Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 226


__ADS_3

Di dalam taksi, Dera masih memegang berkas berwarna biru itu, terlihat ia begitu gelisah, perasaannya tak menentu.


"Apa mama baik baik saja. "


Tangan Dera kini meraih bahu anaknya dan berkata, " mama baik baik saja kok sayang. "


Wajah yang tadinya ceria kini terlihat muram, entah apa yang sebenarnya tengah dipikirkan Dera.


Perjalanan menuju tempat yang ia tuju, terasa berat.


"Mam, apa kita bisa menemukan Lilia, sedangkan kita baru saja tinggal di daerah sini. "


Apa yang dikatakan Lani, ada benarnya, Dera juga belum tahu betul daerah yang ia injaki saat ini.


"Sudah kamu tak usah kuatir, kita tanya saja sama orang orang yang ada di sini, Lilia tak mungkin pergi jauh dari kota kecil ini, diakan tidak bawa uang sama sekali. "


"Benar juga sih, oh ya. Mam. Kalau kita tak berhasil menemukan Lilia, gimana?"


Tanya kembali Lani yang terlihat tak tenang


" Kita bilang saja, Lilia kabur dan entah kemana!" jawab Dera dengan begitu santainya.


Dera terlihat menyembunyikan perasaannya yang tak tenang dihadapan Lani, wajahnya terlihat begitu gelisah. Apa yang sebenarnya dirasakan Lani sama saja dengan perasaan ibunya, karena jika dia tidak menemukan Lilia sama sekali, otomatis hidupnya akan membekam di penjara.


Saat itulah Dera sudah berniat untuk menjual sertifikat rumah yang berada di tangannya, begitupun nominal uang yang akan ia cairkan segera mungkin, menarik napas mengeluarkan secara perlahan.


Dera berharap jika rencananya berhasil dengan begitu sempurna, setelah sampai di tempat tujuan. Lani mengerutkan dahinya, merasa heran dengan tempat yang baru saja ia lihat.


"Mam, bukannya kita mau mencari keberadaan Lilia. Kenapa kita ada di sini mam?"


Dera menempelkan telunjuk jari tangannya, untuk membuat anaknya tidak bertanya terus-menerus, di mana Lani ini hanya terdiam membisu.


Melangkahkan kaki mendekati ke arah orang yang akan berniat membeli sertifikat rumah Gunawana.


"Gimana? Sudah ada sertifikat rumah yang kamu tawarkan itu kemarin."


Dera tersenyum tipis, menyodorkan berkas berwarna biru itu di hadapan orang yang akan membayarnya.


"Ini, sudah aku dapatkan dan mana uangnya. "


Orang itu menunjukkan dua koper yang berisi uang gebokan merah, dihadapaan Dera.


Sontak Dera yang melihat pemandangan uang itu tentu saja membulatkan mulutnya, ia tak sabar ingin segera mengambil dan juga membelanjakan uang berlembar-lembar merah itu.

__ADS_1


Mengecek dengan begitu teliti, pada akhirnya berkas itu malah dilempar begitu saja pada wajah Dera. "Bodoh, penipu. "


Dera terkejut dengan perkataan yang terlontar dari mulut orang yang akan membeli sertifikat rumah itu," kenapa?"


" kamu masih tanya kepadaku kenapa, coba kamu lihat dengan begitu teliti!"


Dera perlahan memungut lembaran kertas berwarna putih, satu persatu yang berserakan di atas tanah.


Ia berusaha merapikan semuanya. "Tidak ada yang salah dengan sertifikat rumah ini."


Terlihat orang itu tengah menahan kekesalannya di hadapan, Dera. " Kamu lihat tanda tangannya. Itu berbeda dengan pemiliknya. "


Dera baru tahu, ia selama ini kurang teliti.


"Dan kamu baca. "


Membaca dengan teliti, Dera ternyata tertipu, ia benar benar kecewa.


Lani yang melihat raut wajah sang mama berubah seketika, membuat ia bertanya. " Kenapa mam?"


Perlahan menatap ke arah anaknya dan berkata. " Kita di tipu oleh papah dan kakak tiri kamu. "


"Apa?"


Sosok lelaki bertubuh tinggi dengan jas kantornya, mengabaikan perkataan Dera, ia pergi dengan raut wajah kecewa.


"Kurang ajar. "


Dera berusaha menenangkan diri, perasaanya kacau, ia mulai mencairkan uang yang berada pada lembar kertas berukuran sedang.


Namun nihil apa yang ia dapatkan tak sesuai harapan, " Sialan. Sialan. "


Menggerutu kesal, Lani melihat sikap sang mama membuat ia heran dan bertanya." mama kenapa?"


Dera menggigit jari tangannya, rasa kesel ketika uang dengan nominal yang sangat besar tidak bisa dicairkan.


"Uangnya tidak bisa dicairkan, papah kamu sudah nipu kita. "


Sontak Lani yang mendengar hal itu tentulah membuat ia terkejut, " jadi papah sengaja membuat kita menjadi orang yang bodoh."


Dera menggerutu terus-menerus di hadapan anaknya, yakini mengambil ponsel dari tas, untuk segera menghubungi suaminya.


"Mama mau coba menelepon papah kamu. "

__ADS_1


Lani hanya diam iya tak bisa berkata apapun, Ketika sang mama tengah mengetik layar ponsel untuk segera menghubungi sang papa.


Suara sambungan telepon kini terhubung, Lani mulai mendengar suara sang papa memanggil Dera.


"Halo, Dera. Ada apa?"


Pertanyaan Gunawan membuat Dera tak bisa menahan emosi, ia kini menjawab dengan suara meningginya," Gunawan kenapa kamu malah memberikan aku sertifikat rumah yang palsu, dan kenapa Nominal uang yang kamu catat itu tidak bisa dicairkan, kamu mau nipu kami berdua. "


Gunawan hanya menghembuskan napasnya, setelah mendengar kekesalan sang istri yang tak habis-habisnya mengatai dia seorang penipu.


" Gunawan, kenapa kamu malah diam saja."


Gunawan kini tersenyum sinis, dibalik sambungan telepon yang tak terlihat oleh sang istri, ia kini menjawab perkataan Dera, " yang mau menipu, aku atau kamu?"


Dera terdiam karena ia sudah berniat tak benar terhadap suaminya," jaga ucapan kamu, jelas-jelas kamu sudah menipu aku."


"Dera, jagan bersikap bodoh dan berpura pura, kami sudah tahu akal jahat dan niat busukmu, kamu yang mau menipu kami dengan mencairkan uang itu, lalu kabur, dan tak memberikan Lilia pada kami. "


Menelan ludah, apa yang dikatakan Gunawan begitu sama percis dengan niat yang direncanakan Dera.


"Tidak ada niat seperti itu, pada benakku, kamu ya saja yang terlalu banyak berpikir negatip."


Dera berusaha bersikap sewajarnya, ia tak mau jika akal busuknya mampu diketahui Gunawan.


"Mm, baiklah jika kamu berkata seperti itu, oh ya. Jangan lupa besok serahkan Lilia nanti aku akan menyerahkan berkas dan serfitikat rumah yang asli padamu."


Tut ....


Panggilan teleponpun di matikkan sebelah pihak, dimana Dera terus memanggil suaminya itu.


"Halo, Gunawan. "


Beberapa kali, tak kunjung di jawab, membuat Dera pastinya kesal, ia ingin sekali membanting ponselnya ketika sedang marah. Datang kehadapan Gunawan lalu mencaci maki dan mengatakan bahwa dia seorang penipu.


"Sialan, papah kamu malah mematikkan sambungan telepon. "


Dera berusaha menelepon kembali Gunawan, dengan harapan jika ia bisa mendapatkan keinginannya.


Terduduk lesu, kini Dera harus mencari dulu keberadaan Lilia, karena keinginan tergantung adanya Lilia.


"Mama, sebaiknya kita pulang. "


"Mana mungkin kita pulang saat ini, sedangkan apa yang kita bawa ini tidak bisa dijadikan uang. Sekarang mama harus mencari keberadaan Lilia. "

__ADS_1


Lani tahu apa yang dirasakan sang mama, ia terlihat gelisa karena Gunawan dan Sarla lebih pintar dan juga jeli.


__ADS_2