Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 180


__ADS_3

Mendengar aduan dari Tari membuat Sarla kini berpikir, jika mama tirinya sengaja membawa suruhan dengan berpura pura sebagai seorang pembantu.


" Sepertinya kita sekarang harus lebih waspada lagi, dan juga berhati-hati kepada pembantu yang direkomendasikan Mamah Dera, " ucap Lilia yang sama persis yang kini dipikirkan oleh Sarla.


Sarla mulai bertanya kepada pembantu barunya itu," Jadi kapan Mama Dera membawa pembantu baru itu ke rumah ini?"


"Yang saya dengar dari Nyonya Dera, katanya besok!" jawab Tari.


Sarla mulai memikirkan cara, agar pembantu baru itu tidak datang ke rumah, dia tak mau jika sesuatu terjadi pada keluarganya.


"Lilia, Sepertinya kita harus mencari cara, agar pembantu itu tidak mau bekerja di rumah papa, " ucap Sarla kepada sang adik.


"Tapi, gimana caranya Kak?" tanya Lilia.


" ketika pembantu itu datang ke rumah ini, kita harus mengerjai dia!" jawab Sarla. Terlihat sang adik masih kebingungan.


"Caranya?" tanya Lilia, dimana Tari ikut kebingungan.


"Kita takut takutin dia, gimana? Bisakan?" tanya Sarla, keduanya tampak setuju, mereka bertepuk tangan ria.


"Ide yang bagus juga itu."


Lilia sudah menantikan moment di mana dirinya akan mengerjai pembantu baru yang dibawa oleh Dera.


******


Saat itulah Dera mulai menghubungi sang suruhan, wanita tua yang belum ia bayar-bayar sepeserpun.


"Halo, aku sudah berhasil membuat Gunawan mempekerjakan seorang pembantu lagi, jadi besok kamu harus datang ke sini."


"Baiklah, saya akan menuruti perintah anda. "


Panggilan telepon dimatikan sebelah pihak, waktunya Dera bersantai untuk mengumpulkan tenaga untuk haris esok.


Gunawan mendekat ke arah sang istri, ia memegang bahu Dera dengan berkata. " Kenapa kamu sebahagia itu?"


Pertanyaan sang suami membuat Dera terkejut," Papah, sejak kapan papah ada di belakang mama. "


"Mm, baru saja. Oh ya, tumben sekali kamu sebahagia ini habis teleponan dengan siapa?" tanya kembali Gunawan.

__ADS_1


Dera tampak kebingungan sekali menjawab pertanyaan Gunawan, ia berusaha mencari alasan agar sang suami tidak mencurigai dirinya.


"Tadi itu, aku lagi menelepon pembantu baru itu. Biar besok dia datang ke sini secepatnya."


"Mm, hanya itu saja. "


"Ahk, iya. "


Di tengah pertanyaan Gunawan, Lani datang menghampiri sang mama." Mama."


Seketika wajah Gunawan berubah, ketika ia melihat anaknya tersenyum menyapa sang mama. " Sayang, ada apa?"


Lani berusaha memperlihatkan kemanjaan seorang anak kepada ayahnya, ia mengerutkan kedua bibir, menundukkan pandangan, agar keinginannya terpenuhi oleh sang papa.


"Aku ingin jalan jalan bersama papah dan mama."


Mendengar hal itu membuat Gunawan kini mendekat ke arah anak ketiganya, kedua tangan mulai memegang bahu Lani, " Maafkan papah ya sekarang papa tidak bisa membawa kamu liburan, Papa masih banyak kerjaan. Papa begitu sibuk di kantor. "


Mendengar perkataan itu, tentulah membuat Lani kecewa," papah jahat, kemarin saja Papa bisa mengajak kak Sarlah dan juga kak Lilia jalan-jalan, sedangkan Lani, pasti alasan Papa sibuk melulu."


Lani semakin membenci papanya Itu, dia pergi tanpa memperlihatkan senyumannya," Lani tunggu papah, bukan papa bermaksud menolak keinginan kamu. "


Gunawan menghempaskan tangan sang istri," Aku tidak pernah menyakiti anakku, kamu saja yang mendidiknya tidak benar."


Perkataan Gunawan membuat hati Dera kesal, Bagaimana bisa Gunawan menyalahkan dirinya atas sikap Lani yang berubah menjadi agresif dan tidak menurut.


" Kenapa kamu selalu menyalahkan aku, jelas yang salah itu kamu, biasa aja kamu bisa meluangkan waktu untuk Lani mungkin Lani tidak akan seperti sekarang."


Gunawan menunjuk wajah istrinya," cukup jangan berkata seperti itu lagi, aku hanya ingin bersikap adil kepada anak-anakku, jangan sampai Lani serakah seperti kamu."


" Jadi kamu mengatakan jika aku ini wanita serakah?"


Gunawan tak tahu jika Dera merasa tersindir dengan ucapannya," apa aku membahas nama kamu tentang keserakahan yang aku katakan, tidak kan. kamu saja yang terlalu merasa."


Gunawan mulai melewati istrinya untuk segera mengejar anak ketiganya itu." Gunawan Kamu mau pergi ke mana?"


Gunawan tak memperdulikan teriakan sang istri, Iya fokus berjalan untuk segera menemui Lani.


"Dimana Lani."

__ADS_1


Tampak Dera murka dengan perkataan sang suami," awas aja Gunawan. Aku tidak akan tinggal diam, aku akan mengalihkan posisiku kembali seperti dulu."


Lani berlari sembari menangis, kedua matanya memerah, karena menangis terus menerus dari semalam, membuka pintu kamar lalu menutupnya.


Lani sengaja mengunci pintu kamar agar sang papah tidak masuk ke dalam kamarnya itu.


sampai di pintu kamar Lani, Gunawan mulai mengetuk pintu kamar anak ketiganya itu.


"Tok .... Tok ...."


"Lani Tolonglah mengerti posisi papah saat ini? kamu jangan sampai marah seperti itu, papah sangat menyayangi kamu. Ayo cepat buka pintu kamarnya."


Mendengar teriakan sang Papa di luar kamar, membuat Lani terduduk di ranjang tempat tidur, ia menatap ke arah cermin, wajahnya sudah basah dengan air mata.


"Kenapa papah lebih sayang Sarla dan juga Lilia, sedangkan aku seperti anak tiri dalam hidupnya," gumam hati di mana ia menyobekkan kertas membuang begitu saja.


"Lani, Ayo buka pintu kamarnya. Papa ingin sekali berbicara denganmu?"


Lani tak semudah itu terpancing akan ucapan, sang papah, iya tetap fokus pada dirinya sendiri.


tak peduli orang di sekitar sama sekali.


"Lani, cepat buka pintunya Papa ingin sekali berbicara denganmu. Papa tahu kamu itu terkejut, karena kesalahpahamnya saja."


Lani seakan berat menjawab perkataan sang papa, iya hanya bisa menangis sendirian di dalam kamar, merenungi nasibnya yang tak pernah dipedulikan oleh keluarganya sama sekali.


Dera mulai menyusul, ingin melihat apakah Lani memaafkan sang papa. setelah sampai di pintu kamar anak semata wayangnya itu, Dera melihat jika Gunawan terus mengetuk pintu meminta maaf kepada anaknya sendiri.


Dera tahu jika Lani adalah sosok anak yang spesial, yang lahir dari rahim Dera yang mempunyai kekurangan.


" Sudahlah mas kamu jangan terus-menerus mengetuk pintu kamar Lani, sampai kapanpun dia tidak akan keluar dari kamarnya."


Mendengar perkataan Dera yang asal berucap itu, tiba-tiba saja Gunawan menghampiri sang istri.


Menarik tangan lembut sang istri lalu mendorong tubuh istrinya sampai Dera merasakan kesakitan.


" Pah, Kenapa kamu tega sekali mendorong tubuhku ini, apa kamu ini tidak punya perasaan lembut sedikitpun padaku."


Gunawan malah mengacuhkan perkataan sang istri, ia tiba-tiba saja mencekik Dera, membuat suasana semakin menegangkan," apa ini yang kamu inginkan Dera, Kok bisa di saat posisi aku yang baru saja pulang dari tempat kerja, disuguhkan dengan pemandangan yang tak Aku suka melihat kedua anak-anak bertengkar hanya karena masalah sepele."

__ADS_1


__ADS_2