Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 174


__ADS_3

Lilia masih memegang ponselnya, ia tampak senang setatus hari ini terbaca oleh sang mama tiri. Sarla yang melihat adiknya itu tersenyum senyum seperti mendaptakan sesuatu yang lucu.


"Lilia."


Panggilan Sarla membuat Lilia menatap ke arah sang kakak." iya kak, kenapa?"


"Tumben kamu senyum senyum gitu, kenapa!"


Pertanyaan Sarla membuat Lilia, mempelihatkan setatus yang ia buat, lalu mempelihatkan lagi rincian orang orang yang melihat setatusnya.


"Mama."


Lilia membekam mulut sang kakak, lalu menempelkan telunjuk tangan pada bibirnya sendiri. Mempelihatkan kode mata, saat sang papah tengah menikmati makanan di atas meja.


"Oke." Menggunakan kode tangan, dimana Sarla mengerti saat itu.


Lilia dalam hati berbisik," sepertinya nenek lampir itu kepanasan melihat kebahagianku dan juga papah."


Mereka mulai menikmati suapan demi suapan. Dimana Dera masih dalam perjalanan menuju pyoang ke rumah. " Pak, bisa cepatan dikit tidak. "


"Sabar bu, jalananya macet. "


Mendengar perkataan sang sopir, membuat Dera berusaha tenang tidak terpancing emosi.


Melihat jam tangan masih menujukkan pukul tiga sore, sepertinya Dera akan pulang malam sekali.


"Ahk, sepertinya aku akan pulang kemalaman."


Dera mencoba mengirim pesan dari sang suami, melupakan rasa egonya. ( Sayang, aku pulang.)


Gunawan baru saja selesai menghabiskan makananya, ia meraih ponsel yang dari tadi terus berbunyi.


Panggilan telepon dari Lani yang baru saja aktif, Gunawan mulai menghubungi anak ketiganya, namun melihat Sarla dan Lilia begitu bahagia, membuat ia mematikkan ponsel. Lalu mengobrol dengan kedua anak anaknya.


Gunawan berbisik dalam hati, " maafkan papah, Lani. Ini demi kebaikanmu dan juga ibumu, agar kalian sadar jika kalian masih membutuhkanku."


Pesan yang tak kunjung di balas membuat Dera mulai menghubungi suaminya saat itu juga, ia ingin tahu apa Gunawan peduli dengan mereka.


Saat menghubungi nomor sang suami, " maaf panggilan telepon tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa kali lagi."

__ADS_1


Dera tak menyangka, jika Gunawan akan mematiikan ponselnya, disaat kepulangan mereka yang hampir sampai ke rumah.


"Jika aku egois dan menuruti amarahku, mungkin aku akan menderita, aku masih membutuhkan Gunawan karena keperluan yang selama ini aku inginkan selalu terpenuhi olehnya walau tidak seratus persen ia memenuhi keiingannku. Dengan membelikan barang mewah. " Gumam hati Dera, mengusap pelan dadanya, berusaha mengobati hati yang terasa sakit.


Setelah mematikan ponselnya, Gunawan mulai mengajak anak anaknya, untuk pergi keluar berbelanja membeli kebutuhan dan keinginan mereka berdua.


"Sudah lama papah tidak mengajak kalian shoping, gimana kalau sore ini kita pergi. "


Mendengar ajakan sang papah membuat keduanya kegirangan. Mereka tersenyum bahagia lalu berkata, " apa, papah mau mengajak kamu shopping, wah yang benar saja pah. Biasanya kami selalu di anak tirikan."


Keluhan Lilia keluar begitu saja dari mulutnya, dimana Gunawan merasa tersindir akan keluhan anak keduanya.


"Iya papah minta maaf selalu mengabaikan kalian berdua, jadi ayo kita pergi Shopping. "


"Wahh, berangkat. "


Gunawan mulai menyiapkan mobil, untuk segera membawa anak anaknya pergi jalan jalan, terlihat sekali keduanya begitu bahagia.


"Berangkat."


Mobil mulai menyala, keduanya pergi dengan perasaan gembira. Dimana mobil taksi yang baru saja mengantarkan Lani dan juga Dera baru saja sampai.


Dera melihat rumah tampak sepi, membuka gerbang, satpam penjaga tak ada. " Kemana mereka semua. "


"Iya, dimana suami saya!" jawab Dera, ingin sekali bertemu dengan sang suami.


Satpam itu langsung mengatakan jika Gunawan dan kedua anak anaknya pergi berbelanja. Sontak Dera yang mendengar hal itu begitu sakit hati, seakan ia tak terima kepergian dan kebahagian suami dan anak tirinya.


"Kenapa Gunawan begitu tega. " Gerutu hati Dera.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah, membuka pintu rumah, namun terkunci. Saat itulah memencet bel rumah.


Pembantu baru yang baru saja Dera lihat membuat ia tak suka, " kenapa kamu lama sekali membuka pintu rumah. "


"Maaf, anda siapa?"


Pembantu baru itu bertanya dimana Dera murka dan menjawab!" Apa, kamu tidak mengenalku, apa Gunawan tidak memberitahumu tentangku, istrinya?"


Mendengar perkataan Dera, membuat pembantu itu menggelangkan kepala, " maaf nyonya. Tuan tidak pernah bercerita tentang anda. "

__ADS_1


kesal dengan jawaban pembantu barunya Gunawan membuat Dera kini duduk, ia menyuruh pembantu baru itu membuatkan air minum. "Ya sudah cepat bawakan aku air minum. "


"Baik . "


Suasana rumah masih sama seperti dulu tak ada yang berubah, Dera mulai mencari Lani yang pergi entah kemana.


"Kemana anak itu, tahu tahu sudah tidak ada di sampingku, Lani, Lani. "


******


Lani mulai menelusuri setiap ruangan, dimana ruangan itu banyak sekali poto poto Lilia dan juga sang papah. Rasa kesal mulai menyelimuti hati Lani, ia mengambil poto yang terpajang pada bingkai kaca, lalu memecahkannya.


Prakkk ....


Pecahan kaca mengenai kaki Lani, ia menangis, kasih sayang Gunawan sang papah sudah direbut lagi oleh Lilia.


Pembantu di rumah berlari begitu pun dengan Dera, mereka melihat apa yang sebenarnya terjadi kenapa sampai terdengar pecahana kaca begitu keras.


"Lani, apa yang terjadi. "


Dera mendekat pada anaknya, dimana Lani menangis mengusap ngusap air mata yang terus mengalir. Darah berceceran dari kaki Lani, membuat Dera menyuruh pembantu di rumah mengambilkan obat P3K, untuk penyembuhan luka anaknya.


"Apa yang kamu lakukan ini, sangatlah berbahaya. Kamu jangan bertingkah bodoh. Kalau kamu tak bisa mengendalikan emosi kamu sendiri, kamu yang akan menyesal di kemudian hari. " Nasehat Dera terlontar begitu saja, dimana Lani berusaha tetap tenang.


Dengan kasih sayangnya seorang ibu, Dera menggendong anaknya, untuk segera menjauh dari pecahan kaca itu.


"Ayo, kamu duduk disini dulu, nanti mama obatin luka kamu ini ya, kamu ngapain coba disini. Megang megang poto papah dengan Lilia," ucap Dera nampak kesal dengan kecerobohan anaknya.


Sedangkan Lani hanya diam saja, ia tak mendengarkan nasehat dari mamanya sendiri. Menatap ke arah poto poto yang masih terpajang rapi.


"Lilia, kamu sudah menghancurkan hidupku, karena kamu papah nggak sayang aku. " Gerutu Lani dalam hatinya.


Sang mama berusaha mengobati luka bekas pecahan kaca yang mengenai kaki anaknya, dimana obat p3k itu baru saja datang.


"Kamu kerja lambat banget sih, dari tadi aku suruh cepat cepat, malah lama. " Dera memarahi sang pembantu muda itu, terlihat tatapan mata pembantu itu terlihat kesal karena amukan sang majikan.


" Aku nggak percaya jika Tuan Gunawan mempunyai istri yang galak seperti ini, bisa bisanya dia memarahiku terus menerus. Memanya aku digaji olehnya." Gerutu hati sang pembantu bernama Tari itu.


"Heh, malah bengong sini obatnya, "ketus Dera pada Tari, dimana wanita muda itu menyodorkan obat yang diinginkan Dera.

__ADS_1


" Ini nyonya."


Mengambil dengan cara kasar, membuat Tari tentu saja kesal, ia tak suka dengan cara Dera yang mempelakukannya tidak baik, bagaimana pun Tari datang ke rumah Gunawan harus diperlakukan baik walau dia seorang pembantu.


__ADS_2