Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 76 Berubahnya Sarla.


__ADS_3

Sepertinya Daniel tak puas, memainkan permainan tadi, ia malah sengaja mendekati istri keduanya itu," Jangan takut Sarla, jangan pernah takut padaku. "


"Menyingkir Daniel, saya tidak mau . "


Sudah cukup perlakuan kasar Daniel, membuat bekas gigit menyakitkan masih terasa berdenyut pada kulit Sarla.


"Aku tak mau Daniel." Sarla terus menolak suaminya, dimana Daniel napsu lelaki itu memuncak. " Daniel cukup. "


"Aku tudak mau. "


Daniel benar benar memaksa Sarla pada saat itu, ia sengaja membuat perlakuan tidak baik pada Sarla. "Sarla, ayolah."


" Kamu sengaja melakukan semua ini, agar aku tidak pergi kuliah, sebenarnya apa yang kamu takutkan? Sampai kamu melakukan hal ini kepadaku?"


Daniel tak menjawab perkataan istrinya, ia terus mendekat dan menciumi leher sang istri.


"Daniel cukup, aku tidak mau. "


Napsu Daniel semakin memuncak, hingga ia memaksa kembali Sarla.


"Cukup Daniel Ahk. "


Terlihat sekali Daniel tak merasa kasihan terhadap istrinya, ia terlalu mementingkan rasa egoisnya.


"Daniel."


Dalam pikiran Daniel sekarang, ia bisa mengendalikan sang istri agar bisa menjadi miliknya, karena ia tak mau jika Rafa berhasil mendapatkan kembali hati Sarla.


"Kamu lihat saja Rafa, siapa yang bisa membuat Sarla takluk padaku. "


Daniel tak berpikir kedepannya, jika perlakuannya, bukan membuat seorang wanita senang, yang ada malah membuat seorang wanita tersiksa.


Pertarungan yang kedua kalinya, kini membuat batin Sarla remuk, hancur bekeping keping, seakan iya tak di hargai sebagai seorang istri.


" Apa dengan cara ini kamu menghargai seorang Istri? Menyiksanya di atas ranjang tempat tidur? Membuat istrimu harus menahan rasa sakit pada sekujur tubuhnya?"


Pertanyaan sarla malah membuat Daniel tertawa. " Aku bertanya kepada kamu, Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?"


Kini perkataan formal itu seketika hilang, dari kelembutan sarla, di mana Daniel menggenggam pipi Sarla lagi. " ternyata kamu bisa marah juga ya sayang."


"Lepaskan tanganmu ini, jangan membuat aku sakit hati lagi. "


"Jika kamu sakit hati, berarti kamu mencintaiku."


Kemarahan Sarla semakin menjadi jadi, dimana ia menghempaskan tangan suaminya," jangan berani menyentuh pipiku lagi. "

__ADS_1


Tiba-tiba saja Sarla berubah drastis, dimana ia mengancam istrinya. " Jangan berani kamu ya."


"Aku tidak berani padamu, tapi kamu yang sudah berani menyakitiku."


Daniel tak tahu jika Sarla pada akhirnya bisa melawan." oh jadi ini yang kamu inginkan."


Mencium pipi Sarla dan berkata, " cukup Daniel. "


Sarla kini menampar pipi kiri Daniel, dimana tamparan itu begitu keras mengenai pipi suaminya .


Palkkk ....


" Sarla, apa maksud kamu melakukan hal ini?"


Pertayaan Daniel membuat Sarla tersenyum lebar.


"Kamu bisa berkata kejam kenapa aku tidak bisa. "


Bisa bisanya Daniel mendengar perkataan Sarla seperti itu, dimana ia dulu menganggap jika Sarla itu lemah, tapi pada kenyataannya Sarla itu tak lemah, ia sekarang berani melawan.


"Sejak kapan kamu berani menamparku, " ucap Daniel, Sarla kini memperlihatkan sifat aslinya.


"Sejak saat ini, kamu tahukan?" jawab Sarla menatap balik ke arah Daniel.


Sarla sudah lelah dengan kepura puraan menjadi wanita lemahnya dan sebagai seorang istri yang baik, padahal dari awal dia sudah berusaha, semaksimal mungkin belajar. Tapi ternyata, tidak seperti realita.


"Daniel? Aku berusaha menjadi istri yang penurut untukmu, tapi kenapa kamu tidak menghargaiku."


"Kita hanya menikah kontrak, dan kamu mau melakukan semua itu!"


Sarla berusaha berkata jujur, karena ia tak mau ada kesalah pahaman lagi diantara Daniel dan dirinya. Tapi perkataan jujurnya malah Daniel tertawakan, " pantas saja Wulan tak menghargaimu, karena kamu memiliki sifat yang egois. "


"Tutup mulut kamu jangan bahas Wulan."


Daniel mulai bangkit dari tempat tidurnya, ia pergi dari hadapan Sarla, pertarungan yang tadinya akan dimulai kini terhenti kembali.


Begitu pun dengan Sarla, ia mencari cara agar bisa mengikuti jam kuliah, walau sekarang harus mengambil jam siang.


Daniel mandi kembali, ia sudah mendapatkan beberapa kali panggilan telepon, dari Wulan, belum lagi panggilan telepon dari kantor.


(Halo pak, kelain sudah menunggu bapak dari tadi pagi. ) ucap sang asisten, lewat pesan memberi tahu Daniel.


(Sekarang saya akan ke sana.)


Sang Asisten bernapas lega, setelah mendapatkan balasan dari Daniel.

__ADS_1


"Syukurlah Pak Daniel membalas, tumben sekali ia datang terlambat, biasanya Pak Daniel selalu tepat waktu apalagi saat bertemu klien di kantor. "


******


Daniel yang sibuk dengan istri keduanya, kini bersiap-siap untuk memakai baju, di mana Iya merasa kelelahan, karena sudah memberi pelajaran kepada sang istri.


Walau tak terlihat dari raut wajahnya, ketidakpuasan, Daniel tetap menjalankan aktivitasnya untuk pergi ke kantor.


Sarla keluar dari kamar mandi, tubuhnya penuh dengan luka gigitan oleh Daniel. Dimana Sang CEO tersenyum sinis.


Sarla bergegas memakai baju, untuk pergi kuliah.


Dimana Daniel menatapnya tajam," Kamu mau pergi ke mana?"


"Itu bukan urusanmu lagi!" jawab Sarla memperlihatkan sifat aslinya.


Daniel sedikit melayangkan nada tinggi di hadapan sang istri, " tadi kamu bicara apa?"


" Tidak bicara apa-apa? Memangnya kamu mau aku berbicara bagaimana?"


Sarla mulai pergi dari hadapan Daniel, dimana lelaki itu berdecak kesal dan berkata, " apa maksud dari perkataanmu itu?"


"Mm, Coba saja kamu pikirkan sendiri, kamu cerna perkataanku saat ini, baru kamu bisa memahami!"


Melipatkan kedua tangan, menahan rasa emosi, pada akhirnya Daniel tidak bersuara lagi, Sarla pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada suaminya.


Biasanya, jika Daniel pergi, Sarla selalu berpamitan, mencium punggung tangan suaminya, tapi sekarang ada perubahan yang berbeda, karena perlakuan kasarnya, Sarla tiba-tiba saja berubah, tidak seperti sarla yang dulu lembut dan selalu memandang sang suami dengan tatapan penuh kesejukan.


"Bu, Sarla pergi kuliah dulu ya," Ternyata Sarla hanya berpamitan kepada Ibu mertuanya saja, di mana wanita tua itu berkata," apa kamu baik-baik saja pergi hari ini, untuk kuliah. "


Sarla mengganggukan kepala di hadapan ibunya," Ibu tenang saja, Sarla sekarang baik-baik saja kok, jadi jangan khawatirkan Sarla saat ini ya. "


Wanita bercadar itu kini pergi dari hadapan ibu mertua, sedangkan Daniel berjalan menyusul istrinya.


"Sarla, tunggu. "


Wanita bercadar itu tak memperdulikan teriakan sang suami, ya begitu fokus berjalan untuk segera menaiki mobilnya.


"Sarla."


Teriakan Daniel sudah diabaikan saat itu juga.


Dinama Varel kini menghubungi Daniel untuk segera datang ke perusahaan," Pak, dimana klien sudah ingin pulang saat ini juga."


"Ya sudah, saya akan datang sekarang juga kesana, tolong kamu buat mereka nyaman di perusahaan, agar mereka tidak pergi dan membatalkan bisnis besar ini."

__ADS_1


Perintah Daniel mampu dipahami oleh Varel saat itu juga. " Baik lah pak, saya akan membuat mereka tetap sabar menunggu bapak. "


__ADS_2