
Selesai mengecek kandungan, Sarla kini berucap. " Kenapa kamu selalu mengganggu kehidupanku?"
Pertanyaan Sarla, membuat Rafa terdiam.
Dimana lelaki itu memegang tangan Sarla," jangan pegang tanganku. "
Rafa malah semakin tak tahu diri, ia tidak melepaskan tangan Sarla sama sekali. Sampai, Brukk ....
Pukulan mendarat dengan sempurna mengenai wajah Rafa," ahk, kurang ajar. "
Lelaki muda itu terkulai lemah di atas lantai, ia menatap ke arah Daniel yang sudah berdiri dihadapan Sarla.
"Daniel." Memegang pipi yang terlihat membiru, membuat Rafa tentunya terkejut. Berusaha bangkit," bukannya kamu itu. "
"Hilang ingatan!" jawab Daniel.
Hanya bayangan Daniel saja, yang datang menghajar Rafa. Lelaki berbadan kekar itu hanya bisa menatap sang istri dari kejauhan, ia tak bisa menghampiri Sarla karena tekadnya yang bulat.
Meninggalkan tanpa harus membuat hatinya terluka.
"Sedang apa kamu di sini, hah. "
Daniel membalikkan badan, ia tak menyangkan jika Wulan menyusul, " Wulan, sejak kapan kamu ada di sini?"
"Aku ada di sini, karena aku ingin tahu seberapa kuatnya kamu tanpa melihat Sarla!" jawab Wulan, terlihat Daniel berusaha meredamkan amarah sang istri.
"Ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan, Wulan. Aku hanya ingin melihat apakah Sarla menjaga bayinya dengan baik?" Pertanyaan Daniel yang tak masuk di akal oleh Wulan, terlalu banyak sandiwara.
"Daniel, dari dulu memang kamu ya plin plan, berpura pura hilang ingatan hanya untuk menjauhkan diri dari Sarla. Dan kamu sekarang mengawasi Sarla, hey, kamu ini .... "
Daniel menghentikan perkataan Wulan, kedua pipinya memerah, ia pergi dimana Wulan berusaha menyusul. " Daniel, kemana kamu?"
Teriakan Wulan membuat Daniel masuk ke dalam mobil, wanita yang menjadi istri pertamanya itu masuk secara tiba-tiba, membuat Daniel berusaha menyingkirkan Wulan.
"Mau apa kamu masuk ke dalam mobilku?"
"Kamu gila apa, aku ini istrimu Daniel, jadi jangan berpura pura bodoh di depanku!" jawab Wulan.
Duduk dan tak ingin pergi dari dalam mobil suaminya.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Wulan merasa jika Daniel kesal dengannya, hingga ia tak segan segan, membuat sang istri ketakutan.
"Daniel, gila apa kamu. Pelankan mobilmu."
Daniel tetap saja tidak mendengarkan perkataan istrinya, dia malah semakin mejadi jadi.
"Hanya karena ketahuan sering mengikuti Sarla, Daniel semarah itu padaku. "
__ADS_1
Menggelengkan kepala, Wulan hanya bisa bersabar setelah amarah suaminya mereda. Walau sebenarnya hatinya sangatlah panas.
Mereka pulang ke rumah, dimana sang ibu bertanya. " Daniel, kamu dari mana saja. Tadi Varel datang ke sini untuk meminta tanda tangan kamu. "
Daniel membuka jas kantornya, ia terlihat murung.
Lalu pergi begitu saja, tanpa menjawab perkataan ibunya sama sekali.
"Daniel."
Panggilan sang ibu, membuat Wulan tersenyum kecil, Alenta tak mengerti akan sikap anak satu satunya.
Ia menarik tangan sang menantu, lalu bertanya, " kenapa dengan Daniel?"
Wulan menjawab dengan nada ketusnya. " kenapa ibu tidak tanya saja pada anak ibu sendiri? "
Wulan hampir membuat amarah pada diri Alenta, " saya ini bertanya kepada kamu kenapa kamu malah menyuruh saya bertanya kepada Daniel. "
" Baiklah, aku akan mengatakan Kenapa wajah Daniel cemberut, tadi itu aku melihat dia tengah mengikuti sarla yang tengah berada di rumah sakit. "
Sontak mendengar rumah sakit membuat Alenta terkejut.
"Kenapa Sarla ada di rumah sakit, kenapa dengan dia? Apa sesuatu terjadi pada kandungannya?" Pertantayaan Alenta membuat Wulan hanya mengedipkan matanya.
"Sebegitu kuatirnya pada Sarla, sedangkan kepadaku anda begitu cuek saat aku tidak melakukan kesalahan, apalagi setelah aku melakukan kesalahan. Anda semakin membenciku, tak ada naluri seorang ibu mertua pada dirimu, kamu hanya memandang fisik dan juga keadaan keluarga seorang wanita, " ucap Wulan, mengatakan semua yang ada pada hatinya.
"Sekarang anda lihat sendiri, menantu yang ada sayang-sayang itu tidak akan mempertahankan rumah tangganya. Iya tetap pada pendiriannya berpisah dengan anak anda, " ucap Wulan, menatap tajam ke arah sang mertua.
"Kamu terlalu berisik dan merasa diri kamu itu tersakiti, padahal kamu itu wanita ******," balas Alenta terdengar menghina menantu pertamanya itu.
Mengepalkan kedua tangan, Ingin rasanya menampar pipi yang sudah mengkerut itu. Namun, Wulan berusaha menahan amarahnya, agar tidak membuat dirinya rugi sendiri.
"Silahkan anda mengatakan jika saya itu wanita ******, saya tak peduli dengan hal itu. Karena dari perkataan anda mencerminkan diri anda sendiri."
Tegas Wulan, dimana wanita tua itu pergi dari hadapannya.
Wulan tersenyum kecut, dia melihat kepergian Ibu mertuanya itu," dasar nenek-nenek Lampir tidak tahu diri."
Wulan mulai menyusul suaminya, dia ingin melihat keadaan Daniel setelah melihat Sarla berduaan dengan Rafa.
"Huuh. Aku kira kamu itu tetap pada pendirianmu sendiri, menjadi sosok lelaki yang tidak plin plan lagi."
Mendengar hal itu, terulang dan terus terulang dari mulut ke Wulan, membuat rasa Daniel tak bisa terkendali lagi.
"Sialan, apa bisa ucapanmu itu tidak membuat hatiku kesal, " balas Daniel mendekat di hadapan sang istri.
Alenta datang berusaha menenangkan suasana," Wulan, apa bisa kamu ini sebagai seorang wanita tidak terus memancing amarah suamimu itu, bisa saja dia ingin tahu keadaan bayi dalam kandungan sarla."
__ADS_1
"Hah, anak dan ibu sama-sama tidak tahu diri."
kesal dengan perkataan Wulan yang pergi begitu saja, Daniel kini menarik rambut panjang sang istri." ahk. "
Wulan meringis kesakitan, merasakan lagi betapa kejamnya tangan sang suami. " hanya karena ucapanku seperti itu kamu tega menyiksaku lagi, coba jika sarla berkata seperti itu, kamu hanya diam dan juga pasrah. rasanya kamu itu benar-benar tak adil."
Tangan yang menarik rambut sang istri kini terlepas, setelah perkataan Wulan yang membuat Daniel tersindir.
" Pantas saja Sarla tidak mau bertahan denganmu, karena sikap plin-planmu dan juga tidak tegas apalagi tak adil kepada seorang istri."
Bagaimana bisa Daniel bertahan dengan Wulan yang selalu membantah perkataannya.
perlahan ia melepaskan rambut Wulan yang ia jambak, pergi dari hadapan Alenta dan juga Wulan.
Sampai kepergian Daniel membuat rasa senang pada Wulan, karena ia bisa menyindir habis-habisan suaminya sendiri.
Tring ..., nada pesan datang dari ponsel Alenta, dia melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
Betapa terkejutnya wajah wanita tua itu, dengan kedua mata yang melihat pesan datang dari Sarla.
Sarla menantu keduanya itu memperlihatkan hasil USG kepada sang ibu mertua di mana menjelaskan jenis kelamin anaknya.
Wulan yang melihat mertuanya tersenyum pada layar ponsel membuat dia penasaran.
Di mana wanitanya itu enggan memperlihatkan hasil USG dari menantu keduanya.
Alenta mulai berteriak memanggil Daniel anak satu-satunya, untuk memberitahu hasil USG Sarla yang baru saja dikirim, berteriak memanggil Daniel terus-menerus.
"Daniel."
" Dasar nenek tua hanya karena sarlah mengirim pesan padanya ya begitu kegirangan, pesan apa sih kok aku jadi penasaran sekali. " gumam hati Wulan mengikuti langkah kaki wanita yang menjadi mertuanya.
Daniel mendengar teriakan sang ibunda membuat dia sedikit membentak," apalagi si bu. Daniel pusing kalau dengar ibu teriak-teriak."
Alenta langsung menunjukkan pesan dari sarla, di mana Daniel membulatkan kedua matanya mengambil ponsel, melihat layar yang memperlihatkan kebahagiaan untuknya.
"Ini hasil USG anak dalam kandungan Sarla?"
Alenta menganggukkan kepala," Iya itu anak kamu, darah daging kamu sendiri Daniel. Dia berjenis kelamin laki-laki. "
Daniel merasa senang dengan perkataan ibunya sendiri, apa Ibu bisa menelepon Sarla sekarang juga.
Wulan tiba-tiba saja muncul di mana ia mulai berkata, " alah hanya karena hasil USG sampai kegirangan seperti itu."
Alenta menatap ke arah menantu pertamanya itu," tentulah Kami senang kegirangan karena anak dalam kandungan salak murni anak Daniel, tidak seperti kamu dulu."
Sindiran pedas itu membuat Wulan pergi jauh meninggalkan suami dan juga mertuanya. " keterlaluan sekali mereka membahas kehamilanku. "
__ADS_1
Wukan memegang perutnya, merasakan rasa rindu akan kehadiran bayi dalam kandungannya lagi, ia kurasa menyesal karena tidak menjaga baik-baik baik dalam kandungannya walaupun bayi dalam kandungannya itu bukan darah daging Daniel.