
"Sekarang ibu tanya, kenapa kamu berpura pura hilang ingatan, lalu perkataan dokter kemarin hanya kebohongan?"
Pertanyaan Alenta, membuat Daniel bingung harus menjawab dari mana dulu.
"Ibu tenang dulu ya, Daniel pasti akan menjelaskan semuanya, kenapa Daniel berpura pura hilang ingatan."
Alenta hanya diam mendengar jawaban dari anaknya.
"Daniel melakukan semua ini demi, Daniel bisa menjauh dari Sarla, sebenarnya Daniel mencintai Sarla. Bu. "
"Kalau kamu memang mencintai Sarla kenapa kamu tidak terus terang saja, malah mau menjauh darinya, kamu ini aneh Daniel?"
Daniel malas jika harus membahas hal ini pada sang ibunda yang tak mengerti sama sekali.
"Aduhh bu, tidak segampang yang ibu katakan. Daniel sudah beberapa kali ditolak oleh Sarla!"
Mendengar perkataan dari anaknya, membuat Alenta tertawa terbahak bahak.
"Kok ibu malah tertawa. "
"Kok bisa kamu ditolak olehnya, memangnya apa alasanya?"
"Dia tidak mau menjadi madu untuk selama lamanya!"
"Ya sudah kalau begitu ceraikan saja Wulan. "
"Kalau bisa sudah aku ceraikan dia dari kemarin, tapi Sarla melarangku, ia tetap bersikukuh dengan perjanjian yang aku tulis. "
"Lantas apa yang harus kita lakukan, masa ia kita harus membunuh Wulan, agar kamu bisa bersama Sarla."
Daniel baru terpikirkan akan hal itu, tapi ia tak berani melakukan pembunuhan, karena bagaimanapun Wulan masih istri sahnya.
"Lantas kenapa kemarin Wulan minta cerai kamu tidak ceraikan dia, kamu ini ya Daniel plin plan. "
"Makanya itu Daniel memberi tahu ibu akan hal ini, Daniel bingung harus memilih siapa yang harus Daniel pertahankan. Jika Daniel memilih Sarla belum tentu Sarla mau sama Daniel, jika Daniel memilih Wulan sudah jelas Wulan mau bersama Daniel. "
Alenta kebingungan akan perkataan anaknya, ia kini menjawab. " pusing ibu mikirnya, rumit. Sudah ibu mau pergi dulu. "
"Bu, ibu mau kemana?"
__ADS_1
Mengacak rambut dengan kasar, sang ibu membalikkan badan, " Daniel, pilihan ada di hatimu, terserah kamu mau memilih siapa. Ibu tidak punya hak atas semua pilihan kamu, kamu yang menjalani lika liku rumah tanggamu sendiri. "
Daniel duduk termenung, ia memikirkan sesuatu yang ia rasakan terasa berat dalam hidupnya.
******
Bi Siti datang ke kamar Wulan, dimana sang nyonya tengah menghias diri untuk menjadikan dirinya istri terbaik bagi Daniel.
"Ya ampun nyonya cantik sekali," ucap Bi Siti pada Wulan. Wanita itu tersenyum lalu membalas. " Terima kasih bi, atas pujiannya. Sini deh bibi duduk. "
Bi Siti mulai duduk di atas ranjang tempat tidur, dimana Wulan mulai menceritakan semua kepura puraan Daniel.
"Nyonya, yang benar saja Tuan Daniel melakukan semua itu, kok bibi merasa tak percaya dengan cerita nyonya. " ucap Bi Siti penuh keraguan.
"Bi, awalnya Wulan tak percaya, tapi setelah Daniel mengungkapkan semuanya baru Wulan percaya." balas Wulan, tampak terlihat senang.
"Bukannya nyonya harusnya bersedih ya, ini kok malah senang?" tanya Bi Siti pada Wulan dengan raut wajah kuatir.
"Ngapain sedih!" jawab Wulan menatap ke arah pembantunya itu.
"Soalnyakan kalau Tuan Daniel tidak pura pura hilang ingatan, nanti posisi Nyonya Wulan tersingkirkan karena ada Sarla," ucap Bi Siti. Semakin ketakutan dengan cerita yang dilayangkan Wulan.
Sedangkan Bi Siti masih merasa kasihan, karena sang nyonya, hanya sebagai pelampiasan karena Daniel ditolak oleh Sarla, tapi jika Sarla tidak menolak, kemungkinan Wulan akan tersingkirkan begitu saja.
Bi Siti merasa heran dengan Wulan, bisa bisanya dia mau mempertahankan orang yang jelas tidak mau menghargainya.
"Apa nyonya tidak sakit hati, mendengar tuan berkata seperti itu?" tanya Bi Siti berusaha bertanya secara perlahan.
Wulan menyembunyikan kesedihannya, lalu berkata, " Tidak bi. "
Sarla masih dengan isak tangisnya, ia berusaha tetap tegar menjalani semua yang ia rasakan, padahal dulu hatinya begitu kuat menjalani semua cacian, hinaan. Tapi semenjak Sarla mengandung seorang bayi dalam perutnya, apapun bentakan itu selalu membuat ia sakit hati. Dan cepat menangis.
Mengusap pelan perut yang sudah membesar itu, tiba tiba suara ponsel berdering, panggilan datang. Nama tertera dalam ponsel itu ialah sang papah. " Papah."
Sarla berusaha menenangkan diri, dimana ia menarik napas berulang kali agar tidak membuat sang papa curiga jika ia baru saja menangis.
"Halo sayang, kamu ada di mana?" Pertanyaan sang papah tentunya membuat Sarla terdiam.
"Halo, Sarla papah bawa makanan kesukaan kamu, " ucap Gunawan mencoba membuat hati anaknya senang.
__ADS_1
Sarla lupa memberitahu sang papah, jika ia berada di rumah Daniel.
"Sarla, kok kamu malah diam saja. Papah dari tadi tanya kamu loh, apa sesuatu terjadi dengan kamu sayang?" pertanyaan sang papa tak mampu dijawab oleh Sarla. Ia ingin menangis saat itu juga.
"Sarla dari tadi kamu tidak menjawab pertanyaan papah loh. Cerita sama papa kamu kenapa?" Pada akhirnya Sarla mulai menangis, ia tak tahan lagi ingin pergi dari rumah Daniel.
"Jemput Sarla sekarang juga pah," ucap Sarla, menangis terisak isak.
Sontak sang papah terkejut dengan suara isak tangis anaknya," Kamu menangis, Sarla. Ya sudah sekarang kamu ada dimana papah jemput sekarang juga. "
"Sarla ada di rumah Daniel!" jawab Sarla, Gunawan hampir saja meluapkan amarahnya, ia mencoba menahan karena tak mungkin memarahi Sarla dalam kondisi yang tidak diketahuinya.
"Baik, sekarang juga papah kesana, kamu tunggu papah. "
Panggilan telepon pun terputus sebelah pihak, dimana Sarla menangis kembali, ternyata ia sudah tak kuat berada di rumah Daniel, ingin segera pergi dari rumah suaminya sendiri.
Di dalam perjalanan, Gunawan tampak kuatir dengan keadaan anaknya itu, ia takut terjadi sesuatu dengan Sarla.
"Mudah mudahan Sarla tidak kenapa kenapa."
Hati sudah dilindungi kegelisahan.
Hanya butuh waktu dua puluh menit bisa sampai ke rumah Daniel.
"Apa yang sudah mereka lakukan pada anakku. "
Gunawan tampak murka, sesekali ia melihat layar ponsel, menandakan satu pesan datang.
Saat melihat pesan itu masuk, Gunawan kini berucap dalam hati. " Apalagi, malam begini ganggu saja."
Sampai didepan rumah Daniel, Gunawan berusaha mencari keberadaan anaknya, dimana ia menghubungi Sarla. " Halo pah."
"Halo Sarla, kamu ada dimana sekarang, papah sudah sampai di rumah Daniel. "
"Papah tunggu Sarla, sekarang Sarla keluar. "
"Baiklah."
Dengan cepatnya Sarla memasukkan baju ke dalam koper besar, ia menarik koper besar itu keluar dari kamarnya. Wajah Sarla memerah kedua mata tampak mengeluarkan air mata terus menerus. Sesekali menyekah dan berkata dalam hati, " Aku harus cepat cepat keluar dari rumah ini, sebelum orang orang melihatku. "
__ADS_1