
Lilia keluar dari kamarnya, mereka saling menatap satu sama lain. "Mama Dera, ngapain disini?"
"Mama hanya ingin memastikan keadaan kamu!" balas Dera pada Lilia.
Tari menatap ke arah sang majikan, ia bergumam hati, " alah pastinya Nyony Dera hanya muslihat belakang. "
"Dera."
Teriakan Gunawan mengagetkan Lilia dan juga Dera.
"Sayang, kenapa?"
Meleparkan berkas berwarna putih pada wajah Dera, lalu berkata. " Sialan kamu."
Wina yang menyaksikan pertunjukan itu merasa senang. " Akhirnya." Gumam hati Wina dari kejauhan.
"Ada apa?" tanya Dera masih tak mengerti dengan amarah yang dilayangkan suaminya itu.
"Kamu masih tanya ada apa? BACA. " Menujuk berkas putih yang berisi asil tes DNA.
Dera membulatkan kedua matanya, " dari mana kamu mendapatkan ini?"
"Kamu masih tanya dari mana! Seharusnya aku yang bertanya pada kamu, apa benar dari surat itu bahwa Lani bukan anakku. "
"Hey, mas. Bukannya dulu aku sudah mengatakan semuanya, apa kamu tuli ya. Tapi kamu tetap ...."
"Tetap apa?"
Dera mengepalkan kedua tangan, Lani yang mendengar hal itu, menangis. Memeluk sang papah. " Papah, aku menyayangimu."
Mengacak rambut dengan kasar, " Lani, sebaiknya kamu pergi dari sini bersama mamamu. "
"Pah."
Gunawan membalikkan badan, entah apa yang ia lakukan, bukannya dia masih mengetahui semuanya tapi kenapa masih menyalahkan. Apa karena ia tak ingin terlibat kasusu pembunuhan Wulan.
Setiap kali berada di hadapan Lani, ia selalu menyakinkan dirinya bahwa Lani anak kandungnya karena rasa kasihan.
Sampai ia selalu mengakui hal itu, tapi ketika Gunawan melihat rekaman dari meja kerjanya, membuat ia melayangkan kertas secara tiba tiba pada wajah Dera dihadapan semua orang.
Apa ini semua sebuah drama?
Dari kejauhan wanita tua yang menjadi adik kandung almarhum Wulan tertawa, " ternyata Si Gunawana itu, orang yang menuafik, baru saja ia mengatakan jika Lani anaknya, sekarang. Hahha. "
"Pah, Lani tidak mau ikut dengan mama. Lani mau ikut papah."
__ADS_1
Demi menutup kasus kematian Wulan, ia harus tega. Melepaskan tangan anak mungil itu, " aku tidak akan mengakui kamu sebagai anakku. Pergi dari sini. "
Lilia merasa tak tega dengan perkataan sang papah pada adik tirinya, ia juga sebenarnya masih bingung karena setatus Lani yang belum jelas sama sekali.
Masih simpang siur, dimana Gunawan mengakui, sedangkan Dera tetap mengakui Lani adalah ayah biologis dari Gunawan. Karena mereka mendapatkan sebuah surat yang berbeda dari dokter.
"Pah, kasihan Lani." timpal Lilia mencoba membela adik tirinya itu.
"Sudah tak ada kasihan kasihan lagi, sebaiknya kamu cepat kemasin barang barang kamu Lani. " Dengan teganya Daniel mendorong tubuh mungil Lilia hingga anak itu terjatuh.
Lani menangis, sedangkan Gunawan membuang wajah, pergi begitu saja.
"Papah."
Lilia berusaha menolong sang adik tiri untuk bangkit dan beridiri, namun Lani malah menolak bantuan dari kakaknya sendiri. " Nggak usah."
Dengan wajah penuh air mata, Lani berusaha bangkit untuk berusaha berdiri, pergi dari hadapan Lilia. Dalam situasi menyedihkan seperti ini sempat sempatnya Lani egois dan sok tak butuh pertolongan.
*******
Tepuk tangan dilayangkan beberapa kali.
" Wah, baru segini sudah di usir. Hahhhah."
"Wina, kamu. Apa jangan jangan, kamu yang sudah membuat rencana ini. "
"Kurang ajar kamu,"
Ingin rasanya, Dera memukul wajah Wina saat itu.
Namun hatinya berkata lain, jika melakukan hal itu malah akan membuat kerusuhan.
Wina kini berbisik, saat Dera membisikan perkataan padanya, " Kalian benar benar seorang suami dan istri yang munafik. "
Mendorong tubuh Wina," Jaga ucapan kamu."
"Uups, aku sudah menjaga ucapanku. Mungkin semua yang kamu dengar hanya perasaan kamu saja. "
"Sialan, dia sepertinya tahu rahasiaku dengan Gunawan, bagaimana ini. Bisa bisa aku masuk ke dalam penjara. " Gumam hati Dera.
Dera mulai menenteng koper berisi pakaian. Melewati tubuh Wina. " Selamat tinggal. "
Dera kesal dengan lambayan tangan Wina kini berkata, " Jaga ucapan kamu. Sebentar lagi kamu akan keluar karena rekomendasi dariku."
"Aku tak peduli, sekarang tinggal melanjutkan aksiku yang lain. "
__ADS_1
Dera kini dihadapi dengan masalah besar, apalagi mendengar Wina akan memasukkannya ke dalam penjara.
Dera baru sadar akan ucapan Wina, dimana ia mencengkram baju wanita tua itu," sebenarnya siapa kamu ini."
Wina tersenyum kecil lalu menjawab," kamu tidak perlu tahu siapa aku ini. Aku hanya ingin mengungkapkan rahasia yang kamu simpan sampai saat ini, lalu membuat Gunawan membenci kamu."
Percakapan keduanya tiba-tiba terhenti, saat Lani tiba-tiba saja muncul. Anak berumur 10 tahun itu menangis.
"Mah, pasti semua ini gara-gara mama kan, Mama sudah membuat Papah kesal dan juga kecewa."
Dera mengira jika Lani berpihak kepadanya, namun pada kenyataannya anak berumur 10 tahun itu tetap menyalahkan sang ibunda.
"Kenapa Kamu selalu menyalahkan mama, jelas Mama ini tidak bermaksud membuat Papa kecewa," balas Dera berusaha menjelaskan semuanya kepada anak semata wayangnya itu.
Wina lalu berbisik pada telinga Dera. " Bilang pada anakmu semua hanya drama semata hanya karena kamu tidak mau masuk ke dalam penjara. "
Dera menatap tajam ke arah Wina," Diam kamu, jangan ikut campur urusanku. "
"Baiklah."
Gunawan tiba-tiba saja datang membawa sebuah amplop, iya langsung melemparkan begitu saja di hadapan Dera.
"Ini biaya hidup kamu. "
Lilia datang, melihat sang papah melakukan hal yang tak terduga. Dimana Dera langsung memugut uang pemberian Gunawan.
Dalam amplop itu terlihat sebuah tulisan yang belum disadari oleh Dera sendiri.
Lani menundukkan wajah, tak kuasa menatap sang papah, ia takut dengan kemarahan papahnya sendiri.
Dera tahu semua yang di rasakan Lani pastinya sangat menyakitkan, ia menarik tangan anaknya itu untuk segera pergi dari rumah Gunawan.
Semua hanya bisa melihat pemandangan dimana Dera dan Lani pergi.
Setelah keluar dari rumah Gunawan Lani kini melepaskan tangan mamanya sendiri.
"Mah, coba jelaskan pada Lani. Sebenarnya papah itu papah kandung Lani apa bukan? Soalnya papah selalu mengatakan jika Lani itu adalah anak papah dan papah bilang jika kelahiran aku dan Lilia tidak jauh berbeda. "
Memegang bahu Lani dan berkata, " kamu anak papah kok sayang. "
Lilia terpaksa berbohong, kepada anaknya agar tidak bersedih.
" Kenapa Gunawan bisa menemukan berkas. Lalu Wina. Sebenarnya siapa dia. " Gumam hati Dera.
"Mah, sekarang kita pergi kemana, Lani tidak mau hidup miskin seperti kemarin, Lani ingin tinggal bersama dengan papa. Papa Mama tidak bisa membujuk Papa lagi, " pinta Lani anak semata wayangnya terus memohon-mohon.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan kuatir. Kamu tidak akan hidup miskin kok, mama akan mencari pekerjaan, agar kamu bisa hidup layak. Walau tidak ada papah di samping kita, " ucap Dera, berusaha menenangkan perasaan Lani.