
Daniel mulai mempelihatkan wajah tak menyenangkannya di depan Wulan, dimana Wulan berucap" Sudah cukup, berulang kali kamu mengatakan hal ini, jika kamu memang tidak mau bersamaku lagi sudah, sebaiknya kita cerai saja."
Entah apa yang ada di pikiran Wulan saat itu berani-beraninya ia mengatakan hal yang tak terduga di hadapan sang suami." Aku sangat mencintaimu Wulan. Mana mungkin aku meninggalkanmu."
"Sudah cukup bualan omong kosongmu itu, jika memang kamu mencintaiku, alangkah baiknya sebagai seorang suami tak banyak bertanya tentang anak ini."
Tepukan tangan dilayangkan Daniel saat itu," waw. Jika kamu berkata seperti itu, berarti kamu mengakui bahwa anak dalam kandunganmu itu bukan anakku."
Percuman jika Daniel datang ke rumah untuk menemui Wulan, pada akhirnya hanya membahas tentang anak dalam kandungan Wulan.
"Aku sudah katakan pada kamu, cukup, jangan membahas lagi soal anak, aku tidak mau berdebat terus menerus dengan kamu. "
Daniel duduk di samping Wulan, mengusap pelan kepala istrinya." Jangan pegang aku."
Wulan mulai menghindar, dari tangan kekar suaminya.
"Kenapa menghindar sayang, apa aku melakukan hal yang menyakitimu."
Wulan memperlihatkan raut wajah kekesalannya, kedua mata tanpa berkaca-kaca," ya kamu sudah menyakiti hati dan mentalku."
Daniel, mulai menghindar dan pergi begitu saja dari hadapan Wulan, bukanya ini, yang diinginkan Wulan, tapi perhatian dan kata maaf.
Semua percuman saja, tiada arti sedikitpun Wulan di mata Daniel, ingin sekali tangan putihnya melempar sebuah gelas di atas meja, kepada kepala Daniel.
Namun, Bi Siti menahan, ia berusaha menenangkan sang majikan agar bisa melawan emosi dan rasa kesal.
"Jangan Nyonya, nyonya harus tenang."
Wulan mulai menaruh lagi gelas kaca itu, dimana ia berteriak. " Lepaskan aku, jika kamu tidak menerima anak ini. "
Langkah Daniel perlahan berhenti, dimana ia membalikkan badan," aku akan melepaskanmu, setelah mengecek DNA anak itu, sekarang aku ingin bersenang senang dulu denganmu Wulan. Jadi nikmatilah perubahan diriku."
"Gila kamu Daniel, bukannya kamu mencintaiku tapi kamu tega berkata seperti itu."
"Aku tega, coba kamu tanya pada dirimu sendiri, siapa yang lebih tega dariku."
Daniel mendekat lagi, setiap kali ia mendengar perkataan Wulan, ia akan membalas dan pastinya tidak mau kalah.
"Kamu Daniel, kamu menikah lagi?"
"Hey, apa harus aku bahas lagi ucapanku kemarin?"
__ADS_1
Daniel seperti orang yang tak putus asa, ia tetap pada pendiriannya, ia tak mau kalah dengan Wulan yang jelas istri pertamanya itu.
"Siapa dia?"
Menunjukkan beberapa bukti transfer uang pada orang bernama Angga.
Wulan terkejut padahal ia sudah berusaha menyembunyikan bukti transfer uang pada Daniel, namun ternyata terlacak.
"Dan poto siapa ini?"
Tambah terkejutnya Wulan, poto Angga diperlihatkan Daniel saat itu.
"Kenapa kamu diam?"
Menundukkan kepala, dimana Bi Siti tak ikut campur. " Kenapa kamu diam saja?"
Beberapa kali pertanyaan Daniel terlontar, Wulan tetap saja diam, seakan ia ketakutan.
"Jika kamu menjawab dia siapa? Aku akan menuruti keinginanmu."
Wulan tak mungkin mengatakan sesungguhnya, ia takut jika semua itu adalah jebakan yang dibuat Daniel dengan sengaja.
Jantung Wulan serasa tak karuan, Iya kebingungan sendiri, sekali menatap pembantunya yang hanya diam tak bisa membantunya.
"Owh ya, ada satu lagi bukti."
Daniel kini menunjukkan sebuah video, terlihat sekali Wulan tengah mengobrol dengan sosok bernama Angga, lelaki yang begitu persis foto yang ditunjukkan oleh Daniel.
"Loh, dari tadi kamu. Dia melulu Kenapa?"
Wulan tidak bisa mengungkapkan semua itu. Apalagi atas perselingkuhan yang sudah ia lakukan bersama Angga.
"Aku tidak tahu dia!"
Jawaban yang tak bisa dipungkiri oleh Daniel, bisa-bisanya ia mendengar perkataan yang benar-benar membuat dirinya tertawa terbahak-bahak.
" Sudahlah jangan belagak polos kamu, Wulan, aku sudah menyelidiki semuanya, apalagi hubungan kalian berdua."
" Aku tidak ada hubungan dengan lelaki itu, jadi Stop jangan memfitnah aku, Daniel."
"Oke, Aku tidak akan memfitnahmu sayangku, tapi asal kamu tahu aku akan melakukan sesuatu yang lebih kecil daripada ini."
__ADS_1
"Maksud kamu apa?"
"Hey, jangan berpura-pura tidak tahu akan sifatku yang asli. Bukannya kamu tahu sendiri, jika aku dikhianati aku akan membalas rasa penghianatan sakit dari perselingkuhan yang sudah kamu lakukan bersama lelaki ini."
"Daniel, aku tidak berselingkuh, anak dalam kandungan ini adalah anakmu, jadi akuilah dia."
" Jika anak itu terbukti bukan anakku, untuk apa aku harus mengakuinya."
"Tapi tetap saja, Kamu adalah suamiku dan anak .... "
"Stop, Wulan. Sudah beberapa kali kamu mengatakan bahwa anak itu adalah anakku, saat aku mendengar perkataanmu itu rasanya Kepalaku pusing sekali. "
Daniel mulai pergi dari hadapan Wulan yang terus mengoceh membela dirinya sendiri, " Daniel kamu jangan pergi."
Daniel mulai membalas perkataan Wulan," Oh ya sayangku aku lupa memberitahu kamu, lelaki ini sebentar lagi akan masuk ke dalam penjara, jadi kamu harus bersiap-siap mengatakan hal yang sesungguhnya dan juga Sejujurnya.
"Daniel."
Daniel sudah tidak memperdulikan teriakan Wulan, Iya benar-benar menjadi lelaki yang egois di saat bulan tengah hamil, apalagi di saat itu wulan tengah depresi karena memikirkan bayi dalam kandungannya.
"Daniel."
"Yang sabar ya, Nyonya."
Wulan menangis terisak-isak, setelah melihat kepergian Daniel yang begitu penuh ancaman, ia berharap Daniel datang dengan membawa kebahagiaan, bukan malah sebuah ancaman yang terus menyudutkannya.
" Kenapa Daniel seegois itu, apa dia tidak mempunyai hati nurani, padahal saat ini aku sedang mengandung dan butuh perhatian yang lebih dari sosok seorang lelaki, tapi di mata dia aku benar-benar menjijikan." Keluh Wulan.
Daniel kini keluar dari dalam rumahnya, untuk menghirup udara segar setelah bertengkar dengan Wulan. Entah kenapa setelah ia bertemu dengan Wulan emosinya selalu meluap-luap, padahal dalam hatinya masih tersimpan rasa cinta, tapi kenapa setiap kali melihat wajah Wulan rasa cinta itu berubah menjadi kebencian.
Mengusap kasar wajah, berteriak sembari merasakan rasa angin malam yang menusuk kulit tubuh Daniel, ia menatap ke sekeliling rumah, tidak ada yang membuat dirinya tenang.
"Kenapa mempunyai dua istri bukan malah menyenangkan hati dan pikiranku, keduanya malah membuat masalah demi masalah perlahan datang, aku benar-benar tak sanggup dengan semua ini, ingin lari dari kenyataan namun aku tak bisa, keduanya tetap berharga dalam hati, jika dikatakan egois. Aku benar-benar egois bisa mencintai Sarla secepat ini. Dan sekarang aku tak bisa melepaskan Wulan." Gumam hati Daniel.
Daniel seperti lelaki bodoh, yang diperalat oleh napsu dunia dan juga emosinya. Iya tak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, seperti anak kecil yang selalu meminta bantuan pada orang tuanya.
Brakkk ....
Terkejut bukan main, ketika ia tengah mengeluh, lemparan batu hampir saja mengenai kepalanya.
" Apa itu?"
__ADS_1