
" Gunawan aku ini tanya sama kamu, aku atau kamu yang melapor ke polisi. " Timpal Wina.
"DIAM KAMU," Gunawan menatap ke arah anak-anaknya, agar tidak ikut campur masalah sang papah. " Sarla, Lilia, sebaiknya kalian masuk ke dalam kamar, biar nanti papa jelaskan bertiga bersama kalian."
Wina hanya tersenyum lebar, ia berusaha menantikan bantahan dari anak Gunawan, " Tidak pah. "
Sarla semakin ingin tahu cerita sebenarnya," Kami tidak akan masuk ke dalam kamar sebelum Papah menjelaskan semuanya. "
Mengacak rambut dengan kasar, Gunawan nampak frustasi dengan pertanyaan anak pertamanya, sekilas ia menatap ke arah Wina. Karena wanita tua itu sudah membocorkan rahasianya.
"Bi Wina, cepat katakan siapa sebenarnya anda?"
Pertanyaan kembali dilayangkan oleh Srarla kepada Wina.
"Ya ampun, Sarla kamu penasaran sekali ya Bibi ini siapa, mm. Baiklah, bibi akan perlihatkan diri bibi yang sebenarnya. "
Mendengar perkataan dari mulut Wina, membuat Gunawan mengertukan dahi, " apa maksud kamu?"
Wina menempelkan jari tanganya pada bibir, dihadapan Gunawan. " Husst. Sudahlah Gunawan, kamu tak usah banyak bicara, kamu tinggal lihat saja siapa aku sebenarnya."
"Apa yang dikatakan Bi Wina benar, pah. Sebaiknya papah diam saja, jika memang papah merasa tidak bersalah. " Bentak Sarla, karena rasa penasarannya membuat ia berani pada Gunawan.
Wina semakin senang dengan perkataan Sarla yang tegas, tak berpihak pada satu orang saja.
"Ya sudah Bi Wina, cepat tunjukan siapa sebenarnya anda. "
"Baiklah. Sarla. "
Perlahan jari jemari tangan Wina mulai meraba wajahnya, di mana Lilia tak sanggup melihat pemandangan itu, dia hanya menutup wajah dengan Kedua telapak tangan.
Sedangkan Wina terus memperlihatkan Siapa dirinya, dengan menyobekkan kulit tempelan perlahan demi perlahan pada wajahnya.
Sarla melihat pemandangan itu sangatlah terkejut, ternyata bekas luka itu bukanlah bekas luka yang sebenarnya, tapi buatan dari kulit yang sengaja ditempelkan oleh Wina.
Selesai dan terbuka semuanya, kedua mata sarla membulat, melihat pemandangan yang benar-benar mengejutkan hati dan pikirannya.
Mulut Sarla mengagah, air mata seketika menetes mengenai pipinya. " Bi Wina, kenapa percis dengan ibu. "
__ADS_1
Mendengar ucapan yang dikatakan Sarla, membuat Lilia penasaran, perlahan Ia membuka tangannya untuk melihat Wina.
"Ibu."
Semua mata saling menatap ke arah Wina, apalagi dengan Gunawan.
"Ini tidak mungkin, jadi kamu ini kembaran Istriku?"
Sarla dan juga Lilia menatap ke arah sang papa. " jadi Papa sudah tahu, akan kembaran ibu?"
Gunawan terdiam, ia merasa malu kepada anak anaknya yang tak pernah ia beri tahu jika sang alamarhum masih mempunyai keluarga.
"Papah, kenapa diam saja, jawab pah," tegas Sarla, kecewa pada Gunawan, padahal baru kemarin ia memaafkan sang papa, tapi lelaki tua itu malah mengulangi kesalahannya, dengan tidak berkata jujur.
Wina tersenyum lebar melihat tingkah Gunawan yang begitu gelisah," Bagaimana Gunawan. Apa kamu masih tidak percaya denganku, yang menjadi kembaran almarhum istrimu sendiri. "
"Pah."
Gunawan berusaha memberanikan diri untuk menatap kedua anak-anaknya, terlihat raut wajah kekecewaan diperlihatkan Lilia. " Sudah berapa kali Papah lukai hati kami, sekarang papa melakukan semua itu lagi."
"Gunawan Cepatlah berkata jujur kepada anak-anakmu, sebelum aku memperlihatkan rekaman suara pada kedua anak-anakmu. " Ucap Wina pada Gunawan.
"Gunawan, Gunawan, kenapa kamu malah bertanya lagi? Jelas sekarang aku sudah memegang semua bukti tentang pembunuhan kakakku sendiri."
Sarla berusaha tetap tenang, melihat perkataan Wina dan juga papanya sendiri," jadi kematian ibu ada kaitannya dengan papa."
Deg ....
Gunawan langsung menatap ke arah anak pertamanya," kamu jangan salah paham dulu. "
Lilia kesal dengan Gunawan yang tak mau menjelaskan semuanya, padahal jelas-jelas barang bukti sudah ada ditangan Wina.
"Pah, padahal Lilia yang melihat kecelakaan itu, awalnya tidak menyalahkan papa sama sekali, selalu menyalahkan Lani dan juga mama Dera, Yang pastinya merekalah penyebab kehancuran hati almarhum ibu, tapi setelah mendengar perkataan dari Bi Wina, Lilia begitu kecewa sekali dengan papa. Cobalah berkata jujur kepada kami berdua pah, apa kecelakaan mamah adalah sebuah rencana yang disusun oleh papa."
Lilia berusaha menahan isak tangis, hatinya merasa hancur jika memang kematian Wulan adalah sebuah rencana.
Sarla melihat sang adik yang terus menangis, perlahan merangkul memeluk adiknya itu. " Kamu yang tenang ya sayang. "
__ADS_1
Lilia mencoba melepaskan pelukan sang kakak secara perlahan," Pah, kenapa masih diam. "
Wina senang dengan pertunjukan yang ia lihat," wina semua ini gara gara kamu. "
Bukannya sadar dan mengakui kesalahan sendiri, Gunawan malah mendekat ke arah Wina dan kini mencekik leher adik dari almarhum istrinya.
"Ahkk."
Sontak semua orang terkejut dengan kelakuan sang papa." papah ini kenapa?"
Sarla dan juga Lilia berusaha menyingkirkan tangan Gunawan yang terus mencekik leher Wina.
"Pah, sadar pah. Apa yang dilakukan Papa ini akan merugikan diri papah sendiri. "
Gunawan seakan tak peduli dengan perkataan kedua anak-anaknya, ya terus mencekik leher Wina. Dengan bayang-bayangan di hatinya bahwa Wina akan mati saat itu juga.
Sarla dan Lilia begitupun Tari sekuat tenaga melepaskan Gunawan, sampai.
Mereka terpental jatuh ke atas lantai, Wina mengatur napasnya. Dadanya terasa sesak.
"Pah, jangan lakukan itu lagi, kami sayang papah. "
Sarla dan Lilia memeluk Gunawan dengan begitu erat," Papa tak perlu menyakiti Bi Wina, papah tinggal berkata jujur saja. "
"Sarla, Lilia, Papa malu pada diri papa sendiri jika berkata jujur kepada kalian, Makanya Papa banyak berpikir, sampai di mana Wina malah datang dan membuat amarah papah semakin tak terkontrol, papah tidak bisa menahan diri. Karena rasa takut akan kehilangan kalian berdua, di mana kalian akan membenci Papa jika Papa mengungkapkan semua rahasia yang sebenarnya terjadi."
Gunawan menangis sejadi jadinya, isi hatinya kini ia luapkan, " Papa tidak pantas berada di dunia ini, sebaiknya Papa mati saja. "
Gunawan sepertinya stress dengan keadaan dan juga rahasia yang akan terungkap, ia berlari menuju pintu dapur. Mencari pisau untuk mengakhiri dirinya sendiri.
Kedua anak anaknya kini mengejar Gunawan, berharap jika mereka bisa menggagalkan niat sang papah.
"Pah, cukup. Jangan bertingkah bodoh, kami berdua akan tetap sayang pada papah jika papah berkata jujur."
Aksi Gunawan begitu memalukan saat dipandang oleh Wina, karena wanita tua itu tahu bagaimana munafiknya Gunawan.
" Tampangnya terlihat begitu baik dan juga lugu, tapi hatinya begitu sadis. " gerutu hati Wina.
__ADS_1
"Sarla, Lilia. Sudahlah kalian tak usah mencegah Papa kalian untuk bunuh diri, dia itu hanya berpura-pura, kalian tidak tahu betapa munafiknya Papa kalian. " Ucap Wina. Mencoba menyadarkan kedua keponakannya itu, agar tidak terpancing dengan kemunafikan Gunawan.