Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 214


__ADS_3

"Kenapa nyonya berubah begitu cepat, padahal dulu nyonya begitu baik sekali terhadap bibi."


Gumam hati Bi Siti.


Setelah sambungan telepon bersama istrinya Iya putuskan, Daniel melihat tangan sang ibunda gerak. " Bu, ibu sadar. "


Walau gerakan tangan Alenta sangatlah pelan, membuat perasaan Daniel merasa tenang sekali.


Alenta merasa dirinya begitu berat untuk menggerakkan seluruh tubuhnya, apalagi bibirnya yang ingin menanyakan tentang keadaan Sarla pasca melahirkan.


"Bu, jangan dulu memaksakan diri untuk berbicara ataupun menggerakkan tubuhnya, kata dokter ibu mengalami struk. "


Alenta terkejut dengan perkataan anaknya, jika ia mengalami struk. Padahal dari kemarin keadaannya baik baik saja.


Daniel memegang pelan tangan sang mama, mencium perlahan punggung tangannya." Mama jangan sedih ya, Daniel akan tetap menjaga mama walaupun keadaan mama seperti sekarang. "


Orang tua mana yang tidak akan terharu dengan perkataan anaknya sendiri. Ingin sekali saat itu Alenta mengatakan kata terima kasih atas keikhlasan anaknya yang mengurus Alenta.


Tangan yang terlihat mengkerut itu, ingin sekali memegang pipi Daniel, " Daniel, ibu ingin sekali kamu bersama dengan Sarla," gumam hati Alenta.


Wanita tua itu, hanya bisa memberikan kode mata. Kepada anaknya, karena tubuh yang susah digerakan. Dan keinginan untuk berbicara.


"Ada apa, Bu?"


Alenta hanya bisa menangis menitipkan air matanya, di depan Daniel. Ia tak bisa berbuat apa-apa, mengungkapkan semua yang ada di benaknya.


"I-b-u."


Daniel mendengar suara sang ibu yang memaksakan diri untuk berbicara," kalau ibu belum sanggup berbicara ini dengan paksakan dulu ya."


Dania begitu kuatir dengan keadaan sang ibu yang selalu memaksakan diri ingin berbicara kepadanya.


Sebenarnya Alenta ingin segera pulang dari rumah sakit, iya sudah tak merasa nyaman terbaring diranjang tempat tidur rumah sakit.


Apalagi bayi yang sudah dilahirkan oleh Sarla, kini berada di tangan Wulan, yang membuat Alenta kuatir. Perasaannya kini tak menentu, karena Wulan bukan orang yang bisa di percaya dalam menjaga anak Sarla.


Dokter masuk ke dalam ruangan, melihat gerakan mata Alenta, membuat dokter itu mengerti.


"Bu Alenta, ibu bisa pulang. Nanti sore, dan untuk terapi bisa kita lakukan setiap minggu sekali. "


Alenta berusaha tersenyum setelah mendengar perkataan dari dokter, hati dan perasaanya seakan berbunga bunga.


Yang ia inginkan memang pulang ke rumah, ia tak mau berlama lama tinggal di rumah sakit, karena rasa rindu ingin bertemu dengan sang cucu.


Membuat perasaanya tak karuan.


"Bu, ibu sudah bisa pulang. Akhirnya ya bu. "


Gunawan tersenyum memperlihatkan kebahagiaan yang dihadapan sang ibunda, memang dia juga ingin pulang ke rumah, Karena rasa rindunya terhadap anak kandung yang sudah dilahirkan Sarla.


Daniel mulai mengurus administrasi pembayaran, Setelah mengurus-ngurus semuanya, sopir mulai menjemput kembali Daniel di rumah sakit, Alenta kini didudukkan pada kursi roda.

__ADS_1


"Bu, kita pulang. Ibu sudah nggak sabarkan ingin meligat cucu ibu. "


Tak ada respon sama sekali, hanya ada kedipan mata, tapi Daniel mengerti hal itu.


Mereka mulai naik pada mobil, untuk menempuh perjalanan menuju ke rumah.


Alenta hanya bisa berdoa dalam hari, mudah mudahan saja tidak terjadi apa apa di dalam rumah dengan bayi yang dilahirkan Sarla.


Karena Alenta tahu niat jahat Wulan.


********


Di dalam rumah, yang sibuk mengurus bayi mungil itu Bi Siti, sedangkan Wulan hanya sibuk dengan dirinya sendiri.


Tangisan bayi itu terdengar lagi, dimana Wulan berdiri. Baru saja merias wajahnya tetap cantik, bayi mungil itu menjadi seorang penganggu pada konsentrasinya dalam bermake up.


"Duh, berisik sekali. "


Bi Siti berusaha menyuruh Ita untuk membelikan susu, karena stok susu kental sudah habis di dapur.


"Bi Siti, kenapa bayi itu terus menangis. Aku pusing dengarnya?"


"Nyonya bayi ini kemungkinan sangat lapar, apa nyonya bisa membelikan susu kusus untuk bayi!"


"Idih, enak saja. Uang aku kusus buat aku, mana mau aku belikan susu untuk anak yang bukan dari dangingku sendiri. "


"Tapi nyonya. "


Wulan seperti tak mau ambil pusing masalah bayi Sarla, ia pergi untuk masuk ke dalam kamar, melanjutkan aktivitasnya untuk bermake up.


Baru saja duduk pada kursi depan cermin, Wulan dikagetkan dengan suara Daniel yang memanggil namanya, Iya menaruh kembali kuas yang sudah menghiasi pipinya. Segera bangkit, keluar dari kamar menghampiri Bi Siti yang ternyata berada di dapur.


"Bi, bi. "


sontak Bi Siti terkejut melihat Wulan tiba-tiba saja mengambil bayi dalam gendongannya, padahal Bi Siti ingin membuat sebuah air gula untuk iya berikan pada bayi mungil itu.


"Nyonya."


Wulan tak memperdulikan penggilan Bi Siti, ia langsung membawa bayi itu dalam gendongannya menuju keluar dapur.


"Mau dibawa kemana bayi itu, kok perasaaku nggak enak sekali. "


Bayi itu tetap saja menangis karena merasa kelaparan. " Cup cup sayang, nanti kita beli susu. " Ucap Wulan sok perhatian dan kasihan pada bayi yang ia gendong.


Bi Siti penasaran ia takut terjadi apa-apa dengan bayi mungil itu. Perlahan mengikuti langkah kaki sangmajikan yang terus pergi melangkah menuju ruang tamu.


"Nyonya." beberapa kali memanggil tetap tak direspon sama sekali oleh Wulan.


.


Dan ternyata Bi Siti melihat kepulangan Daniel bersama dengan ibunya yang berada di kursi roda.

__ADS_1


"Pantas saja Nyonya Wulan langsung merebut bayi itu dari tanganku. Ternyata iya ingin memperlihatkan dirinya begitu baik pada bayi mungil itu. Entah kenapa makin ke sini aku semakin tak suka dengan sikap munafik Wulan, padahal dulu iya begitu baik hingga aku selalu membantunya. Tapi sekarang? Berbanding balik, Wulan menjadi sosok wanita yang tamak dan juga egois, entah apa yang ia pikirkan sampai berbuat seperti itu."


Bi Siti menatap dari kejauhan, melihat Alenta tak bergerak, " Sebenarnya apa yang terjadi dengan Nyonya Alenta?"


Daniel langsung mengambil bayi dalam gendongan Wulan, ia mencium bayi mungil itu, membuat Wulan merasa kesal,


Seharusnya Daniel itu cuek terhadap bayi yang sudah dilahirkan Sarla, tapi Daniel malah terlihat menyayangi bayi mungil itu.


"Bukannya semalam sudah dikirimkan poto tak senonoh Sarla dengan seorang lelaki, tapi kenapa respon Daniel kepada bayi itu begitu sayang, ada yang aneh. "


"Wulan, kenapa bayi itu terus menangis. "


Alenta yang sudah berpengalaman, ingin memberitahu jika bayi itu lapar.


Bi Siti ingin menyelamatkan bayi itu, ia datang menghampiri Wulan dan juga Daniel. " Maaf Tuan, bayi itu kelaparan. Dia dari tadi pagi belum meminum susu, jadi .... "


Wulan menggerutu kesal dalam hati, " Bi Siti ini, kurang ajar, kenapa malah memberitahu Daniel. "


"Benar begitu Wulan?" pertanyaan Daniel membuat Wulan merasa tak karuan, antara berkata jujur atau harus berbohong kembali.


"Wulan, bukannya aku sudah mentransfer kamu uang untuk membeli susu bayi ini, tapi kenapa kamu tidak langsung membelikan susu untuk bayi ini."


Wulan menundukkan pandangan uang yang diberikan Daniel, sudah habis Iya belikan Skin Care dan juga alat make up begitupun baju.


"Wulan, aku tanya sama kamu kenapa kamu malah diam terus menerus," ucap Daniel terlihat kedua matanya memerah, urat leher menonjol, ya kesal terhadap istrinya sendiri.


Daniel berusaha tetap tenang karena disampingnya ada seorang ibu yang tengah sakit, iya kini merogok saku celana, untuk mengambil dompet mengambil uang memberikan kepada Bi Siti. " Ini bi. Tolong kamu belanja belikan susu khusus untuk bayi ini ya. "


"Bayi Tuan. "


Bi Siti menuruti perintah sang majikan, hingga dimana Daniel menghentikan langkah kaki Bi Siti. " Tunggu bi. "


"Iya Tuan. "


"Apa kalian sudah menerima transferan uang gaji kalian dari Wulan."


Deg ....


Wulan lupa dengan hal itu, iya masih menyimpan uang gaji para pembantu di rumah Daniel.


Dimana Bi Siti sekilas menatap ke arah Wulan," kami belum menerima sama sekali."


"APA?"


Daniel tampak murka sekali terhadapmu Wulan, padahal Ia ingin pulang dengan keadaan rumah yang tenang, tanpa masalah sedikit pun, tapi sekarang, Daniel malah mendapatkan hal yang tak terduga dari Wulan.


" Kemanakan uang yang sudah saya transfer pada rekening kamu Wulan, Kenapa kamu tidak menjalankan amanah yang saya berikan, bukannya saya sudah berpesan kepada kamu untuk segera memberikan gaji pada para pembantu, dan juga memberikan susu untuk bayi ini."


"Maafkan aku mas, kemarin aku sibuk mengurus bayi ini. Mana tempat Aku mengingat gaji para pembantu, biasanya kamu kan yang selalu memberikan gaji para pembantu."


Daniel berusaha memaklumi perkataan sang istri, ya kini menyuruh Daniel untuk segera mengirimkan uang gaji para pembantu. " Kalau begitu cepat sekarang kamu kirimkan uang gaji yang berada di rekening kamu kepada para pembantu. "

__ADS_1


Deg ....


__ADS_2