Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 230


__ADS_3

Daniel murka setelah mendengar kenyataan yang sebenarnya, ia tak menyangka bukti rekaman pecakapan itu semua berpacu pada Wulan.


Wulan melangkahkan kaki kebelakang untuk segera menghindar dari hadapan Daniel dan Sarla yang terlihat murka padanya.


"Kenapa Wulan, hah. Kenapa?" Kekesalan itu diperlihatkan oleh Sarla, terlihat ia begitu kecewa.


"Wulan? Kamu sudah mengecewakanku untuk yang kedua kalinya, " cetus Daniel, urat leher ia perlihatkan pada istrinya.


Wulan berusaha kabur dari hadapan Sarla dan juga Daniel, terlihat mereka semakin mendekat ke arah Wulan. Menekan Wulan dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang akan menyulitkan Wulan saat itu.


Rasa takut tak bisa terkontrol lagi, Wulan berlari menjauh dari hadapan Sarla dan juga Daniel.


Dimana Daniel kini mengejar sang istri.


"Wulan, tunggu. "


Wulan terus berlari ia tak mau jika dirinya masuk ke dalam penjara, berusaha menghindar dari sarla dan juga Daniel.


"Aku harus pergi. "


Karena rasa panik yang terus menggebu-gebu pada hati Wulan, membuat iya hilang kendali. Sampai dimana.


Brakk ....


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi hingga menabrak tubuh Wulan, tubuh itu seketika terpental jauh.


Teriakan orang orang, membuat Daniel berlari kencang untuk segera melihat keadaan sang istri.


"Wulan, Wulan. "


Saat berlari, Daniel terus memanggil-manggil nama Wulan, berharap jika istrinya itu tidak kenapa-napa, " Wulan. "


Orang orang dengan begitu cepatnya berkumpul mengelilingi Wulan yang tekulai lemah di atas jalanan, kepala yang terlihat mengeluarkan darah, membuat Daniel sontak terkejut, ia langsung memanggil suster dan juga dokter yang lebih tahu dalam menangani orang yang mengalami kecelakaan.


Bergegas masuk ke ruang UGD, Sarla yang melihat keramaian, kini mendekat ke arah Daniel dan bertanya. " Apa yang terjadi?"


Pertanyaan Sarla, membuat Daniel terlihat gelisah. Ia berusaha mengendalikan dirinya agar tetap tenang," Wulan kecelakaan. "


Daniel memberitahu jika istrinya tertabrak mobil, Iya juga tak menduga jika hal itu terjadi pada Wulan.


Daniel merasa bersalah pada dirinya sendiri, iya tak bisa menyelamatkan Wulan dari tabrakan yang menimpanya saat itu.


"Sekarang dia ada di mana. "


"Masih ditangani dokter di ruang UGD. "


Sarla berjalan menuju ke ruangan UGD, ai penasaran ingin melihat ke adaan Wulan bagaimana sekarang.


Berharap jika Wulan tidak kenapa kenapa, " Sarla kamu mau kemana?"


Pertanyaan Daniel membuat Sarla menoleh sekilas dengan menjawab, " aku ingin menemui Wulan. "

__ADS_1


Berjalan dengan begitu cepat, dokter datang dan berkata. " Bayi anda sekarang siumanan."


Mendengar hal itu Daniel begitu senang, sedangkan Sarla yang masih berjalan setengah perjalanan kini menghentikan langkahnya.


"Sarla, bayi kita. "


Sarla ingin sekali melihat keadaan bayinya, ia juga merasa tak tega dengan keadaan Wulan.


" Nyonya Sarla."


Bi Siti mendekat, dimana Sarla berkata, " kenapa bi?"


"Biar saya saja yang menemani Nyonya Wulan, anda sekarang temui bayi anda saja, saya takut jika bayi anda membutuhkan anda sekarang. "


"Memangnya Bi Siti masih mau menemani Wulan, dengan apa yang Wulan sudah lakukan terhadap bibi. "


Bi Siti menganggukkan kepala dan menjawab, " iya Nyonya."


"Baiklah, kalau begitu. "


Sarla kini memutar balikkan badannya untuk berjalan ke ruangan bayi yang sudah ia ridukan dari kemarin.


Daniel sudah berada di dalam ruangan, ia terlihat menangisi bayinya, memegang tangan bayi mungil yang bergerak itu.


"Bagaimana keadaanya? Apa kata dokter?"


"Keadaanya, makin ke sini semakin membaik!"


Dibalik cadar yang menutupi hidung dan juga bibir, Sarla merasa bahagia, ia tersenyum lalu berkata, " sayang. Ini mama. "


Mendengar hal itu, Daniel menitihkan air mata, ia juga bersalah telah membuat bayinya jauh dengan ibu kandungnya sendiri.


"Sekarang aku akan menerima hukuman apapun yang kamu berikan Sarla."


Mendengar perkataan Daniel, Sarla hanya diam. Tak menjawab satu patah katapun.


"Sarla, jika kamu memasukkanku ke penjara sekarang. Aku sudah pasrah, aku akan menerima."


Tetap saja Sarla tak ingin mengucapkan satu patah katapun, ia hanya memandangi bayi mungil itu.


Sampai tangan kekar Daniel meraih tangan Sarla dan berucap, " Sarla, apa bisa kamu menjawab perkataanku, bukan terus mendiamkanku seperti ini."


Kedua mata Daniel terlihat berkaca kaca, tampak Sarla berusaha menunduk menjauhi pandangan itu, hingga ia menepis kembali tangan Daniel.


"Jangan pernah menyentuhku, kita bukan suami istri lagi. "


Menelan ludah, Sakit hati yang kini dirasakan Daniel, perasaanya tak karuan. " Sarla. "


"Cukup, biar aku renungi lagi laporan tadi. Walau kamu tak bersalah, tapi kamu juga mempunyai tanggung jawab penuh untuk anak ini. "


Rindu yang menusuk membuat jiwa tak bisa tertahan lagi, ingin Daniel memeluk mantan istrinya yang terlihat menangis itu.

__ADS_1


Namun apa daya dia hanya seorang baj!N&@n yang sudah menyakiti hati dan perasaan Sarla.


"Sarla, apa kamu ...."


Belum pertanyaan Daniel terlontar, kini Sarla berucap. "Jangan terus bertanya, aku tidak ingin mengenal lagi kamu. "


Deg ....


Daniel pada akhirnya diam membisu, tak ingin meminta harapan lagi pada Sarla, setelah ungkapan yang menyakitkan untuknya sudah ia dengar dari mulut Sarla.


Ceklek.


Suara kursi roda terdengar masuk ke dalam ruangan, Daniel terkejut dengan penampakan sang ibunda yang dibawa oleh Ita.


"Tuan Daniel. "


"Ibu."


Alenta tak bisa bersuara sedikit pun, tubuhnya begitu kaku. Karena kelumpuhan yang membuat dirinya kini duduk di kursi roda.


Sarla masih memandangi anaknya, ia terlihat cuek, walau dalam hati ia merasa tak tega dengan keadaan ibu mertua.


Daniel duduk, ia menatap sayu ke arah sang ibunda, " kenapa ibu datang ke sini. Bukannya Daniel sudah melarang ibu. "


Terlihat Alenta menitihkan air mata, ia tahu apa yang kini dirasakan anaknya.


Perlahan Daniel mengusap pelan air mata yang terus jatuh mengenai pipi ibunya.


"Bu, keadaan cucu ibu sekarang baik baik saja, ibu jangan kuatir. "


Ita memandangi Sarla yang masih diam membisu, dimana ia seperti orang yang berpura pura tak peduli.


Ita penasaran dengan bayi sang majikan, ia ingin melihat keadaan bayi itu sekarang.


"Ita."


Daniel menahan Ita untuk tidak mendekati Sarla, walau niat dia ingin melihat bayi mungil yang sudah dua hari ia rawat di rumah.


Kode mata Daniel, membuat Ita menundukkan wajah dan mengurungkan niatnya untuk melangkahkan kaki lagi.


"Bu, ibu ingin melihat cucu ibu?" tanya Daniel, dengan begitu lembutnya.


Daniel berharap jika Sarla menaruh rasa simpati pada ibunya.


Daniel mulai memegang kursi roda sang ibunda, untuk mendorong kursi roda itu agar segera mendekat kearah bayi mungil yang Alenta rindukan.


Mendengar suara lembut Daniel membuat Sarla mengepalkan kedua tangannya. Sarla berusaha tetap tenang walau sebenarnya hatinya terasa kesal.


"Bu, ini cucu ibu."


Daniel menampilkan senyumannya dihadapan Alenta, dimana wanita tua itu berharap ada sapaan manis dari Sarla.

__ADS_1


"Bu." Daniel tahu apa yang dirasakan sang ibunda hingga dimana. Tangan Daniel berusaha merai tangan ibunya untuk memegang bayi mungil itu.


__ADS_2