Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 200


__ADS_3

Sosok wanita tua itu datang, menghampiri Daniel. " Apa kamu sudah yakin dengan tanda tanganmu itu?"


Pertanyaan sang ibunda membuat Daniel mengganggukan kepala, ya terus mendatangani berkas perjanjian yang ia buat saat ingin menikahi Sarla.


"Daniel sudah yakin bu, jadi ibu jangan memaksa Daniel terus menerus, karena namanya cinta itu tidak bisa dipaksakan!" jawab Daniel dengan begitu yakin dari hatinya yang begitu dalam.


"Apa besok kamu mau menemui Sarla, untuk menyerahkan bekas biru itu, dan langsung mentalak Sarla saat itu juga, " ucap Alenta ingin mendengar kepastian dari anak semata wayangnya itu.


"Ibu bagaimana sih, jika aku sampai datang menemui Sarla, pastinya Sarla akan curiga jika aku tidak hilang ingatan," balas Daniel, mencoba menjelaskan pada sang ibunda.


"Padahal ibu berharap sekali, perpisahan kalian tidak dengan cara saling menjauhi satu sama lain, " ucap Alenta, raut wajah penuh harapan diperlihatkan begitu saja oleh Alenta.


"Sudahlah bu, jangan berharap jika Daniel akan bersatu lagi dengan Sarla, karena semua itu diluar dugaan, sudah jelaskan apa yang dikatakan Daniel dari awal, Sarla tidak mencintai Daniel sama sekali, jadi untuk apa mengejar seseorang yang tidak mencintai kita sama sekali, yang ada semua itu hanya membuang buang waktu saja. Dan energi kita sampai habis, karena mempertahankan cinta yang tak pasti. " Jelas Daniel, berharap jika Alenta mengerti.


"Baiklah jika semua itu sudah menjadi pendirian kamu, ibu tidak akan memaksa lagi, " balas Alenta, dimana Daniel kini menyerahkan berkas yang sudah ia tanda tangani.


"Ini berkas yang sudah Daniel tanda tangani, hanya bukti surat talak saja, biar besok Daniel urus semuanya, " ucap Daniel.


Alenta hanya menundukkan wajah, berusaha mengerti akan perkataan anak semata wayangnya itu.


Pergi dari kamar Daniel, Alenta tahu jika semua ini berat bagi Daniel sendiri.


"Mm, bagaimana apa Daniel sudah menandatangani surat perjanjian itu?" tanya Wulan pada sang ibu mertua.


"Sudah!" Alenta hanya menjawab dengan raut wajah tak senang.


"Bu." Langkah kaki Alenta terhenti saat sang menantu memanggilnya.


"Ada apa?" Membelakangi Wulan, malas jika Alenta membalas perkataan menantunya itu.


Wulan mendekat ke arah Alenta, ia memandangi wajah mertuanya yang sudah keriput itu.


"Mm, apa ibu bisa tidak selalu membahas Sarla di depan Daniel lagi setelah ini. "


"Apa hak kamu melarang ibu. "


"Ya memang tak ada hak bagiku, tapi tak pantaslah seorang mertua terus mengungkit wanita lain pada anaknya yang sudah beristri. "


"Sarla bukan wanita lain, dia masih istri sah Daniel. "


"Ya memang masih istri sahnya Daniel, tapi kan sebentar lagi di talak, dan otomatis setatus Sarla dimata Daniel wanita lain. "


"Jangan karena Daniel sekarang bisa kamu kuasai jadi kamu seenaknya begitu. "


"Bu, aku tidak pernah menguasai pikiran Daniel sama sekali, Daniel ingin pisah dengan Sarla atas kemauannya sendiri, dan ibu sebagai orang tua harusnya menjadi pendidik yang baik, bukan malah menekan anak sendiri. "

__ADS_1


"Cukup, jaga ucapan kamu. "


"Hey, bu. Dari tadi Wulan itu terus menjaga ucapan Wulan, hanya ibu saja yang tak introfeksi diri. Kaya hidupnya paling benar saja. Oh ya bu, apa jangan jangan ibu juga terkenal sebagai seorang wanita penghianat atau seorang wanita pelakor."


Terlihat kedua pipi Alenta memerah, setelah mendengar perkataan Wulan, ia berjalan begitu cepat dari sebelumnya.


"Bu, kok malah pergi begitu saja. "


Terlihat Alenta pergi dengan terburu-buru, wulan yang melihat pemandangan itu hanya tertawa dan berkata. " Dasar nenek peot. "


Daniel kini keluar dari dalam kamarnya, ya langsung menatap ke arah sang istri," sayang, Kebetulan sekali aku mau mengajak kamu makan malam sekarang. "


"Mm, boleh juga. " demi melupakan segala hal tentang sarla, Daniel menikmati hari harinya dengan Wulan.


"Jadi kita ke restoran?" tanya wulan, di mana Daniel menganggukan kepala.


Wulan yang melihat reaksi sang suami kini terburu-buru pergi dari hadapan Daniel, untuk segera mengganti baju dan berdandan.


Saat kaki itu melangkah jauh, Daniel sini memanggil sang istri.


"Wulan, tunggu. "


Wanita berbibir tebal itu langsung membalikkan badan," ya kenapa, sayang. "


Daniel langsung mendekat ke arah Wulan, " aku hanya ingin menyuruh kamu untuk datang menemui Sarla dan membawa bayinya. "


" Jika menyuruh ibu, sepertinya tidak akan beres, karena ibu terus saja membela Sarla!"


Mendengar perkataan Daniel membuat Wulan langsung setuju, " baiklah kalau itu kemauan kamu aku akan turuti."


"Terima kasih Wulan. "


Wanita yang menjadi istri pertama Daniel, merasa senang saat kata-kata terima kasih itu terlontar dari mulut suaminya sendiri.


"Owh ya. Memangnya kamu tidak mau bertemu dengan Sarla, untuk terakhir kalinya, padahal aku mengizinkan kamu bertemu dengan dia, " ucap Wulan, namun Daniel tak tertarik dengan apa yang dikatakan istrinya.


"Tidak, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk melupakan Sarla selama lamanya, " balas Deniel.


Wulan tampak gembira sekali, hatinya Kian berbunga-bunga, setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Daniel.


" Aku berharap perkataanmu itu bisa selamanya kamu tepati, " ketus Wulan.


Daniel kini memegang kedua pipi Wulan," Apa kamu masih tidak percaya dengan perkataanku, Sampai berani mengatakan hal seperti itu.


"Aku bukan tidak percaya, tapi selama menikah dengan Sarla, kamu banyak berubah. " ucap Wulan, mengeluarkan semua isi hatinya.

__ADS_1


Suar ponsel kini berbunyi, tanda pesan masuk, Wulan hanya tersenyum licik melihat suaminya mendapatkan pesan.


Daniel yang melihat layar ponselnya, tiba tiba terkejut, sontak kedua matanya membulat, tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Kenapa?"


Menarik napas, mengeluarkannya secara perlahan, " Apa maksud orang ini mengirim poto semacam ini. "


Daniel mulai menghubungi orang yang sudah berani mengirim foto tak senonoh, Sarla dengan lelaki lain.


Wulan yang terlihat santai saja kini bertanya kepada sang suami," kenapa? Apa sesuatu terjadi. "


Mendelik kesal, Daniel pergi dari hadapan Wulan.


"Daniel, kenapa kamu malah pergi, bukannya malam ini kita mau pergi untuk makan malam. "


"Daniel."


Wulan berteriak dengan menampilkan senyumannya.


Wulan berusaha berlari mengejar sang suami, memegang bahu Daniel, " kamu ini kenapa, apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Sarla."


Wulan mengerutkan dahinya, " Kenapa dengan Sarah? Apa dia mengalami sesuatu di rumah sakit."


"Bukan."


Tegas Daniel. " Lalu apa?"


Daniel mulai memperlihatkan, pesan yang datang pada ponselnya," ada seseorang yang mengirim sebuah foto pada ponselku, kamu lihat ini."


Wulan seperti seseorang yang berpura-pura terkejut, melihat apa yang berada pada layar ponsel suaminya. " Ini nyata kah, kok aku baru tahu. Masa Iyah wanita bercadar seperti Sarla melakukan hal menjijikan seperti itu. "


Wulan tampak mengompori sang suami, seperti sengaja menjelekkan Sarla, agar status Sarla di mata Daniel menjijikan.


Mengepalkan kedua tangan, menahan kekesalan, Daniel berusaha menahan emosi yang sudah meluap-luap mengenai kepalanya.


"Kurang ajar sekali, jika sampai Sarla terbukti melakukan hal menjijikan ini, ternyata dia tak jauh berbeda dengan wanita munafik."


Wulan hanya tersenyum kecil, lalu menimpal ucapan Daniel, " jika Sarla sampai melakukan hal menjijikan itu, berarti bayi yang ia lahirkan bukanlah darah daging kamu Daniel."


Deg ....


Wulan seperti sengaja mengatakan hal itu, " Aku tak tahu, tapi melihat poto ini membuat hatiku kesal. Bisa bisanya, wanita bercadar seperti Sarla melakukan hal yang tak pantas."

__ADS_1


"Mampus kau Sarla, " gerutu hati Wulan, walau Daniel sudah menjauhi Sarla, Wulan tetap saja melakukan fitnahan untuk madunya itu.


Entah apa yang ia kesalkan pada Sarla, sampai tega melakukan semua fitnahan keji itu


__ADS_2