Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
119


__ADS_3

Di kamar yang cukup lumayan megah, Sarla


masih memikirkan perkataan Wulan yang menceritakan aibnya sendiri. Iya sebagai seorang wanita merasa tak menyangka, jika ternyata


Wulan tega menghianati Daniel.


Pantas saja Daniel begitu murka dan tak ingin mengakui anak yang tengah dikandung oleh Wulan, di mana Daniel begitu bersih Kukuh ingin memiliki anak dari Sarla.


Mengacak kerudung yang sudah tersusun rapi, Sarla kini memajukkan kedua bibirnya, " kenapa rumah tanggaku ini rumit sekali, aku mengira akan berjalan mulus dan lurus seperti jalan tol, eh nyatanya tetap saja ada belak belok."


Ting ....


Satu pesan datang, Sarla sekilas menatap pada layar ponselnya, ia mengira jika itu Daniel.


Namun ternyata perkiraannya itu salah, ia mengambil ponsel lalu menatap layar ponsel itu, membaca pesan dari nomor baru.


(Sa, Kenapa kamu sampai tega memblokir nomor ponsel aku beberapa kali.)


Mengeluarkan napas terasa begitu berat, ternyata pesan yang datang itu dari Rafa. " Kenapa sih lelaki ini setiap hari menggangguku terus menerus, bukannya iya tahu bahwa aku ini istri dari pamannya. "


Tanpa di sadari, panggilan telepon datang, Sarla yang masih kesal akan kehidupnya. Kini menganggkat panggilan telepon.


"Halo. Ada apa lagi, bukannya aku sudah memberi peringatan kepada kamu?"


"Sa, ini aku Natasha."


Deg ....


Sarla terdiam, ia menutup mulut lalu melihat nama dari layar ponselnya. Ternyata nama Natasha, Sarla terlalu mengandalkan emosi, hingga ia tak fokus pada orang yang meneleponnya.


"Sha, apa kamu mendengarku?"

__ADS_1


Natasha, terus memanggil nama Sarla, namun mulut Sarla terasa berat saat ingin menjawab perkataan sahabatnya itu.


Mungkin Sarla terlalu sakit hati karena perlakuan Natasha yang keterlaluan, membuat ia tak bisa membalas apaan sahabatnya.


"Sarla, apa kamu mendengar suaraku. "


Natasha berharap sahabatnya itu mau membalas panggilannya, tapi Sarla malah acuh. Sampai Natasha memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa bersalahnya," Sha, aku berharap jika kamu mendengarkan perkataanku. Tapi jika kamu memang tak mau mendengar penjelasanku, aku akan pahami itu."


Sarla masih diam seribu bahasa, ya seperti mencerna akal pikirannya untuk bisa membalas panggilan dari sahabatnya itu.


Suara dari panggilan telepon itu kini berucap lagi. " Sa, jika memang kamu begitu benci kepadaku, aku akan menerima kebencian itu untuk bisa menjadikan aku pribadi yang lebih baik lagi."


Sarla tak menyangka jika sahabatnya yang sudah menghancurkan harapannya dan juga kesetiaannya sebagai seorang sahabat, kini berkata bijak.


"Sa, mungkin dengan cara meminta maaf kepada kamu perasaanku menjadi tenang, sa. aku sudah banyak membuat kesalahan, apa kamu mau memaafkan aku sebagai sahabatmu. "


Sarla tetap saja diam membisu tak menjawab perkataan Natasha pada sambungan telepon." Sah. Apa kamu bisa mendengar suaraku, aku hanya ingin meminta bantuan kepada kamu?"


Tak ada rasa malu sedikitpun, Natasha terus meminta bantuan pada Sarla, " Sah. Kumohon."


Sarla seperti tak menggubris perkataan sahabatnya, ia terlihat sudah tak peduli. " Sah, tolong dengarkan aku bicara?"


Sarla butuh waktu untuk bisa menerima Natsha sebagai sahabatnya lagi, terutama tentang penghiantan yang sudah ia lakukan sejak lama.


Andai saja dulu Natasha tidak menuruti ego, mungkin persahabatn mereka akan selamanya bersama. Karena hadirnya Rafa, membuat persahabatan mereka pecah belah.


Ingin rasanya Sarla mematikkan sambungan telepon dari Natasha, karena ia tak mau memancing keributan. "Sah, bicaralah."


Sarla akhirnya mengalah ia mulai berucap, " kenapa kamu begitu bersikukuh ingin mendengarkan aku berbicara?"


Ucapan Sarla mampu membuat relung hati Natasha sakit, bagaimana tidak. Natasha tengah di rendungi kesedihan yang mendera pada hatinya.

__ADS_1


"Tash, Kamu tahu kan, aku sudah memaafkan kamu dari waktu kamu mengecewakan aku sebagai sahabatmu? Tash, aku bukan nggak mau menolongmu, aku lagi memperbaiki hati dan pikiranku agar tidak berbuat hal buruk pada orang yang telah menyakitiku, aku juga manusia biasa, bisa marah, benci atau dendam. Jadi tolong jangan meminta bantuan padaku. "


Kecewa yang kini di katakan Sarla, membuat Natasha kesal," Sa, aku tahu itu, maafkan aku. " Panggilan teleponpun di matikan sebelah pihak, Sarla hanya memaklumi itu semua. Natasha menelepon dengan permisi dan mematikkan tanpa pamit.


Sarla sudah tahu sifat sahabatnya akan seperti apa. Ketika ia menolak," Benar dugaanku, kamu akan marah, makannya aku tak bisa membantunya. Karena pada ujungnya akan seperti ini. "


Sarla mulai mengitirahatkan tubuhnya kembali di atas kasur, ia tak mau memikirkan sifat sahabatnya yang seperti tadi, karena untuk apa memikirkan hal yang malah membuatnya cape sendiri.


Pesan datang lagi dari Natsha, ia sudah menduga jika Natasha malah balik membencinya.


(Kamu memang sahabat yang tak bisa di andalkan sah, aku sudah meminta maaf padamu. Tapi kamu tidak bersimpati padaku.)


"Pesannya membuat aku menarik napas, yang terasa sangat sesak, bisa bisanya, Natasha seperti itu padaku. " Tersenyum kecil, kini pesan datang lagi dari Natasha.


(Sa, aku tidak akan menganggap kamu sebagai temanku lagi.)


Sarla tak mengerti dengan pikiran Natasha, dia yang memohon mohon, dia yang marah marah tak jelas. Menggelengkan kepala lalu, mengusap pelan wajah yang tertutup cadar dan berkata, " astaghfirullahaladzim. Ada manusia seperti ini."


Sarla berusaha tak melayani lagi Natasha yang terlihat begitu marah-marah kepadanya, ya lebih baik membungkam mulut, tak membalas ataupun meladeni sahabatnya itu lagi.


Karena jika semakin diladeni Natasha Malah semakin menjadi-jadi bukannya menerima akan kesalahannya dia malah seperti orang yang tersakiti.


Sarla mulai menutup kedua matanya, di mana panggilan telepon dari Daniel datang mengagetkan lamunannya. "Apalagi dia ini."


Terasa mengganggu sekali, Sarla kini merijek panggilan telepon dari suaminya itu. " Siapa suruh nelepon di saat dirinya. Tengah di rumah istri pertama. Bukannya aku sudah memberitahu Daniel jika ia harus bersikap adil, tapi kenapa dia tetap saja ngeyel terus menghubungiku dan datang ke rumahku tanpa aku duga. Jika memang Daniel sudah tahu perselingkuhan istri pertamanya itu. Kenapa dia tidak menceraikan saja Wulan, bukan malah menyakitinya secara perlahan dan membalaskan dendam, karena perselingkuhan yang baru saja ia ketahui, benar-benar konyol sekali."


(Sarla, Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan teleponku. )


pesan dari Daniel datang membuat Sarla tersenyum sinis. ( Maaf bukannya anda sekarang berada di rumah istri pertama ya. Kok malah menghubungi saya itu namanya tak sopan, saya bukannya pernah bilang harus adil. )


Sarla kini mengetik kata-kata formalnya, tidak seperti biasax ketika ia sedang marah terhadap Daniel kata-kata yang biasa ia katakan sehari-hari saat masih gadis dilontarkannya di hadapan Daniel.

__ADS_1


__ADS_2