Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 101


__ADS_3

Bi Siti mendengarkan keluhan Wulan, menempelkan telinga pada pintu kamar majikannya," Nyonya, bibi tak peduli, jika Tuan marah, yang terpenting hati Nyonya tenang."


"Bibi tak usah kuatir dengan keadaan saya disini, saya tenang tenang saja kok, bi."


Wulan sengaja mencari benda tajam, untuk mengakhiri hidupnya, ia sudah lelah dengan perlakuan tidak baik Daniel yang terus mengekang dan menyalahkannya terus menerus.


Perasaan pembantu bernama Bi Siti itu tak karuan, ia berusaha mencari cara agar bisa membobol pintu kamar Wulan.


"Nyonya Wulan."


Hening tak ada jawaban sama sekali, perasaan wanita tua itu tak karuan, " Nyonya Wulan."


Mengetuk pintu beberapa kali, tetap saja tak ada jawaban sama sekali, Bi Siti semakin ketakutan, ia berusaha mencari sebuah benda yang bisa membuka pintu kamar Wulan.


"Mudah mudah, Nyonya Wulan tak kenapa kenapa?"


*******


Wulan, duduk di dekat jendela, membuka jendela itu perlahan, merasakan hebusan angin yang semakin terasa menusuk tubuh.


"Wulan."


Mendengar suara Bi Siti, membuat Ia hanya menangis sendirian di dalam kamar, perasaannya kini kacau balau, terasa tak ada arti.


" Apa aku harus meninggalkan dunia ini, menyusul ibuku yang sudah lama pergi."


Sempatnya Wulan berpikir hal yang menentang takdir, dimana ia memegang benda tanjam pada tangannya.


Benda tajam itu, kini berada di depan wajahnya," Mungkinkah dengan cara ini hidupku akan baik baik saja, tidak akan mendapatkan perilaku kejam dari Daniel, aku benar-benar sudah lelah dengan sikapnya. Dia sudah memperlakukan aku seperti sampah tak menganggap aku istrinya."


Air mata terus berlinang jatuh, membasahi pipi. Wulan dari dulu sudah ingin mengakhiri hidupnya. Karena tak kuat dengan sikap Daniel.


Kejam, bisa dibilang dia begitu sadis, apapun yang ia inginkan harus terpenuhi, sekalinya berbuat salah dia semakin menjadi jadi, menyakiti, menghina lalu membalas dengan sadis dan tanpa ampun.


Wulan bukan tak mau mengakui semuanya, ia ketakutan sendiri, membalaspun ia malah semakin diijak ijak oleh Daniel.


"Benar apa kata Sarla, Daniel bukan lelaki sembarang, ia bisa melakukan apapun yang ia inginkan."

__ADS_1


Wulan, menarik napas, berusaha tetap tenang, walau sebenarnya hatinya sudah gundah, ia kini menancabkan benda tajam itu pada tangannya.


Dan ....


Brakkk ....


Pintu terbuka, Bi Siti menyingkirkan benda tajam itu, hingga terbang ke atas lantai, memeluk Wulan lalu berkata," bunuh diri bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah, bunuh diri malah membuat masalah kita semakin bertambah."


"Aku sudah tidak kuat bi."


"Tenang, bibi akan selalu ada Nyonya, kesalahan bisa dimaafkan, masalah bisa di selesaikan, tapi dengan bunuh diri tidak akan membuat Nyonya tenang apalagi bahagia."


"Tapi bi, Wulan sudah tak kuat dengan perlakuan Daniel."


Wulan meluapkan kesedihannya dihadapan Bi Siti, hanya wanita tua itu yang bisa menumpang kesedihan yang ia rasakan.


"Nyonya tenang ya, nyonya bisa melakukan hal yang lain dari pada harus bunuh diri. Semua tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada Tuan Daniel bisa saja senang dengan kematian Nyonya."


"Bibi selalu menasehati aku, bibi baik, kenapa bibi masih mau membantu dan membelaku?"


"Karena bibi sayang pada Nyonya, bibi tak mau melihat Nyonya sedih, bibi tahu nyonya itu orang baik. "


Suara langkah kaki terdengar semakin dekat, Wulan kini menatap ke arah orang itu, dia nampak berdiri tegak, melihat wajahnya memerah.


"Siapa yang suruh kamu mendobrak pintu ini?"


Bi Siti mulai ketakutan, setelah mendengar perkataan lelaki yang menjadi majikan. Tanganya tiba tiba bergetar, dimana Wulan berusaha menenangkan pembantunya itu.


Tatapan mata Wulan, memperlihatkan kata perlawanan untuk bisa melawan majikan.


Bi Siti, wanita tua yang sudah lama bekerja di rumah Daniel, mulai berdiri menghadap ke arah majikannya, ia kini menjawab. " Saya, Tuan."


kedua bola mata Daniel membulat, setelah mendengar pernyataan yang dilayangkan oleh Bi Siti." Apa?"


Wulan berusaha mendekat ke arah Daniel untuk membela Bi Siti. " Saya melakukan semua ini karena saya khawatir sekali dengan keadaan Nyonya Wulan. Saya takut jika Nyonya Wulan mengalami depresi berat, akibat kelakuan tuan yang terlalu menyiksanya. Seharusnya tuan lebih mempehatikan Nyonya Wulan, dari pada harus mengurungnya, karena wanita yang tengah mengandung itu, butuh perhatian lebih dari suaminya. Bukan malah sebaliknya. "


Mengusap kasar wajah setelah mendengar penjelasan dari pembantunya itu, " beraninya kamu mengatakan hal itu kepadaku, Aku tidak suka dinasehati oleh wanita tua seperti kamu ini. "

__ADS_1


Wulan berusaha menenangkan suaminya yang penuh dengan amarah itu, ia tak mau jika Bi Siti kena batunya, di mana Daniel dengan nekatnya malah mengeluarkan pembantu yang selalu menenangkan dirinya.


" Tolong Daniel kamu jangan salah paham dulu Bi Siti mengatakan hal itu karena dia ...."


Belum perkataan Wulan terlontar semuanya, Daniel langsung menghempaskan tangan istri pertamanya itu, di mana Wulan hampir saja terjatuh.


Untung saja Bi Siti langsung menahan tubuh Wulan dengan sigap." Bi."


"Tuan, Nyonya Wulan itu istri tuan, bukanlah seorang pelampiasan hawa napsu yang kini tuan rasakan dalam diri tuan."


Daniel terlihat menahan amarahnya setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut pembantunya itu, kedua tangan mengepal hampir saja dilayangkan oleh Daniel kepada Bi Siti.


Menunjuk keduanya lalu berkata lagi," kalian berdua ini memang selalu bikin aku pusing."


Daniel pergi dari hadapan Wulan, dimana ia menggurungkan niatnya untuk memecat pembantunya yang selalu membela Wulan.


Mengirim pesan pada Sarla.


(Sedang apa?)


Tak ada balasan dari istri keduanya itu, Daniel seperti murka dan juga kesal, " Kenapa Sarla tak membalas pesanku sama sekali?"


Daniel kini duduk dengan raut wajah gundahnya. Menatap kembali layar ponsel, berharap ada balasan dari Sarla, (Apa kamu sudah makan?)


Kuatir, itulah yang kini dirasakan Daniel, ia takut jika Sarla terluka atau sakit hati karena perkataan Wulan.


"Balas, Sarla. Aku kuatir sekali dengan keadaanmu."


******


Sarla ternyata sedang menonton sebuah video lucu yang dikirimkan temannya itu, ia tak mempedulikan pesan dari Daniel sama sekali, karena saking asiknya menonton video yang terlihat begitu seru.


Panggilan telepon datang, Sarla menatap sekilas, lalu menonton kembali video lucu itu. Mungkin orang lain jika bertemu dengan istri pertama apalagi sampai di hina dan disebut pelakor tidak akan terima.


Namun Sarla, tak mempedulikan semua itu, dia berpikir karena setelah ia hamil ia akan lepas dari Daniel seumur hidupnya.


Panggilan kini dilayangkan lagi oleh Daniel, tetap saja tak digubris sama sekali oleh Sarla," Sarla, kenapa kamu tidak mengangkat panggilan teleponku sih."

__ADS_1


Perasaan tak karuan, Daniel bergegas untuk pergi menemui Sarla.


__ADS_2