
"Kakak ini kenapa dari tadi melamun terus loh. Apa yang kakak pikirkan?" tanya Lilia tampak menghuatirkan Sarla.
"Kamu ngomong apa de, kakak tidak kenapa kenapa kok!" jawab Sarla duduk di atas kursi, mulai menikmati hidangan yang di sajikan pembantunya.
Semua hidang masuk kemulut perlahan demi perlahan, namun tetap saja rasa mual itu datang lagi dan lagi.
"Kapan aku bisa makan tanpa memuntahkannya. "
Berlari ke kamar mandi, rasa lelah itu menghatui, Sarla melihat layar ponselnya, melihat pesan terakhir Daniel yang mengungkapkan bahwa suaminya akan berjuang mendapatkannya saat itu juga.
Namun perjuangan itu sudah sampai akhir dimana Daniel mengalami amesia. Mengusap kasara wajah, perlahan membuka cadar Sarla menangis. Ia merasakan hatinya terasa sakit.
"Kenapa aku menjadi lemah seperti ini. "
Lilia berucap pada sang pembantu, " Kak Sarla mana?"
"Masih di kamar mandi, non!"
"Bibi tahu nggak Kak Sarla gimana?"
Pertanyaan Lilia membuat pembantu di rumah kini menjawab. " Bibi nggak tahu masalahnya, hanya saja pas Nyonya Sarla pulang, wajahnya terlihat muram. "
"Memangnya kakak habis pulang dari mana?" tanya Lilia, dimana pembantu itu Lilia suruh duduk di dekatnya. Sambil membisikan suatu perkataan pada akhirnya pembantu di rumah menjawab." Habis pulang dari rumah sakit menemui Tuan Daniel. "
"Apa kak Daniel mengatakan hal yang menyakitkan sampai kak Sarla melamun dan bersedih seperti tadi. "
"Entahlah nona, saya kurang tahu."
Lilia tampak memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada sang kakak. "aku harus mencari tahu. "
Ponsel Lilia berbunyi panggilan telepon dari sang papa. " Papah, ngapain coba lelaki tua itu menelepon?"
Lilia mulai bertanya tanya pada hatinya, ia malas untuk menganggkat panggilan telepon dari papahnya.
Berulang kali, panggilan telepon dari ponsel Lilia terus berbunyi. Hingga dimana Lilia kesal mulai mematikan panggilan telepon dari sang papa.
"Dasar penganggu. "
Tring pesan datang.
(Sayang, Lilia kenapa kamu tidak menganggkat panggilan telepon papah nak, apa sebenci itu kamu kepada papa.)
Lilia membiarkan ponselnya bergetar, hingga pesan datang dari sang Papah beberapa kali, menyadarkan tubuh dari kursi, Lilia bergegas pergi menuju ke kamar.
Pembantu yang duduk di sampingnya merasa heran dengan tingkah sang nona kecil.
__ADS_1
Membanting ponsel pada ranjang tempat tidur, Lilia mulai merebahkan tubuhnya, padahal Ia baru saja mengisi perut.
"Kenapa sih papah itu tidak peka peka, dasar."
Liliam mulai menatap layar ponselnya kembali, melihat status Lani, membaca status itu dengan perasaan kesal,( Aku pastikan akan merebut kebahagiaanmu)
"Apa maksud si Lani ini. "
Semakin tak karuan perasaan gadis berumur 10 tahun itu, rasanya ia ingin sekali memecahkan ponsel, setelah melihat status yang dibuat oleh adik tirinya.
"Ahk, gara-gara ada mereka keluargaku hancur."
Lilia terpancing dengan status yang dibuat oleh Lani, iya lalu mengirim pesan kepada adik tirinya.
( Apa maksud kamu Lani membuat status seperti itu. )
Lani menunjukkan pesannya kepada sang mama," sepertinya kali Lilia terpancing akan statusku. "
"Benar, hahah dasar anak tidak tahu diri. "
( Sudahlah Kak jangan terlalu baper, nanti bawaannya laper Loh.) Lani sengaja membalas pesan dari kakak tirinya itu.
Memancing emosi, dengan sengaja agar Lilia terjebak akan rencannya.
(Jaga ucapanmu.)
( Aku sudah menjaga ucapanku kakakku sayang, hanya saja kamu yang terlalu berlebihan menganggap statusku ini sebuah sindiran. )
Lilia yang penuh emosi, membiarkan pesan Lani membalas pesan adik tirinya itu, bagaimanapun ya harus berhati-hati karena takut akan sebuah jebakan yang dibuat oleh adik tirinya sendiri.
*******
Sedangkan di kamar mandi, Sarla baru saja membuka pintu, iya berusaha menyembunyikan tangisannya.
Melihat di meja makan hanya ada pembantu di rumahnya," Nyonya Sarla mau dilanjut makannya?"
Sarla berusaha tak memperlihatkan raut wajah di hadapan pembantunya itu, ia melambaikan tangan, menandakan bahwa dirinya sudah tak napsu lagi untuk menyuapkan sebuah makanan ke mulut apalagi untuk menelannya.
Pembantu di rumah merasa cemas, karena melihat Sarla terlihat begitu murung," kenapa ya dengan Nyonya Sarla, pulang-pulang wajahnya begitu terlihat bersedih, apa yang sudah dilakukan Tuan Daniel, padahal tadi malam jelas-jelas Tuan dan yang begitu memperdulikan nyonya. "
Pembantunya itu berusaha merapikan bekas makan di atas meja.
Sarla baru saja masuk ke dalam kamar kini dikejutkan dengan panggilan telepon dari sang papah. " tumben Papa jam segini mau nelpon? Ada apa ya?"
Sarla mulai mengangkat panggilan telepon dari sang papa," Halo pah?"
__ADS_1
Gunawan tanpa basa-basi langsung menanyakan Lilia. " Sarla. Bagaimana keadaan Lilia? Papah sangat merindukan sekali dia. "
"Loh, kenapa papah tidak telepon saja Lilia langsung?"
"Lilia tak mengangkat panggilan telepon papah, membalas pesanpun tidak!"
Sarla terkejut dengan perkataan sang papah, padahal semalaman ia sudah menasehati Lilia untuk berubah dan tak membenci sang papah.
"Halo, Sarla, apa kamu bisa memberitahu Lilia, papah sangat merindukan dia, papah ingin dia pulang ke rumah hari ini."
Lamunan Sarla membuyar. " Halo Sarla. "
"Ah, iya pah. Nanti Sarla sampaikan pada Lilia, mungkin hatinya masih tak karuan. "
"Tolong ya nak. "
"Iya pah. "
Panggilan telepon dimatikan sebelah pihak, Sarla berusaha mengusap pelan air mata, dengan tisu yang ia ambil di dalam kamar.
"Aku harus menemui Lilia sekarang juga. "
Sarla berjalan dengan perasaan tak menentu hatinya tak karuan, masalah yang ia hadapi belum kunjung usai, ditambah lagi dengan masalah Lilia.
Mengetuk pintu, berharap sang adik langsung membuka saat itu juga, karena ia tak mau melihat hubungan keluarganya hancur karena sang mama tiri yang jahat.
Tok .... Tok ....
"Lilia, please buka. Ini kakak. "
Beberapa kali mengetuk pintu Lilia tak membuka pintu kamarnya, " kamu ini kenapa?"
Lilia mendengar suara sang kakak, namun ia abaikan Karena rasa kesalnya terhadap Lani setelah melihat status adik tirinya itu.
"Sayang, Lilia. Ini kakak. Ayo dong buka pintu kamarnya, masa kamu biarkan Kakak sendirian di luar kamar."
Lilia mencoba membalas teriakan kakak kandungnya sendiri, " maafkan Lilia kak, Lilia sedang tidak mau diganggu oleh siapapun. Tolonglah Kakak mengerti. "
"Lilia, tidak baik loh jika kamu memendam masalah sendirian di dalam kamar. Biarkan kakak tahu apa yang kamu rasakan saat ini, ayolah bercerita kepada kakak. "
"Enggak kak, Lilia nggak mau, sebaiknya Kakak pergi saja dari depan kamar, Lilia ingin sendirian
Tolong mengerti. "
Sarla sebenarnya sudah tahu jika adiknya ketika mempunyai masalah selalu mengurung diri, Lilia tidak ingin bercerita apapun kepada orang lain, biar lebih baik memendam sendirian, merasakan semua itu hingga perasaannya pulih kembali.
__ADS_1
" Baiklah kalau itu kemauan kamu, Kakak berharap kamu tidak berlama-lama di dalam kamar, kakak ingin mendengarkan keluhan kamu."