Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 109 Debat Sarla dengan Daniel.


__ADS_3

Daniel baru saja sampai di rumah Sarla, ia sudah tak sabar ingin melihat keadaan istri keduanya itu. Karena rasa rindu yang terus menusuk hati, memburu jiwa, membuat ia ketakutan, jika Wulan mengatakan hal yang akan menyakiti Sarla, hingga di mana Sarla tidak mau bertemu lagi dengan Daniel.


Tok ... Tok.


Ketukan pintu beberapa kali dilayangkan oleh Daniel, padahal satpam sudah memberitahu bahwa Nyonya Sarla tidak mau diganggu, tapi Daniel tetap ngotot ingin datang menghampiri istri keduanya itu.


"Sarla.".


Berteriak memanggil nama Sarla.


Namun Sarla terlihat begitu cuek, ia ternyata tengah mendengarkan musik dengan memakai headset pada kedua telinganya, Sarla sengaja mengurung diri di dalam kamar untuk menikmati hari-harinya hanya ingin mendengarkan musik sendirian, karena perasaannya kini tak karuan setelah kehadiran Wulan ke rumahnya.


"Sarla. Buka."


Pak satpam hanya melihat sang Tuan Daniel mengetuk pintu dengan begitu keras, di mana sarla tidak membuka pintu rumahnya, mengabaikan tamu yang datang.


Daniel mencoba menghubungi Sarla agar wanita yang menjadi istri keduanya itu segera keluar menemui dirinya. Sudah beberapa kali panggilan telepon ia layangkan, hanya untuk memanggil istri keduanya itu.


Namun tak ada satupun yang dijawab, "entah sedang apa si sarla ini, kenapa dari tadi ia tidak mengangkat panggilan teleponku, ataupun membuka pintu rumahnya ini."


Daniel mencoba untuk tetap tenang, agar bisa mengatur diri agar tidak emosi," tenang, tenang Daniel kamu jangan larut dalam emosi. "


Daniel mencoba memanggil satpam di rumah Sarla untuk berhadapan dengannya, satpam itu terlihat ketakutan ketika mendekat, karena Daniel memperlihatkan wajah penuh amarah.


Dimana kedua pipinya memerah. "Ada apa Tuan?" Bertanya sembari menundukkan pandangan.


"Saya ingin menanyakan kenapa kamu, dari tadi Sarla tidak membuka pintu rumah ini!" jawaban Daniel membuat Satpam itu mengulang perkataanya.


" Saya sudah bilang dari tadi, Nyonya Sarla, sudah berpesan kepada saya untuk tidak diganggu oleh siapapun. Jadi Nyonya Sarla tidak akan membuka pintu rumahnya sama sekali, " Satpam di rumah Sarla berulang ulang mengatakan hal yang sama.


Membuat Daniel mengusap kasar wajah, ia tampak murka, berusaha mencari sebuah alat untuk mendobrak pintu rumah istri keduanya itu.


"Tuan. Apa yang akan anda lakukan dengan obeng itu?" tanya satpam merasa kuatir akan keadaan Sarla yang masih ada di dalam rumah.


" Sudah kamu diam saja, ini urusan saya dengan istri saya." Ketika sang satpam berkata seperti itu, Daniel tidak bisa berkutik lagi, ia hanya diam dan mendengar perkataan tuannya.


"Baiklah tuan. "satpam itu kini pergi, ia menggelengkan kepala melihat tingkah sang Tuan begitu kekanak-kanakan, padahal sudah diberitahu tapi tetap ngeyel.

__ADS_1


Beberapa kali Daniel mencoba membuka pintu rumah istri keduanya, tetap saja susah dibuka, iya lupa menduplikasi kunci rumah sang istri. Sampai harus bersusah payah membukanya dengan menghancurkan pintu rumah itu.


"Ahk, aku lupa, jika pintu rumah ini, sudah aku rancang dengan baik. "


*******


Sarla, bangkit dari tempat tidurnya, ia mencoba membuka pintu kamar, mendengar suara keganduahan di luar rumahnya.


Apalagi Sarla sampai mendengar pintu rumahnya seakan dipaksa untuk dibuka.


"Ada apa? Kok, seperti ada yang sengaja membuka pintu rumah."


Mencoba mendekat, mengambil sapu untuk menghajar orang itu.


"Bersiap siap. "


Pintu kini Sarla buka, dan Ahkkk .....


Beberapa kali Sarla, memukul mukul orang itu, hingga ia meringis kesakitan lalu menyebut namanya, " Aw sakit, sakit. "


"Ngapain kamu, hah dasar penjahat. "


Sarla yang tak menyadari jika itu Daniel, terus memukul mukul suaminya berulang kali.


"Rasakan ini."


Pak Satpam yang menyadari jika Daniel, tengah dipukul oleh istrinya sendiri. Kini bergegas berlari mendekat ke arah mereka berdua.


"Nyonya hentikan, jangan pukul lagi." Pak Stpam mencoba menghentikan aksi majikannya itu.


Dimana Sarla berkata," untuk apa Pak. Dia itu orang jahat, mau mencoba masuk ke rumah saya."


Barkk ....


Beberapa kali melayangkan pukulan tanpa ampun, Daniel terlihat begitu lemah, karena pukulan yang dilayangkan istrinya begitu mendadak.


Pak Satpam ternyata melihat kedua mata Sarla tertutup, saat memukul mukul badan Daniel.

__ADS_1


"Hentikan nyonya, coba nyonya buka kedua mata nyonya yang sengaja nyonya tutup itu."


Karena perkataan sang satpam saat itulah Sarlah mulai membuka kedua matanya, setelah memukul-mukul orang yang sudah berani merusak pintu rumahnya, hingga dimana ia terkejut, kedua matanya membulat begitupun dengan mulutnya.


"Daniel." ia terkejut jika orang yang ia pukul adalah suaminya sendiri, melemparkan sapu ke atas lantai. Sarla berusaha membangunkan Daniel yang terkulai lemah, karena pukulannya yang bertubi tubi. Membuat luka lembab pada tubuhnya .


"Daniel.Aku kira itu bukan kamu."


Daniel berusaha bangun, di mana ia merasa kesakitan, akibat pukulan yang bertubi-tubi dilayangkan oleh istri keduanya itu.


Sarla menggerutu kesal kepada suaminya sendiri, "kenapa juga kamu harus merusak pintu rumahku. Bukannya kamu itu mempunyai kunci duplikasi rumahku sendiri. "


"kunci cadangan itu, lupa aku bawa, makanya aku merusak pintu rumahmu. " Daniel membalas dengan merasakan rasa sakit pada seluruh punggungnya.


"Bukannya kamu bisa mengetuk pintu tanpa harus merusak pintu rumahku." Cetus Sarla yang tak mau kalah dengan perkataan suaminya.


" Aku sudah lakukan semua itu Sarla, tapi kamu tetap saja tidak membuka pintu rumahmu sendiri. Aku ini kuatir terhadap kamu, semenjak Wulan datang ke sini, aku takut kamu malah mengurung diri dan akhirnya bunuh diri. " Itulah yang kini terpikirkan Daniel sampai ia rela berlari menuju rumah Sarla.


"Idih ngapain. Aku bunuh diri hanya karena istri pertamamu datang ke sini. " cetus Sarla pada Daniel, merasa tak suka dengan gaya bicara Daniel.


"Ya bisa saja, kayak di sinetron-sinetron yang lain kamu ini sakit hati lalu bunuh diri. " Balas Daniel, seperti memberi guyonan.


"enak saja, aku kan bukan wanita selemah yang kamu pikirkan itu." Tegas Sarla pada suaminya.


kini perkataan mereka berdua. Tidak seperti biasanya, yang selalu terlihat kaku sekarang mereka berdua seperti akrab akan diri mereka masing-masing.


"sudah cepat duduk, biar aku obati luka kamu ini."


Pekik Sarla, seakan tak ikhlas saat mengobati suaminya sendiri.


Sarla kini membantu suaminya untuk duduk di atas sofa, iya segera mengambil obat P3K. Lalu membukanya perlahan, menuangkan beberapa obat untuk menyembuhkan luka akibat pukulan yang dilayangkan dirinya sendiri.


Sarla hampir lupa, ia kini memanggil pembantunya untuk mengambilkan air hangat.


"Di rumahmu ini, ada pembantu. Tapi kenapa pembantumu ini tidak membuka pintu rumah saat aku datang?"


Sarla melihat ke arah pembantunya, di mana pembantunya itu hanya menundukkan pandangan, karena memang ia memerintahkan pembantunya juga untuk tidak membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


"Sudahlah jangan banyak omong sebaiknya kamu diam saja biar aku obati luka ini."


__ADS_2