Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 114


__ADS_3

"Kurang ajar, apa apaan kamu ini, memangnya aku penarik odong odong buat anak kecil." Pekik lelaki tua itu memarahi Daniel habis habisan.


Daniel baru kali ini merasakan di rendahkan oleh orang lain, ia merasa terhina akibat ulah Wulan yang meninggalkannya.


Mengambil uang itu, lalu melemparkan pada wajah Daniel," tampang aja cool, duitnya kere."


Menancabkan gas mobil lelaki tua itu pergi dari hadapan Daniel, tanpa ada rasa kasihan padanya sedikitpun. Mengepalkan kedua tangan penuh kebencian, Daniel meleparkan batu pada mobil itu.


Namun, al hasil, batu itu tak kena. Ia berusaha mengigat plat nomor mobil yang tak mau membantunya. " Awas saja, setelah aku pulang ke rumah, kubuat kamu menderita. Dasar lelaki tua."


Daniel kini duduk di atas tanah, ia mengelap keringat dinginya, merasakan rasa lelah, karena beberapa jam menunggu kendaraan lewat.


"Wulan, benar benar kurang ajar."


Suara mobil terdengar dari kejauhan, Daniel berharap jika mobil itu mau menumpanginya.


"Pak Tunggu."


Mobil itu ternyata berhenti, dimana Daniel segera mungkin mendekat dan berkata," Boleh saya menumpang."


Daniel terkejut, jika orang yang mengendarai mobil itu, ternyata seorang wanita paruh baya, dimana wajahnya penuh bekas luka yang tertutup kain.


"Mobil saya jelek."


"Tak apa bu, saya hanya butuh tumpangan untuk pulang. "


Daniel tak mempedulikan jika mobil itu jelek, bagi dirinya sekarang ia bisa pulang ke rumah. " Ya sudah ayo naik, biar saya antarkan anda ke tempat tujuan."


Daniel tampak senang, jika di muka bumi ini masih ada orang yang mau menolongnya," Pulang ke mana?"


Wanita tua itu menanyakan keberadaan rumah Daniel, agar bisa mengantarkannya sampai ketempat tujuan.


Daniel kini memberitahu alamat rumahnya, ia merasa senang, bisa bebas dari penderitaan setelah mendapatkan tumpangan.


********


Sedangka Wulan yang baru saja sampai di rumah, kini melihat Alenta menatapnya penuh kebencian.


"Dari mana saja kamu, keluyuran terus. Bukannya Daniel sudah menghukum kamu."


Sifat baik yang dulu ia tampilkan di depan Wulan, kini sirna, hanya sifat buruk dan amarah yang ia tampilkan di depan Wulan.


"Bukan urusan anda, ibu."


Wulan berjalan, dengan raut wajah ceria, ternyata dalam dirinya menyimpan sebuah keberanian yang baru saja ia tampilkan setelah mendapatkan nasehat dari madunya sendiri.

__ADS_1


"Jangan kalah dengan lelaki yang beraninya main tangan , apalagi suka menghina, sebagai wanita kita harus melawan."


Itulah perkataan yang selalu diingat Wulan dari Sarla," ini anak di panggil dari tadi. Wulan. "


Wanita tua itu, menarik tangan Wulan, dimana ia sudah kesal karena Wulan tak menjawab lagi panggilannya.


"Wulan."


"Duh, ada apa sih bu. Pake acara tarik menarik segala, sakit tahu."


Menggerutu kesal di hadapan Alenta, Wulan mengusap pelan tangannya yang tertancab kuku sang ibu mertua.


"Makanya dari tadi kalau orang tua itu ngomong jawab jangan main pergi begitu saja."


"Ya sudah, ibu mau nanya apa?"


Wulan berdiri, sembari melipatkan kedua tangannya di hadapan ibu mertua.


"Kamu ini tidak punya etika ya, dasar anak yatim piatu tidak tahu diri."


Alenta mulai memegang kepala Wulan, dimana Wulan memberontak, lalu berkata," wah, berani anda memagang tangan saya."


Wulan tanpa sadar hampir mematahkan tangan mertuanya itu, karena tangan Alenta sudah lancang memegang kepala Wulan.


"Kamu benar benar keterlaluan."


"Upss, maaf ibu mertua."


Wulan mulai beranjak pergi dari hadapan Alenta, dimana wanita tua itu bertanya," mau kemana kamu?"


"Bukan urusan anda!"


Jawaban yang membuat Alenta tambah geram, dimana ia berjalan, mengikuti langkah kaki, menantunya itu, tangannya sudah gatal, ingin sekali menjambak rambut Wulan.


Namun Wulan sadar saat Bi Siti, datang memanggil namanya, dimana Alenta yang berniat tidak baik jatuh ke atas lantai.


"Aduhhh"


Bi Siti menahan tawa, membuat Wulan membalikkan badan kearah belakang, ia melihat ibu mertuanya terkulai lemah," Aduh, pinggangku sakit sekali."


Wulan berusaha membantu mertuanya itu, ia membangkitkan dengan tubuhnya, tapi Alenta malah sengaja menjambak rambut Wulan. " Aduh."


Bi Siti yang melihat pemandangan itu, berlari ke arah Wulan, untuk segera menyingkitkan tangan Alenta dari rambut Wulan.


"Nyonya Wulan. " teriak Bi Siti

__ADS_1


Alenta kini berdiri, dengan menjambak rambut Wulan. Tak mau kalah, Wulan kini menginjak kaki sang ibu mertua, " Aduhh Wulan. Sakit."


Wulan menutup mulutnya yang ingin tertawa, ia lalu mengerutu kesal pada ibu mertua." Makanya jangan jahat sama orang. "


Ibu mertua meringis kesakitan, dimana ia tersenyum kecil lalu berkata lagi," ini hanya luka kecil, kamu lihat saja, pembalasanku nanti."


Mengangkat kedua bahu, Wulan tak peduli dengan perkataanya, ia juga bisa membalas, tanpa harus membuat dirinya cape.


Alenta pergi dengan wajah juteknya, ia kini berucap, " Nyonya, tidak kenapa kenapa kan?"


Wulan menggelengkan kepala.


"Syukurlah"


Kini mereka berjalan menuju ke kamar, untuk mengobrol bersama akan hal Sarla, sedangkan Alenta, menatap ke arah mobil yang baru tadi pagi dibawa anaknya pergi, kini sudah ada di depan rumah.


"Loh, bukanya ini mobil Daniel, terus anak itu kemana?"


Alenta tampak kuatir jika mobil Daniel ada sedangkan orangnya tak ada.


"Apa jangan jangan, Wulan."


Alenta berjalan dengan penuh rasa kesal, ia mengepalkan kedua tanganya. Lalu berteriak lagi memanggil nama menantunya itu." Wulan, keluar kamu, Wulan."


Tampak Wulan yang ingin bercerita pada Bi Siti, kini tertunda, ia malah mengerutu kesal di dalam kamar," Apalagi coba si nenek tua itu."


Wulan merasa jika Alenta semakin menjadi jadi, ia lebih jahat dari pada sebelumnya." Sudahlah Nyonya biarkan saja dia berteriak. Bibi pusing liat tingkah dia akhir akhir ini, Nyonya Wulan tahu tidak, masa Ita sekarang bersekongkol dengan Nyonya Alenta."


Sontak Wulan terkejut dengan aduan Bi Siti, dimana ia mendengar jika Ita kini bersekongkol dengan Alenta, padahal kemarin ia amat baik dan berpihak kepadanya.


" Lah, bibi tahu dari mana? Mungkin bibi salah perkiraan kali."


"Ini bukan masalah perkiraan Nyonya Wulan, Bibi lihat bukti nyata, dan Bibi merasakannya."


"Ya ampun bi, berarti kita harus berhati hati, jika sampai seperti ini, Bibi bisa bisa keluar dari sini."


Bi Siti tampak melamun, setelah mendengarkan kata dikeluarkan dari rumah. " Bi Siti, malah melamun. "


"Ahk, iya nyonya maaf."


"Pasti bibi kepikiran tentang tadi ya,"


"Eh, iya. Nyonya, bukan masalah keluarnya, Bibi takut Nyonya di sini kesepian dan sendirian tidak ada teman untuk menyemangati nyonya lagi, bibi kuatir sama Nyonya."


"Ya ampun bi, aku senang jika bibi selalu peduli padaku."

__ADS_1


Pelukan hangat dilayangkan Wulan pada Bi Siti.


__ADS_2