
Sarla mulai duduk, di atas sofa yang sedikit jauh dari ranjang tempat tidur suaminya. Ia tak berani mendekati Daniel, karena dirinya yang hanya seorang istri terlupakan.
Beberapa menit kemudian, Daniel mulai bangun. Ia memanggil-manggil Alenta sang Ibunda, Sarla menyadari hal itu, iya bangkit dari sofa mendekat ke arah suaminya.
"Bu, bu. Daniel haus. "
Tangan kekar itu meraba raba mencari gelas yang berisi air minum.
Dengan sigap Sarla mulai membantu Daniel, mengambilkan air minum. " Ini. "
Mendengar suara Sarla, Daniel perlahan bangun ia tampak terkejut, sikap dinginnya ia perlihatkan dihadapan Sarla.
"Kamu lagi, kemana ibuku?"
"Maaf, ibu anda kebetulan sedang pergi ke kantor, saya ditugaskan untuk menjaga anda!"
"Ckk, kenapa ibu malah menunyuruh wanita aneh ini!" Gerutu pelan Daniel, sedikit terdengar oleh Sarla.
Namun dengan penuh kesabaran, Sarla berusaha tenang tidak tepojok akan kemarahan karena ucapan Daniel yang menyebalkan.
"Sini air minumnya. "
Daniel mengambil air minum itu, lalu meminumnya dengan penuh amarah, karena tak suka melihat Sarla berada dihadapannya.
"Kaya sapi kahausan. "
Ucapan Sarla membuat Daniel menatap ke arahnya, " apa kamu bilang. "
Sarla tak tahu jika Daniel mendengar perkataanya," saya tidak mengatakan apapun, mungkin hanya persaan anda saja. "
Mengerutkan dahi, mendelik kesal, Daniel mulai membaringkan lagi tubuhnya. " Kamu di suruh ibu jagain aku kan?"
"Mm, iya. "
"Cepat pijit tanganku. "
"Hah, pijit tangan, saya kan bukan pembantu anda."
"Ya sudah nanti saya bilang pada ibu. "
"Baik baik. "
Daniel menyodorkan tangannya, dimana tangan itu mulai menyentuh perut Sarla, terasa hangat seakan sosok bayi dalam kandungan Sarla merindukkan sentuhan papahnya.
"Sorry, aku tak sengaja menyentuh perutmu. "
Sarla menyipitkan matanya, bibirnya yang tertutup cadar itu ia majukkan.
Saat itulah tangannya mulai memijit tangan Daniel.
"Agak kencang dikit. "
__ADS_1
Sarla yang kesal mulai mulai mengencangkan pijitannya, hingga Daniel berkata. " Geli. Hahhaha."
Daniel tertawa membuat perasaan Sarla, merasa tenang. " Daniel. Aku rindu senyumamu itu. " ucap Sarla dalam hati.
Sarla berusaha sadar dari perkataanya, ia jangan sampai mengingkari janjinya, " aku bicara apa sih. Bodoh. "
Menggerutu kesal dalam hatinya, dimana Daniel berkata, " heh, kamu kenapa?"
"Ah, saya. Nggak kenapa kenapa kok!"
"Kamu ini wanita aneh ya, bisa bisanya berpakaian seperti ninja. "
Mendengar hal itu, membuat Sarla tentu saja murka, ia mencekram tangan Daniel dengan keras.
"Bisa bisanya anda mengatakan hal itu kepada saya. "
"Aduuhhh, tanganku. "
Daniel meringis kesakitan, dimana Sarla melepaskan tangan suaminya, lalu pergi menjauh untuk segera duduk di sofa.
"Sarla, aku tahu pasti kamu marah, aku suka ekspresi kamu seperti itu, maafkan aku yang berpura pura hilang ingatan. Aku terpaksa melakukan semua ini, karena aku sadar jika kamu tidak akan menjadi miliku. " Gumam hati Daniel.
Daniel langsung mengigat kejadian kecelakaan yang ia sengaja lakukan demi membuat dirinya mati, tapi bukan malah kematian, Daniel bertahan hidup dan ia menyuruh dokter untuk mengatakan bahwa ia hilang ingatan.
Padahal mana ada hilang ingatan hanya mengigat masa lalu yang dulu, yang ada hilang ingatan itu semua akan hilang pada kepala Daniel. Daniel tidak akan mengigat semuanya.
"Sarla, inikah yang kamu inginkan?"
Pertanyaan Daniel, menyelimuti lubuk hatinya yang paling dalam. Ia terus bergumam dalam hati sembari menatap istri keduanya dari kejauhan.
Sosok Rafa datang, dimana ia membuka pintu ruangan tanpa mengucap salam sedikit pun, " Sarla, kamu ada di sini. "
Sarla terbangun dari sofa, ia duduk lalu berkata, " kenapa tuh orang gak ketuk pintu dulu ke apa ke, main masuk aja, dasar tidak tahu diri."
Menggerutu dalam hati, melipatkan kedua tangan.
"Rafa."
Daniel mempelihatkan raut wajah seperti biasa, dimana Rafa masih melirik ke arah Sarla, ia tak bisa menjadi sosok lelaki yang menunafik berpura pura cuek.
Perkataan Daniel tidak digubris sama sekali oleh Rafa, anak muda itu terus memperhatikan sarla yang duduk.
"Sarla. Kenapa kamu selalu memancarkan Aura yang membuat aku ingin terus mendapatkanmu?"
"Mm."
Daniel berpura-pura batuk, di mana Rafa sosok yang tadinya menjadi musuhnya, kini menatap ke arah sang paman," bagaimana dengan keadaan paman?"
Rafa harus berhati-hati, karena ia sudah diberi peringatan oleh Alenta jika Daniel mengalami hilang ingatan.
" Sepertinya aku bisa leluasa mendapatkan Sarla. "
__ADS_1
Daniel mendengar ucapan pelan yang terlontar dari mulut Rafa, ia sudah menyadari, jika posisinya tidaklah berarti untuk Sarla.
"Rafa."
"Iya."
"Kenapa kamu terus memandangi wanita aneh itu?"
Hampir saja Rafa terpancing akan perkataan Daniel, di mana Ia lupa jika pamannya itu tidak mengigat masa lalu dengan Sarla.
"Wanita aneh, apa maksud paman. Dia .... "
"Kenapa?"
Sarla bangkit dia membulatkan kedua mata, dimana tatapan itu membuat Rafa mencari cela pertanyaan lain. " Maksudku dia siapa? Kenapa paman berkata bawha dia wanita aneh. "
Daniel sudah menduga jika ia berpura pura hilang ingatan, kehidupannya akan berubah. Berubah karena banyak derma kebohongan.
"Bukannya kata Ibu, dia itu sahabatnya. "
"Owh sahabat. "
"Apa kamu mengenalnya?"
Rafa tampak terlihat ragu, setelah pertanyaan melayang dari mulut Daniel.
"Ehh."
Sarla mendengar ucapan itu berusaha untuk menghindar, ya tak mau mendengar lagi perkataanya yang terdengar rumit.
"Saya permisi untuk pergi. karena kebetulan sekali sekarang ada yang menemani anda. "
Daniel lalu berkata. " Silahkan."
Ingin rasanya Rafa mengikuti langkah kaki Sarla yang sudah pergi dari ruangan, dia ingin mengobrol sebentar, menceritakan semua keinginan yang ia ingin ucapkan.
Namun rasa tak enak hatinya, membuat Ia hanya diam dan mengobrol dengan sang paman, di mana Daniel berkata dalam hati, " aku tahu apa yang kamu inginkan sekarang Rafa, kamu ingin mendekati Sarla ketika aku mengalami amesia. "
" Kenapa dia pergi ya. Padahal aku senang sekali kalau ada dia di sini, merasa pikiranku ini seolah-olah mengingat bahwa aku pernah bertemu dengan dia. "
Rafa berusaha menggubris perkataan sang paman," mungkin itu hanya perasaan paman saja secara kebetulan, ngapain juga Paman harus bertemu dengan gadis cantik seperti dia,"
"Cantik. Apa kamu sudah melihat wajahnya?"
Rafa menggelengkan kepala, lalu menjawab, " Bagaimana aku bisa melihat wajahnya, sedangkan wajahnya itu selalu ditutupi dengan cadar. "
"Mm, benar juga. "
Daniel tersenyum kecil dalam ke pura-puraannya, hanya menjadi sosok seseorang yang mengalami amesia.
" Hanya lelaki yang beruntung bisa melihat wajah cantiknya, Karena dia sudah begitu sempurna menutupi wajah dan juga tubuhnya dari penglihatan para lelaki."
__ADS_1
Daniel tersenyum, dia merasa jika dirinya adalah sosok lelaki yang dikatakan oleh sang keponakan, lelaki yang beruntung sudah melihat raut wajah cantik sarla, selalu ada di dekatnya walau mungkin dengan jarak yang begitu tak lama.
******