
Sarla mulai bangkit dari sofa, di mana ia terjatuh karena dorongan Daniel, " Cukup Sarla. "
Telunjuk tangan mengarah ke arah wajah istri keduanya, " Cukup Sarla. " Daniel mulai merangkum bahu istri pertamanya, mengajak Wulan untuk segera pergi dari rumah istri keduanya.
"Ayo Wulan, kita pergi dari sini, Sarla otaknya lagi bermasalah." Daniel kini mengajak istri pertamanya untuk segera pulang.
Wulan mulai menunjukkan jempol tangannya ke arah Sarla, rencana kecil mereka ternyata berhasil, kini Sarla, bisa menikmati waktu rehanya di dalam rumah.
Saat Wulan dirangkul oleh Daniel, ia tampak senang sekali, mereka kini pulang menaiki mobil.
Di dalam perjalanan menuju pulang, Daniel kini bertanya?" Apa yang kamu katakan sampai Sarla menjadi berutal?"
Deg ....
Wulan kira jika Daniel, akan mendukungnya saat ini, tapi pada kenyataanya Daniel malah menyalahkannya kembali.
"Aku tidak mengatakan apa apa? Kamu lihat tadi, dia yang menyerangku lebih awal!" ucap Wulan, mencoba membela diri, ia tak suka jika Daniel sampai menyalahkannya.
Melipatkan kedua tangan, Wulan memajukkan bibir atas dan bawahnya, " jangan bohong kamu Wulan, aku tanya sama kamu sekali lagi? Kamu bilang apa sama Sarla, hah. Kamu harus tahu, Sarla itu tidak akan berani melawan tanpa sebab dan masalah yang kamu berikan ingat itu."
Sudah berapa kali Daniel terus menyalahkan Wulan, terasa kedua kuping Wulan kesakitan, ia mencoba untuk tetap diam.
"Kenapa malah diam."
Cara bicara Daniel begitu keterlaluan, bisa bisanya ia menyalahkan satu pihak tanpa bukti nyata.
"Wulan, kamu dengan tidak aku bicara apa?"
"Daniel cukup ya, jangan terus menyalahkan aku dari semua kejadian ini, jelas yang salah itu Sarla sendiri, dia sudah menjabakku tanpa sebab!"
"Aku tidak percaya dengan ucapan kamu sama sekali Wulan."
"Ahk, terserah kamu. Mau percaya atau tidak, yang terpenting aku sudah berkata jujur."
Daniel tampak tak terima dengan perkataanku, ia menggerutu kesal, sambil menyetir, hingga menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Daniel, aku sedang hamil, apa kamu ini gila ya?"
Daniel tak menggubris ucapanku sama sekali, ia malah semakin menggencangkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. " Daniel."
Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, " Wulan, aku tidak akan memberhentikan mobil ini, ataupun membuat mobil ini melaju pelan, jika kamu tidak berkata jujur."
Hanya karena hal sepele, Daniel begitu tega pada Wulan. " Terserah kamu, mau percaya atau tidak, aku tidak peduli, Kalau pun sekarang mati, sudah lebih baik aku mati saja, dari pada harus hidup dengan lelaki yang tak pernah percaya akan ucapan istrinya ini."
Daniel, tiba tiba mengeremkan mobilnya secara mendadak, membuat Wulan, terbujur kaku, ia ketakutan sekali dengan tangan bergetar memegang perut.
__ADS_1
"Daniel. Kamu benar benar gila."
Daniel hanya menatap kaca, kedua tangan masih memegang setir mobil, ia kini melirik ke arahku dengan raut wajah kesalnya.
Tangan kekar itu, kini meraih dagu dan berkata," aku seperti ini karena kamu, kamu sudah berselingkuh dengan lelaki lain, di saat aku berharapkan seorang anak dari rahimmu. Dan kini kamu malah mengandung benih selingkuhanmu itu. "
Melepaskan dengan secara kasar, Wulan terdiam, ia tak suka jika Daniel terus membahas perselingkuhannya.
"Daniel, jangan egois seperti itu. Kamu juga menikah lagi dengan Sarla hah. Jadi ...."
"Jadi apa hah?"
Belum aku meneruskan perkataanku Daniel malah memotong perkataanku, ia terlihat begitu kejam.
Plakkk ....
Tamparan keras melayang pada pipi kiri, ini sudah diluar batas, " Daniel kenapa kamu menampar aku?"
"Ini untuk kamu, agar sadar, jika apa yang kamu katakan itu, tidak menunjukkan bahwa aku ini lelaki egois."
Sudah aku duga hanya masalah sepele Daniel berani menyiksaku. " Sudah cukup Daniel, aku tidak mau terus menerus jadi bahan barang yang seenaknya memperlakukan tidak baik."
Daniel malah tertawa dengan perkataanku, ia kini mencuil dagu lalu, mencium pipiku. " Wahhh, bisa melawan kamu."
"Wulan."
Daniel seperti meringis kesakitan dengan apa yang Wulan lakukan, kedua pipinya memerah setelah istri pertamanya puas memberikan pelajaran.
Wulan mengingat perkataan Sarla, jangan pernah lemah dengan lelaki, sejatinya ia hanya mempelihatkan karismanya dan ketegasan, agar orang orang takut padanya, padahal dalam keahlian yang ia punya, Daniel lemah dan tak bisa apa apa.
"Daniel, sayang. Pasti sakit ya, cup. Cup. Cup."
Wulan menempel nempelkan tangannya pada pipi Daniel, lalu ia turun dan membuka pintu mobil sebelah Daniel.
"Apa yang kamu lakukan Wulan." Menarik paska Daniel untuk segera turun dari mobil, Daniel yang masih kesakitan, berusaha menahan tubuhnya agar tidak keluar dari dalam mobil.
"Aku tidak mau keluar." Tegas Daniel, mempelihatkan raut wajah kesakitannya.
Namun Wulan memaksa, Daniel untuk cepat keluar dari dalam mobil.
"Heh, cepat keluar sekarang juga. Kalau kamu tidak mau kubuat kesakitan lagi."
Wulan seperti orang lain, ketika mempelakukan Daniel, terlihat ia begitu kasar dan sadis.
"Wulan, jangan semena mena kamu kepadaku, aku ingatkan kamu ya."
__ADS_1
"Semena mena, apanya, aku hanya menyuruh kamu cepat turun dari mobil ini."
Wulan memangfaatkan situasi di tempat sepi, ia kini memukul bahu Daniel, hingga tangan yang menahan tubuhnya agar keluar kini lemah. Daniel langsung tersungkur jatuh ke atas tanah, dimana Wulan terburu buru masuk ke dalam mobil.
"Wulan, gila kamu. " Teriak Daniel, membuat Wulan menyalakan mesin mobil.
"Siapa yang gila, aku atau kamu." Wulan ternyata sengaja menurunkan kaca mobil dengan menjulurkan lidahnya.
Tangan mulusnya, ia lambaikan pada Daniel, lalu menjalankan mesin mobil dan pergi, " Wulan. Jangan gila kamu, masa iya kamu mau meninggalkan aku di sini sendirian."
Wulan malah tersenyum dengan ucapan suaminya sendiri, ia berucap," selamat tinggal sayang, nikmati hari harimu saat ini."
"Wulan."
Teriakan Daniel tak di dengar sama sekali oleh Wulan, ia malah melajukkan mesin mobilnya dan pergi menjauh.
"Wulan."
Daniel berusaha bangkit, ia ingin mengejar mobilnya yang dibawa Wulan, namun, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, hingga tak nampak terlihat Lagi.
Daniel hari ini, seakan dihajar habis habisan oleh kedua perubahan sifat istrinya. Di mana mereka kini berani melawan dirinya, begitupun menghajar Daniel habis-habisan, hingga lelaki berbadan kekar dengan tampang dinginnya itu menjadi sosok lelaki yang lemah, dan tak berdaya.
"Wulan, dia tega. Berbuat seperti ini kepadaku, awas aja nanti akan ku beri dia pelajaran, siapa suruh dia meninggalkan aku sendirian di jalanan sepi tanpa mobil satu pun yang lewat."
Daniel mencoba merogoh saku celananya, untuk segera mengambil ponsel, tangannya meraba-raba kemana-mana Iya tampak terkejut, jika ponselnya berada di dalam mobil," ahk. Sialan sekali kenapa juga aku sampai lupa menaruh ponsel pada saku celana. Gawat ini, bisa-bisa aku pulang dengan berjalan kaki menuju ke rumah."
Daniel mengacak rambutnya dengan begitu kasar, iya tampak frustasi sekali dengan kelakuan kedua istrinya yang sekarang berubah menjadi beringas.
"Sialan sekali mereka, bisa bisanya membuat aku kesal."
Daniel ya tak pernah tinggal diam. ika seseorang sudah membuat dirinya kesal ataupun kecewa, Daniel bisa membalas perbuatan orang itu kembali.
Suara klakson mobil kini terdengar, Daniel berharap jika orang yang berada di dalam mobil itu mau-mau bantunya.
Melambaikan tangan membuat mobil itu berhenti, " Pak, bisa saya ikut mobil bapak?"
" Mau bayar berapa!"
Daniel tak menyangka jika lelaki yang berada di mobil itu meminta tarif bayaran untuk mengantarkan dirinya pulang ke rumah.
" Saya bisa bayarkan anda berapapun yang anda mau. "
lelaki tua yang berada di dalam mobil itu kini menyodorkan telapak tangannya," jika itu kemauan kamu. Mana uangnya."
Daniel merogoh saku celana, untung saja ia menemukan uang. Lembaran sekitar dua ribu perak pada kantung celananya.
__ADS_1