
Sarla tampak bingung sendiri. Ia tak mau jika kehadirannya malah membuat Wulan menganggap jika dirinya adalah wanita yang menafik.
"Tidak bisa bu, Sarla tidak ingin membuat hati Mbak Wulan sakit dengan keberadaan Sarla di rumah ibu."
Penolakan Sarla membuat luka hati pada hati Alenta, kenapa bisa Sarla sekuat itu dan bersikukuh pada pendiriannya.
"Sarla, Wulan tidak akan sakit hati. Percaya pada ibu, kamu berada di rumah ibu hanya saat bayi itu masih ada dalam kandungan. "
"Maafkan Sarla bu, Sarla tidak bisa."
Sarla tetap saja menolak mentah mentah keinginan wanita tua itu.
Alenta hanya terdiam terpaku, ia beranjak berdiri lalu berpamitan pada sang menantu.
"Bu."
Terlihat sekali, Alenta kecewa dengan jawaban Sarla, ia pergi langsung menaiki mobilnya.
"Bu."
"Percuma di kejar malah membuat kesempatan ibu mertua untuk membawaku ke rumahnya. "
Pada akhirnya Sarla masuk ke dalam rumah, ia berusaha mengabaikan kepergian ibu mertuanya.
Duduk pada sofa, mengusap pelan perutnya. Sarla kini menangis. " Maafkan ibu ya nak. "
Begitu sayangnya Alenta kepada Sarla, sampai ia menangis terisak isak di dalam mobil.
Sampai di rumah, Alenta terlihat muram, Wulan yang melihat kedatangan sang ibunda kini bertanya. " Bu Kenapa?"
Alenta menatap ke arah menantu pertamanya, " semua ini gara gara kamu. "
Telunjuk tangan menunjuk pada wajah Wulan, dimana Wulan terkejut.
"Apa maksud ibu menunjuk nunjuk Wulan seperti ini. "
Alenta kesal, ia ingin sekali menampar Wulan atas kemarahnya, karena penolakan Sarla yang tak mau tinggal di rumah Alenta.
"Kenapa ibu diam saja , Wulan memangnya salah apa?"
Alenta teringat akan perkataan Sarla, dimana ia tidak mau tinggal di rumah Alenta karena takut melukai hati Wulan.
"Kesalahanmu itu terlalu banyak, sampai aku malas mengatakannya."
__ADS_1
Alenta pergi begitu saja, dimana Wulan merasa alasan ibu mertuanya itu tak jelas. " Dasar nenek lampir memang tidak jelas. "
Masuk ke dalam kamar, Alenta menutup pintu kamar dengan begitu keras membuat para pembantu di rumah ketakutan.
Mengacak rambut dengan kasar, Alenta kini berkata, "apa yang harus aku lakukan agar Sarla menuruti keinginanku tinggal di rumah ini. "
Alenta, memikirkan cara sampai, rambutnya itu begitu berantakan, sanggul yang sudah rapi kini tak beraturan.
Berdiri menatap kearah luar, Wulan tengah menggorol dengan Bi Siti.
Entah apa yang keduanya obrolkan, tak mambuat Alenta penasaran.
Akhirnya Alenta mempunyai ide yang berlian, sepertinya ia harus membujuk Wulan agar mau menyuruh Sarla tinggal di rumahnya.
"Apa rencana itu akan berhasil ya, tapi patut di coba. "
Wanita tua itu mulai merapikan sanggulnya kembali, memoleskan alat make-up agar tetap terlihat cantik.
Keluar dari dalam kamar, Daniel sudah berdiri di depan pintu Alenta.
"Daniel? Ada apa, tumben kamu ada di depan pintu kamar ibu?"
"Bu, Daniel ingin bercerita pada ibu?"
"Tapi bu. "
Sepertinya Alenta melihat Wulan berjalan menunju dapur bersama Bi Siti, dimana ia mengejar dan memanggil nama Wulan.
"Wulan."
Paggilan Alenta mengagetkan Wulan, " Nenek sihir itu lagi, ada apa sih dia. Tadi marah marah sekarang sok ramah. " Gerutu hati Wulan.
Daniel yang ingin meluapkan keluh kesahnya, malah diabaikan oleh sang ibunda.
"Kenapa ibu malah menghampiri Wulan."
Daniel tampak kesal, hingga ia melihat ponsel sang ibunda bersuara menandakan pesan masuk.
Daniel penasaran dan melihat layar ponsel sang ibu.
Melihat pengirim pesan itu, tentunya membuat Daniel tekejut. " Sarla, mengirim pesan pada ibu. "
Dengan lancangnya Daniel membuka isi pesan yang datang dari Sarla melalui ponsel Alenta.
__ADS_1
(Bu, jangan merayu Sarla lagi, Sarla sudah ingatkan ibu.)
"Apa maksud pesan dari Sarla?"
Daniel semakin penasaran, ia mulai membaca pesan satu persatu percakapan antara istri dan juga ibunya.
"Jadi ibu menyuruh Sarla untuk tinggal di sini, bukannya ibu sudah tahu jika aku hilangan ingatan dan tak mengingat Sarla sama sekali, tapi kenapa ibu malah menyuruh Sarla, apa yang sedang ibu rencanakan. "
Daniel mulai meletakan ponsel sang ibunda di atas kasur, ia tak mau dicurigai ibunya sendiri. Pergi dan mencari keberadaan ibunya.
Namun ternyata sang ibunda tengah mengobrol dengan Wulan, telihat obrolan mereka berdua begitu serius.
"Ada apa bu, mau menyalahkan Wulan lagi tanpa alasan?"
tanya Wulan masih kesal dengan kejadian tadi.
Alenta berusaha memposisikan diri agar tidak menjadi sosok wanita yang pemarah. " Kamu dengar dulu perkataan ibu ya. "
"Perkataan apalagi?" tanya Wulan terdengar ketus, tapi Alenta tak berputus asa dia tetap mempelihatkan kebaikannya.
"Wulan maukah kamu membujuk Sarla agar tinggal di sini!?'' jawab Alenta, sembari mengungkapkan sebuah pertanyaan.
Dimana Wulan bukannya senang ia malah menggerutu kesal dalam hatinya, " gila apa ini nenek lampir, begitu mudahnya ia memerintahku untuk menyuruh Sarla tinggal di rumah ini. "
Alenta memegang punggung tangan Wulan, lalu berkata lagi, " hanya sementara kok, saat Sarla tengah hamil, bisakan?"
"Wulan tak mau bu! Ibu hanya berbicara saat ada maunya saja, setelah tidak membutuhkan wulan ibu memarahi Wulan habis-habisan!"
"Wulan, ibu melakukan semua itu ini demi kebaikan kamu juga, demi keutuhan rumah tangga kamu juga. Apa kamu tidak kasihan melihat Sarla berada di rumah sendirian dengan kehamilannya yang semakin hari semakin membesar, toh anak itu juga akan berada di tanganmu setelah Sarla melahirkan. "
Wulan mulai berpikir sejenak dengan perkataan Ibu mertuanya," coba kamu pikirkan bagaimana kalau Sarla sendirian di rumah tidak ada yang membantunya saat itu, kamu mau melihat anak dalam kandungan sarla itu meninggal dunia, karena tak ada yang membantu Sarla?"
"Sudahlah, ibu jangan menakut-nakuti Wulan, melahirkan itu tidak seram yang Ibu katakan, toh di rumah Sarla juga ada pembantu yang nanti akan membantunya. "
" Memang di rumah salah ada pembantunya juga. Tapi tetap saja kalau malam Sarla sendirian karena pembantunya itu hanya berada di rumah saat siang hari saja."
Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, Wulan mulai memikirkan perkataan mertuanya itu," berilah sarla kesempatan untuk berada di dekat Daniel, saat ia tengah hamil. Beri dia keadilan, karena dia juga berhak mendapatkan kasih sayang dari Daniel. "
"Percuman saja bu, Sarla tinggal di sini, Daniel tidak akan mengigatnya,"
"Walau tidak mengigat Daniel, tetap saja Sarla juga butuh .... "
"Butuh apa bu? Sudahlah bu, ibu memaksa Wulan melakukan hal yang Ibu inginkan, tetap saja bulan tidak akan melakukan hal itu, jika Wulan menyuruh sarla untuk tinggal di rumah ini, sama saja Wulan menyakiti diri Wulan sendiri.
__ADS_1
" Wulan, ibu hanya meminta tolong pada kamu, agar nanti perpisahan ibu dangan Sarla tidak terlalu menyakitkan. "