
Sarla terkejut saat melihat sang papa sudah ada di hadapannya, setelah ia mengomentari pembantu yang terlihat ketakutan, di mana pembantunya itu masuk tanpa menjawab perkataan Sarla sedikitpun.
"Papa? Papa belum tidur?"
Gunawan memperlihatkan senyumannya dihadapan anak pertamanya itu," Sarla ngapain kamu keluar tengah malam begini, kenapa jam segini kamu belum tidur juga, kasihan bayi dalam kandungan kamu itu."
Tangan yang terlihat mengkerut itu, kini mengusap pelan kerudung panjang Sarla," kebetulan di kamar tidak ada air minum, Sarla haus sekali ingin minum biasanya Bi Wina selalu menyediakan air minum. Tapi dari tadi sarla tidak melihat Bi Wina di rumah, oh ya apa Papa melihat Bi Wina. "
Gunawan mengusap dagunya, melihat rambut panjang yang sedikit mengikat jari jemari sang papah, " Bi Wina sepertinya dia sudah tidur di dalam kamarnya, biar besok kamu saja bertemu dengan dia tanyakant kenapa malam ini dia tidak mengantarkan air minum kepadamu."
Sarla menganggukkan kepala setelah mendengar perkataan dari ayahnya, ada rasa curiga pada diri Sarla, karena ia melihat tangan sang papah terdapat rambut panjang yang melingkar pada jari jemarinya.
Gunawan mengusap pelan bahu anak pertamanya itu, ya lalu berkata, " ya sudah papah tidur dulu ya."
Berpamitan kepada sarla, Gunawan mulai masuk ke dalam kamarnya, ia membuka kepalan tangan, yang dimana ia mengepal rambut Wina.
Gunawan berusaha bersikap tenang, iya mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur, untuk segera beristirahat. karena dirinya sudah mengamankan orang yang selalu membongkar aibnya.
Sedangkan Tari, masih dalam kegelisahan, ia membolak-balikkan badannya ke sana kemari saat berada di ranjang tempat tidur, perasaannya begitu gelisah. Tari memikirkan keadaan Wina, yang berada sendirian di dalam gudang, dengan kegelapan yang menemaninya, begitupun barang-barang yang menumpuk tak terpakai lagi.
"Kasihan sekali Bi Wina, apalagi dari tadi pagi dia belum makan, karena menunggu keadaan Nyonya Sarla. " Gumam hati Tari.
Semalaman iya benar-benar tak bisa tidur, saat bangun wajahnya terlihat sayu, terdapat lingkarang hitam pada bawah matanya.
Tubuhnya lemas, iya tak bersemangat menjalankan rutinitas dan pekerjaannya di pagi.
Apalagi pekerjaannya begitu menumpuk, dan saat ini ya harus menyiapkan sarapan untuk majikannya, biasanya Tari, ditemani Wina yang selalu membantu pekerjaannya hingga beres.
Namun sekarang, yang melakukan pekerjaannya sendirian, dan sekarang pikirannya dipenuhi dengan bayang-bayang Wina yang ditahan oleh Gunawan di gudang.
Setelah selesai menyiapkan semuanya, di atas meja, Tari mulai memanggil sarla untuk cepat makan.
"Nyonya Sarapan sudah siap. "
__ADS_1
Sedangkan dengan Gunawan, ya begitu Sigap sudah duduk terlebih dahulu untuk menyantap sarapannya.
Sarla baru saja keluar dari kamarnya, iya langsung datang ke meja makan untuk segera menikmati sarapannya.
Setelah Sarla duduk, pandangan matanya terus melirik kesana kemari, yakini bertanya kepada Tari, di mana pembantunya itu tengah mengidangkan bebetap menu makanan.
"Oh ya, Bi Tari. Dimana Bi Wina, dari semalam aku tidak melihat dia sama sekali?" pertanyaan Sarla. Membuat Tari menatap ke arah Gunawan.
Deg ....
"Apa yang harus aku katakan, " gumam hati Tari.
Sarla melihat pembantunya itu, terlihat melamun seperti memikirkan sesuatu yang membuat raut wajahnya berubah gelisah.
"Bi Tari? Kenapa?"
"Ahk iya nyonya!"
Gunawan kini berpura-pura batuk di hadapan pembantu dan juga anaknya, " huuk. "
"Saya tanya dari tadi, kenapa kamu malah melamun, " perkataan Sarla, membuat Tari kini menundukkan wajahnya, mau tidak mau di harus menjadi seorang pembohong, untuk bisa menutupi kelicikan Gunawan.
"Tadi pagi, Bi Wina pamit kepada saya buru-buru sekali, katanya ada urusan mendadak."
Semua yang dikatakan Tari sangatlah aneh, biasanya Wina selalu berpamitan kepada sarla terlebih dahulu, tapi sekarang Wina pergi begitu saja.
"Kenapa dengan Bi Wina, tumben sekali dia pergi tanpa pamit kepadaku sedikitpun. " Guman hati Sarla, merasa ada kejanggalan akan perkataan Tari. "
Gunawan mulai menimpa pertanyaan yang terus terlontar dari mulut anaknya," Sudahlah sayang kamu tak perlu memikirkan dia, sebaiknya kamu makan dan cepat istirahat lagi ya."
Tetap saja dalam pikiran Sarla saat ini, masih memikirkan kepergianmu Wina yang secara mendadak. Tanpa kata pamit ataupun izin.
"Tapi, tetap saja Pah. Bi Wina juga sebagian dari keluarga kita, malahan dia itu adik dari almarhum ibu, makanya aku begitu mengkhawatirkan dia aku takut dengan adik almarhum ibu kenapa-napa di jalanan padahal bisa saja kan meminta antar kepada sopir di rumah ini."
__ADS_1
Gunawan mencoba membenarkan kerah baju, terasa gerah saat Sarla bergitu perhatian pada Wina, membuat ia tak suka.
"Huuk."
Entah kenapa saat menyuapkan makanan pada mulut, terasa susah Gunawan telan. Hingga menimbulkan suara batuk.
"Huuk."
Dengan sigap Sarla, mengambil air minum, memberikannya pada sang papah. " Papah, pelan pelan makannya, jadi batuk kan."
"Iya sayang. " Gunawan perlahan meminum air yang disodorkan anaknya, hingga habis.
Mengusap pelan punggung sang papah," gimana keadaan papah sekarang?"
Memegang leher, membuat Tari semakin ketakutan, seakan hidupnya dipenuhi acaman, " saya mau kedapur dulu, Tuan. Nyonya. "
Sarla menganggukkan kepala, sedangkan Gunawan menatap pembantunya itu penuh dengan kebencian, karena Tari tahu kejahatan yang sudah Gunawan lakukan terhadap Wina.
Maka dia harus berhati-hati, jika sampai Gunawan lengah, kemungkinan besar sarla akan semakin membenci dirinya.
"Gimana sekarang tenggorokannya?" perhatian Sarla membuat Gunawan tersenyum kecil.
"Hem, Hem. Alhamdulillah sekarang agak mendingan!" jawaban sang papah membuat Sarla sedikit tenang.
" Syukurlah kalau begitu, " ucap Sarla memperlihatkan kekhawatirannya terhadap sang papa, ya menatap sayu ke arah wajah Gunawan yang terlihat kesakitan akibat tersedak.
Wanita bercadar itu mulai memegang punggung tangan sang papa, " Papa jangan terlalu memikirkan hal yang membuat pikiran papah terganggu, takutnya nanti penyakit darah tinggi Papah kamu lagi."
Gunawan tersenyum lebar, dia senang dengan perhatian yang terlontar dari mulut anaknya itu. Tak Ingin rasanya kebahagiaan yang ia miliki sirna begitu saja, hingga sifat jahat itu muncul lagi dalam benak Gunawan, siapapun orang yang menghancurkan kebahagiaannya akan ia sirnakan saat itu juga.
Jika saja Wina tetap bersabar menunggu Gunawan untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, pastinya amarah itu tidak akan muncul dan membuat kejahatan yang berusaha Gunawan hilangkan tak kembali lagi pada hati dan pikirannya.
Terkadang yang membuat sifat seseorang berubah Itu adalah ucapan orang-orang yang benar-benar menyakiti dirinya, orang-orang yang tak bisa menghargai keberadaan Gunawan, selalu menyalahkan akan kesalahan kecil yang Gunawan lakukan.
__ADS_1
Manusia tak pernah luput dari kesalahan. Tak perlu seseorang menghakimi kesalahan orang lain,