
Wina datang membawakan sebuah jus untuk sang tamu," Silahkan di minum. "
"Terima kasih. "
Alenta sedikit terkejut melihat wajah Wina, ia menundukkan pandangan mengambil jus yang baru saja datang.
"Saya minumnya Bu Dera. "
"Ya silahkan. "
Sarla mulai keluar dari kamarnya, tetap segera menghampiri sang mertua," Ibu."
"Sarla."
Rasa rindu Alenta terhadap menantu keduanya tak terbendung lagi, wanita tua itu langsung memeluk Sarla. " Apa kabar kamu sayang, ibu sangat merindukanmu. "
Pelukan begitu terasa hangat, di mana daerah yang melihatnya, hanya bisa mengerutkan bibir." Lebay. "
Sarla mulai menyuruh Alenta untuk segera duduk, di mana Sarla merasa tak nyaman, karena di sampingnya ada Dera, sang mama tiri.
"Maaf ma sebelumnya. "
Belum perkataan Sarla terlontar semuanya, Dera paham dan juga mengerti, di mana ia bangkit dari tempat duduknya untuk segera pergi obrolan keduanya.
"Silahkan dinikamati minumannya ya. "
"Terima kasih Bu Dera. "
"Sama sama, ya sudah saya ada urusan mau keluar sebentar. "
"Silahkan."
Dera terlihat begitu kesal, setelah mendapat kode dari Sarla, karena ia tak boleh mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Percakapan apa sih, sampai si Sarla menyuruh aku pergi, dasar anak tak tahu diri. "
Dera mulai masuk ke dalam kamar untuk merebahkan tubuhnya, ia melihat sebuah sapu tangan berwarna pink di dekat meja tempat tidur.
"Loh, sejak kapan Gunawan mempunyai sapu tangan berwarna pink. "
Dera perlahan mulai melihat, selalu membaca nama dari sapu tangan berwarna pink itu. " Melinda. "
Setelah membaca nama dari sapu tangan itu, membuat Dera langsung membuangnya pada tong sampah begitu saja.
"Sialan, apa Gunawan selingkuh ya, sampai sikapnya berubah kepadaku?"
Hati dan pikiran Dera merasa tak karuan, bisa-bisanya ia mendapatkan hal seperti ini.
Membuat isi dari kepalanya terasa terganggu.
"Ahk, sialan sekali. Gara gara sapu tangan berwarna pink itu, membuat aku tidak bisa tidur siang."
__ADS_1
Dera mulai keluar dari kamarnya, di mana sosok Wina tiba-tiba sudah berada di hadapannya. " Kamu lagi, ada apa?"
" Masih tanya ada apa? Aku akan memberi kesempatan kepada kamu selama 3 hari. Jika kamu tidak memberikan uang hasil kerja kerasku, aku pastikan kamu diusir dari rumah ini dan menjadi gelandangan bersama dengan anakmu."
"Jadi kamu berani mengancamku?"
" Saya bukan mengancam, tapi saya memberi peringatan untuk kamu!"
Wanita tua itu pergi dari hadapan Dera, sekilas ia membalikkan badan lalu menatap tajam ke arah Dera.
"Ih, apasih maksud wanita tua itu. "
Dera mulai mengambil tas untuk pergi dari rumah, mencari udara segar dari setiap tekanan yang berada pada pundaknya.
Aaat Dera melangkahkan kaki menuju ke ambang pintu, Sarla mulai berteriak lalu memanggil sang mamah tiri. " Mama mau kemana?"
Dera tetap memperlihatkan kesopanannya di hadapan Alenta, ia tak mau dicap sebagai ibu tiri yang kejam.
"Owh, kebetulan mama ada urusan di luar. Bu Alenta maaf ya saya tinggal sebentar dulu."
"Nggak papa Bu Dera."
Dera pergi dengan perasaan kesal, dibalik senyumannya itu ada rasa sedih yang berlarut.
Ia mulai mengendarai mobil sendirian.
*******
"Sarla."
Alenta memegang kedua punggung tangan Sarla, menatap sayu ke arah menantunya itu. " Apa kamu tidak mau memberi kesempatan Daniel untuk kembali lagi bersamamu?"
Pertanyaan sang mertua sedikit memberatkan perasaan Sarla. Perlahan ia melepaskan pegangan tangan mertuanya.
Alenta berusaha mengambil hati Sarla, agar bisa menjalin hubungan lagi dengan anaknya.
"Sarla kenapa?"
"Bu, Sarla sudah pada keyakinan Sarla sendiri, jadi ibu jangan terlalu berharap terhadap Sarla!"
"Kenapa Sarla, apa karena Daniel sudah mempunyai seorang istri, sampai kamu tidak mau mempertahankan dia!"
Sarla berusaha tetap tenang, membalas perkataan Alenta sang mertua.
"Bu, bukannya Sarla sudah menjelaskan dari kemarin-kemarin, Sarla akan tetap mengikuti perjanjian yang Daniel berikan dari awal."
"Tapi Sarla, apa kamu tidak tega memberikan anak kamu sendiri kepada Daniel dan Wulan."
"Bu, perjanjian tetap perjanjian, tidak bisa di rubah."
Alenta menatap ke arah Sarla, yakini bergumam dalam hati, " kalau kamu tahu Sarla, jika sebenarnya Daniel itu tidak hilang ingatan, hanya berpura-pura saja agar bisa menjauhi kamu, melepaskan kewajibannya sebagai seorang suami."
__ADS_1
"Bu, apa Ibu sudah makan? Sebelum pulang Ibu harus makan dulu di sini bersama Sarla ya?"
"Tidak usah sayang, ibu hanya sebentar saja!"
Sarla tak bisa menahan ibu mertuanya itu, karena sebentar lagi perjanjian kontraknya berakhir, Sarla akan lepas dari jeratan Daniel.
"Ibu mau pulang dulu ya, kamu jangan lupa jaga baik-baik bayi dalam kandunganmu."
Sarla mengganggukan kepala setelah mendengar nasehat dari Alenta. " Ibu tak akan lama di sini, masih banyak urusan di perusahaan, soalnya sekarang ibu yang menangani perusahaan."
"Ibu hati hati ya. "
"Iya."
Hanya percakapan itu saja yang terlontar dari mulut Alenta, dimana Sarla tak menyangkan jika ibu mertuanya begitu mengiginkannya kembali.
Setelah kepergian sang ibu mertua, sarla dikejutkan dengan nada ponselnya.
" Tumben ada yang mengirim pesan kepadaku, biasanya HPku itu selalu sepi, jika pun ada yang mengirim pesan pasti dari Daniel, tapi sekarang Daniel sudah melupakanku, tapi ada untungnya dia hilang ingatan."
Perlahan Sarla mulai membuka layar kunci ponselnya, melihat pesan siapa yang datang.
Setelah membuka isi pesan dari nomor baru, Sarla begitu terkejut, kedua matanya membulat. Merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Apa yang dilakukan dia, ini fitnah. "
( Apa maksud kamu mengirim foto seperti itu kepadaku, jujur saja aku tidak pernah melakukan hal yang berada di foto ini.)
Susana hati Sarla tiba-tiba berubah menjadi panik, dia melihat foto dirinya bersama dengan seorang laki-laki, padahal dari kemarin ia tak pergi ke mana-mana.
Melihat foto itu dengan begitu teliti, Sarla kita melihat ada tanda-tanda editan, foto ini murni hasil jepretan.
Poto tak senono itu datang lagi, mengagetkan Sarla. " Jadi. "
"Nyonya."
Deg ....
Ponsel yang berada di tangan Sarla, tiba-tiba saja jatuh ke atas lantai. " Nyonya, maafkan bibi. "
Tari begitu panik melihat ponselnya jatuh. Sarla mengambil ponsel itu lalu melihat kembali orang yang mengirim pesan kepadanya.
( Bagaimana dengan hasil foto ya. Bagus kan.)
Sarla tak teriama dengan orang yang sudah mengirim foto tak jelas.
( Apa maksud kamu mengirim foto ini kepadaku, aku tidak pernah melakukan seperti ini dengan laki-laki lain, sebenarnya siapa kamu ini? )
Pesan dari nomor ponsel baru itu belum juga dibalas, Sarla merasa tak tenang, Iya tak bisa mengontrol diri untuk tetap tenang.
(Siapa kamu?)
__ADS_1
Sarla mengirim pesan dengan bertanya kepada orang yang sudah memfitnah dirinya