
Sarla hanya diam, bagi dirinya di pernikahan sementara mana mungkin ada cinta. Yang akan ada perpisahan dan luka.
Mereka mulai berjalan beriringan menuju ke sebuah restoran, dimana mayoritas Pengunjung lebih banyak, ia tak terbiasa datang ke restoran mewah berkelas yang baru saja ia injak. Walau begitu pun banyak yang memandang aneh akan penampilannya, Daniel berbisik pada telinga istrinya itu.
"Saya sudah bilang, buka cadarmu, pasti banyak yang menganggap kamu ini aneh."
Sarla tak peduli dengan perkataan Daniel, dimana ia hanya percaya diri akan penampilannya.
Alenta hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah anaknya yang memang sedikit keterlaluan, walau begitu pun ia tetap mengagumi menantu keduanya itu.
Apapun penampilan yang diperlihatkan Sarla sungguh elegan dan berbeda dari yang lain.
Pelayan mulai menghampiri meja dimana Sarla duduk, mereka merasa asing dengan penampilan Sarla.
Banyak mata yang memandang aneh, akan penampilan Sarla hingga dimana.
"Om Daniel. "
Terdengar suara tak asing dari kedua telinga Daniel. Lelaki berbadan kekar itu menatap ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
"Rafa, itu kamu." Alenta menyapa cucunya itu.
"Iya."
Senyuman terlukis dari bibir tebal Rafa, di mana anak remaja itu mulai duduk di kursi dekat Alenta. " Sama siapa kamu datang ke sini?" Pertanyaan Alenta kini dijawab oleh anak muda itu.
"Sendiri." Rafa menatap ke arah Sarla, terlihat ada rasa yang masih terpendam dari diri lelaki itu. Daniel menyadari jika keponakannya itu, begitu serius memandang sang istri.
Berpura pura batuk, agar bisa menyadarkan pandangan Rafa yang amat lama.
"Heh, kenapa kamu memandangi istri saya Rafa?" Pertanyaan Daniel, membuat Rafa kini berucap." Karena saya kagum dengan baju yang dipakaikannya anggun. "
Daniel mulai mengatur posisi duduknya." Apa maksud kamu, jadi kamu tidak memandang aneh penampilan wanita yang menjadi istriku ini.
Rafa menggelengkan kepala dan berkata lagi," Aneh apanya, justru indah dipandang mata. Kita tak akan rugi memiliki istri seperti Tante Saela ini, karena hanya kita yang menikmati kecantikannya saja."
Alenta tersenyum lebar, " Benar apa yang kamu katakan Rafa, coba Daniel kamu dengar masa kamu kalah dengan Rafa, yang hanya anak muda bergelar mahasiswa ini.
Daniel menelan ludah, bukan itu yang ia harapkan, tapi ia berharap orang akan memandangnya aneh dan tak suka dengan penampilan istri keduanya itu.
__ADS_1
Alenta mulai menyuruh Rafa untuk duduk bersamanya, dimana Daniel merasa Curiga dengan tatapan anak remaja yang menjadi keponakannya itu.
"Ya sudah, kita makan. Pesanan sudah siap tersedia."
Sekeluarga itu kini menikmati makanan di restoran itu, dimana Sarla benar-benar menutup wajahnya dari pandangan orang-orang yang berada di sana.
Rafa melihat Sarla sedang memakan makanannya kini bertanya," Apa bisa besok kita kuliah pergi bersama?"
Deg ….
Perkataan Rafa yang membuat jantung dan Daniel seketika berdetak, " Bukannya kamu memiliki mobil sendiri, kenapa kamu ingin bersama dengan istriku?"
"Ya, Aku hanya ingin mempunyai seorang teman, ketika pergi ke kampus bukannya jarak antara rumah kita itu tidak jauh, om!"
Jawaban yang tak masuk akal bagi Daniel, " Bukanya tak bolehnya, seorang wanita yang bukan muhrim berduaan di dalam mobil. "
Alenta terkejut dengan perkataan anaknya, dimana Rafa menjawab. " Slow saja om, kitakan hanya saudara. "
"Tetap saja, kalau bukan Saudara sedarah."
Rafa tak menyangka jika Daniel begitu menjaga istri kontraknya, yang jelas jelas istri kontraknya itu hanya ia nikahi sementara.
"Kenapa kamu begitu ngotot sekali?" tanya Daniel kesal, dimana Alenta sudah menduga jika anaknya dibakar api cemburu.
Sarla berusaha tetap tenang, ia tak menanggapi obrolan kedua pria dihadapannya.
Hingga salah satu rekan kerja Daniel datang, lelaki tua itu menghentikan obrolan yang terdengar penuh debat, antara keponakan dan juga sang paman.
"Pak Daniel."
Sapaan lelaki tua itu membuat obrolan teralihkan.
"Pak Gunawan." Daniel menyapa balik rekan kerjanya itu." Ayo duduk."
Rafa tak bisa berkutik lagi, dia hanya diam seribu bahasa.
"Oh ya, Nyonya Wulan?" Yang pastinya dalam obrolan keduanya ditanyakan itu selalu Wulan.
Gunawan menatap ke arah Sarla, wanita muda yang mampu membuat kedua matanya terasa sejuk.
__ADS_1
"Istri saya sedang ada di rumah sakit? kebetulan sedang ada perawatan.
Pak Gunawan menganggukkan kepala," Oh ya ada acara apa?"
Lelaki tua itu memandang ke arah Sarla terus menerus, sedangkan Daniel berusaha menyembunyikan pernikahan kontraknya, karena jika orang orang tahu. Yang ada mereka akan menganggap Daniel lelaki tega sudah menyakiti seorang wanita demi keegoisannya.
Saat itu, Rafa ikut campur, akan urusan Sang Om, dimana ia berkata. " Dia tunangan Rafa Pak Gunawan."
"Owh, saya baru tahu jika kamu bertunangan Rafa?"
" Kebetulan sekali acaranya hanya sederhana, jadi tidak ada yang tahu acara pertunangan saya dengan calon istri saya ini."
Ucapan yang mengaku-ngaku itu membuat Daniel sangatlah kesal, ada rasa cemburu membara pada hati.
Padahal saat ucapan kepada sang ibunda sangatlah jauh berbeda.
Alenta mendengar perkataan anaknya hanya membukam mulut, berusaha tidak membahas hal yang membuat anaknya itu tersinggung.
" Pak Daniel Kok diam saja. Apa ada yang pada Pak Daniel Lamunkan?"
"Oh tidak ada!"
"Saya baru tahu apa kalau kamu sebentar lagi akan menikah, Oh ya Saya kagum sekali dengan calon istri kamu yang berjilbab dan menutup wajahnya dengan cadar." Pak Gunawan terlihat menyukai dandanan sharla yang terlihat begitu anggun.
Dimana wanita berhijab pink itu menjawab," Terima kasih atas pujiannya Pak, karena yang mampu dipuji itu hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. "
"Kebetulan Rafa anak saya juga memakai hijab seperti tunangan kamu, Saya berharap jika akan ada lelaki yang baik yang akan menikahinya."
Rafa terkejut mendengar perkataan Pak Gunawan," loh pak. Kenapa Anda berkata seperti itu?"
" Kebetulan sekali anak saya ini orangnya pendiam di rumah, dia tidak mau keluar sama sekali, Saya mau menjodohkannya terasa ragu-ragu. karena anak saya ini terlalu tertutup."
Mendengar perkataan Pak Gunawan membuat Sarla kini menjawab," Wah itu bagus sekali Pak, sebaik-baiknya seorang anak bisa menutup auratnya begitupun menghindari dari pandangan laki-laki yang bukan muhrimnya, sudah menyelamatkan sang ayah dari kobaran api neraka. "
"Amin, Saya suka sekali dengan penjelasan kamu seperti ustadzah saja, begitu beruntung Rafa mendapatkan wanita seperti kamu."
"Pak Gunawan tak usah memuji saya berlebihan, saya juga masih belajar tentang hal agama, yang belum saya kuasai sepenuhnya, tapi saya yakin pengetahuan sedikit ini Insya Allah Mengantarkan saya dalam kebaikan."
Daniel malah semakin cemburu, hingga dimana ia berkata. " saya pergi ke toilet dulu sebentar. "
__ADS_1