
Alenta sampai di rumah sakit, ia kini memberikan kabar kepada Gunawan jika anaknya tidak mau datang menemui Sarla.
"Bu Alenta, mana Daniel?"
Wanita tua itu terlihat gugup, saat ia menjawab perkataan Gunawan," maaf Pak Gunawan. Saya tidak berhasil membujuk Daniel, karena anda tahu sendiri kan jika Daniel mengalami amnesia. semenjak kecelakaan itu Daniel tidak mengingat Sarla sama sekali."
Gunawan mulai mengerti, iya berusaha tetap tenang, walau sebenarnya hatinya merasa kesal.
"Tak apa bu, Sarla sekarang tengah ditangani oleh dokter. "
"Syukurlah kalau begitu. "
20 menit kemudian menunggu kelahiran bayi dalam kandungan Sarla, saat itulah suara tangisan terdengar.
Tangisan bayi yang di ridukan Alenta. " Pak Gunawan bayinya sudah lahir. "
"Iya bu. "
Semuanya tampak senang, jika Sarla melahirkan dengan begitu lancar.
Dokter baru saja keluar, dimana Gunawan tak sabar ingin masuk melihat bayi mungil yang dilahirkan oleh Sarla.
"Selamat ya, pak. Bu. Bayinya sehat. "
"Sykurlah kalau begitu. "
"Boleh kami menemui anak kami dan juga cucu kami. "
Dokter itu tersenyum lalu menganggukkan kepala, di mana Gunawan dan juga Alenta masuk ke ruangan Sarla.
"Sarla."
"Ibu, datang ke sini?"
Alenta mendekat melihat bayi yang baru saja dilahirkan Sarla begitu lucu dan juga mungil.
"Ini cucu ibu?"
Sarla tersenyum mendengar perkataan mertuanya," Tentu saja itu cucu ibu. "
Perlahan menggendong bayi yang diberikan Sarla, Alenta merasa hidupnya terasa lengkap, setelah Sarla melahirkan seorang anak.
"Wulan, Daniel. Tidak datang bu?"
Mendengar pertanyaan Sarla, membuat Alenta merasa menyesal karena tidak bisa membujuk kedua anak-anaknya untuk melihat kelahiran bayi Sarla.
"Mereka kebetulan sedang sibuk."
__ADS_1
Sarla memaklumi semua itu, karena ia tahu jika Daniel tidak mengingatnya sama sekali.
Sarla menyuruh sang papah untuk mengambilkan sebuah berkas yang sudah lama ia persiapkan.
Gunawan sedikit mengusap pelan badan, hatinya tak karuan saat memberikan berkas biru yang pernah ia tanda tangani bersama Dera.
Mengambil berkas yang disodorkan sang papa, sarla mulai mendatangani perjanjian dalam berkas itu.
"Aku berharap, ibu bisa menjelaskan semuanya kepada Daniel agar, ia mau menalakku dan juga menandatangani surat perjanjian ini. "
Alenta menyerahkan bayi dari pangkuannya kepada Sarla, di mana ia perlahan mengambil berkas berwarna biru itu.
Membuka lembar tiap lembar dan membacanya, perjanjian yang menekankan sang wanita untuk berkorban.
Tak terasa air mata menetes mengenai kedua pipi wanita tua itu, setiap membaca baris kata demi kata yang sengaja dibuat oleh Daniel.
Gunawan bertanya kepada anaknya, " Sarla, apa kamu yakin ingin memberikan bayi yang susah payah kamu lahirkan ini kepada lelaki yang sudah melupakan kamu. "
"Pah, Sarla hanya bertanggung jawab dengan perjanjian dalam berkas itu," balas Sarla, terlihat kedua matanya nampak sayu, seperti tak ridho melihat anak yang ia lahirkan berada di pangkuan wanita lain.
Sarla memegang tangan Alenta lalu berkata, " Tolong sampaikan pesan ini kepada Daniel, agar dia mau mendandatangani surat perjanjian dalam berkas berwarna biru ini."
"Baiklah, ibu akan turuti kemauan kamu. Sarla. "
Sarla tersenyum dalam kesedihan yang ia rasakan dalam hatinya." Terima kasih Bu."
"Sama sama."
Tetapi karena tanggung jawabnya yang begitu berat, membuat ia harus merelakan sang buah hati.
"Besok ibu akan datang lagi ke sini bersama Daniel, untuk membawa anak kamu. dan mengakhiri kontrak perjanjian pada berkas biru ini. "
Sarla berusaha tetap tegar, walau sebenarnya hatinya begitu rapuh.
Alenta kini berpamitan untuk segera pulang ke rumah, mencium pipi kiri dan pipi kanan menantunya," kamu adalah wanita yang sudah membuat hati ibu luluh. "
Alenta pergi dengan kesedihan yang ia rasakan.
******
Sedangkan Daniel di dalam rumah terlihat begitu cemas dan juga panik. Perasaanya tak karuan, yang memikirkan keadaan Sarla dan juga bayinya.
Wulan mencari keberadaan sang suami, di mana Daniel tengah duduk di taman sendirian.
"Daniel."
Beberapa kali Wulan melayangkan sebuah panggilan untuk suaminya, Daniel tetap saja tidak merespon panggilannya.
__ADS_1
"Sayang."
Saat itulah Wulan mulai merangkul bahu sang suami," Daniel sayang. "
Rangkulan sang istri membuat lamunan Daniel membuyar, " sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Aku hanya memikirkan keadaan bayi yang dilahirkan Sarla, apa bayi itu selamat atau tidak?"
"Mm, bukannya tadi aku membahas hal ini di kamar bersama kamu, tapi kenapa kamu malah membahasnya kembali, kita tunggu saja Ibu pulang nanti. "
"Ya, aku juga berpikir seperti itu. "
"Ya sudah. Jadi untuk apa kamu sekarang memikirkan Sarla dan juga bayinya, jika kamu masih memikirkan mereka berdua berarti kamu itu masih mencintai Sarla."
" Tidak, ucapan kamu salah besar, aku hanya menginginkan darah dagingku sendiri lahir dengan selamat. "
" Yakin jika itu darah daging kamu sendiri. "
Wulan mengatakan hal itu, membuat Daniel mengerutkan dahannya, di mana istri pertamanya itu langsung pergi begitu saja," Wulan pergi ke mana kamu, tunggu. "
Wulan tampak mengabaikan suaminya sendiri, dia berjalan begitu cepat, karena rasa kesalnya melihat sang suami yang terus memikirkan istri keduanya itu.
Baru saja membahas tentang sarla dan juga bayinya, sang Ibu pulang membawa sebuah berkas biru.
"Ibu pulang? Bagaimana keadaan Sarla dan juga bayinya. "
Sang Ibu mengerutkan bibirnya, ia menyodorkan berkas biru itu, " apa ini?"
" coba kamu baca sendiri, Ibu juga kurang mengerti dengan berkas perjanjian yang kamu buat bersama dengan Sarla!"
"Berkas perjanjian, Daniel baru saja mengingat akan hal itu, jika memang Ia membuat berkas perjanjian saat menikahi istri keduanya. "
Tangan kekar Daniel mulai meraih berkas berwarna biru itu, perlahan demi perlahan ia buka, dan melihat tanda tangan Sarla.
"Sarla menyuruh ibu untuk menyerahkan berkas berwarna biru itu kepada kamu, agar kamu segera mungkin mentalaknya dan juga menandatangani perjanjian itu hingga anaknya bisa menjadi milikmu seutuhnya. "
Daniel sudah paham akan hal itu," tapi bukannya Sarla hanya tahu Daniel itu hilang ingatan. "
"Entahlah Ibu juga tuh kurang mengerti dengan hal itu, karena memang yang membuat perjanjian adalah kalian berdua. jadi kalianlah yang menyelesaikan semua masalah ini. "
Alenta pergi dengan merasakan rasa lelahnya, di mana ia mengatakan hal yang belum ia katakan, " owh ya Daniel, asal kamu tahu Sarla terus menekan ibu, agar kamu besok benar-benar datang menemui Sarla, malahan Ibu disuruh merayu kamu untuk datang, memberikan berkas berwarna biru itu. "
"Bu."
"Apah."
"Terima kasih. "
__ADS_1
Daniel mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar, ia mencari pulpen untuk segera menandatangani berkas berwarna biru yang di dalamnya tulisan perjanjian.
Mengepalkan kedua tangan, sebenarnya bukanlah perpisahan yang diinginkan oleh Daniel.