
Bu Dera melihat suaminya diam tak menjawab, membuat ia kesal, " pah. Ayo jawab. Kamu tinggal bilang iya saja." Bisik Bu Dera.
"Tapi mah, papah tidak bisa jika masalah Sarla harus melepaskan hijabnya. Dosa mah!" balas Pak Gunawan pelan.
Bu Dera berusaha membujuk kembali suaminya," dosa? Hari gini mikirin dosa, ya elah pah. Dosa belakangan, yang terpenting keluarga kita."
"Tidak bisa mah, sejahatnya papah memberikan Sarla pada pria beristri, papah tidak mau membuat anak perempuan papah sampai melepaskan hijabnya, mama tahu sendirikan dosannya sangat besar, siapa nanti yang akan kesedet dalam dosa itu, papah sendiri," tegas Pak Gunawan pada sang istri.
Bu Dera merapihkan rambutnya, "Heh, papah lihat mama, kan tidak pakai hijab dan tak menutup aurat, tapi papah ezoy aja."
"Ezoy bagaimana? Papah sudah nasehati mama, berulang kali. Tapi mama tidak mau mendengarkan perkataan papah, jadi jika masalah itu dosa akan berbalik ke mamah tahu tidak."
Deg ....
Bu Dera mengaruk belakang kepalanya, ia sedikit merinding ketika mendengar suaminya berkata seperti itu.
"Jadi bagaimana Pak Gunawan?" Deniel bertanya kembali, dimana Sarla berharap jika sang papah menolak untuk menyuruh Sarla membuka hijabnya dan berpakaian seksi.
"Maafkan saya sebelumnya Pak Daniel, bukannya saya menentang perkataan anda dan tak mau mengikuti perintah anda, saya sebenarnya tidak setuju akan Sarla harus melepaskan hijabnya yang sudah melekat dari kecil. Anda tahu sendirikan betapa berharganya seorang wanita dimata sang maha kuasa, hingga sebagian tubuhnya yang sensitip harus ditutupi dengan kain yang menjuntai tanpa mempelihatkan lekuk tubuh." Jelas Pak Gunawan.
"Memangnya anda nyaman melihat anak anda berpakaian tak menarik seperti ini, bagaimana kalau laki laki. Menganggapnya aneh?" tanya Daniel. Kurangnya minim agama membuat ia ingin tahu.
"Cara berpakaian seperti ini tidak aneh sudah ada dalam sariat islam dan diwajibkan. Maaf jika saya lancang berkata seperti ini!" jawab Pak Gunawan membela kebenaran, ia tak mau anak gadis satu satunya harus berpakaian seperti wanita yang kekurangan bahan kain.
Pak Gunawan kini buka suara kembali," Apa anda tidak bisa mempertimbangkan lagi masalah pernikahan ini, hanya gara gara hijab dan pakaian anak saya."
Daniel sebenarnya penasaran, hanya saja ia ingin tahu apa sekuat itu Sarla mempetahankan pakaiannya, dan hijab yang menutup tubuhnya.
__ADS_1
"Saya pikirkan dulu, saya takut saja jika anak bapak ini banyak boroknya."
Sarla yang mendengar perkataan Daniel, kini tak kuasa menahan kesal, hingga ia berkata." Anda berpikir jika hijab untuk menutupi kekurangan. maaf sebelumnya Pak Daniel, kita sebagai wanita berhijab ingin menghargai tubuh kita dari pandangan para laki laki mata keranjang. Dan berusaha menjauhakan diri dari dosa jariah. Ini menurut pribadi saya sebagai wanita."
Daniel terkejut akan pembelaan Sarla yang begitu terdengar menarik dan tak biasa.
"Baiklah, saya tetap akan mempertahankan kamu sebagai seorang istri."
Deg ....
Sarla mengira dengan ia memberontak akan ada pedebatan yang panjang, dan membuat pembatalan pernikahan yang sebentar lagi akan di selenggarakan.
Sarla berusaha mencari cela dan alasan, agar Daniel membatalkan pernikahannya.
"Anda bukanya sudah beristri, kenapa istri anda? Apa dia tahu soal ini?"
Deg .... Pertanyaan Sarla membuat wanita tua yang menjadi mama tirinya terkejut. Sarla begitu lancang menanyakan tentang istri sang Ceo.
Sarla yang tak suka jika tanganya dipegang sang mama tiri jahat, melepaskan dan menjawab." Aku tahu, tapi aku ingin pastikan si CEO ini. Memangnya mama mau di cap pelakor nantinya, di permalukan oleh publik, belum lagi di habisi ama bini muda, kalau Sarla mati siapa yang membiayai Lani."
Perkataan Sarla ada benarnya, Bu Dera baru berpikir ke sana, karena yang ia pikirkan dan sang suami adalah uang berlimpah, begitupun kekayaan tanpa ada kebangkrutan.
Daniel melihat tingkah wanita bercadar, kini berkata," kamu takut dengan istri saya?"
Sarla berusaha bekata sopan di depan Daniel, walau bagaimana pun usia Sarla dan calon suaminya begitu jauh berbeda.
"Saya tidak takut, hanya saja saya menghargai sebagai sesama wanita. Makanya saya menanyakan semua ini pada anda, saya juga punya hati dan istri anda juga, jika hati istri anda terluka saya juga akan merasakan hal yang sama."
__ADS_1
Menganggumkan, apa ini kelebihan seorang istri solehan, walau berhijab atau pun tidak, tetap menghargai hati sesama wanita, tak mempedulikan egonya sendiri, benar benar menarik. Hanya saja jika memakai hijab akan lebih konplit terlihat, dalam balutan kain menutupi tubuhnya yang berharga.
Beruntung sekali jika seorang lelaki menikahi wanita dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya yang berharga itu. Hingga yang nampak terlihat hanya tangan dan kedua mata, begitu pun alis. Hanya dia yang mampu melihat kemolekan tubuh istrinya sendiri dan lelaki lain tak bisa sembarangan melihatnya.
"Istri saya tidak tahu hal ini!" Jawaban yang mengejutkan dari mulut sang CEO,
Sarla kini berbicara tegas pada Daniel, " Berarti anda sudah mendzolimi istri anda sendiri."
Mengerutkan dahi, sang papa hanya diam ia tak bisa ikut serta dalam masalah rumah tangga yang akan dijalani anaknya.
"Mm, mendzolimi, tunggu apa kamu tidak salah berbicara ya, kan saya tidak menelantarkan dia, memberi nafkah lahir dan batin pada dia begitu cukup," balas Daniel sedikit bernada tinggi.
"Tetap saja, jika ingin menikah lebih dari satu istri. Anda harus bicarakan semua ini dengan istri pertama anda secara jujur tidak saling membohongi, walau pun hanya pernikahan kontrak, karena jujur saja saya tidak suka dengan lelaki pengecut yang hanya menikah lagi tanpa sepengetahuan istri apalagi sampai selingkuh dan berbuat zina tanpa dasar pernikahan."
Perkataan Sarla membuat Daniel semakin kagum, ia baru kali ini mendengar lagi suara dan tutur kata lembut dari seorang wanita yang mampu membuat hatinya tenang.
Daniel berusaha mempelihatkan ketegasannya ia berusaha menjawab perkataan Sarla. " Baik, saya akan bicarakan semua ini pada istri saya. Jujur saja, saya mengira jika wanita berhijab seperti kamu ini adalah wanita yang aneh. Tapi mendengar ucapan kamu membuat saya tertarik dan ingin merasakan menikah dengan kamu Sarla. Walau hanya pernikahan kontrak."
Deg ....
Padahal bukan ini yang diinginkan Sarla, sengaja ia berbicara seperti itu, agar Daniel tidak bisa menikahinya, tapi malah sang CEO menjadi penasaran.
Pak Gunawan nampak senang, jika Daniel malah ingin meneruskan kontrak pernikahan.
"Terserah anda, saya hanya meluruskan jika pernikahan bukanlah permainan, yang seenak jidat menikah di atas perjanjian. Apalagi menikah dengan dasar kontrak. Pernikahan itu adalah sebuah keistimewaan dan kebahagian setiap insan. Yang sakral, maaf jika saya lancang berbicara."
"Lalu kenapa kamu menyetujui semuanya? Jika kamu mengerti, apa bedanya kamu sebagai wanita munafik. "
__ADS_1
Deg ....
Apa yang akan dikatakan Sarla?