Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 146


__ADS_3

Masuk ke dalam ruangan, Bi Siti melihat Wulan tengah menangis dimana Ita memeluk sang majikan, menenangkan setiap kesedihan yang dirasakan Wulan.


"Ita, kamu kembali lagi pada sifat asilimu." Gumam hati Bi Siti.


Wanita tua itu mulai mendekat kearah mereka berdua, terlihat keduanya terkejut dengan kedatangan Bi Siti. " Wulan. "


"Bi."


Wulan terlihat begitu senang ketika wanita tua yang selalu menemaninya dalam duka maupun senang, selalu ada bersamanya.


"Bi Siti."


Pelukan erat itu kini mencengkeram tubuh sang wanita tua, dari tadi Wulan mengharapkan pembantu yang selalu membuat dirinya senang itu datang.


"Bi Siti, bagaimana keadaan Daniel sekarang?"


Bi Siti menundukkan wajah, ya merasa ragu menjawab perkataan Wulan.


"Tuan Daniel, baru saja siuman!"


Wulan tampak senang dengan jawaban yang terlontar dari mulut pembantunya itu. " Syukurlah, apa katanya?"


"Katanya Tuan Daniel ingin bertemu dengan nyonya," raut wajah pembantu Itu tampak sedih.


Wulan sedikit memajukan bibirnya," Bi Siti kenapa? Kok kaya sedih begitu?"


"Bibi, gak mau nyonya bertemu dengan tuan!"


Jawaban Bi Siti membuat Wulan mengetukan dahi, " kenapa?"


"Bibi takut nyonya sakit hati dengan Tuan Daniel, " ucap Bi Siti mengungkapkan keluhannya.


Bi Siti menarik napas, mengeluarkannya secara parlahan, dimana wanita tua itu kembali memeluk lagi sang nyonya. " Bibi jangan terlalu mengkhawatirkan Wulan, mungkin ini sudah menjadi nasib Wulan, jika ucapan Daniel begitu ketus dan mampu membuat hati Wulan sakit hati."


Mengusap pelan rambut panjang Wulan, akhirnya Bi Siti melepaskan pelukan. Iya duduk di samping kiri sang nyonya, pembantu dan juga majikan begitu akrab seperti keluarga, membuat Ita yang berdiri tak jauh dari hadapan mereka merasa heran.


"Oh ya, siapa yang jagain Daniel di sana, bi?"


Pertanyaan Wulan membuat Bi Siti ragu mengatakan semuanya, apalagi jika ia membahas tentang istri kedua Daniel yang datang.


"Bi, malah diam aja, kenapa? Apa Sarla datang?"


Tanpa diberitahu, Wulan sudah bisa menebak.


" Sudahlah dijawab yang jujur iya atau tidak. Bibi tenang saja, aku tidak akan sakit hati, setelah mendengar Sarla ada di rumah sakit menemani Daniel. "

__ADS_1


Bibir bisa berbohong tetapi dengan hati, tentu saja sulit untuk bisa berbohong. Karena yang hanya tahu luka itu diri sendiri.


Karena paksaan dari sang majikan, pada akhirnya Bi Siti mulai mengatakan sejujurnya kepada Wulan. " sebenarnya Sarla sedang Tuan menemani Daniel. "


Sudah bisa ditebak oleh Bi Siti, raut wajah Wulan berubah derastis setelah mendengar perkataannya.


"Nyonya, saya tidak bermaksud membuat nyonya bersedih. "


Wanita tua itu berusaha menangkan Wulan, ia menganggap jika Wulan adalah anak kandungnya.


"Tidak apa apa bi, Wulan sudah memaklumi semuanya."


Mengusap dada, masih terasa sesak, sampai akhirnya pesan datang dari Alenta.


(Bagaimana keadaan Wulan? Daniel ingin berbicara dengannya, oh ya tolong jika Wulan mengobrol usahakan Wulan memakai pakaian biasa.)


Membaca pesan dari Alenta, membuat Bi Siti semakin heran, karena tumben sekali sang nyonya berucap seakan Daniel mempedulikan Wulan, bukannya sudah jelas Alenta seperti tak mengiginkan Wulan ada disamping Daniel.


(Saya hanya ingin memberi tahu kamu, jika Daniel hilang ingatan.)


Siapa yang tak terkejut mendengar kabar dari sang nyonya besar, Daniel hilang ingatan.


(Oh ya, yang ia ingat hanyalah Wulan, Daniel mengingat masa masa indah menikah dengan Wulan saat dua bulan.)


"Kenapa bibi senyum senyum gitu?"


Tanya Alenta dengan rasa herannya pada sang nyonya.


Pesan datang lagi. ( Kamu paham kan maksud saya Bi Siti, tolong saat video call, anggap kalian ada di rumah oke.)


Pada akhirnya Bi Siti membalas dengan mejawab. ( Baiklah nyonya saya akan mengatakan informasi ini.)


Pembantu yang selalu peduli terhadap Wulan, kini memperlihatkan senyuman manisnya, ia memegang tangan sang majikan lalu berucap, " Selamat ya nyonya untuk hari ini, ada kabar baik untuk nyonya."


Melihat Bi Siti terlihat begitu kegirangan, Wulan hanya mengerutkan dahinya merasa heran. " kenapa memangnya bi? Sampai sebahagia itu."


"Tentunya bibi bahagia dong hari ini, karena mempunyai kabar yang baik untuk Nyonya. "


"Kabar baik apa?"


Wulan semakin penasaran, ya terlihat tersenyum ceria, lalu berkata, " Tuan Daniel hilang ingatan."


Mendengar hal itu, kontak membuat Wulan terkejut. " Nyonya jangan dulu kaget, dengarkan dulu apa yang saya akan."


Wulan mulai mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut pembantunya itu, " coba apa?"

__ADS_1


"Tuan Daniel hilang ingatan setelah menikah dengan Sarla, ia tidak mengigat sama sekali perselingkuhan dan juga penghianatan nyonya, yang ia ingat kenangan manis bersama nyonya."


Mendengar hal itu, sontak membuat Wulan tampak bahagia dan berkata, " jadi aku punya kesempatan lagi untuk memperbaiki hubunganku dengan Daniel, jika Daniel melupakan semua keburukan dan juga pernah menikah dengan Sarla. "


Bi Siti menganggukkan kepala, ia tampak senang dan juga bahagia mendengar kabar itu.


"Ya ampun bi, aku nggak menyangka jika Daniel akan kembali lagi kepadaku, perlahan demi perlahan ia bisa melupakan istri keduanya itu. Dengan hilang ingatannya Daniel, aku akan memanfaatkan semua itu sebaik mungkin, agar di hati Daniel masih ada kesempatan untukku bisa berubah."


Bi Siti tersentuh akan ucapan Wulan yang terlihat begitu bersungguh-sungguh Ingin berubah, " Bibi akan selalu mendukung nyonya."


"Bi Siti memang yang terbaik, bisa saja membuat aku tersenyum kembali."


Saatnya Bi Siti mengganti pakaian Wulan dengan pakaian sehari-harinya ketika berada di rumah. Ia tahu maksud tertentu Alenta.


"Gimana bi, sudah bagus kan?"


Bi Siti menganggukan kepala setelah melihat perubahan Wulan dan terlihat begitu cantik.


"Kamu cantik Nyonya Wulan."


Pujian itu terlontar dari mulut Bi Siti, dimana Wulan berkata, " Bibi bisa aja kalau lagi memuji orang, aku senang sekali. Bisa dipuji oleh Bi Siti. '


Ponsel Bi Siti kembali lagi bersuara, di mana Wulan mempersiapkan diri untuk mengobrol dengan suaminya, " Halo Bi Siti, mana Wulan."


"Ini nyonya. "


Bi Siti kini memberikan ponsel kepada Wulan untuk mengobrol dengan mertuanya," Wulan pasti kamu mengertikan dengan perkataanku?"


"Mengerti bu. "


sampai akhirnya Alenta mulai memberikan ponselnya kepada Daniel, di mana lelaki itu masih terpasang oleh alat.


"Sayang. kamu baik-baik saja kan di rumah?"


pertanyaan Daniel membuat Wulan menangis.


"Loh kamu malah menangis! "


Wulan terus mengusap perlahan air matanya dengan tangan, ia selalu berucap kepada sang suami dengan nada sedihnya, " harusnya aku yang tanya kepada kamu, apa kamu di sana baik-baik saja, maafkan aku yang tak bisa menengok ku saat ini."


"Tak apa, aku mengerti kok kamu pasti kelelahan menjaga rumah. Oh ya, sayang. Kata ibu kamu lagi program hamil kan. "


Deg ....


Apa yang harus dijawab oleh Wulan?

__ADS_1


__ADS_2