
Ita lalu memegang kedua tangan Wulan, seketika air mata yang berlinang itu menetes perlahan, mengenai kedua pipinya. Bibir gadis yang menjadi pembantu itu bergetar memohon maaf terus-menerus.
"Maafkan saya Nyonya Wulan?"
Rasa tidak tega menusuk pada hati Wulan, dimana Ita dengan nekatnya bersujud di kaki Wulan.
Namun Wulan berusaha mencegah, " jangan lakukan Ita, kamu tak berhak bersujud di kakiku. Aku sudah memaafkan kamu. "
Bi Siti mulai memegang kedua bahu Ita, lalu berkata dengan begitu lembut." dari awal kami sudah menyangka kamu itu terpaksa, kami sudah maafkan kamu kok Ita."
Tangisan kembali lagi dilayangkan oleh Ita, gadis itu menangis terisak-isak, memeluk Bi Siti dan berkata, " terima kasih, kalian memang baik. "
Wulan mulai mengangkat kedua ujung bibirnya, lalu bertanya kepada Ita, " berapa uang yang kamu butuhkan saat ini Ita, semoga saja setelah aku keluar dari sini aku bisa membantu kamu membiayai pengobatan adik kamu yang tengah sakit. "
"Benar kah itu Nyonya Wulan?"
Ita bertanya, seakan tak percaya.
Wulan menganggukkan kepala, " kami jangan kuatir sekarang Daniel sudah berada dipihakku lagi. "
Ita merasa bahagia dengan jawaban sang majikan, ia juga senang. " Terima kasih Nyonya sudah membuat saya senang. "
"Kamu jangan berlebihan seperti itu. "
Semua seakan tak ada kesedihan lagi, melanda pada mereka yang berada di rumah sakit, ruangan itu semua penuh tawa kebahagian karena saling melengkapi.
"Sekarang kamu jangan berbuat hal aneh lagi, apa lagi sampai menuruti perintah Nyonya Alenta, karena sekarang Nyonya Alenta yang berpihak kepada kita berdua. " Ucap Bi Siti. Ita mengerti ia tersenyum kecil lalu menganggukkan kepala.
Dimana dokter datang dan bertanya?" Apa ada keluhan, sudah buang air kecil kah?"
Wulan menggelengkan kepala, " keluhan tak ada, cuman belum mau buang air kecil!"
"Kalau belum buang air kecil, belum bisa pulang. Jadi harus buang air kecil dulu. "
"Baiklah kalau begitu, dok. "
Setelah selesai mengecek Wulan, dokter balik lagi, dimana Wulan berkata, " sepertinya hari ini aku harus buang air kecil agar bisa pulang. "
"Tapi jangan dipaksakan nyonya kalau belum mau, " ucap Bi Siti begitu perhatiannya terhadap Wulan.
__ADS_1
"Bibi tenang saja, kok. " balas Wulan tersenyum, senang ketika diperhatikan Bi Siti.
Ita melihat pemandangan keduanya tersenyum lalu berkata," kalian ini seperti ibu dan anak selalu saling melengkapi. "
keduanya menatap ke arah Ita, lalu saling menatap satu sama lain dan tersenyum, " Entah kenapa aku juga merasa nyaman jika dekat dengan Bi Siti, padahal aku juga tidak tahu di mana sebenarnya orang tuaku, yang aku tahu hanyalah sebuah Panti Asuhan yang membesarkanku hingga membuat aku menjadi istri CEO Daniel."
Bi Siti merasa senang dengan ucapan yang keluar dari mulut Wulan, " Bibi juga merasa senang, selalu memperhatikan nyonya. Jujur saja, bibi itu tidak mempunyai keluarga.
Ita terkejut dengan perkataan wanita tua di hadapan," Bi Siti tidak punya keluarga? Berarti Bi Siti sebatang kara. Lalu suami Bi Siti kemana?"
"Suami Bi Siti kabur, membawa anak satu-satunya Bi Siti, lalu dia menjualnya entah ke mana. "
Mendengar cerita yang terlontar dari mulut Bi Siti, membuat Ita merasa sedih. Ia memeluk wanita tua itu.
"Bi Siti, anggap saja Ita anakmu, Ita juga mau jadi anak Bibi. "
Bi Siti menerima pelukan ini dan tersenyum. " Tentu saja dari awal bibi sudah menggap kamu sebagai anak bibi sepenuhnya. "
Wulan memajukan kedua bibirnya setelah mendengar perkataan Bi Siti kepada Ita, " Bibi gak adil, Wulan masih disini. Wulan jugakan anak bibi."
Bi Siti tertawa setelah melihat raut wajah majikkannya." Nyonya Wulan."
Tawa menggema di ruangan Wulan, namun Wulan hanya bisa tersenyum karena dokter belum memperbolehkan ia tertawa, karena luka jaitannya masih belum sembuh sempurna.
Namun pada kebahagian mereka, datang sosok Sarla secara tiba tiba.
"Mbak Wulan."
Semua orang yang berada di sana terkejut sedangkan Ita tak tahu apa apa, karena ia baru pertama kali melihat Sarla.
"Kamu Sarla, ada apa kamu datang ke sini?"
Wulan terlihat membeci sekali Sarla, apalagi melihat kehadirannya yang tiba tiba datang tanpa di undang.
"Aku hanya ingin menjenguk Mbak!"
Sarla mendekat, menyimpan sebuah parcel buah yang sengaja ia beli untuk istri pertama Daniel.
"Menjenggukku, apa tidak salah?"
__ADS_1
Sarla sedikit menelan ludannya, mendengar jawaban ketus Wulan yang tak bersahabat.
"Saya datang ke sini karena peduli dengan mbak. "
"Peduli, perkataanmu itu?"
"Apa aku salah?"
"Mm, tidak sih. Hanya saja aku tidak suka kamu peduli terhadapku, karena kepedulianmu itu tak berarti, kamu tak jauh berbeda dengan Ibu Alenta, seenaknya kepadaku. "
Deg ....
Sarla menundukkan wajah, ia merasa bersalah menjadi istri kedua Daniel.
"Kenapa pikiran Mbak Wulan selalu jelek seperti itu, padahal saya begitu peduli dengan anda sampai menuruti keinginan Mbak, menyuruh Daniel pulang."
"Omong kosong. "
"Omong kosong dari mananya mabk, jika memang aku ingin membuat rumah tangga Mbak Wulan hancur, mungkin sudah kusuruh Daniel menceraikan Mbak Wulan saat itu juga. "
"Kamu."
"Kenapa, Mbak Wulan marah saat aku berkata seperti itu?"
Bi Siti mulai turun tangan, ia berusaha membela majikkannya, " sudahlah, kamu jangan memacing keributan dan emosi Nyonya Wulan. "
"Bi, aku tidak berniat memancing keributan. Datang ke sini secara baik baik, menyapa. Tapi Mabk Wulan selalu saja bertingkah bahwa aku ini pelakor dan berpikir negatif tentangku. "
"Cukup, Sarla. Aku tidak suka dengan bicaramu itu, dulu aku sedikit percaya kepadaku. Tapi sekarang tidak, jadi jangan harap kita akan akur. Karena jika dalam rumah tanggaku ada kamu, Daniel tidak pernah peduli padaku, dia selalu peduli padamu. "
"Aku tahu hal itu, makanya aku ke sini datang dengan baik baik, ingin mengatakan suatu hal, sebelum Ibu Alenta mempetahankanku sebagai seorang menantu, karena aku tahu mereka sangat menyukaiku. "
"Ya aku tahu hal itu, kamu dimata Daniel istri yang sempurna sedangkan aku hanya sampah."
"Daniel mengganggap aku sempurna dan lebih baik dari Mbak Wulan, karena aku belum pernah menyakitinya dan berselingkuh. Tapi jika aku melakukan semua itu pasti Daniel juga akan menganggap sampah padaku."
Mendengar perkataan Sarla membuat Wulan merasa malu pada dirinya sendiri. " Cukup. "
"Aku akan berhenti berucap dan mengatakan hal itu, tapi tolong beri aku kesempatan, untuk berbicara dengan Mbak Wulan tanpa ada salah satu orang yang mendengar di ruangan ini. "
__ADS_1
Bi Siti yang tak setuju dengan perkataan Wulan lansung berkata, " saya tidak setuju jika kalian mengobrol berdua, saya harus ikut untuk menjaga keselamatan Nyonya Wulan. "
Mendengar perkataan Bi Siti, Wulan berkata, " Bi, biarkan saja Wulan berbicara empat mata dengan Sarla. "