniel membopong tubuh Wulan segera menaiki mobil.


"Bertahan ya, Wulan."


Bi Siti ikut masuk ke dalam mobil, untuk segera mengantarkan sang Nyonya ke rumah sakit. Walau dirinya sekarang diterpa kebingungan, harus bisa menyembunyikan kehamilan sang nyonya.


Wulan terus meringis kesakitan meremas perutnya. " Sakit."


Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, iya tak mau terjadi apa-apa dengan Wulan.


"Kamu harus bertahan ya."


Setelah sampai di rumah sakit, Wulan langsung dilarikan ke ruangan penanganan, untuk segera di atasi.


Daniel kini bertanya kepada pembantunya," Ada apa dengan istri saya kenapa dia mengeluarkan darah?"


Daniel tidak mengerti dengan apa yang ia lihat, di mana istrinya meringis kesakitan mengeluarkan darah begitu banyak." Nyonya jatuh dari tangga, karena terlalu senang saat tuan pulang, ke rumah."


Mengusap kasar wajahnya, Daniel merasa bersalah, terlihat dari sudut mata ada linangan air yang mengalir.


Dokter kini keluar dari ruangan, di mana Daniel langsung menghampiri bertanya akan keadaan istrinya," Bagaimana keadaan istri saya, dok. Kenapa dia bisa mengeluarkan darah begitu banyak."


Dokter itu kini menghentikan perkataan Daniel yang terus bertanya," Bapak tenang dulu ya semua baik-baik saja, pasien hampir saja kehilangan bayinya."


Deg ....


Jantung terasa berdetak lebih cepat dari sebelumnya, mendengar dokter mengatakan hal yang tidak bisa dipercaya oleh Daniel.


"Hamil."


Bukan malah senang Daniel nampak curiga, jika anak yang dikandung istrinya bukanlah anaknya.


Terlebih lagi, entah berapa lamanya Daniel belum menyentuh Wulan.

__ADS_1


Bi Siti tak bisa menjadi pembela untuk sang nyonya, karena semua sudah terungkap jelas di depan matanya.


Dokter mulai pergi untuk menjalankan tugasnya menangani pasien yang lain, di mana Daniel Kini mempersilakan sang dokter.


Suara ponsel kini berbunyi, dimana sang ibunda mengirim pesan kepadanya," ibu.'


(Daniel, Apa kamu sudah sampai di rumah? )


ternyata sang ibunda sangatlah mengkhawatirkan anaknya hingga ia mengirim pesan menanyakan keadaan Wulan. ( Bagaimana keadaan wulan sekarang?)


( Wulan kini masuk ke rumah sakit, bu.)


(Loh, kenapa.)


wanita tua itu begitu perhatian kepada menantunya,( Wulan terjatuh dari tangga.)


( Ya ampun Kenapa bisa seperti itu. sekarang bagaimana keadaannya?)


Daniel sempat ragu ingin menceritakan bahwa Wulan tengah mengandung.


Entah kenapa Daniel malah menaruh ponselnya di saku celana, ia tak membalas pesan dari ibunya sendiri.


Bi Siti melihat jika sang majikan tengah menahan amarah. Ia tak mempu berucap satu patah katapun.


Suster mulai mempersilahkan Daniel untuk masuk ke dalam ruangan Wulan, karena wanita yang menjadi istrinya itu sudah siuman.


Bi Siti sebenarnya merasa heran, Kenapa bisa janin dalam perut Wulan bisa bertahan, padahal Ia melihat begitu jelas Wulan terjatuh dengan begitu keras dan mengeluar darah sangat banyak.


Yangan mulus Wulan kini memegang punggung tangan sang suami, di mana Daniel langsung menghempaskan tangannya.


Seakan menghindar dan memendam rasa kecewa.


"Daniel."


kedua mata berkaca-kaca, wanita itu kini mengatakan satu hal kepada suaminya.


"Daniel, aku .... "


Perkataan Wulan malah ditimpal Daniel, " anak siapa yang kamu kandung itu?"


Deg ....


Wulan tak menyangka janin dalam perutnya akan diketahui oleh Daniel, padahal ia sudah berusaha menyembunyikan rapat-rapat bayi dalam perutnya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Wulan mencoba tetap bersikap tenang, Iya berusaha tak larut dalam omongan kasar Daniel.


"Cepat katakan, biar aku bunuh lelaki yang sudah menyentuhnya." balas Daniel yang terlihat murka, dua tangan menggenggam erat memperlihatkan bahwa dirinya begitu kecewa.

__ADS_1


"Daniel, bayi dalam kandungan ini anakmu! kenapa kamu malah berbicara seperti itu," ucap Wulan berharap jika Daniel tidak murka lagi.


Daniel tetap saja diam tak berucap satu patah kata pun, ia nampak tak berani menatap ke arah wajah Wulan.


"Daniel."


"Kenapa kamu malah marah seperti itu, bayi yang aku kandung ini anak kamu."


Bi Siti merasa tak enak hati saat dia berada di ruangan, melihat pemandangan kedua majikannya telah bertengkar.


Bi Siti melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu, tak ingin ikut campur masalah yang terjadi pada manjikannya.


"Bi Siti, kamu mau ke mana?" Wulan malah menghentikan langkah pembantunya itu.


Dimana Bi Siti seakan ragu, mejawab perkataan Wulan.


"Maaf sebelumnya, Non. Saya mau keluar dulu!" jawab Bi Siti.


Wulan berusaha menahan Bi Siti, agar tidak keluar dari rumah, supaya dirinya mempunyai pembelaan dan mampu dipercayai oleh Daniel.


"Bi Siti di sini aja dulu, ya."


Bi Siti tak bisa menolak perintah sang nyonya, yakini diam berdiri mendengar apa yang dikatakan majikan.


Daniel kini duduk dengan raut wajah penuh kekecewaan. "Sayang, Kenapa kamu dari tadi diam saja?"


Kedua mata menatap tajam ke arah Wulan, mulut terbungkam, mempelihatkan bahwa Daniel sedang menahan diri dari emosi.


Disisi lain ia begitu mencintai Wulan, " Daniel, bicaralah."


Daniel tak tahan dengan perkataan Wulan yang terus menggodanya untuk bicara, ya takut jika kata-kata kasar mampu melukai hati istrinya itu, karena dirinya yang sedang kecewa, mendengar Wulan mengandung sebuah bayi.


Berdiri, Daniel membalikan badan berjalan meninggalkan istrinya, Wulan dengan sikap memanggil sang suami, " Daniel."


Lelaki berbadan kekar, tetap berjalan tak memperdulikan teriakan istrinya, Wulan saat itu seakan tak dianggap, dia benar benar diabaikan.


"Daniel kamu mau ke mana?"


Tak ada jawaban Daniel keluar ruangan, " Daniel. "


Bi Siti yang mengerti segera mungkin menghampiri majikannya itu," Nyonya tenang dulu ya jangan marah-marah kondisi nyonya ini belum sepenuhnya stabil."


Wulan menangis, air mata terus menerus keluar membasahi kedua pipinya, ya tak sanggup jika harus melihat Daniel mengabaikannya.


"Daniel."


"Tuan Daniel, mungkin ingin menenangkan diri dari kabar yang membuat hatinya terluka, Nyonya bersabar dulu ya mudah-mudahan tuan Daniel itu tetap mempercayai perkataan nyonya."


Wulan kesal dan kembali memukul-mukul janin dalam perutnya itu," ini semua gara-gara kamu, kenapa kamu masih bertahan di perutku, Apa yang sebenarnya kamu inginkan, tidak mau mengandung kamu apalagi harus melahirkan kamu."

__ADS_1


"Nyonya jaga perkataan Nyonya jangan seperti itu," Bi siti berusaha menahan tangan sang nyonya yang terus-terus memukul perutnya sendiri.


__ADS_2