Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 208


__ADS_3

Lani mendengar suara ponsel sang mama, ia berusaha mendekat ke arah sumber suara ponsel sang mama.


Mendekat dan semakin dekat, ternyata Dera tengah duduk dibelangkan tong sampah.


Lani menuntup hidungnya, tak kuat mencium bau sampah.


Langkah kaki yang dibantu oleh tongkat, Lani akhirnya menemukan sang mama tengah duduk dengan keadaan ketakutan.


"Mama."


Panggilan Lani membuat wanita tua itu menarik tangan anaknya, jari tangan ia tempelkan pada bibir tipisnya itu," husst. "


Tongkat yang membantu Lani untuk berjalan, kini sedikit terlempar jauh dari hadapannya," mama ini kenapa?" pertanyaan mulai Lani layangkan pada sang mama.


"Kamu jangan berisik, kamu lihat di sana," Dera menunjuk para polisi yang tengah berjaga.


"Polisi, memangnya kenapa dengan Polisi yang tengah berjaga itu?" tanya Lani mengerutkan dahinya melihat tingkah sang mama yang benar-benar berbeda.


Dera kini mendekatkan bibirnya pada telinga Lani, " mama takut ditangkap polisi!" jawaban dari bisikan Dera membuat Lani tentu saja terkejut.


"Jadi mamah berpikir bahwa polisi itu akan menangkap mama," ucap Lani pada sang mama. Dera kini menganggukan kepala, memperlihatkan rasa takut yang begitu berlebihan.


Lani sempat berpikir jika sang mama termakan akan ancaman dari sang papa, membuat kegelisahan terus tumbuh pada hati Dera, sampai ia tak merasakan ketenangan sedikitpun.


"Mam, ayolah jangan parno seperti itu, berpikirlah dengan jernih, Papa tidak mungkin melaporkan Mama tanpa barang bukti sedikitpun. Papa juga tidak akan tahu tempat tinggal kita ada di mana, " ucap Lani berusaha menenangkan sang mama.


Dera perlahan menatap ke arah wajah anaknya, tangan yang terlihat mengkerut itu kini memegang pipi Lani, " Tapi tetap saja, mama merasa jika ancaman itu akan menjadi kenyataan."


Lani berusaha menenangkan perasaan Dera, perlahan ia memegang tangan sang mama, " kenyataan dari mananya mah, bukannya mama sudah mengancam balik papanlh, jadi Mama tidak usah kuatir akan masalah ini. "

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan memang ada benarnya juga, tetap saja perasaan Mama benar-benar kacau saat ini," balas Dera, seketika ia meneteskan air matanya.


Lani berusaha memeluk sang mama dengan begitu erat, berharap dengan apa yang ia lakukan membuat wanita yang berada di hadapannya sekarang merasa lebih baik.


"Mama tenang ya. Jangan memikirkan hal yang malah membuat pikiran mama jadi stress," ucap Lani, mengusap lahan punggung sang mama.


Tanpa mereka sadari, ada sosok polisi yang datang menghampiri mereka berdua, lalu bertanya, " Permisi. "


Deg ....


Jantung Dera seketika berdetak takaruan, saat melihat posisi polisi sudah ada di hadapannya, keringat dingin keluar berhamburan, membuat Dera tak bisa mengontrol.


Lani yang berusaha bersikap santai, tidak memperlihatkan kegugupannya seperti sang mama, kini bertanya pada polisi itu," Iya pak, kenapa?"


Polisi itu langsung memperlihatkan senyumannya, ia menyodorkan tongkat yang selalu dipakai oleh Lani." Apa barang ini punyamu?"


Dera mengira jika polisi itu akan menangkapnya, namun pada kenyataannya, polisi itu malah menyodorkan tongkat yang selalu dipakai oleh anaknya.


" Apa kalian butuh bantuan saya?" tanya polisi itu bersikap ramah di hadapan Lani dan juga Dera.


"Tidak, kami di sini hanya mencari barang kami yang hilang, dan sekarang barangnya itu sudah kami temukan!" jawaban Lani begitu sempurna, ia seperti wanita dewasa yang memahami sebuah obrolan dan juga pertanyaan dari orang lain.


"Baiklah kalau begitu, jika kalian membutuhkan sesuatu kalian bisa panggil kami. "


ucap polisi itu yang begitu ramah dan juga baik kepada mereka berdua.


Polisi itu kini pergi dari hadapan mereka, di mana Lani berusaha membantu sang mama untuk berdiri. " Tuh kan, mama lihat sendiri, polisi itu kan tidak tahu kejahatan mama. Berarti papa hanya mengancam dan mengertak kita saja, jadi Mama jangan kuatir, jangan gelisah berlebihan seperti itu. "


Menghembuskan napas, Dera mengkerutkan bibirnya," Iya apa yang kamu katakan memang benar, Mama terlalu cemas karena termakan ancaman Papah kamu sendiri."

__ADS_1


"Sekarang pulang saja, mama mungkin butuh istirahat untuk bisa menenangkan pikiran dan menstabilkan tubuh. "


Lani berusaha berjalan dengan tongkat yang selalu ia pakai, menuntun sang Mama untuk segera pulang menaiki taksi yang melintas ke arah mereka.


Di dalam perjalanan menuju pulang, Lani melihat sang mama terlihat melamun sembari menatap layar ponsel.


Sepertinya Dera belum sepenuhnya tenang, sampai dimana Lani, memegang tangan sang mama dan berkata, " Mama akan selalu aman jika di dekat Lani. "


Dera memegang erat tangan anaknya itu, menatap sekilas ke arah Lani, " Terima kasih ya kamu selalu menenangkan pikiran mama saat ini, Kalau tidak ada kamu. Mama pasti kebingungan sendiri harus bagaimana menjalani hidup ini yang benar-benar penuh liku-liku. "


Lani menyandarkan kepalanya pada bahu sang mama," Lani juga tahu apa yang dirasakan mama, Lani merasakan jika Mama sekarang tengah tertekan. "


Air mata tiba-tiba saja menetes mengenai kedua pipi sang mamah yang merasakan dekapan dari anaknya.


Lani menyadari jika wanita tua yang melahirkannya itu meneteskan air mata, perlahan ia bangkit dari sandaran bahu sang mama, menatap Sayu lalu bertanya," kenapa Mama bersedih, apa kata-kataku menyakiti hati Mama?"


Dera mengusap pelan air mata yang terus terjatuh mengenai kedua pipinya itu, terdengar suara seraknya, membuat Lani semakin kuatir dengan keadaan sang mama. " mama bangga mempunyai anak seperti kamu, yang begitu perhatian terhadap mama,"


Lani ikut menangis mendengar pujian dari sang mama, ia memeluk erat tubuh wanita yang sudah melahirkannya, sampai mengurus Lani hingga besar, dengan penuh rasa kesabaran dan kasih sayang yang selalu membuat Lani semangat untuk hidup.


"Mama, adalah mama terbaik untuk Lani, Maafkan Lani jika Lani pernah punya salah kepada Mama, seharusnya kemarin Lani tidak .... "


wanita tua itu menutup mulut anaknya dengan telunjuk jari tangan, ia lalu berkata, " Jangan pernah mengungkit kesalahan kemarin, biar kita lupakan masalah yang malah membuat hati kita selalu sakit."


Lani mengganggukan kepala, iya berusaha tetap tenang, hanya ingin membuat sang mama tidak cemas dan juga gelisah.


Setelah sampai di rumah, mereka mulai masuk untuk segera mengecek keadaan Lilia, saat membuka pintu ruangan yang dikusukan untuk Lilia, Lani melihat Lilia terlihat begitu tak berdaya, sepertinya anak berumur 11 tahun itu kelaparan.


karena memang Dera dan juga Lani belum memberikan makanan ataupun air minum sedikitpun pada Lilia.

__ADS_1


Lani mendekat, tangannya kini memegang dagu Lilia," Hai kakaku sayang, ternyata kamu lemah juga ya ketika kami mengurung kamu di ruangan ini. "


Lilia kini bangun, menatap ke arah Lani dengan tatapan penuh kebencian.


__ADS_2