Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 59


__ADS_3

Daniel begitu senang dengan keakraban keduanya terlihat begitu menyenangkan, apalagi ibu yang sudah melahirkannya, terlihat selalu bahagia saat dekat dengan Sarla, berbeda jauh dengan Wulan yang terlihat sinis dan begitu tak suka akan tingkah Ibu mertuanya.


Sarla merasa bingung dengan tingkah keduanya di mana Wulan masih merasakan rasa sakit ketika dirawat tanpa seorang yang menjaganya.


"Sarla, apa kamu bisa mengajarkan Ibu memakai kerudung, " ucapan ibu mertua membuat Sarla tersenyum senang.


Terkejut, Daniel tak menyangka jika ibunya ingin memakai kerudung seperti istrinya, " tak salah Ibu ingin memakai kerudung seperti Sarla?"


Pertanyaan dan yang membuat wanita tua itu tersenyum, " Kenapa kamu bertanya seperti itu Daniel jelas Ibu ini memang ingin memakai kerudung seperti menantu ibu yang cantik."


Setiap kali Alenta menatap ke arah Sarla selalu ada pujian yang terlontar dari mulutnya, apa karena Alenta mengangumi Sarla.


Sarla mulai mengajak mertuanya itu untuk masuk ke dalam kamar, di mana ia mencari sebuah kerudung untuk dipakaikan pada Alenta.


"Nih bu, kerudung ini cocok sekali buat ibu pasti Ibu cantik kalau memakai kerudung ini. "


Sarla menunjuk sebuah kerudung yang ia ambil dari lemari, terlihat Alenta begitu menyukai kerudung yang ditunjuk oleh menantunya itu.


"Ya sudah, ibu coba pakai. "


Sarla mulai membantu wanita tua itu untuk memakai kerudung, perlahan Demi perlahan wanita tua itu tersenyum saat menatap cermin karena dirinya yang baru pertama kali memakai kerudung.


Hanya butuh waktu lima menit saja untuk memakai kerudung.


"Taraa sudah selesai," ucap Sarla pada mertuanya itu.


Kini Alenta, mulai menatap pada cermin dia memakai pakaian yang terlihat tertutup. " Bagus."


Sarla tersenyum dengan perkataan Ibu mertuanya ia sangatlah beruntung bisa mendapatkan ibu mertua yang baik, walau mungkin kebaikan itu hanya sementara.


Wanita tua hidup kini keluar dari dalam kamar sarla, dia memperlihatkan perbedaan dari dandanannya Sarla hingga dandanannya yang dulu.


"Lumanyan bagus."


"Gimana ibu, suka?"


wanita tua itu menunganggukkan kepala, mendengar pertanyaan terlontar dari Sarla.


"Suka sekali. "

__ADS_1


"Syukurlah, ibu sekarang akan berubah memakai kerudung. "


sontak Sarla terkejut dengan pernyataan mertuanya.


Daniel semakin suka kepada Sarla yang sudah merubah penampilan ibunya.


"Wah, ibu sekarang cantik sekali ya."


"Yang benar Daniel?"


Daniel menganggukkan kepala, setelah mendengar apa yang dikatakan ibunya.


"Ya sudah ibu akan mengubah diri ibu lebih baik lagi, agar terlihat tenang. "


"Bagus kalau begitu, Sarla senang mendengar hal itu."


Semuanya nampak setuju, apalagi Sarla.


*****


Di dalam ruangan, rumah sakit, sang pembantu bertanya pada Wulan.. "Apa yang sedang Nyonya lamuni?"


Wulan menggelengkan kepala, ia berani mengatakan hal yang sesungguhnya kepada Bi Santi." Kenapa ya, Daniel tidak bisa menerima anak yang dikandung Wulan?"


"Yang sabar ya, Tuan Daniel memang seperti itu sifarnya. "


Nasehat dan kata kata nyaman selalu terlontar dari mulut pembatunya itu, membuat Wulan selalu nyaman dan tenang.


"Terima kasih ya, bi."


Menganggukkan kepala, Wulan tersenyum senang dan tetap merasa nyaman, walau hanya ada Bi Siti menemani di ruanga rumah sakitnya.


Dalam ketenangan itu, ia tak menyangka jika akan ada Angga yang selalu mengganggu kehidupannya, " Hai, sayang. Apa kabar."


Entah kenapa lelaki berkulit sawo matang itu selalu mengganggu kehidupan Wulan yang sedikit terasa nyaman, setiap kali Wulan berada di rumah sakit. Angga pasti akan datang menengok dengan raut wajah ramahnya, jelas membuat Wulan merasa tak nyaman.


"Kenapa kamu datang ke sini terus, bukannya sudah cukup kamu mengganggu hidupku dan membuat aku sekarang menderita. "


Wulan berusaha mengusir lelaki itu, namun Angga Malah semakin kurang ajar, ya tidak tahu diri ketika datang menemui Wulan.

__ADS_1


"Aku datang ke sini rindu anak kita."


Pembahasan Angga, selalu di dengar oleh Bi Siti, yang untung saja wanita tua itu berpihak kepada Wulan, karena jika tidak berpihak, kemungkinan besar hidup Wulan akan sengsara saat ini juga.


"Sudah cukup, Jangan pernah mengusik hidupku lagi, bukannya sudah puas kamu mengambil harta benda ku saat itu. "


"Itu hanya sedikit, dan lagi sudah habis sejak itu juga. "


"Angga, jika kamu terus menerus menganggu kehidupanku, Daniel akan curiga, jadi stop pergi dari sini."


Angga menggelengkan kepala, seakan menolak perkataan Wulan, karena ia tahu kapan ia harus pergi dan kapan ia datang.


"Please. Sebenarnya apa yang kamu inginkan?"


Angga memang sengaja setiap kali datang ke ruangan Wulan, bukan bermaksud menengok, jelas ia ingin meminta sesuatu, berupa uang dan harta benda lainnya.


"Sayang, Kamu kayak nggak mengerti saja keinginan aku sebagai calon suamimu ini, plus calon ayah dari bayi yang kamu kandung itu?"


"Cukup, Jangan pernah kamu mengakui anak dalam kandunganmu ku ini, sudah jelas anak ini bukan anak kamu."


Angga malah tertawa terbahak-bahak setelah mendengar apa yang dikatakan wanita yang menjadi pacarnya dulu.


"Kenapa kamu malah marah seperti itu sayang, bagaimana pun kamu harus mengakui semuanya, bahwa anak yang kamu kandung itu adalah anakku. "


"Tidak akan, Aku tidak akan mengakui kamu sebagai ayah dari anak ini. yang jelas ayah dari anak ini adalah suamiku sendiri."


"Ya, aku tahu itu, karena jika kamu mengakui anak itu sebagai anakku, pastinya kamu akan diceraikan Daniel bukan, dan lagi aku juga tak akan mendapatkan jatah bagianku, sudahlah aku sudah paham dengan hal itu. "


Bi Siti hanya diam, ia berusaha menutup mulut, tak bisa membela apa apa, karena dirinya yang hanya seorang pembantu.


"Cukup, Angga, sebaiknya kamu pergi dari sini dan jangan kembali lagi kepadaku, bukannya sudah aku peringatkan kamu jangan pernah balik lagi ke sini, Jika kamu terus datang ke sini aku akan melaporkan kamu ke kantor polisi."


Tepuk tangan dilayangkan Angga dihadapan Wulan, " Wah luar biasa Jika kamu akan melaporkan aku ayah dari anak itu ke kantor polisi, kemungkinan besar, kamu juga akan terseret ke kantor polisi, di mana aku akan memberitahu semuanya tentang rahasia yang kamu simpan."


"Diam, Angga. Jangan pernah membahas hal itu di sini, cepat pergi kamu dari sini jangan pernah mengusik hidupku lagi. "


Bi Siti penasaran dengan apa yang dikatakan Angga, Sebuah Rahasia yang tak pernah diketahui oleh pembantu itu.


"Cepat pergi?"

__ADS_1


Angga Melambaikan tanganmu di hadapan Wulan, ia berjalan pergi dari hadapan dengan senyuman sini mengisyaratkan sesuatu yang menakutkan.


"Angga, pergi. " Usir Wulan terus menerus.


__ADS_2