Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 216


__ADS_3

Ita pergi dimana Wulan langsung tertidur di atas sofa dengan mulut megagah.


Pembantu bernama Ita berjalan untuk pergi ke warung, membeli obat. " Malas aku beli ke apotek jauh, mending beli di warung. Cuman goceng. Duitnya kan bisa aku pakai shoping, hehehe, siapa suruh jadi. Wanita jahat, padahal dulu sudah aku percaya kebaikan Nyonya Wulan, eh sekarang. "


Ita mulai membeli obat sakit perut dan juga obat sakit kepala. " berapa mbak. "


"Lima ribu saja. "


Merogoh saku celana, memberikan uang lima ribu yang ia punya.


Ita berjalan kaki untuk segera pulang ke rumah, ia bertepuk tangan hore lalu berkata, " rezeki nomplok memang. "


Pulang ke rumah, sosok seorang wanita cantik berseragam suster berdiri didekat pagar rumah. Menekan bel rumah beberapa kali," sepertinya itu suster yang dimaksud Tuan Daniel deh. "


Ita menghampiri wanita berseragam putih itu, mendekat dan bertanya, " permisi. Ada apa ya?"


Suster yang akan menjaga Alenta begitu cantik, terlihat raut wajahnya masih muda. " Apa benar ini rumah Pak Daniel dan Pasien Ibu Alenta?"


"Ye benar. " Menganggukkan kepala, menjawab pertanyaan suster yang berada dihadapannya.


"Boleh saya masuk?" tanya suster cantik itu. Ita kini mempersilahkan suster itu untuk segera masuk ke dalam rumah.


"Silahkan!" Membuka pintu gerbang, Ita mulai mengantarkan suster cantik masuk ke dalam rumah dan mengantarkan suster itu masuk ke kamar Alenta.


Namun saat berjalan melewati ruang tamu, Suster cantik itu dikejutkan dengan penampakan Wulan yang tengah tidur dengan mulut terbuka. " astaga, saya terkejut. "


Suster itu tersenyum kecil, karena mendengar dengkuran Wulan yang begitu keras terdengar. " Bukan suster saja yang terkejut, saya juga. Hehhe. Dia nyonya di rumah ini, namanya Nyonya Wulan. Cuman suster harus hati hati sama dia, dan menjaga ektra Nyonya Alenta. Karena dia itu tak suka dengan ibu mertuanya. "


"Aduhh, kok sampai segitunya. " balas sang suster, merasa kasihan terhadap pasiennya yang sekarang.


"Iya, makannya saya ingatkan suster harus hati hati, " ucap Ita, memberitahu sifat asli Wulan.


"Kalau begitu terima kasih, kamu sudah memberi tahu saya, " balas suster itu pada Ita.


"Oh ya, nama kamu siapa, biar saya enak saat butuh bantuan kamu?" tanya Sang Suster kepada pembantu Daniel.


"Sebut saya Ita!" balas Ita tersenyum lebar, dimana ia bertanya balik pada suster yang berada dibelakangnya. " Kalau suster namanya siapa?"

__ADS_1


"Namanya Suster Mira!" jawab Suster itu begitu ramah. Berjalan sambil mengobrol, membuat perjalanan mereka sudah sampai di kamar Alenta.


Perlahan membuka pintu kamar Alenta, sosok Alenta sedang menatap jendela kamar. Ia terlihat sedang bersedih, memikirkan nasibnya yang mengalami penyakit struk.


Ceklek.


Suara pintu dibuka, Ita dan juga Suster Mira datang mendekat ke arah Alenta.


"Permisi nyonya. "


Hanya tatapan mata Alenta yang bergerak, sedangkan yang lainnya terasa lemas dan tak mampu bergerak sama sekali.


"Nyonya, ini suster yang akan menjaga nyonya di saat nyonya sakit, " ucap Ita, memperkenalkan suster yang baru saja datang pada sang majikan.


Alante tak bisa berucap satu patah katapun, ia hanya bisa menatap suster yang akan mengurusnya.


"Nyonya, saya tinggal ya." Pamit Ita pada sang majikan, ia kini menutup pintu kamar Alenta.


Perlahan pergi menuju ruang tamu, melihat gaya tidur sang majikan. " Bisa bisanya nyonya tidur dengan gaya mengagah seperti ini. "


Dengan keisengannya melihat sang pembantu tidur dalam keadaan mengagah, Ita sengaja memfoto Wulan.


Melihat jam sudah menunjukkan pukul jam dua belas siang, Daniel dan Bi Siti belum pulang, membuat kekuatiran pada diri Ita, dengan bayi yang mereka bawa ke rumah sakit.


"Mudah mudahan saja bayi Nyonya Sarla tidak kenapa- kenapa?"


Sampai suara bel berbunyi kembali, " apa itu Tuan Daniel dan Bi Siti. "


Rasa senang mulai menyelimuti hati Ita, karena ia akan bertemu dengan bayi mungil yang sudah pulang dari rumah sakit.


Saat berjalan, sampai di depan gerbang, betapa terkejutnya Ita melihat wanita yang menjadi ibu dari bayi yang sudah ia rawat beberapa hari ini.


"Itu bukannya Nyonya Sarla ya. "


Berjalan dengan terburu buru, Ita langsung membuka gerbang pintu rumah Daniel.


"Nyonya Sarla, Pak Gunawana. Kalian kesini. " ucap Ita dengan wajah menunduk, ia kebingungan jika Sarla menanyakan keadaan bayinya.

__ADS_1


"Ita, kami kesini hanya ingin memberikan surat perceraian yang sudah saya tanda tangani, dan sekalian saya ingin melihat keadaan bayi saya. Apa boleh saya masuk. " ucap Sarla, berharap pembantu Daniel mau mengizinkan Sarla dan Gunawan masuk ke dalam rumah Daniel, hanya untuk melihat keadaan bayi yang sudah dua hari ini tak ia lihat.


"Ita." Sarla Menatap kearah wajah gugup Ita, membuat Sarla merasa heran, ia kini mengerutkan dahinya dan berucap kembali, " Ita saya hanya melihat bayi saya, sebentar saja kok, untuk memastikan jika bayi saya aman ada di tangan papahnya dan Ibu Wulan. "


Ita malah memainkan jari jamari tangannya, saat Sarla bertanya seperti itu, semakin gelisahlah perasaan Ita. " Sebenarnya, bayi Nyonya Sarla di bawa ke rumah sakit, karena buang air besar terus menerus. "


Sontak Sarla yang mendengar hal itu, membuat tubuhnya seketika lemas, " sekarang bayi saya ada di rumah sakit mana?"


Ita langsung memberitahu rumah sakit di mana bayi Sarla di rawat. Mencatat rumah sakit itu, Sarla terburu buru pergi dan berkata, " terima kasih ya. Ita. "


"Sama- sama Nyonya Sarla. "


********


Alenta melihat sang menantu berdiri di gerbang pintu rumahnya, membuat ia berusaha mengeluarkan suara. Namun tak bisa, ingin sekali ia bertemu dengan Sarla, namun tubuhnya tak memungkinkan.


"Itu Sarla, aku ingin sekali bertemu dengannya, Sarla. "


Alenta hanya bisa bergumam dalam hati, tak mempu berucap satu patah katapun. Mulutnya benar benar terkunci.


Sang suster terlihat menyadari keinginan sang pasien, membuat ia melihat ke arah jendela.


"Ibu Alenta kenapa?"


"Mm. Mm. " Menggerakan tangan berulang kali, berharap jika suster yang merawatnya bisa mengerti keinginan Alenta saat itu juga.


Suster melihat seseorang ada di depan gerbang tengah mengobrol dengan Ita, membuat Suster itu bertanya, " apa Ibu Alenta ingin bertemu dengan orang itu?" pertanyaan sang suster membuat Alenta berusaha menggerakan jari jemari tangannya.


Dimana sang suster langsung mengerti.


"Ya sudah ayo kita pergi menemui orang yang ingin ibu temui. "


Alenta senang jika sang suster mengerti akan kode tangan yang ia layangkan.


Mendorong kursi roda sang pasien, suster itu kini mengatarkan Alenta ke luar rumah, dimana mereka melewati Wulan yang masih saja tertidur, sembari bergumam.


Setelah sampai di luar rumah.

__ADS_1


.


__ADS_2