Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bba 46 Berusaha tenang


__ADS_3

Ponsel bergetar saat Daniel keluar dari ruangan sang istri, ia mulai merogoh saku celana, menatap layar ponsel yang terus berkedip menandakan satu pesan datang, pesan itu ternyata datang dari Alex. 


(Daniel, aku sudah menemukan lokasi orang yang bernama Angga itu. ) 


Alex mulai mengirimkan alamat,  lewat pesan yang ia kirimkan kepada Daniel. 


Menggenggam erat ponselnya, menatap foto sosok lelaki bernama Angga yang sengaja dikirim oleh Alex. 


(Apa pekerjaannya?) 


Menanyakan profesi sosok  bernama Angga itu. 


(Tidak ada profesi apapun, dia hanya seorang penyalur untuk membuat seseorang jadi model terkenal.) 


Alex mengirim foto kepada Daniel, foto kedekataan istrinya dengan lelaki bernama angga itu. 


(Aku mendapatkan informasi, jika mereka sering keluar masuk hotel.) 


Jawaban yang menyakitkan, menusuk relung hati Daniel sebagai seorang suami. Apalagi mendengar istrinya sering bolak-balik ke hotel bersama lelaki bernama Angga itu. 


Menarik napas berusaha tetap tenang, walau mungkin hati sulit dikendalikan. 


"Apa anak yang dikandung Wulan itu adalah anak lelaki ini. "


Daniel langsung menyalahkan Wulan begitu saja, karena memang sudah lama Daniel tidak menyentuh Wulan istrinya sendiri. 


Memukul tembok, Daniel kini berjalan menuju ke mobil. Ia sudah malas menatap raut wajah Wulan, pergi meninggalkan rumah sakit, berusaha menenangkan diri. 


********


Sedangkan Alenta merasa khawatir akan keadaan menantunya yang berada di rumah sakit. Alenta takut jika terjadi apa-apa dengan Wulan. 


Sarla kini mendekat ke arah mertuanya, " Bu  kenapa belum tidur jam segini? "


"Ibu mengkhawatirkan sekali keadaan Wulan dia sekarang berada di rumah sakit!"


" Memangnya apa yang terjadi dengan mbak Wulan sampai dia masuk ke rumah sakit?"


" Daniel bilang Wulan terjatuh dari atas tangga mengakibatkan pendarahan."


"Apa Mbak Wulan sedang hamil?"

__ADS_1


" Entahlah belum ada informasi dari Daniel lagi. Tentang keadaan Wulan yang sekarang!"


Rasa cemas mulai menyelimuti hati Alenta, wanita tua itu hanya bisa menunggu kabar dari anaknya sendiri. Suara mobil dari luar terdengar kembali, Sarla mulai berjalan melihat ke arah jendela.


Namun betapa terkejutnya ia melihat Daniel pulang kembali ke rumah, terburu-buru membuka pintu, Daniel langsung masuk begitu saja. Ia sampai menepis tangan sarla.


"Daniel, kamu pulang ke sini, Wulan bagaimana?"


Entah apa yang ada di pikiran Daniel saat itu, ia seperti tak mau menjawab perkataan Alenta, ibunya sendiri.


"Daniel, tolong dengarkan perkataan ibu nak."


Daniel tetap saja diam, ya berjalan begitu cepat, masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamarnya.


"Kenapa dengan anak itu?"


Alenta berusaha mengetuk pintu, ingin menanyakan keadaan menantunya," Daniel cepat buka pintunya. Kamu ini kenapa sih pulang-pulang marah-marah seperti itu?"


Daniel yang berada di dalam kamar mengacak rambutnya secara kasar, ya sedikit frustasi mendengar kehamilan istrinya sendiri.


Kecewa dan kesal.


Sang ibunda tak berputus asa, terus berteriak memanggil anaknya yang masih berada di dalam kamar. " Daniel, buka. kenapa kamu malah mengunci pintunya nak."


"Apa yang harus aku lakukan. Menerima kehamilan Wulan, yang jelas-jelas dalam perutnya itu bukan anak kandungku sendiri."


Sarla berusaha menenangkan mertuanya, agar tidak larut dalam rasa sedih melihat Daniel tiba-tiba saja pulang dengan penuh emosi'.


"Bu, sebaiknya sekarang ibu tenangnya dulu hati ibu. Biarkan nanti kita bicarakan jika Mas Daniel sudah meredakan emosinya, Sarla takut jika sekarang kita bertanya, malah akan membuat emosinya meledak-ledak."


Merangkul bahu sang ibu mertua, menyuruhnya untuk duduk, mengambilkan air putih menenangkan pikiran sang wanita tua.


"Gimana perasaan ibu sekarang tenangkan?" Alenta menganggukkan kepala menyandarkan tubuh pada sofa.


Walau sejelek apapun tingkah Wulan, Alenta tetap menyayangi menantunya layaknya sebagai seorang anak sendiri.


Walau terkadang ada rasa kesal menyelimuti Alenta, hingga kata kata kasar dan hinaan dari mulut Alenta keluar kepada Wulan.


Alenta selalu menganggap dirinya adalah ibu yang tak baik, Iya juga jauh dari kata sempurna, kadang mempunyai rasa kesal kepada menantunya terkadang pula merasa kasihan, karena sejatinya perasaan dan juga pikiran seorang manusia sering berubah-ubah.


Daniel, merebahkan tubuhnya, di mana Ia mendapat sebuah pesan dari sang istri.

__ADS_1


(Daniel, Kenapa kamu tidak kembali ke rumah sakit, kamu sekarang ada di mana? Aku ingin ditemani olehmu.)


Pesan yang tak mampu dibalas oleh Daniel, ia kini mematikan ponselnya, menutup kedua mata untuk terlelap tidur.


Bukannya meredakan masalah, Daniel malah membiarkan masalah itu menjadi membuyar.


Bi Siti terus menemani sang majikan, ya tidak mau terjadi apa-apa dengan Wulan, apalagi posisi majikannya itu sedang berada di fase tidak baik.


Takut jika akan ada hal yang tidak baik dilakukan Wulan.


"Nyonya, kenapa?"


Wulan menangis, iya amat sedih karena suaminya tidak membalas pesan.


"Bi, apa sebenci itu Daniel kepadaku, sampai ia tak membalas pesanku."


Bi Siti hanya mampu menenangkan kegelisahan dan juga rasa sedih dirasakan oleh majikannya itu," mungkin Tuan Daniel ada keperluan sampai ia tidak bisa membalas pesan nyonya, jadi Nyonya tenang dulu ya. Jangan sedih begitu, Bibi yakin tuan Daniel pasti menerima anak yang dikandung nyonya. Nyonya tahu sendiri kan Tuan Daniel itu begitu mencintainya nyonya, dia tak mungkin jauh dari nyonya dan melepaskan nyonya begitu saja. "


Semoga saja apa yang dikatakan pembantunya itu, mampu membuat Wulan sedikit tenang dan tidak frustasi.


Karena jika seorang wanita melakukan satu kesalahan, laki pasti akan meninggalkannya dan melepaskan begitu saja, berbeda dengan seorang wanita. jika laki-laki yang melakukan kesalahan wanita tak mampu meninggalkan begitu saja. Ia berpikir lebih dalam dan selalu berusaha menerima hingga titik dimana kata lelah itu baru terucap.


Bi Siti mengusap pelan punggung Wulan, " Bibi tahu, ini semua di luar jalur perkiraan Nyonya. Jadi nyonya tetap sabar. "


Wulan berusaha mendengarkan nasehat dari Bi Siti yang membuat dirinya selalu tenang, walau sebenarnya dia juga merasa sedih karena perselingkuhannya lambat laun akan terbongkar.


"Apa kabar sayangku. "


Wulan terkejut dengan sosok yang membuat dirinya selalu kesal, di mana sosok itu kini berdiri tersenyum manis. Seraya membawakan sebuah bunga yang begitu indah di hadapan Wulan.


"Sayang."


Sedangkan Bi Siti tak mengenal orang yang baru saja datang dan memanggil sang majikan dengan sebutan sayang.


"Angga, ngapain kamu datang ke sini? Cepat pergi dari hadapanku Aku tidak mau jika Daniel tahu Keberadaanmu sekarang."


Wulan berusaha mengusir Angga saat itu juga, kata kunci ka Daniel datang dan membuat keributan.


"Kamu tenang saja sayang, dia tidak akan datang kok. "


Ucapan Angga terlontar, dan saat itu, ketukan pintu terdengar, tentulah mengejutkan wulan.

__ADS_1


Apakah itu Daniel?


__ADS_2