
Bi Siti memegang lembar surat yang baru saja ia dapatkan dari seorang dokter, karena memang setelah memberikan donor darah terhadap Wulan.
Bi Siti tampak begitu penasaran dengan hasil tes DNA tentang kecocokan dirinya dengan Wulan.
Membaca setiap baris kata pada kertas berwarna putih itu, membuat hati dan perasaan Bi Siti terlihat gelisah," Apakah Wulan anakku?"
Dan ternyata apa yang dipikirkan wanita tua itu, hanyalah perasaannya saja, Wulan bukanlah anak kandung Bi Siti, padahal ya begitu yakin dari dulu, tapi pada kenyataannya. Keyakinan itu hanyalah keinginannya untuk menemukan anaknya yang hilang.
Suster memberitahu tentang keadaan Wulan, di mana wanita itu sudah sadarkan diri, ia memanggil-manggil nama Bi Siti, karena bagi Wulan hanyalah dia yang selalu mengerti keadaannya, di saat sifatnya berubah pun Bi Siti masih saja peduli.
"Pasien Wulan, memanggil anda."
Bi Siti menganggukkan kepala, berniat untuk melihat keadaan Wulan yang sekarang.
Terlihat wanita yang tadinya segar bugar itu kini terkulai lemah di atas ranjang tempat tidur.
"Bi Siti. "
Perasaan Bi Siti bercampur aduk menjadi satu, wanita tua itu, mendekat dan mengusap pelan tangan Wulan.
"Bi Siti," tetesan air mata kini menetes pada kedua mata Wulan hingga mengenai pipinya.
"Maafkan aku bi, " ucap Wulan yang terdengar terbata bata.
"Ya bibi juga minta maaf, " balas Bi Siti, Iya juga ternyata mengeluarkan air mata, karena mungkin merasakan apa yang dirasakan Wulan saat ini.
"Sekarang Nyonya Wulan istirahat saja, jangan banyak berpikir yang aneh aneh ya, bibi takut jika nanti kondisi nyonya tidak setabil. "
Wulan, menganggukkan kepala, telah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut wanita tua yang selalu menemaninya.
"Terima kasih bi, atas perhatiannya. "
__ADS_1
"Sama sama nyonya. "
Ia melihat ke sekeliling ruangan berharap jika Daniel ada di hadapan, namun pada kenyataannya lelaki yang menjadi suaminya itu seakan tak peduli pada dirinya.
Padahal Wulan sudah mengalami kecelakaan yang hebat yang mampu merenggut nyawanya," Nyonya mencari Tuan Daniel?"
Wulan menganggukkan kepala, Iya ingin sekali diperhatikan oleh Daniel saat itu, hatinya begitu ingin sekali meminta maaf atas kesalahan yang sudah ia lakukan.
"Tuan Daniel, masih berada di rumah ruangan bayi, apa mau saya panggilkan sekarang?"
Wulan berusaha menenangkan dirinya," tidak usah,"
"Baiklah."
Wulan sengaja mengatakan hal itu, karena ia ingin Daniel datang sendiri tanpa diminta olehnya.
"Apa Sarla masih ada di rumah sakit?"
"Setelah mendengar jawaban dari Bi Siti, membuat hati Tuhan merasa sakit, apalagi saat Bi siti menyebut tentang bayi Sarla dan juga Daniel. "
Wulan menghelap napas, " kenapa aku masih diberikan hidup, padahal saat kecelakaan itu, yang aku ingat adalah kematian. Agar masalahku hilang seketika, rasa sakit yang aku rasakan ini tidak akan aku rasakan lagi. "
Bi Siti sontak terkejut dengan perkataan yang terlontar dari mulut wanita yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit." Kenapa Nyonya berkata seperti itu, harusnya Nyonya itu bersyukur, ketika kecelakaan itu menimpa nyonya dan nyonya masih diberikan hidup, artinya Allah masih memberikan Nyonya kesempatan untuk melakukan hal yang baik. "
Wulan merenungi nasibnya, perkataan Bi Siti ada benarnya," Bi siti, apa aku bisa menjadi sosok orang yang berguna bagi orang lain, dan diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi."
Perkataan Wulan membuat sebuah ukiran senyuman di bibir wanita tua itu," pastinya nyonya, Nyonya itu diberi kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, jadi jangan sia-siakan kehidupan nyonya yang sekarang."
Wulan menangis menganggukkan kepala, " Bi Siti, Kenapa Bi Siti begitu baik kepadaku, padahal aku sudah mengecewakan dan juga menyakiti hati Bi Siti, tapi Bi Siti selalu membalas jahatanku dengan kebaikan, kenapa Bibi tidak menaruh dendam sedikitpun terhadapku?"
"Dendam? Untuk apa nyonya, dendam itu akan merugikan diri kita sendiri, dan membuat kita kesulitan menjalani hidup. "
__ADS_1
"Apa yang dikatakan Bibi selalu benar, aku ini terlalu memayoritaskan kesalahan orang lain padaku, sampai aku selalu berniat balas dendam kepadanya, padahal balas dendam itu malah merugikan aku sendiri dan pada ujungnya aku terkulai lemah di rumah sakit dengan rasa malu."
"Nyonya Wulan, Bibi berharap jika Nyonya itu berubah dengan sepenuhnya, tapi harus berpura-pura seperti kemarin. Padahal bibi begitu percaya sekali pada nyonya, karena nyonya diberi kesempatan untuk mengasuh bayi mungil milik Sarla. "
"Iya bi, aku terlalu gelap mata dan juga egois, memandang sesuatu itu dengan kebencian, di mana. Aku selalu melihat bayi sarla itu adalah sebuah petaka dalam hidupku. "
Bi Siti mengerti dengan perkataan Wulan, apalagi kekecewaan yang dirasakan oleh Wulan sendiri. Dimana ia kehilangan bayinya, di saat Daniel lebih peduli Sarla dari pada Wulan.
"Aku juga tidak menyadari diriku bahwa aku juga salah atas semuanya, karena aku sudah membuat suami sendiri sakit hati."
Bi Siti kembali memeluk tubuh Wulan, " sudah jangan ceritakan itu, bibi mengerti apa yang dirasakan Nyonya Wulan. "
Pelukan terlepas, saat sosok orang yang ia tunggu-tunggu datang di hadapan," Wulan, bagaimana keadaanmu sekarang?"
Pertanyaan yang selalu dinantikan oleh Wulan dari mulut suaminya sendiri, dimana Wulan menatap perlahan ke arah Daniel. " Daniel. "
Mendorong kursi roda sang Ibunda, Daniel mendekat, melihat air mata yang terus mengalir dari pipi istrinya.
Alenta berusaha memaksakan diri untuk mengeluarkan suaranya," Wu-la-n, ibu sang-at meng-h-utirkan k-a-mu. "
Air mata tak terasa menetes perlahan demi perlahan, di mana Wulan berucap, " Bu, terima kasih, atas rasa khawatir ibu terhadap Wulan, Sekarang keadaan Wulan baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan keadaan ibu,"
"Baik Wulan. "
Perasaan itu terasa menyejukan saat terlihat oleh Daniel. " Wulan. Aku berharap setelah kejadian ini kamu bisa berubah, setelah aku keluar dari penjara kita bisa memulai hidup baru seperti dulu, saling intropeksi diri atas kesalahan masing-masing,"
Wulan menganggukan kepala, " biarkan aku saja yang masuk ke dalam penjara Daniel. Aku tidak ingin kamu yang tidak salah menanggung semua kesalahanku, " balas Wulan.
"Tidak bisa, bagaimanapun Kamu adalah istriku dan juga tanggung jawabku, aku yang akan bertanggung jawab atas semua kesalahanmu. Aku berharap selama aku ada di dalam penjara, bisa menjadi sosok istri yang baik yang bisa mengurus ibu dan juga perusahaan."
Daniel dengan begitu mudahnya memberikan tanggung jawab pada istrinya itu, padahal sudah berulang kali Wulan melakukan kesalahan dan juga tak memegang amanah yang diberikan Daniel dengan begitu baik.
__ADS_1
"Apa kamu bersedia. Aku tahu kamu pasti berubah?"