Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 61 membuka cadar.


__ADS_3

Kebahagiaan kini dirasakan oleh Sarla, begitupun dengan Alenta dan Daniel, terlihat mereka menikmati kehangatan di rumah Sarla.


Tidak seperti Wulan, penuh dengan rasa cemas dan ketakutan.


"Ibu, bukannya ibu menunggu Mbak Wulan di rumah sakit?" Pertanyaan Sarla membuat wanita tua itu tersenyum kecil," Kebetulan sekali Wulan ada yang nemenin di rumah sakit. Jadi jangan kuatirkan dia!"


Daniel menatap sekilas ke arah ibunya, dimana jari tangan Daniel ia tempelkan pada bibirnya. Menyuruh sang ibunda agar diam tak bersuara, " bu. Bagaimana kalau kita makan di luar, Kita kan nggak pernah tuh makan bertiga di restoran."


"Ide yang bagus, " balas sang ibunda telihat begitu setuju dengan keinginan anaknya.


"Ya sudah, kalau begitu. Sarla mandi dulu," ucap Sarla, sembari mengusap pelan bulu kucing itu.


Alenta mengerutkan dahi melihat kucing yang tengah dipegang oleh menantunya itu," kucing? Darimana kamu mendapatkan kucing itu Sarla!"


Menatap ke arah Daniel, dimana Sarla tersenyum manis," kebetulan Kucing itu terlantar di jalanan, jadi ya Sarla adopsi. Kasihan."


Daniel masih bergidig ngeri melihat kucing pada pangkuan sarla, lelaki bergelar CEO itu dengan terburu-buru pergi menuju ke kamar mandi, ia sudah ingin membasuh wajah begitupun dengan tubuh, jangan merasakan rasa segar dalam dirinya.


Sarla mulai menyuruh para pembantu di rumahnya, untuk memandikan kucing yang ia bawa. "Apa kalian bisa memandikan kucing ini?"


Pertanyaan Sarla membuat pembantunya menganggukkan kepala, " tentu saja kami bisa memandikan kucing itu."


Sarla tersenyum lalu memberikan kucing itu pada pembantu di rumahnya.


Alenta suka dengan kebaikan yang diperlihatkan menantu keduanya itu, terlihat sekali ia terus memandangi Sarla.


"Bu, Sarla mandi dulu ya." Sarla mulai melangkahkan kakinya, untuk pergi dari hadapan mertuanya.


Saat masuk ke dalam kamar, tiba tiba saja Daniel menarik tangan Sarla, dimana wanita bercadar itu terkejut, " Sarla."


Hembusan napas dirasakan Sarla dimana mereka begitu dekat," Daniel. "


Cadar kini terbuka perlahan, dimana senyuman tergambar, Sarla merasa salah tingkah saat berhadapan dengan Daniel.


"Kenapa?"


Pertanyaan Daniel membuat Sarla menundukkan wajah, dimana tangan kekar itu perlahan memegang dagu Sarla.


"Tidak, kenapa napa," Dengan nada bicara yang terdengar gugup, membuat Daniel ingin sekali mencium bibir manis Sarla.


Sarla menghentikan bibir Daniel yang akan menciumnya, telapak tangan Iya tempelkan sengaja.


Hingga, Tok .... Tok .... Tok.


ketukan pintu beberapa kali terdengar, dimana Sarla keluar dari kamar mandi, sedangkan Daniel berdecak kesal.

__ADS_1


Memakai cadar kembali, Sarla membuka pintu kamarnya, Alenta ternyata sedang berdiri di depan pintu.


"Ibu."


"Loh, katanya mau pergi. Kamu kok belum siap siap sih sayang?


Pertanyaan Alenta membuat Sarla malu. Ia menundukkan pandangan dan berkata," ya. Kebetulan sekali di kamar mandi ada Daniel bu."


"Owh pantasan, bajunya agak basah," balas sang ibu, menatap baju yang tengah dikenakan oleh sarla begitu terlihat basah.


kedua pipi Sarla memerah, ia memegang erat baju syar'i nya. " iya ibu. "


"Ya sudah, ibu tunggu di ruang tamu. Jangan lama lama ya. "


"Iya bu."


Wanita tua itu seakan senang jika Sarla semakin mesra dengan anaknya.


Daniel keluar dari kamar mandi dan bertanya?" Siapa yang datang."


"Ibu, katanya dia nunggu kita di ruang tamu!"


Daniel mengeringkan rambutnya, terlihat ia hanya memakai handuk saja, tubuhnya terlihat begitu saja, Sarla tak biasa melihat pemandangan itu, ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dimana Daniel menahanya kembali.


"Mau kemana kamu?"


Tangan kekarnya menghalangi jalan keluar, dimana Sarla berusaha menghempaskan tangan suaminya.


Namun, genggaman tangan Daniel begitu kuat, membuat Sarla melawan.


"Lepaskan tangan saya, ibu sudah menunggu saya dari tadi. "


Daniel melepaskan tangan Sarla, setelah mendengar jika ibu menunggu. Di ruang tamu.


Dengan terburu buru, Sarla masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mengunci pintu.


Daniel tersenyum kecil, padahal dia hanya ingin menjahili istrinya itu. Melihat wajah ketakutan Sarla, membuat Daniel tak berani, mengajaknya bermain.


Keluar dari kamar mandi, Sarla mengintip terlebih dahulu, ia takut jika Daniel tiba tiba datang menekramnya, mengagetkan dirinya.


Setelah melihat situasi aman, barulah Sarla keluar dari kamar mandi.


"Hah," betapa terkejutnya Sarla, tangan kekar tiba tiba memeluk tubuhnya dari arah belakang.


"Anda, mau apa?" kecupan mendarat pada leher Sarla, dimana wanita itu tekejut dengan sikap Daniel.

__ADS_1


"Hentikan, jika anda melakukan hal ini. Kita akan terlambat. "


"Oke."


Daniel melepaskan tangannya, ia mulai menjauh dari hadapan Sarla, karena Sarla menyuruh suaminya untuk jauh jauh dari hadapannya saat ini.


Sarla mulai mengambil baju yang akan ia kenakan, memilih sesuai dimana dirinya pergi bersama keluarga.


Memakai cadar, hingga tangan kekar itu kembali lagi menghentikan tangan Sarla.


"Kamu cantik, Sarla. Kenapa kamu tutup dengan kain ini. "


Sarla menatap ke arah Daniel, dimana lelaki itu menatap balik wanitanya.


"Lalu saya harus memamerkan kecantikan ini. "


Daniel tesenyum tipis, " ya kenapa tidak. "


"Maaf saya bukan wanita yang suka pamer. "


Daniel mendengar perkataan Sarla, menggelengkan kepala, ia kini pergi lebih dulu tanpa menunggu istrinya.


"Daniel, Sarla mana?" tanya Alenta kepada anaknya.


"Dia lagi pake cadar, padahal Daniel suruh jangan pakai!" jawab Daniel terlihat murung, Alenta hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan anaknya.


"Kamu ini suruh Sarla buka cadar, janganlah. Sarla itu udah bagus pake Cadar, " ucap Alenta pada anaknya, perlahan wanita tua itu menasehati anaknya.


"Tapi bu, kalau Sarla pakai Cadar, nanti sahabat Daniel nggak lihat kecantikan dia," balas Daniel kepada ibunya.


"Kamu ini aneh, kecantikan istri mau diperlihatkan pada orang lain, heh." ucap Alenta tersenyum tipis kepada anaknya.


"Kan, pamer bu, biar seru gitu. Kalau ketemu teman," balas Daniel membuat Alenta tertawa terbahak bahak.


"Memangnya Sarla itu barang, kamu ini jadi laki harus beruntung, tak usah cape cape mendidik wanita yang sudah berahlak baik, " ucap sang ibunda menasehati anaknya.


Mengerutkan dahi membuat Daniel berkata," mm, Masalah itu gampang bu, yang penting .... "


Alenta menghentikan ucapan anaknya yang terdengar sombong, dimana jari tangan wanita tua itu ia tempelkan pada bibir Daniel.


"Kalau ngomong itu suka asal ya kamu, heh. Kalau gampang kenapa si Wulan istri pertamamu itu susah di atur. "


Daniel terdiam, dimana sang ibunda mengatakan hal yang membuat dirinya malu. " Kenapa diam, sudah ada buktinya kan, ibu cuman ngigetin kamu jangan sia siakan yang baik. "


"Mm, terserah ibu. Kalau berdebat dengan ibu Daniel pastinya akan kalah. "

__ADS_1


Tawa sang ibunda terdengar nyaring, dimana Sarla datang dengan pakaian anggunnya, Daniel melihat pemandangan itu terhanyut dalam ketenangan jiwa, " Tuh, kamu lihat, ademkan. "


"Iya juga sih, bu. Adem. "


__ADS_2