
"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Wulan, merasa tak suka saat Daniel melayangkan tawa yang terlihat seperti meledek.
"Memang ya kalian ini cocok, manusia tehina!" jawab Daniel membalikkan banda, dimana Wulan yang sudah terlanjur kesal, kini memukul suaminya dengan gagang sapu.
"Ahk."
Daniel jatuh pingsang, karena pukulan yang dilayangkan Wulan begitu keras. Bi Siti penasaran, kini mengecek keadaan sang Tuan. " Nyonya, Tuan pingsan. "
"Ya sudah biarkan saja."
Wulan tak bisa menahan emosi, ia tak peduli sama sekali dengan keadaan.Daniel saat itu.
"Kita sered saja dia."
Bi Siti mulai membantu Wulan menyered Daniel, berusaha membopong tubuh lelaki yang menjadi suaminya.
"Berat sekali nyonya?"
"Iya bi!"
Wulan mengusap pelan keringat dinginnya, bekas perjuangan mengangkat Daniel pada ranjang tempat tidur, " akhirnya."
"Daniel."
Alenta wanita tua yang menjadi Ibu Daniel terus memanggil-manggil anaknya," Daniel, ke mana sih dia ini. "
Wulan menyuruh Bi Siti untuk bersembunyi, ia ingin melayangkan aksinya agar Alenta terkejut.
Wulan sengaja membuka seluruh baju suaminya, selalu menutupnya dengan selimut, agar pemandangan itu dilihat oleh Alenta.
Dimana wanita tua itu merasa heran jika Daniel masih melayangkan napsunya pada Wulan.
"Semoga saja berhasil."
Alenta penasaran, melihat pintu kamar menantunya terbuka, wanita tua itu tanpa mengetuk pintu langsung membuka, dan melihat pemandangan yang tak terduga.
"Wulan, Daniel. "
Wulan berusaha bangkit menutup tubuhnya. Dengan sehelai kain yang tak berada jauh dari hadapannya, " Ada apa?"
Wulan memperlihatkan senyum sinisnya dihadapan ibu mertua. " Oh ya saya tahu, pasti anda tengah mencari anak anda bukan?"
Pertanyaan Wulan membuat wanita tua itu malu, ia memperlihatkan raut wajah memerah, " tuh anak anda sedang tertidur pulas."
__ADS_1
Alenta berusaha menundukkan wajah, berpura-pura tak melihat anaknya yang tengah kelelahan terbaring di atas ranjang tempat tidur istrinya sendiri.
Alenta tak menjawab perkataan menantunya itu sama sekali, " loh kenapa malah diam."
Melihat tingkah sang mertua pergi begitu saja, membuat Wulan langsung menahan wanita tua itu, " anda mau kemana, kok main pergi gitu aja?"
Alenta berusaha melepaskan tangan Wulan yang memegang tangannya, namun Wulan malah sengaja menggenggam erat tangan mertuanya itu.
"Lepaskan tanganmu itu dari tanganku."
Wulan tersenyum kecil lalu membisikkan sebuah perkataan pada telinga, Alenta," Kamu lihat sendiri kan anakmu masih napsu kepadaku. Bertapa munafiknya dia."
Tawa kini dilayangkan Wulan pada ibu mertuanya dimana ia pergi tanpa melayangkan satu patah katapun.
Pergi begitu saja. Alenta masuk ke dalam kamar dan mengerutu kesal, " Daniel, sebenarnya ada apa dengan anak itu, bisa bisanya dia masih mau sekasur dengan Wulan. "
Ia duduk, perasaannya tak tenang," apa Wulan sengaja memaksa Daniel."
Berdiri lagi, Alenta mulai mencari keberadaan Ita. Ia butuh seorang mata mata untuk melihat gerak gerik Wulan, jika Alenta tak ada di rumah.
"Aku harus cari Ita."
*******
Sedangkan Daniel masih terbaring di atas kasur, di mana Wulan tersenyum kecil, ia menyuruh pembantunya untuk keluar dari persembunyian.
Bi Siti keluar dari kamar mandi sembari menunjukkan kedua jempolnya," Nyonya memang hebat kalau beradu akting."
"Pastinya dong."
Tiba-tiba saja Daniel terbangun dari pingsannya, ia memegang pundak yang masih terasa sakit, penglihatannya masih terlihat buram.
Wulan berusaha menghampiri sang suami, " Sayang apa kamu baik-baik saja."
Daniel kesal, ia mendorong tubuh istrinya sendiri, mulai beranjak pergi dari ranjang tempat tidur.
Namun saat Daniel membuka selimutnya, Betapa terkejutnya raut wajahnya saat itu, melihat dirinya sudah tidak berpakaian.
"Wulan, kemana pakaianku."
Wulan tersenyum manja di hadapan suaminya itu, ia kini menunjukkan sebuah baju di hadapan sang suami. " apa ini yang kamu cari sayang."
kedua mata Daniel membulat, setelah ia melihat bajunya berada di tangan sang istri." bukannya aku tadi masih memakai pakaian."
__ADS_1
Wulan tertawa kegirangan, " masa kamu tidak sadar apa yang sudah kita lakukan."
"Jangan berkata omong kosong kamu Wulan. Aku tidak merasa menyentuhmu sama sekali," Daniel mengelak akan perkataan istrinya sendiri.
" Kenapa berkata seperti itu sayang, bukannya suami istri itu wajar melakukan hal yang memang menjadi kewajiban mereka berdua, untuk bisa merasakan dasar dari kenikmatan surga dunia." Wulan mengeluarkan jurus ampuhnya dalam berucap.
Dimana Daniel berusaha mengingat kejadian di mana dirinya tiba-tiba kesakitan. " Sepertinya kamu ingin menjebakku, agar aku percaya bahwa aku udah menyentuh kamu lagi."
Wulan masih dalam posisi tenangnya, yang menyandarkan badan pada pintu kamar." Sudahlah akui saja kamu memang masih membutuhkanku."
Daniel yang terlihat begitu benci terhadap istrinya sendiri, kini membuang ludah lalu menatap tajam ke arah istrinya itu, " Jangan berharap lebih kepadaku lagi, karena jika kamu sudah menghianatiku aku tidak akan lagi menyentuhmu detik itu juga."
Deg ....
jantung Wulan terasa sakit, setelah mendengar pernyataan yang membuat dirinya tak bisa mengelak.
"Wanita yang sudah berselingkuh itu, adalah wanita tak punya harga diri, sama seperti kamu."
Wulan menghampiri suaminya, tangan ialah yang kan pada pipi kiri Daniel, plakkk ....
begitu keras tamparan yang dilayangkan Wulan kepada suaminya, " kamu berani menamparku wulan. "
" Aku melakukan tamparan ini, karena kamu sudah menghinaku. "
" Aku tidak menghinamu, aku hanya berkata sesuai fakta."
Wulan memegang kerah baju suaminya, ia mencengkeram erat lalu berkata, " Aku tidak suka jika lelaki seperti kamu ini seenaknya merendahkan seorang wanita. "
Melepaskan kerah baju itu lalu mendorong tubuh suaminya hingga terhentak pada kasur.
Wulan melemparkan baju langsung mengenai wajah Daniel.
Daniel dengan Sigap mengambil baju itu lalu memakainya pada badan, ia kini beranjak dari tempat tidur untuk segera pergi dari hadapan istri pertamanya.
" Rencana sebesar ataupun sekecil apapun yang kamu lakukan dan begitupun kerja kerasmu itu. tidak akan membuat aku balik lagi kepadamu seperti dulu, ingat ini baik baik."
Melewati Wulan, Daniel pergi begitu saja, dimana Wulan menyuruh sang suami untuk menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu."
Dengan sikagnya Daniel menghentikan langkah kakinya itu, Iya menunggu sang istri yang berlari menghampirinya.
" Tadi kamu bilang apa? Bahwa kamu itu tidak akan mencintaiku lagi, atau balik lagi kepadaku. Hey Daniel jangan seenaknya kamu berbicara, kamu tidak tahu saja apa Rencanaku ke depannya. Yang pastinya Rencanaku ini akan membuat kamu menyesal dan balik lagi kepadaku memohon-mohon sembari bersujud."
__ADS_1
betapa entengnya Wulan berbicara seperti itu di hadapan suaminya sendiri, Daniel yang melihat tingkah istrinya langsung mengambil kedua tangan Wulan, ia kini berucap," Aku pastikan rencana kamu itu gagal tidak ada yang akan berhasil sama sekali."
Begitu yakinnya Daniel berkata seperti itu di hadapan Wulan, hingga ia melepaskan kedua tangan istrinya, lalu pergi begitu saja.