Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 72


__ADS_3

Mungkin dengan cara seperti ini, Rafa bisa membebaskan Sarla dari kekejaman Daniel, dimana. Iya bisa memiliki wanita pujaan hatinya sejak dulu.


Tring, satu pesan datang dari ponsel Rafa, ia mengira itu pesan dari Daniel.


(Raf, apa bisa kita bertemu.)


Ternyata pesan dari Natasya malas rasanya Rafa membalas pesan dari sahabat yang sudah mengecewakannya, padahal Ia berniat untuk mencintai Natasya, mengubur dalam-dalam rasa cintanya pada Sarla.


(Rafa, apa kamu tidak mau memaafkanku.)


Pesan yang membuat rasa kesal melanda pada hati Rafa, ya benar-benar mengabaikan pesan dari Natasha, berharap jika nanti wanita itu melakukan keinginannya.


******


Natasya bolak-balik ke sana kemari, ia begitu kebingungan, apa yang harus ia lakukan. untuk bisa mengambil hati Rafa kembali, tanpa harus melakukan hal yang tak mungkin bisa ia lakukan.


Berusaha memikirkan cara. Tapi tetap saja dalam pikiran Natasha begitu blank, tak ada ide sedikitpun, yang ia pikirkan sekarang hanya berusaha melakukan sendiri, dengan merayu Rafa dan memohon maaf berulang kali.


"Rafa, kenapa. Pesanpun tak kamu balas, apa kamu sebegitu bencinya terhadapku.".


Natasya, mulai mencari nomor kontak Sarla, dimana ia berulang kali mengetik dan menghapus pesannya kembali.


" Aku benar-benar kebingungan sekarang, apa yang harus aku lakukan saat ini, rasanya males sekali harus mengetik pesan untuk Sarla."


Natasya mulai duduk pada ranjang tempat tidur, di mana ia menghelap napas merasakan rasa tak percaya diri dalam hidupnya, " hidupku seperti tak berguna setelah memisahkan sarla dan juga Rafa."


Tok .... Tok.


ketukan pintu terdengar dari kamarnya, dimana sang ibunda datang memberitahu sesuatu pada anak," Natasya buka sayang."


Dengan rasa malas, pada akhirnya sarla mulai membuka pintu kamarnya. Wanita bermata sipit itu keluar dan berkata," ada apa, ma."


Sosok Tasya kembali lagi ke rumah," Tasya. "


"Hai, adikku."

__ADS_1


Natasya terkejut dengan kedatangan Tasya, saudara kembar, Kenapa bisa wanita bermata sipit sama dengannya datang secara tiba-tiba ke rumah.


"Kamu lihat Tasya kakakmu, sekarang dia akan tinggal bersama kita, " ucap sang ibunda tampak terlihat senang dengan anak pertamanya yang sudah lama pergi dari rumah.


"Oh ya, bu. Aku berharap jika Natasya menerimaku dengan baik di rumah ini," balas Tasya, melihat rasa kesal dari raut wajah adik kembarnya.


"Oh, tentu dong sayang. Adik kembar mu ini pasti akan menerimamu di rumah megah ini," ucap sang ibunda dengan keramahannya.


Tasya tampak senang saat ia disambut hangat oleh ibunya," Tasya kalau kamu sudah ada di sini jangan pergi-pergi lagi ya? Ibu berharap kamu betah di sini?"


Natasya tersenyum bahagia, dengan kepura-puraannya agar sang ibunda tidak sedih, jika sebenarnya ia sangat membenci sang kakak.


"Iya bu, Tasya kan sudah berjanji sama ibu sekarang. "


Bagi Natasya perkataan kakaknya sangatlah menyebalkan.


"Ya sudah, kalian tidur bersama ya. "


ucapan sang ibunda tentulah membuat Natasha syok," Bagaimana bisa. Aku tidak mau Tasya tidur bersamaku apa tidak ada kamar lain?"


"Jadi Si Tasya Ini hanya sementara kan di kamarku?" pertanyaan Natasha membuat sang ibunda sedikit tak suka.


"Sayang, Tasya ini kembaranmu Sudahlah jangan berkata seperti itu,"


" Tetap saja Bu. Natasha ini sudah dewasa, Natasha ingin tidur sendirian tanpa ditemani orang lain, kecuali kalau Natasha sudah menikah baru ditemani suami."


Sang ibunda menggelengkan kepala dengan perubahan anak keduanya itu," Kenapa sih kalian ini kan saudara, Kenapa kalian tidak pernah akur?"


pertanyaan sang ibunda membuat Natasha terdiam, Di mana Tasya meraih bahu adiknya itu." kita hanya bercanda lah Bu, namanya saudara kan tetap berbagi dan juga saling memahami satu sama lain."


Natasha berusaha melepaskan rangkulan tangan kakaknya itu, tapi rangkulan sang kakak sangatlah kuat, buat Natasha tak bisa melepaskannya begitu saja.


"Oh ya, adikku sayang Kakak akan memperlihatkan sebuah hadiah untuk kamu,"


"Oh aku terkejut."

__ADS_1


Dengan wajah juteknya, Natasha kini pergi dari hadapan Tasya, di mana ia membanting pintu kamarnya sendiri.


"Natasya, sebenarnya kamu ini kenapa sih marah-marah Terus." teriak sang Ibunda memarahi anak keduanya itu.


Sedangkan Tasya berusaha meredakan amarah ibunya, agar tidak terus-menerus marah-marah.


" Sudah lah mah, Natasya itu lagi bete kemungkinan, jadi bawaannya marah marah terus," Timpal Tasya kepada ibunya, iya sengaja ingin memperlihatkan kebaikannya di depan sang ibunda.


Natasha yang mendengarkan perkataan kakaknya, terlihat begitu kesal. yakini membaringkan tubuhnya di atas kasur. Di mana Tasya mulai membuka pintu kamar adiknya mendekat pada ranjang tempat tidur, di mana Natasha kini bertanya," Apa maksud kamu datang kembali ke rumah? Bukannya kamu sudah tenang bersama ayah kandungmu itu. "


Tasya duduk di samping adiknya," Hei bagaimanapun dia juga Ayah kandungnya."


" Tak Sudi. Aku mengakui dia sebagai ayah kandungku, dia tetap lelaki jahat yang sudah meninggalkan Ibu, begitupun dengan kamu yang tega memilih Ayah daripada ibu. "


" Aku tidak pernah memilih dari kedua orang tua kita, Aku hanya ingin meluruskan semuanya."


"Kita? jangan berkata seperti itu, aku tak sudi menjadi adik kandung, karena kamu mempunyai watak seperti ayah."


" Hai kamu bilang aku memiliki watak seperti ayah. Apa itu tidak salah, bukannya kamu yang mempunyai watak seperti ayah, yang mau merebut laki-laki yang mencintai sahabatku sendiri. "


" Jangan pernah membahas hal itu lagi aku tidak suka, sebaiknya kamu pergi dari kamarku,"


" Jangan harap kamu bisa mengusirku dari sini, karena Ibu sudah mengizinkan aku tidur di sini bersamamu."


Natasha kini bangkit dari ranjang tempat tidurnya, ia mengambil bantal dan melemparkan bantal itu kepada sang kakak, " Rasakan ini aku tidak suka mempunyai kakak seperti kamu, tak pernah membela adiknya. "


kekesalan gini di luapkan oleh Natasha kepada Tasya Kakaknya sendiri, ya terus melemparkan bantal kepada kakaknya, tak perduli jika sang kakak kesakitan karena lemparan bantal yang begitu keras ialah layangkan.


" Rasakan ini, dasar kakak tidak berguna, cepat kamu pergi dari sini, "


Natasha mengusir Tasya begitu saja, menarik tangan kakaknya, membuka pintu kamar dan langsung mendorong tubuhnya begitu saja.


" Jangan harap kamu bisa tidur denganku. Aku tidak suka mempunyai kakak seperti kamu, kakak yang tidak pernah membela adiknya ataupun mendukung keinginan sang adik."


" Terserah kamu saja aku selalu mendukung kamu dan juga membela kamu, hanya saja di mata kamu semua itu selalu di anggap salah. Aku melakukan kebenaran di sekolah semata-mata, ingin menyadarkan kamu dari kesalahan yang sudah kamu lakukan, terhadap orang yang begitu dekat dengan kamu sendiri."

__ADS_1


__ADS_2